Dendam Jane

Dendam Jane
Sebuah Kunjungan Teman


__ADS_3

Mobil suv putih milik Jane berjalan mulus tanpa hambatan menuju ke rumah Vivian yang baru. Hari ini jalanan tampak lengang.


Rumah Vivian dan Edric termasuk perumahan kalangan elite. Di sepanjang perjalanan Jane disuguhi pemandangan indahnya lautan. Airnya tampak berkilau bagikan permata saat tertimpa sinar matahari.


Jane mengikuti arah petunjuk GPS yang dikirimi Vivian. Kurang lebih satu jam, Jane sampai dirumah Vivian.


Rumah tingkat mewah bergaya modern. Cat temboknya berwarna putih bersih. Gerbang besar berwarna keemasan menyambutnya. Jane menekan bel rumah yang terdapat pada dinding pagar rumah Vivian. Tiga menit kemudian dilihat nya sosok wanita yang telah dikenalnya bertahun tahun menyambut Jane.


"Masuklah, aku sudah menunggumu Jane.." sapa Vivian riang. Pintu gerbang membuka otomatis. Jane memarkirkan mobilnya pada garasi yang tersedia.


"Wow! Rumah barumu sangat indah.."


Tidak hanya sekedar pujian semata, memang bangunannya dirancang begitu sempurna. Pantas saja Edric Harisson begitu sukses mengembangkan bisnis Real Estate dan Apartement nya. Pasti ia memiliki Arsitek yang cerdas dan terampil.


"Apa kau sendirian dirumah?"


"Ya, Edric sedang ada rapat, dan ini rumah baru belum ada pengurus atau pelayan rumah.."


Vivian menggandeng Jane masuk kerumah nya menuju ruang tamu. Sofa empuk berlapis kulit menantinya.


"Duduklah! Aku akan menyiapkan minum untukmu.."


Jane tertawa.


"Oh! Benarkah ini Vivian yang ku kenal, aku tidak yakin kau membuatkan minuman untukku hahahaha"


"Lihat saja! Akan kuracuni minuman mu!"


Jane mengikuti Vivian masuk ke dapur memastikan sahabatnya benar benar menjamunya dengan baik sambil mengintip dapur milik Vivian.


Perabotan memasak lengkap telah tertata rapi pada kabinet. Sungguh Edric pasti orang yang cukup kaya. Vivian tidak perlu khawatir akan kebutuhan finansial. Pasti Edric mampu menafkahi nya dengan baik.


"Aku membelikanmu kue yang kau sukai, jadi kau tak perlu menyiapkan camilan lagi.."


Jane membuka kotak yang dibawanya berisi kan kue. Lalu memotongnya menjadi beberapa bagian dan disajikan diatas piring.


Setelah siap dengan segala kudapan yang mereka buat, mereka mengobrol santai di ruang tamu.


Vivian sangat antusias menceritakan kebaikan Edric. Bagaimana Edric memperlakukannya bagaikan Tuan Putri. Mengajaknya berlibur ditempat tempat romantis dan indah. Raut kebahagiaan terpancar di wajahnya. Jane pun turut senang mendengarnya.


Hari mulai sore, Edric belum juga pulang, tetapi Jane harus kembali ke kota.

__ADS_1


" Aku harus pulang sebelum malam.."


"Kau tidak mau menunggu Edric? Mungkin sebentar lagi dia akan pulang.."


"Lain kali saja, sampaikan salamku padanya.."


Jane bersiap siap untuk pulang. Vivian mengikuti hingga ke depan gerbang.


"Kapan kapan menginaplah disini Jane.."


"Hei! kita bukan gadis remaja lagi Vivian, aku tidak mungkin menganggu waktumu dengan Edric..Sampai jumpa!" Jane menutup pintu mobil dan mulai menyalakan mesin.


"Mengapa tidak? Hanya sesekali.."


"Aku pikirkan nanti.."


"Hati-hati dijalan Jane!" Vivian melambaikan tangannya.


Vivian memandang mobil Jane yang mulai menjauh , lalu menghilang di belokan.


***


Tiga bulan lamanya kehidupan rumah tangga Vivian tidak ada kendala sama sekali. Justru hubungan mereka sangatlah harmonis.


"Belum.."


