
Level tertinggi dari balas dendam adalah dengan memaafkan orang yang telah menyakiti kita. Itulah yang di lakukan Jane Ainsley saat ini. Setelah ia mempertimbangkan dengan matang dan meminta saran dari orang-orang terdekat ahkirnya Jane memutuskan untuk mengunjungi Edric Harisson di tempat rehabilitas.
Keadaan Edric benar-benar tidak tertolong. Jane sendiri sempat meragu bahwa ia salah mengunjungi kamar Edric.
"Jane Ainsley.. Jane.. Jane..."
Edric mulai bergumam tidak jelas. Aneh, bukankah Anna Harisson mengatakan bahwa Edric tidak dapat mengenali orang-orang terdekatnya lagi? Tapi ia masih mengingat nama Jane dengan sempurna.
"Kau tahu Edric, bagiku pertemuan kita adalah suatu kesalahan. Aku tidak pernah mencintaimu.."
"Berhenti! Jangan lanjutkan bicara!
Jane tidak menghiraukan larangan Edric.
"Aku telah memaafkanmu. Mari kita saling melupakan.."
"Tidak! Aku tidak akan bisa melakukan itu!"
Jane menggelengkan kepalanya, ia pun mulai beranjak pergi.
"Selamat tinggal Edric.."
"Jane Ainsley tunggu! Beri aku kesempatan!"
Edric melihat sosok wanita yang dicintainya berjalan pergi menjauh. Ingin rasanya Edric menyingkirkan pintu yang menjadi penghalang diantara mereka untuk segera mengejar Jane.
Edric berharap semua ini adalah sebagian dari mimpi panjangnya, namun rasa sakit ini begitu nyata bila di abaikan, hingga tak dapat di lukiskan dengan kata-kata.
Dua puluh tahun termasuk waktu yang cukup lama. Bila Edric pulih dari depresinya, ia tetap harus menjalani hukuman di balik jeruji besi.
Edric masih saja melihat ke arah lorong berharap Jane akan datang kembali. Namun di sisi lain Edric cukup sadar bahwa ia telah kehilangan Jane untuk selamanya.
***
Ingat dengan Tammy? Salah satu rekan Jane sekaligus pemilik toko furniture. Jane berhubungan kembali dengan temannya itu, karena hanya toko Tammy lah yang menjual barang dengan harga terjangkau.
__ADS_1
Hari ini adalah jadwal pengiriman barang pesanan Jane ke kantornya. Kepala toko outlet yang dulu di pekerjaan Tammy, yaitu Alex telah di pecat. Kini Tammy memperkerjakan pegawai baru wanita yang umurnya jauh lebih muda dibanding Jane sendiri yang bernama Amber.
Seperti biasa Tammy selalu ingin tahu apapun yang bersangkutan dengan Jane. Dengan senyum lebar ia menunjuk ke arah Daniel Wynford yang tengah sibuk membantu memindahkan beberapa barang pesanan sambil mengeceknya satu-persatu.
"Siapa dia? Apakah dia pacarmu?"
"Dia rekan kerjaku.."
"Benarkah? Aku tidak percaya.."
Jane memutar kedua bola matanya lalu mengalihkan perhatiannya pada sekumpulan nota.
"Ayolah Jane! Dia terlalu tampan untuk dijadikan rekan kerja! Lihat ototnya yang terbentuk indah itu bahkan Amber terus menatapnya tanpa berkedip!"
Jane melirik sekilas ke arah Daniel Wynford, pria itu mengenakan kaos singlet karena memang cuaca sedang panas. Benar apa yang di katakan Tammy, otot lengan Daniel terlihat begitu seksi walaupun ia berkeringat sekalipun. Apakah Daniel rutin berolahraga? Mengapa Jane baru menyadarinya.
"Jane kau masih menyukai seorang pria kan?"
Andai Tammy tahu berapa jumlah mantan pria yang telah ia kencani sewaktu kuliah bahkan Jane pernah berkencan dengan salah satu CEO terkaya di kota Louisiana, pasti Tammy akan langsung membungkam mulutnya. Jane yakin setelah ini Tammy akan membahas tentang pernikahan.
"Umurmu sudah hampir menginjak tiga puluh tahun Jane. Segeralah berumah tangga sehingga kau tidak akan terlalu tua bila memiliki anak."
Jane menghela nafas panjang. Tidak hanya Tammy, sudah banyak temannya yang lain menyarankan hal serupa. Terkadang mereka memaksanya mengikuti kencan buta.
Jane bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan wanita umur tiga puluh tahun dan belum menikah? Hal itu seolah-olah menjadi aib yang memalukan. Jane masih ingin menikmati masa lajangnya.
Sebelum Tammy dan para karyawannya pulang, Jane sempat melihat Amber meminta nomor telepon Daniel dengan alasan untuk pekerjaan.
"Hei Daniel lain kali kenakanlah pakaian yang benar! Kau memang sengaja memamerkan tubuhmu?!"
Daniel yang saat itu sedang menghabiskan satu botol air mineral langsung memandang ke arah Jane dengan tatapan penuh tanya.
"Apakah aku telah melakukan kesalahan Jane?"
__ADS_1
"Sudahlah lupakan."
Jane pun berlalu. Jane sendiri tak mengerti mengapa ia justru merasa uring-uringan sendiri.
Daniel mengangkat kedua bahunya, mungkin Jane masih dalam masa haidnya sehingga bersikap lebih sensitif.
***
Jane sedang menerka-nerka apakah nenek Lindsay diam-diam bertemu dengan Tammy tanpa sepengetahuan Jane?
Sejauh ini Nenek Lindsay tidak pernah mempertanyakan perihal statusnya dengan Daniel. Namun ketika mereka sedang makan malam bersama tiba-tiba neneknya menyebut nama pria itu.
"Ini semua makanan pemberian dari Rene Wynford, aku hanya menghangatkannya."
Semenjak insiden kejadian itu terkadang Rene Wynford berkunjung kemari untuk sekedar menanyakan kabar Nenek Lindsay. Dan ia mendapatkan kenaikan jabatan karena menangani kasus Edric Harisson.
"Ucapakan salam terima kasihku kepadanya bila bertemu lagi.."
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan putra Rene?"
"Kami cukup saling membantu. Usaha kami berjalan dengan baik sejauh ini.."
"Bukan itu yang ku maksud anak bodoh!"
Nenek Lindsay menyentil dahi Jane hingga kulitnya memerah. Jane pun mengusap dahinya.
"Jangan lagi Nek!''
"Segeralah menikah sebelum aku mati."
"Nenek tidak akan mati sebelum aku memberikan cicit!"
"Berbicara denganmu seperti berbicara dengan batu."
Nenek Lindsay menyudahi makan malamnya kemudian ia berjalan menuju kamar. Jane yang ditinggal sendirian termenung cukup lama di meja makan. Ia tidak pernah membayangkan jika neneknya akan pergi meninggalkan Jane untuk selamanya.
Hampir semua orang terdekatnya mengarahkan Jane untuk menikah dengan Daniel Wynford. Bila Vivian masih hidup apakah ia juga akan menyarankan hal yang sama?
__ADS_1
Aku tak habis pikir, mengapa orang-orang begitu memihakmu Daniel? Kau tidak berbuat curang kan?