Dendam Jane

Dendam Jane
Jane si Rubah


__ADS_3

Jane Ainsley sengaja mendekam di dalam toilet wanita lantai paling atas perusahaan Harisson selama jam istirahat berlangsung. Terdengar aneh bukan?


Tapi begitulah nyatanya. Jane sudah tak memiliki tempat untuk bersembunyi lagi dari Edric. Lagipula jarang ada yang menggunakan toilet di lantai ini sehingga ia tak akan terganggu oleh orang lain, karena Jane sedang melihat data yang ia peroleh dari laptop Edric.


Jane mulai membuka folder satu persatu. Seketika matanya membulat.


Fakta mengejutkan ternyata perusahaan Harisson melakukan penggusuran tidak hanya satu kali saja yaitu pada saat pembangunan proyek di daerah tempat Mrs Nolan tinggal. Tetapi juga di beberapa titik tempat lain. Hal itu semakin membuat Jane bertanya-tanya, apakah sebenarnya ada korban yang senasib dengan Mrs Nolan?


Mungkin ada. Namun mereka tak seberani Mrs Nolan sehingga tidak mau menunjukkannya.


Jika dicermati kembali tanggal tanda tangan surat persetujuan jual beli tanah berbeda-beda dari setiap pemilik rumah. Jane menarik kesimpulan bahwa tanggal yang paling terlambat untuk tanda tangan kemungkinan orang-orang yang keberatan dengan tawaran Edric.


Jane mencatat nomor telepon atau alamat orang-orang tersebut. Lumayan banyak ada sekitaran tiga puluhan orang. Dan Jane berniat untuk menghubungi semua orang itu walaupun menguras tenaganya sekalipun.


"Semangat Jane Ainsley!"


Jane menyemangati dirinya sendiri.


Sekarang mari kita lihat siapa saja yang bekerja sama dengan perusahaan Harisson sekaligus menjadi investornya.


"Ck..ck..Ternyata pacarku orang yang pandai bersosialisasi.."


Jane berdecak kagum. Relasi Edric bisa dikatakan tidak sedikit. Jane membaca biografi para konglomerat itu, bahkan salah satunya ada seorang artis.


Sepuluh menit berlalu, tak ada hal yang menarik untuk di lihat lagi. Apa yang bisa diharapkan dari mengetahui profil setiap relasi Edric?


Rasanya tak mungkin apabila Jane meminta bantuan kepada mereka untuk menjatuhkan Edric Harisson dengan hanya menunjukkan buku diary milik Vivian.


Mereka juga tak akan sudi mendengar dongeng dari mulut seorang wanita biasa yang tak memiliki latar belakang apa pun seperti dirinya. Apalagi hal itu tak menguntungkan mereka sama sekali.


Huft! Lanjutkan nanti saja, sebentar lagi jam istirahat akan selesai.


Ketika Jane hendak menekan tanda silang pada layar untuk menutup file yang telah ia buka, tiba-tiba matanya terfokus pada rincian keuangan perusahaan yang dipegang oleh Tuan Lark.


..40% penggalangan dana di investasikan kepada perusahaan Harisson...


Jane menyeringai.



Ia melanjutkan membaca sampai tuntas. Ini akan menjadi berita besar!


Jane tak akan bertingkah konyol memohon bekerja sama dengan para konglomerat itu, tapi biarkan mereka memusuhi Edric dengan sendirinya.


***


Tanpa sengaja Daniel Wynford melihat Jane Ainsley sedang berjalan di koridor sendirian dengan menenteng notebooknya. Setengah berlari Daniel segera menghampirinya. Kali ini Daniel terpaksa mengurungkan niatnya semula untuk bertemu Edric karena ia juga harus berbicara kepada Jane.


"Berhenti kau!"

__ADS_1


Daniel menarik pergelangan tangan Jane hingga tubuh mungilnya setengah tertarik kearahnya. Jane langsung memekik kaget.


"Apa yang kau lakukan!?"


Mata Jane melotot kearah tangan Daniel yang masih mencengkramnya dengan erat. Tapi Daniel tidak peduli.


"Kita perlu bicara!"


"Singkirkan dulu tanganmu itu dariku!!"


"Tidak! Kali ini kau tak akan lolos!"


"Apa maksudmu!"


Tanpa sadar suara mereka saling meninggi sehingga mencuri sebagian perhatian orang yang kebetulan lewat.


"Ayo berpindah tempat!"