"Mau mandi bersama?" Edric tersenyum menggoda.


"Ide bagus.." Vivian menyetujui ajakannya. Edric menggendong Vivian ala bridal style menuju kamar mandi.


Edric melucuti pakaian Vivian.


"Oww Edric kau tampak tidak sabar.." Vivian tertawa kecil saat tangan Edric dengan cepat melepas seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat.


"Denganmu aku selalu tidak sabar. Aku ingin segera memasukimu.." Edric merenggangkan gesper nya. Terlihat tonjolan bukti gairah Edric.


Mereka mulai berciuman dibawah shower yang mengalir. Ciuman mereka semakin panas. Direnggangkannya kaki Vivian hingga mengait ke tubuhnya. Edric berjalan menuju nakas lalu mendudukan Vivian disana.


"Buka kaki mu Vivian.."


Vivian membuka kakinya dengan malu malu padahal Edric adalah suaminya dan sudah sering melakukannya. Edric menatap Vivian penuh hasrat, lalu dengan perlahan ia memasuki Vivian.

__ADS_1


Suara desahan terdengar. Malam itu Edric dan Vivian bercinta hingga tiga kali.


Tubuh Vivian terasa lumpuh dibuatnya. Tetapi ia bahagia.


***


Malam ini Vivian mencoba belajar memasak, ia ingin menyiapkan makan malam untuk Edric. Tetapi percobaannya gagal, Vivian salah memasukan bumbu resep sehingga rasanya menjadi aneh.


Dibuangnya hasil masakan Vivian ke tong sampah. Ia menghela nafas.


"Ternyata memasak itu sesulit ini, bahkan masakan sederhana pun aku tak bisa.."


Waktu menunjukan pukul setengah sebelas malam, Edric belum pulang kerumah saat ini. Apakah dikantornya sedang banyak pekerjaan? Mengapa Edric belum pulang dan tidak mengabari Vivian?


Vivian menunggu Edric di ruang santai sambil menonton televisi. Ia sudah memesan makanan melalui layanan antar. Vivian menyerah untuk memasak lagi.


Menit berlalu malam semakin larut, Vivian setengah mengantuk. Tiba tiba terdengar suara mobil suaminya datang. Ahkirnya yang ditunggu sedari tadi.


"Malam sayang, mengapa pulangmu sangat terlambat.." Vivian menyambut Edric di depan pintu.


"Pekerjaanku banyak hari ini.." Edric berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih. Ia mengamati meja dapur tampak kosong.


"Kau tidak memasak makan malam untukku? " Dahi Edric berkerut.


"Aku telah memesankan makanan melalui layanan antar, disini baru saja datang.." Vivian menunjuk ke arah meja ruang santai. Terlihat beberapa bungkusan berisi makanan.


"Mengapa kau tidak mencoba memasak sendiri?" Suara Edric berubah jadi dingin. Vivian tertegun tidak biasanya Edric marah bahkan pada hal sepele sekali pun. Suaranya selalu lembut kepadanya.


"Aku tadi sudah mencoba tetapi gagal lalu aku membuangnya. Lain kali aku akan belajar lagi.."


Edric menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Bisakah kau sedikit berguna.."


Vivian membelalakan matanya. Edric suaminya yang selama ini begitu lembut dan selalu bersikap manis sekarang tengah berbicara kasar dengannya.


Vivian mencoba berpikir positif. Ini mungkin memang salahnya. Edric pasti sedang capek sehabis bekerja. Seharusnya ia sedari dulu belajar memasak.Vivian bertekad akan belajar lebih giat, kalau perlu Vivian akan mengikuti les kursus memasak.


"Maafkan aku Edric.." kata Vivian lirih.


"Sudahlah aku lelah hari ini. Simpan saja masakannya untuk besok.." Edric berjalan meninggalkan Vivian menuju ke kamar.

__ADS_1


Hati Vivian terasa sakit, ini pertama kalinya Edric bersikap dingin. Bahkan biasanya mereka tidur berpelukan, tetapi kini Edric memunggunginya.


Mungkin esok setelah beristirahat Edric akan kembali seperti semula. Vivian akan berusaha bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Lalu Vivian akan meminta maaf sekali lagi. Ia tak mau bertengkar terlalu lama dengan Edric.


__ADS_2