Dendam Jane

Dendam Jane
Seorang Narapidana


__ADS_3

Saat peresmian proyek Hotel-Mall, Jane Ainsley membuktikan kepiawaiannya dalam membobol kode password laptop Edric.


Entah mungkin Edric lah yang telah lengah. Kekasihnya itu begitu cerdik, begitu licik, begitu berani sangat mirip seperti dirinya. Bukankah mereka sangat cocok apabila bersanding satu sama lain?


Edric berusaha menahan tawanya di tengah kekacauan yang di buat Jane Ainsley.


Aku harus mendapatkannya setelah membereskan semua kekacauan ini!


Edric teringat akan pesan mendiang kakaknya, Garrix Harisson,


"Di kemudian hari atau di masa yang akan datang, pertahankan orang yang kau cintai. Lalu segera nikahi dia!" (episode 17)


Sebagai adik yang baik Edric akan merealisasikan ucapan mendiang kakaknya itu. Uang dapat dicari kembali, tetapi wanita seperti Jane Ainsley akan sulit untuk di temui. Walaupun ia harus mendekam di dalam penjara sekalipun.


Edric menyadari perasaannya ini bukan sekedar cinta, melainkan sebuah obsesi. Ia memaklumi segala tindakan Jane yang dapat merugikan dirinya sendiri.


Dari insiden itu pula, Edric jadi mengetahui bahwa Tuan Lark tak pantas di jadikan relasi lagi. Si tua bangka itu hendak 'cuci tangan' atas penggelapan uang bantuan sosial lalu melimpahkan semua kesalahannya kepada perusahaan Harisson.


Tentu Edric tidak akan tinggal diam, ia mengajukan banding atas gugatan Tuan Lark. Edric menyewa pengacara handal yang dapat membantah semua tuduhan Tuan Lark dan mencari bukti terkuat untuk memberatkannya.


Hasilnya, Tuan Lark ikut dipenjara bersama dirinya.


Edric menjalani serangkaian pemeriksaan dari kepolisian. Hasil keputusan sidang adalah Edric di jatuhi hukuman penjara selama 5 tahun dengan kebebasan bersyarat.


Kala itu media sosial menjadi heboh, Edric Harisson yang biasanya muncul di dunia maya dengan image sempurna kini dikecam habis-habisan oleh masyarakat.


Tidak hanya itu saja, di penjara pun Edric menjadi sasaran empuk para narapidana yang lainnya.


"Wow! Siapa sangka kita akan kedatangan seorang eksmud disini!"


"Apa kasusnya?"


"Penggelapan uang dan tanah sengketa, Aku benci orang kaya yang serakah!

__ADS_1


"Kita lihat apakah dia dapat bertahan lebih lama!!"


PLAK!


Tak segan-segan narapidana yang mendekam lebih lama di penjara memukul kepala Edric.


"Kapan lagi kita dapat memukul kepala orang penting hahahaha!"


"Uangmu tidak dapat menyelamatkanmu di sini!"


Para narapidana itu menjadikan Edric sebuah lelucon dan mentertawakannya tiada henti. Edric tetap berjalan tegak tidak mau menundukan kepalanya. Hal itu semakin membuat narapidana yang lain merasa jengkel.


"Betapa arogannya dia!"


" Apakah kau tak sadar sedang berada dimana, cuih!"


Salah satu diantaranya meludah ke arah pakaian Edric.


BUG!!


"Beraninya kau! Hei, pegangi dia, aku akan beri pelajaran!"


Keributan pun terjadi hingga seorang sipir penjara datang merelai mereka dengan ancaman.


Kehidupan Edric yang biasanya penuh dengan kenyamanan serta kemewahan berubah drastis dalam sekejap. Tak ada makanan enak. Setiap hari Edric harus mengunyah makanan yang menurutnya terasa hambar dengan menu yang itu-itu saja. Bahkan untuk air minum pun rasanya seperti air bekas comberan.


