Dendam Jane

Dendam Jane
Positif


__ADS_3

Sudah empat hari berlalu, hubungan Vivian dan Edric belum juga membaik. Mereka hanya bicara seperlunya saja.


Edric selalu berangkat lebih awal saat Vivian masih tertidur dan pulang terlalu larut ketika Vivian sudah terlelap.


Mengapa hubungan mereka berubah drastis dalam waktu singkat? Edric yang dulunya hangat serta romantis kini menjadi lebih dingin dan tak acuh kepada Vivian.


Vivian tak ingin menjalankan pernikahan seperti ini. Berulang kali ia mencoba berbaikan, tetapi mereka jarang bertemu walaupun masih satu rumah.


Hari ini Vivian bangun lebih siang daripada biasanya. Kepalanya berdentum-dentum hebat. Ia sempat khawatir karena belum menyiapkan sarapan untuk Edric, tetapi sedetik kemudian Vivian tersadar kemungkinan Edric sudah berangkat ke kantor tanpa membangunkannya terlebih dahulu.


Saat ia turun dari ranjang, tubuhnya terhuyung. Vivian segera berpegang pada nakas.


Kenapa kepalanya begitu sakit? Kemarin malam ia masih baik-baik saja.


Vivian berjalan tertatih menuju dapur. Tenggorokan tercekat seperti menelan duri. Ia membuka lemari pendingin untuk mengambil air.


Di dalam kulkas masih ada sekotak sereal dan juga susu, lebih baik Vivian sarapan dengan itu. Karena Vivian sedang tidak bertenaga untuk sekedar memasak.


Ia mengambil mangkok kemudian mulai mencampurkan serealnya.


Tiba-tiba Vivian merasa mual ketika menuangkan susu, ia segera berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


"Hoeekk.. hoekk.."


Aneh.


Biasanya Vivian begitu suka segala jenis produk makanan yang mengandung susu. Tapi entah mengapa mencium baunya saja ia langsung merasa jijik dan mual.


Vivian menyeka mulutnya dengan punggung tangan. Sekarang perut Vivian benar-benar kosong. Tubuhnya menjadi lemas dan wajah Vivian pucat pasi.


"Sebaiknya aku harus segera periksa ke dokter.."


Jika Vivian menghubungi Edric lalu memberitahukan bahwa ia sedang sakit, apakah Edric akan langsung pulang ke rumah karena mengkhawatirkan nya?


Namun pada akhirnya Vivian meminta Mike untuk mengantarkan ke rumah sakit.


***


Serangkaian pemeriksaan sudah Vivian jalani, dari mengambil sampel darah sampai tes urin. Sekarang ia tengah duduk di ruang tunggu.


"Nyonya Vivian Kaelee, silahkan masuk.."


Ahkirnya nama Vivian diundang setelah menunggu tiga puluh menit lamanya. Ia masuk ke ruang konsultasi untuk menerima hasil pemeriksaan.


Dokter Sullivan, tulisan itu lah yang tertera pada name tag. Ia sangat ramah. Ketika Vivian masuk pun , bibirnya mengulas senyum lebar.


"Silahkan duduk.."


Vivian duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Dokter Sullivan.


"Jadi, apakah saya alergi susu?"


Dokter Sullivan tertawa kecil.


"Tenang lah Nyonya, anda baik baik saja, justru saya ingin menyampaikan kabar gembira untuk anda.."


Alis Vivian langsung bertautan. Dahinya berkerut.


"Kabar gembira?"

__ADS_1


"Ya, Selamat Nyonya sekarang anda sedang hamil tiga minggu, wajar jika anda mengalami mual dengan bau-bau tertentu.."


Vivian termangu. Ia sedang mencerna kata-kata dokter Sullivan.


Dirinya sedang hamil?


Tanpa sadar Vivian mengelus perut nya yang masih terlihat rata.


"Nyonya Vivian Kaelee?"


"Oh, iya..Aku tidak menyangka.."


"Ini hasil pemeriksaan tadi sekalian resep nya, ada obat yang harus rutin anda minum untuk kesehatan janin.."


"Baik terimakasih.."


Vivian meninggalkan ruangan.