Setengah menyeret Jane, Daniel berjalan menuju ke arah lift. Rooftop kantor adalah tempat tebaik untuk berbicara karena disana cukup sepi, hanya ada segelintir orang untuk merokok. Tetapi begitu sampai di belokan langkah Daniel tiba-tiba terhenti, hingga hidung Jane terbentur oleh punggung Daniel yang keras.


"Aww!! Sebenarnya apa salahku pad~"


"Sst!! Kita pindah arah!"


Daniel mendengar para karyawan menyapa Edric, itu berarti Edric berada di dekat sini. Jangan sampai temannya itu melihat ke arah mereka yang sedang berjalan berduaan.


Kalau dipikir kembali bicara disini juga tak masalah walaupun ruangannya sedikit berbau apak.


"Mengakulah, kau telah mencampurkan sesuatu pada anggur yang kubawa kemarin kan?"


Jane menaikkan sebelah alisnya lalu ia melipat kedua tangannya di depan d4d4.


"Bagaimana bisa kau bicara seperti itu?"


"Ayolah Jane Ainsley! Kau tak bisa menyembunyikannya dariku!"


"Ingat! Aku juga meminumnya bersama dengan kalian."


"Anggur itu berasal dari kampung halamanku. Aku masih menyimpannya beberapa botol di rumah. Bahkan aku meminumnya bersama ibuku hingga tiga botol sekalipun dan itu tidak dapat membuatku mabuk sama sekali! Tapi kemarin limas gelas anggur saja sudah membuatku tumbang!"


Daniel mendengus kesal, tangannya bertumpu pada daun pintu sehingga memperangkap tubuh Jane agar tidak kabur.


Percuma saja menyangkal, Daniel selalu mempunyai cara untuk memojokkan Jane.


"Yang terpenting kalian masih hidup."


BRAKK!!


Daniel memukul daun pintu sekeras mungkin hingga kaca ruangan ikut bergetar.

__ADS_1


"Kau telah melibatkanku dalam rencana bodohmu!"


"Mungkin kau sedang bernasib sial."


"Jane Ainsley! Batalkan saja rencana balas dendamu itu! Yang terluka tidak hanya Edric tetapi mungkin kau juga akan tersakiti sendiri dan yang paling buruk orang lain juga terkena imbasnya!"


"Apa pedulimu Daniel Wynford? Kau sedang berusaha menghentikanku atau lebih mencemaskan teman Br3ngs3k mu itu?!"


Jane menyingkirkan tangan Daniel lalu melanjutkan bicara.


"Kau tahu?Tanpa sadar kau juga sedang berkhianat dengan Edric? Kau membawaku kemari karena takut terlihat oleh Edric bukan?Jika memang kau berniat menghentikanku karena mencemaskannya, seret saja aku kehadapan Edric sekarang juga."


Jane menyeringai ketika Daniel terdiam karena kalah bicara. Kali ini ia yang menang.


"Bagaimana respon Edric jika melihat aku keluar dari sini dengan penampilan acakan acakan sambil menangis sesenggukan? Kita lihat apakah Edric lebih membelamu atau aku?"


Jane melepas satu kancing kemeja teratasnya.


"Berhenti!"


Kemudian Jane mengacak rambutnya agar terlihat berantakan, ia pun bersiap membuka pintu gudang.


"Jane Ainsley itu tidak lucu!?"


Daniel tampak panik walaupun sejenak ia terkesima dengan penampilan Jane yang justru terlihat s*xy, Daniel tak akan membiarkan Jane mengadu domba dirinya dan Edric. Ia pun melepas jaketnya lalu segera 'membungkus' tubuh Jane rapat-rapat.


Jane tertawa nyaring melihat tingkah Daniel.


"Lihat wajahmu itu?! Aku hanya bercanda!!"


Wajah Daniel merah padam.


"Dasar rubah licik!"


Jane membenahi penampilannya kembali dengan senyum lebar yang masih menggantung di bibir ranumnya.


"Sudahlah, aku harus kembali ke ruanganku. Kita juga terlalu lama disini."


Sebelum Jane benar-benar meninggalkan ruangan ia menoleh dengan tatapan dingin ke arah Daniel.


"Tapi candaanku tadi bisa menjadi kenyataan bila kau mengusikku Daniel Wynford.."


BLAM!


Pintu ditutup. Daniel menyugar rambutnya, ia merasakan detak jantungnya yang tak terkontrol. Jane sangat menggemaskan. Bagaimana cara menggambarkan sosok Jane?


Berani, tangguh, spontan namun menawan. Tipe wanita idaman Daniel.


"Oh Sh***!! Ada apa denganku!"

__ADS_1


__ADS_2