
Episode ini mengandung konten dewasa. Diperuntukkan umur 18 tahun keatas. Mohon pembaca menyikapi dengan bijak.
***
Dengan sekali sentakan Edric memasuki tubuh Jane.
"Ah..Edric.."
Jane mengerang kesakitan karena ia sudah lama tidak melakukan hubungan s3x dengan pria. Kuku jemarinya mencakar punggung Edric hingga meninggalkan goresan merah di kulit. Airmatanya merebak di pelupuk mata.
Edric menganggap erangan yang terlontar dari bibir Jane karena ia memang menikmatinya. Kemudian kedua tangan Edric membuka kaki Jane lebih lebar. Edric dapat melihat miliknya terbenam sepenuhnya di dalam lipatan lembut itu.
"Uh.."
Ia pun mulai menggerakkan pinggulnya.
Sungguh Jane berbeda dari yang lain. Rasanya Edric ingin meledak dalam waktu sesingkat ini.
"Jane Ainsley.."
Edric semakin mempercepat ritme permainan mereka. Jane meremas sprei ranjang erat-erat sambil menggigit bibirnya menahan teriakan. Stamina Edric benar-benar luar biasa.
"Berteriak lah.."
Jane langsung berteriak.
Edric tidak bisa menahan diri lagi. Ia memajukan pinggulnya memperdalam p3n3trasi. Semenit kemudian lenguhan panjang keluar dari mulut Edric tanda pelepasan. Tubuhnya ambruk menindih Jane.
Hening sesaat, mereka mengatur nafas masing-masing. Barulah Edric angkat bicara.
"Menginaplah disini.."
Dengan lembut Edric mencium cekungan kecil pada bahu Jane.
"Ya.."
Edric menyandarkan kepalanya di atas dada Jane hingga dapat mendengar suara detak jantungnya.
Jika Jane masih memiliki sisa tenaga, ia lebih memilih pulang ke apartemennya sendiri. Namun kedua kakinya sedang tidak mau diajak berkerja sama. Jane merasa lelah dan mengantuk.
"Pejamkan matamu.."
Edric merubah posisi tubuhnya agar Jane merasa nyaman bersandar di lengannya.
Ahkirnya Jane jatuh tertidur di pelukan Edric.
***
Jane mengerjapkan matanya berkali-kali, ia sedang berusaha mengenali tempat asing di sekitarnya. Ini bukan kamar milik Jane!
"Shitt!!"
Jane langsung terbangun begitu mengingat kejadian semalam. Bahkan ia masih dalam keadaan t3lanj4ng bulat. Jane menutup wajahnya dengan selimut.
__ADS_1
"Apa yang sudah kulakukan.."
Terlambat bagi Jane untuk menyesal, ia telah tidur bersama Edric Harisson. Ya Edric, mantan suami sahabatnya Vivian Kaelee.
Lalu dimana pria itu sekarang?
"Edric..?"
Tak ada sahutan.
Apakah Edric sudah berangkat bekerja? Jane hendak turun dari ranjang lalu mencari pakaiannya. Yang ia lihat kamar sudah tertata rapi.
"Dimana pakaianku?!"
Barulah Jane menyadari Edric meletakkan sepiring sandwich dan segelas susu putih di atas meja. Sebuah catatan terselip diantara pinggan.
Makan dan habiskan susunya!
Pakaianmu terlipat diatas mesin pengering.
Kau bisa menggunakan mobilku untuk pulang.
Dan aku akan meminta izin pada personalia atas namamu.
Hubungi aku segera setelah kau bangun!
Wow! Jane hampir tak bisa berkata-kata. Jadi yang membereskan kamar adalah Edric? Pakaian milik Jane pun sudah dicuci. Hidupnya saja mungkin tidak seteratur ini.
"Cih! Apanya yang menyembunyikan hubungan. Dia justru mau mempertontonkan bahwa aku adalah miliknya!"
Untung saja cuaca di luar sedang dingin, Jane bisa pulang sebentar berganti pakaian model turtleneck atau memakai syal untuk menutupi semua itu. Jane akan tetap masuk bekerja. Selain masih banyak hal yang harus ia kerjakan, Jane tak mau Edric mengijinkan ketidakhadirannya pada personalia. Yang ada rumor semakin bertambah!
Ia juga tak akan memakai mobil Edric. Bayangkan saja saat diperjalanan tanpa sengaja Jane mengalami kecelakaan. Berapa kerugian yang harus ia tanggung untuk memperbaiki mobil mahal Edric? Lebih baik Jane naik bus umum menuju kantor.
