
Mulanya Mrs Nolan meragukan indera penciumannya sendiri, namun bau bensin semakin menguar. Tak berapa lama kepulan asap mulai masuk melalui celah-celah pintu dan jendela.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Mrs Nolan benci dengan pikirannya saat ini.
Firasat buruk pun datang menghampiri, ia bergegas berlari ke lantai dua untuk menyuruh Natalia segera pergi dari sini.
"Natalia cepat buka pintunya!!"
Beberapa ketukan tidak dapat membangunkan anaknya, mungkin karena kebiasaan Natalia tidur menggunakan penutup telinga sehingga meredam suara sekitar.
"Natalia!! Natalia!!"
Mrs Nolan terus berusaha menggedor pintu kamar dengan lebih keras. Keringatnya bercucuran karena hawa panas mulai terasa di setiap penjuru ruangan.
"Natalia!! Bangunlah!!"
Ia mencoba mendobrak pintu dengan tubuhnya yang sudah renta, tetapi tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Natalia!!"
CKLEK!
Ahkirnya selang beberapa menit Natalia membukakan pintu kamar karena samar-samar mendengar suara gaduh dari luar dan juga merasakan udara di kamarnya semakin panas.
"Mom?! Ada apa??"
"Segera keluar dari sini rumah kita terbakar!!"
Mereka berlari menuju tangga, sayangnya api menjalar begitu cepat. Sebagian besar lantai satu rumah Mrs Nolan sudah di kuasai oleh api yang membara. Pegangan tangga yang terbuat dari besi pun terasa panas apabila di sentuh.
"Kau turun lah terlebih dahulu, aku akan menyusul!'
Dengan langkah hati-hati mereka menuruni tangga secara bergantian. Natalia sudah sampai ke dasar terlebih dahulu lalu menunggu ibunya di sana. Naas baru setengah jalan api menyambar beberapa anak tangga menutup akses jalan Mrs Nolan.
"Mom!!"
Natalia hendak menyusul ibunya kembali naik keatas tidak peduli api semakin membesar.
"Berhenti! Cepat keluar dan panggil bantuan!"
"Tapi aku tidak mau meninggalkanmu Mom!"
"Natali! Aku baik-baik saja! Aku akan naik keatas kembali mencari tempat yang belum terkena api!"
Natalia masih ragu-ragu untuk berlari menyelamatkan diri.
"Cepat Nak!"
Mrs Nolan meyakinkan putrinya.
"Mom! Maafkan aku!!"
Natalia berlari secepat mungkin untuk meminta pertolongan pada orang-orang di sekitar. Ia lupa bahwa sebagian besar tetangganya sudah berpindah tempat.
__ADS_1
"Tolong! Rumahku terbakar dan ibuku masih di dalam sana!!"
Natalia terus berlari menuju jalan raya yang ramai tanpa alas kaki.
"Tolong! Segera panggilankan pemadam kebakaran!!"
"Ada apa Nona?!"
"Rumahku!! Dan ibuku.."
"Tenanglah! Kau duduk disini! Aku akan menelepon pemadam kebakaran!"
Natalia tidak akan bisa duduk dengan tenang mengingat ibunya masih dalam bahaya, ia terus berteriak histeris.
"Kumohon cepatlah! Ibuku!!"
Beberapa orang mulai berkerumun karena mendengar keributan yang di timbulkan oleh Natalia. Lalu mereka berbondong-bondong menuju ke rumah Mrs Nolan.
"Apinya sudah cukup besar!"
"Apakah hydrant itu tidak berfungsi??"
"Tunggu sampai pemadam kebakaran datang!"
"Tapi katanya masih ada orang di dalam?!"
Natalia terduduk lesu di depan rumah yang menyala.
"Mom!!"
***
Mrs Nolan membuka semua jendela untuk mengurangi kelud hitam yang semakin mengganas dan membuat dirinya terbatuk-batuk. Sesaat sudut matanya menangkap sosok seorang lelaki tengah berdiri di pekarangan belakang rumah Mrs Nolan. Lelaki itu mengenakan topeng yang menutupi seluruh bagian wajahnya.
Dan ternyata lelaki itu sedang menenteng sebuah jerigen bensin!
"Kau!! Uhuk!!"
Lelaki itu menoleh ke arah Mrs Nolan.
"Kau yang membakar rumahku! Uhuk!! Uhuk!!"
Pria itu hanya diam tak bergeming menyaksikan Mrs Nolan yang mulai kesulitan bernafas. Setelah itu ia melompat keluar pagar.