Di sini tenaga Edric benar-benar di kuras dengan melakukan pekerjaan berat. Ditambah dengan penghuni sel lain yang selalu mencari gara-gara dengannya.


Apakah Edric mengeluh?


Tidak. Ia tetap menjalani semua hukuman penjara seolah itu memang pekerjaannya sehari-hari, sambil menghafal satu persatu wajah orang yang selalu mengusiknya.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah dua belas bulan lamanya Edric mendekam di penjara. Fisik dan mentalnya berubah karena setiap harinya di gembleng dengan keras.

__ADS_1


Hingga datang dimana hari yang ia tunggu-tunggu. Edric tetaplah anak dari Gil Harisson walaupun putranya itu telah melakukan kesalahan fatal. Gil menebus Edric agar terbebas dari penjara dengan catatan ia tidak boleh memegang perusahaan untuk sementara waktu.


Sebelum Edric keluar, Ia menyempatkan mengucapakan 'salam perpisahan' kepada para narapidana yang lain.


"Semoga kita dapat bertemu kembali di luar penjara. Aku akan menunjukkan bahwa justru di sinilah tempat yang paling aman untuk kalian berlindung. Dan kalian akan menyadari kebebasan kalian tidaklah berarti."


Entah ucapan dan senyuman Edric membuat para narapidana itu menelan ludah. Mereka hanya terdiam membisu. Aura Edric terlihat sangat berbeda di banding saat pertama kali ia datang kemari. Sekarang Edric begitu mengintimidasi.


Edric berjalan keluar kantor polisi dengan langkah ringan.


Ah! Masalah yang satu sudah terselesaikan. Sekarang waktunya menjemput sang kekasih yang sudah membuatnya melewati ini semua. Tetapi sayangnya Jane Ainsley telah menghilang tanpa jejak. Ia tak dapat menemukan Jane di manapun ia berada, seperti rumah, kantor maupun apartemennya yang lama.


Sewaktu kecil Edric suka bermain petak umpet bersama dengan Garrix Harisson. Dan kini ia seakan sedang bernostalgia, biarkan Jane yang bersembunyi dan Edric yang akan mencari.


Handphone Jane sudah tak dapat di lacak. Edric pun beralih memantau plat mobil Jane untuk mengetahui kemana saja Jane singgah. Namun lagi-lagi Jane mampu membuatnya berdecak kagum. Wanita itu telah menjual mobilnya ke showroom.


Edric tak dapat menahan tawanya lagi.


Jane rubah cerdikku, tunggu aku..


Edric berjalan menuju kamarnya untuk mengambil dokumen yang berisikan latar belakang Jane.



Mari kita lihat, kemana kira-kira perginya sang kekasih tercinta Edric Harisson! Rasanya tak mungkin apabila ia bersembunyi di balik keluarga Kaelee. Itu terlalu mudah ditemukan.


Mata Edric menelusuri satu persatu silsilah keluarga Jane. Jika memang memungkinkan, Edric akan menyambangi satu persatu rumah keluarganya.


Orang pertama yang akan Edric kunjungi adalah nenek Jane Ainsley yaitu Lindsay. Karena hanya dia yang tinggal di rumah sendirian saat ini. Jane pasti berpikir akan lebih baik tinggal bersama neneknya daripada bersama kerabat lain yang masih berkeluarga utuh agar tak merepotkan. Selain itu Jane dapat sekalian merawat neneknya.


Benar saja, begitu Edric menyebut nama Jane Ainsley, wanita tua itu langsung menyambutnya dengan hangat.


Sambil menunggu Jane pulang bekerja, Edric terpaksa harus mendengarkan celotehan tak penting dari nenek Lindsay.

__ADS_1


Setengah jam pun berlalu, tiba-tiba pintu rumah terbuka, Jane muncul dari ambang pintu dengan nafas tersengal-sengal.


Betapa cantiknya Jane Ainsley masih mengenakan seragam kerja restoran dengan peluh menetes di pelipisnya. Edric menyambut kekasihnya dengan senyuman lebar.


__ADS_2