Dendam Jane

Dendam Jane
Malam Pertama Vivian


__ADS_3

Malam ini Vivian merasa gugup. Ini adalah malam pertamanya dengan Edric Harisson yang telah menjadi suaminya.


Cukup lama Vivian berada di dalam kamar mandi, sedangkan Edric menunggu nya diluar.


Edric membawa Vivian pada salah satu rumah mewah miliknya yang dekat dengan pantai Louisiana.


Saat pertama kali datang dan masuk keruangan. Edric sengaja sedikit menghias rumahnya untuk Vivian. Tempat tidurnya dipenuhi dengan bunga mawar merah. Tercium aroma terapi yang wangi. Foto pernikahan mereka telah terpasang rapi pada dinding. Rumahnya pun disuguhi dengan pemandangan indah lautan.


Seperti sedang berada dalam novel romantis. Kebetulan malam itu bulan purnama. Pantulan bulan pada permukaan air laut semakin membuat suasana dramatis. Semua ini membuat Vivian takjub seolah semua nya memang dipersiapakan untuknya.


Aku harus segera keluar, Edric pasti sedang menungguku.


Sekali lagi Vivian memandang ke cermin memastikan penampilannya tampak sempurna. Ia sudah menggosok gigi , mencukur rambut pada kaki tangan dan tempat lain yang dirasa harus dirapikan, lalu membalurkan lotion wewangian pada seluruh tubuhnya.


Vivian melangkah keluar dengan perlahan. Lampu kamar di redupkan, cahaya bulan semakin terlihat jelas menyorot ke arah kamar.


Diatas ranjang Edric menggunakan kemeja putih yang telah dibuka seluruh kancingnya menampakan dada nya yang bidang. Rambutnya sedikit berantakan namun justru terlihat sexy. Vivian terpukau pada ketampanan Edric. Dengan latar belakang bulan Edric seperti seorang pangeran dari negeri dongeng.


"Kemarilah sayang, biar aku dapat melihat kecantikanmu lebih dekat.." Edric menepuk ranjang disampingnya.


Vivian merasa malu wajahnya memerah, ia menyesal telah menggunakan baju tidur warna merah yang sangat tipis sehingga mempertonton kan sebagian besar tubuhnya. Apakah Edric akan suka?


Dengan perlahan Vivian mendekati Edric.


"Kau tak perlu malu, Aku suka melihatmu menggunakan gaun tidurmu itu.." Edric melihat kearah Vivian dengan intens.


"Edric aku baru pertama kali melakukannya.." Vivian mengungkapkan keraguannya.


Edric memeluk Vivian dengan lembut lalu berbisik ke telinganya.


"Tenanglah aku akan memperlakukanmu dengan sangat lembut agar kau dapat menikmatinya.."


Mereka meminum red Wine bersama agar lebih rileks. Kemudian Edric mulai mencium Vivian. Ciuman rasa Wine.


Awalnya hanya ciuman ringan lama lama semakin dalam. Edric pandai berciuman. Vivian terlena dibuatnya.


Tangan Edric mencari tali pada baju tidur Vivian, dengan perlahan ia melepas baju Vivian satu persatu. Barulah Edric melepas pakaiannya.

__ADS_1


"Kau sudah siap sayang.."


Vivian menganggukan kepalanya. Sedetik kemudian rasa sakit menjalar hingga tubuh Vivian terasa kaku. Airmatanya mengalir. Edric menciumnya berusaha menghalau rasa sakit.


"Hanya malam ini sayang.."


Edric memasuki Vivian lebih dalam.


Yang Vivian ingat, ia terus memeluk erat tubuh Edric hingga mereka selesai bercinta. Vivian merasa lelah dan jatuh tertidur.


***


Aroma masakan tercium, membangunkan Vivian dari tidurnya. Ia telanjang tanpa sehelai pakaian pun, tubuhnya tertutup selimut. Saat Vivian bangun pinggangnya terasa nyeri ahkibat semalam.


Terdapat bercak darah mengotori selimut. Itu bukti bahwa Vivian sudah tidak perawan.