Rasanya masih tidak percaya bahwa Vivian mengandung. Padahal waktu itu ia ingin membicarakan nya dengan Edric terlebih dahulu. Maka Vivian membeli testpack untuk memastikan sekali lagi serta mengambil obat di apotik.


***


Vivian berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.


Positif!


Semua testpack yang ia coba memperlihatkan garis dua. Tanda bahwa dirinya positif hamil.



Sekarang di dalam perutnya ada janin. Hasil buah cinta bersama Edric Harisson.


Nanti malam Vivian akan menunggu suaminya pulang dan memberikan kejutan. Mungkin dengan cara ini mereka akan berbaikan.


"Sehat selalu di dalam kandungan anakku.."


Bisik Vivian bahagia.


***


Hampir jam dua belas malam Vivian menunggu Edric pulang. Sudah berulang kali ia melirik ke arah jalan. Sepi dan gelap. Tetapi tak ada satu pun tanda-tanda kedatangan mobil suaminya.


Vivian merapat kan piyamanya karena angin malam berhembus kearahnya. Ia menghela nafas panjang.


"Mengapa ahkir-ahkir ini Edric sering pulang larut malam?"


Kaki tangannya mendingin karena terlalu lama duduk di teras. Ahkirnya Vivian masuk ke dalam rumah dan membuat segelas cokelat panas.


Tunggu beberapa menit lagi mungkin Edric akan pulang.


Detik, menit dan jam pun berlalu.


Malam semakin larut, bahkan sekarang dapat di katakan pagi dini hari. Mata Vivian sudah berat menahan kantuk. Coklat nya sudah habis sedari tadi.


CEKLEK!


Seketika kesadaran Vivian pulih kembali mendengar suara kunci pintu terbuka. Sosok Edric muncul di ambang pintu.


"Edric aku menunggumu.."

__ADS_1


Vivian mendekat ke arah Edric. Tetapi ia langsung mencium bau aneh. Bau yang menyengat.


Alkohol?


"Edric?"


"Ada apa."


Benar alkohol. Begitu Edric membuka mulutnya bau itu semakin kentara. Edric berjalan tertatih. Dia sedang mabuk.


Mengapa Edric mabuk-mabukan? Jarang bertemu beberapa hari saja Vivian sudah merasa asing dengan perilaku Edric yang sangat berubah.


"Kau baik-baik saja?"


"Tidak aku sangattt lelah.. sampai aku melihat lantai seperti berjalan bagaikan mesin treadmill.."


Perkataan Edric melantur.


Vivian berusaha memapahnya menuju kamar. Sungguh tubuh Edric begitu berat. Vivian merasa kewalahan.


"Edric apa perlu ku bawakan obat pereda mabuk?"


Tidak ada sahutan. Justru Vivian samar-samar mendengar bunyi dengkuran halus. Edric sudah terlelap.


Ya sudahlah, besok pagi saja ia memberitahukan kepada Edric perihal kehamilan nya.


Vivian melepas kan sepatu Edric yang masih di kenakan. Lalu ia mengendur kan dasi serta kancing kemeja. Tiba-tiba matanya terfokus pada leher jenjang Edric.


Seperti ada noda di sana.


Vivian melihat lebih dekat. Jemarinya menyentuh leher Edric untuk membersihkan noda itu.


Bukan noda. Tetapi seperti memar?


Sedetik kemudian Vivian langsung tersadar.


Tangannya gemetaran.


Tidak mungkin kan?


Itu cup*ng?


Vivian membuka kemeja Edric lebih lebar hingga mempertontonkan dada bidangnya.


"Be..benarkah apa yang kulihat..?"


Ada lebih banyak tanda kemerahan yang serupa menyebar di sepanjang dada Edric. Dan juga bekas lipstik merah yang mulai memudar.


"Edric.."


Vivian mencoba membangun kan suaminya menuntut penjelasan.


"Edric! Bangun lah!"


Suara Vivian meninggi. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Edric.


"Si*lan!! Berisik sekali!!"


Hal yang tak terduga terjadi. Edric meraih jam meja yang ada di atas nakas kemudian melemparkannya ke arah Vivian.

__ADS_1


Vivian berteriak.


__ADS_2