"Tunggu!Uhuk!!"
Mana mungkin Mrs Nolan melompat dari lantai dua untuk mengejarnya. Yang jelas rumahnya memang sengaja dibakar. Apakah ia telah melakukan kesalahan besar kepada orang lain? Siapa dalang di balik semua ini?
Di pikirannya hanya ada satu nama yang terlintas...
Edric Harisson.
KRRTT!! KRTT!! BRAK!!!
__ADS_1
Tiang kayu penyangga rumah dan plafon mulai rapuh berjatuhan di lalap api. Sudah tidak ada tempat untuk bersembunyi lagi. Setidaknya Natalia berada di tempat yang aman. Jika tadi Mrs Nolan tidak menyuruhnya pergi akan ada dua nyawa manusia terbuang sia-sia.
Tubuh Mrs Nolan melemah karena terlalu banyak menghirup asap tebal. Matanya terasa pedih.
"Louis, aku dapat melihatmu di sana.. Maafkan aku tidak dapat menjaga rumahmu.."
Mrs Nolan merintih kesakitan ditengah kobaran api yang mulai membakar permukaan kulit keriputnya. Tercium bau daging terpanggang. Dan itu daging dari tubuhnya sendiri.
Ia berpikir ini adalah ahkir dari hayatnya.
***
Suara sirine pemadam kebakaran mulai terdengar berlalu lalang di area komplek perumahan Mrs Nolan. Para petugas segera menyemprotkan air ke arah rumah yang terbakar. Setelah di rasa cukup aman, beberapa petugas mencoba menerobos masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan Mrs Nolan. Seperti keterangan putrinya bahwa ia masih terjebak di dalam sana.
Cukup sulit mengevakuasi korban kebakaran karena sebagian besar rumah itu mengalami kerusakan parah. Dengan langkah penuh hati-hati mereka menyusuri setiap ruangan. Hingga seorang petugas menemukan Mrs Nolan di lantai dua dalam keadaan menggenaskan meringkuk di depan kamar mandi.
"Disini! Cepat bawa kantung mayatnya!"
Setelah diperiksa lebih lanjut, petugas itu meralat ucapnya.
"Dia masih hidup! Bawa tandu darurat dan tabung oksigen!"
Natalia semakin menangis histeris ketika melihat keadaan ibunya yang terluka parah. Hampir seluruh bagian kulit Mrs Nolan melepuh membentuk bulatan bulatan kecil menggelembung. Tercium bau hangus dari rambutnya yang hampir habis terbakar.
"Seharusnya aku tidak meninggalkanmu Mom!!"
Petugas Ambulans mencegah Natalia untuk mendekatinya.
"Biarkan tim medis yang menanganinya. Sebaiknya anda juga melakukan pemeriksaan bila ada yang terluka!"
"Aku baik-baik saja! Aku akan mendampingi ibuku!"
"Mohon jaga jarak Nona! Ibumu perlu perawatan serius!"
Ahkirnya Natalia mengalah demi kebaikan ibunya.
Entah Tuhan sedang berbaik hati kepada Mrs Nolan memberikan kesempatan kedua untuk hidup kembali atau mungkin berlanjut untuk memberikan sebuah penderitaan?
Selama tiga bulan lamanya ia dalam keadaan kritis. Dokter mengatakan ini sebuah keajaiban. Walaupun tak dapat di pungkiri Mrs Nolan akan mendapatkan luka bakar yang cukup serius. Beberapa syaraf nya pun rusak parah sehingga kedua kaki Mrs Nolan mengalami disfungsi.
Mrs Nolan dapat bertahan hidup dan berangsur-angsur pulih. Natalia menangis terharu, penantian dan doanya di kabulkan. Ia berjanji tak akan tidur menggunakan penutup telinga lagi. Dan juga dalam keadaan apapun tidak akan meninggalkan ibunya sendirian.
Mereka berpelukan cukup lama.
"Mom, aku akan mengurus berkas terlebih dahulu. Jika perlu bantuan tekan tombol darurat ini.."
Mrs Nolan mengangguk mengerti. Ia memperhatikan putrinya keluar dari ruang rawat inap. Siapa sangka mereka berdua akan selamat dari insiden kebakaran itu.
KLEKK!
Pintu terbuka seseorang masuk ke ruangan. Mrs Nolan berpikir itu adalah putrinya.
"Apa ada yang keting~"
Kata-katanya terhenti. Yang berdiri di ambang pintu bukanlah Natalia melainkan Edric Harisson.
__ADS_1