Edric tidak tampak dalam kamar. Apakah Edric yang sedang memasak?


Dengan perlahan Vivian turun dari ranjang dan berjalan menuju ke arah dapur.


Benar saja, dilihat nya Edric sedang sibuk menggoreng telur. Ia hanya mengenakan celana santai tanpa memakai bajunya. Vivian tersenyum. Pemandangan Edric yang memasak bertelanjang dada sangatlah menarik.


"Sedikit.."


"Aku sudah membuat kopi, jika kau ingin.."


Vivian duduk pada kursi makan menuangkan kopi lalu meminumnya.


Makanan di hidangkan di meja, Edric membuat telur goreng beserta roti panggang dengan keju leleh dan beberapa daging asap. Setelah mematikan kompor Edric bergabung di meja makan.


"Tidak kusangka kau pandai memasak.."


"Hanya sedikit yang kubisa.."


"Aku bahkan tidak semahir dirimu, tetapi aku nanti yang akan mencuci piringnya.."


Tentu saja sejak kecil Vivian selalu di layani oleh pelayan. Ia tidak pandai memasak, bahkan sebenarnya Vivian jarang melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, pakaian maupun membersihkan rumah. Tapi Vivian akan berusaha melakukan itu untuk Edric. Jika ia tidak mampu Vivian akan meminta Edric memperkerjakan pembantu rumah tangga.

__ADS_1


"Setelah ini mau mandi bersama, lalu jalan jalan keluar?" Edric mengajak Vivian.


"Ya, ide menarik, aku setuju.."


Setelah selesai makan dan membereskan meja. Mereka mandi bersama. Tentu mereka bercinta lagi saat mandi ,layaknya sepasang pengantin baru.


***


Suara deringan telepon berbunyi nyaring, Vivian segera mengangkat nya ketika melihat nama Jane muncul di layar ponsel.


"Haii!! Bagaimana kabarmu.."


"Sangat baik.. Bahkan bahagia.."


Jane merasa lega sahabatnya begitu terdengar Senang.


"Sepertinya bulan madumu berjalan lancar , bagaimana rasanya hahaha"


"Menakjubkan, Edric pria yang luar biasa, aku tidak menyesal menikah dengannya.."


Vivian pun menceritakan pengalamannya saat bersama Edric. Bagaimana Edric memperlakukanya dengan romantis. Jane ikut tersenyum dibuatnya. Mendengar suara riang Vivian, rasanya Edric pria yang baik untuk Vivian. Jadi Jane tidak khawatir lagi atas pernikahan karena bisnis ini.


"Baiklah setelah kau berbulan madu, aku ingin mengunjungimu.."


"Aku menunggumu untuk bertemu..Datang saja ahkir pekan minggu depan saat kau tak sibuk.."


Vivian memberikan alamat rumah Edric. Setelah itu mereka mengakhiri telepon.


Pernikahan sahabatnya terdengar harmonis. Saat ini Jane belum berminat menyusul sahabatnya. Bukan karena ia tak laku, justru banyak pria yang ingin berkencan dengan Jane. Tetapi Jane sedang tidak ingin menjalin hubungan serius dengan seorang pria.


Jane lebih suka bekerja. Kencan hanyalah selingan sesaat. Jane masih nyaman dengan hidupnya sendiri, tanpa ikatan.


Kelak jika Jane berniat untuk menikah, ia akan mencari pria yang tidak terlalu mengekang kebebasannya asalkan saling percaya dan bertanggung jawab itu sudah cukup. Hingga saat ini pun belum ada pria yang menarik perhatiannya.


Banyak temannya yang sangat menyayangkan itu, Jane cantik dan pintar. Temannya selalu berusaha mengenalkan Jane pada seorang pria ataupun mengajaknya ikut kencan buta dan menghadiri acara pertemuan.


Malam ini berendam lama dalam air hangat lebih terdengar menyenangkan dibandingkan harus menghadiri kencan buta bersama teman kerjanya.

__ADS_1


Jane masih ingin menikmati waktunya sendiri.


__ADS_2