Hmm, jika di pikir lagi Edric begitu mempercayai Jane hingga meninggalkan dirinya di sini sendirian. Apakah ini kesempatan bagi Jane untuk menggeledah setiap ruangan Edric? Mungkin ia dapat menemukan hal penting untuk menyudutkan pria itu kelak.
Langkah Jane segera terhenti. Hampir saja ia bertindak gegabah. Mengingat apartemen Edric sudah sangat canggih dilengkapi dengan lampu sensor. Bisa saja di setiap sudut ruangan ini di lengkapi kamera pengintai. Jane langsung mengurungkan niatnya semula.
Intuisi Jane sangat tepat. Edric memang sedang mengawasi Jane dari kantor. Semua kamera pengintai di apartemennya telah tersambung di salah satu program laptop nya.
Sejauh ini tak ada hal yang mencurigakan dari gerak-gerik Jane. Kekasih nya itu sedang asyik menyantap sandwich buatannya. Lalu setelah mandi ia bersiap untuk pergi.
"Mengapa dia belum menghubungi ku?"
Baru saja Edric hendak menelpon, Jane mengirim sebuah pesan.
Jane Ainsley: Terimakasih atas sarapannya Tuan Edric..
Edric Harisson:Kau sedang dimana?
Jane Ainsley: Naik bus umum. Kau tidak perlu menghubungi personalia, aku akan masuk kerja.
__ADS_1
Edric Harisson: Bukankah pesan yang kutulis sudah jelas? Mengapa kau tidak memakai mobilku?
Jane memutar kedua bola matanya. Dasar tukang pengatur!
Jane Ainsley: Aku belum terbiasa menyetir mobilmu.
Edric Harisson: Lain kali hubungi aku lebih dulu.
Jane tidak membalas pesan Edric lagi karena kantor sudah dekat beberapa meter. Ia terlambat dua puluh menit.
Jane berlari memasuki gedung. Sialnya ia menabrak seorang pria.
"Maaf! Aku sedang terburu-buru! Atasanku sangat galak sekali!"
Jane menangkupkan kedua telapak tangannya tanda meminta maaf. Ia masih terus berlari. Anggap saja Jane sedang berolahraga.
Pria yang ditabrak mengangkat bahunya.
Begitu Jane melenggang masuk ke perusahaan Harisson, beberapa karyawan melihat kearahnya lalu mulai berbisik-bisik. Yah! Jika sudah di benci, satu kesalahan kecil pun akan di besar besarkan.
Jane harus menguat hati.
Tapi kemudian muncul masalah lain, ketika Jane hendak naik ke lift karyawan, tiba-tiba Samantha memotong jalannya. Tidak hanya itu, Samantha menumpahkan kopi panas yang ia bawa di atas baju rajut Jane.
Jane memekik. Semua mata langsung memandang ke arah mereka.
"Maaf aku tidak sengaja dan juga terburu-buru.." Samantha memasang wajah memelas.
Apakah ini adalah hari sial Jane? Entahlah wanita ini sengaja melakukannya atau tidak. Tapi kesabaran Jane juga ada batasnya.
Kau salah berhadapan denganku..
Bukankah ia sudah di cap buruk? Sekalian saja Jane masuk ke dalam kubangan karena dianggap kotor. Karyawan lain pun seolah menunggu respon dari Jane. Menunggu drama? Oke, Jane akan memberikan itu.
"Huft! Yah, aku memaafkanmu. Setidaknya jika aku sedang membawa minuman panas, aku akan lebih memperhatikan langkahku agar tidak mencelakai orang lain."
Wajah Samantha merah padam. Jane tidak peduli. Ia merasa puas. Kemudian Jane masuk ke dalam lift.
"Mau naik bersama?"
Samantha membuang muka. Begitu pintu lift tertutup. Karyawan lain pun segera mendekati Samantha.
"Apa-apaan dia? Padahal kau sudah meminta maaf.."
"Seharusnya ia tidak perlu berucap begitu."
"Sudahlah tidak apa-apa. Aku yang salah.."
"Kau terlalu baik Samantha."
Berbagai ucapan simpati menghujani Samantha. Jane bisa bertindak sombong, tetapi dia hanyalah pendatang baru yang banyak tingkah.
Hanya karena Edric berada di pihaknya, Jane sudah berani mendongakkan kepalanya. Padahal ia tak memiliki siapa pun disini.
__ADS_1
Akan kubuat hari kerjamu bagaikan di neraka..