
Jane sedang memarkirkan mobil di Basement perusahaan Harisson. Diantara lainnya, mobil Suv milik Jane terlihat yang paling usang. Mungkin karena para karyawan di sini mendapatkan gaji yang tinggi, mereka mampu membeli mobil terbaru.
Persetan dengan itu! Jane adalah kekasih direktur utama perusahaan ini. Apa gunanya mobil bagus?Sumber kekayaan yang sesungguhnya berada di dalam genggaman Jane.
Sepatu hak tinggi Jane beradu dengan lantai keramik menimbulkan suara yang berirama. Biasanya Jane bekerja mengenakan pakaian santai, namun karena sekarang ia menjadi pegawai di perusahaan orang lain, Jane harus memantaskan diri.
"Selamat pagi Tuan Edric Harisson.."
"Selamat pagi Tuan.."
Tanpa menoleh pun, Jane dapat menebak siapa orang yang ada di belakangnya. Jane merasa bingung. Apakah ia harus menyapa Edric layaknya seorang bawahan kepada atasan juga? Atau bersikap seperti biasa?
"Ikuti aku.." Suara bariton Edric terdengar begitu dekat di telinga Jane.
Langkah lebar Edric tertuju ke arah lift khusus untuk para petinggi di perusahaan ini agar tidak berdesakan dengan karyawan lain. Jane sempat ragu masuk ke dalam lift.
"Apa yang kau tunggu?"
Edric menahan pintu lift.
"Bukankah seharusnya aku naik lift yang di sebelah sana?"
Jane menuding lift untuk para karyawan biasa yang penuh sesak. Edric menaikan sebelah alisnya. Mana mungkin ia membiarkan Jane berdesakan di sana apalagi terdapat karyawan pria.
"Cepatlah masuk, ini perintah.."
Apakah sekarang Edric sedang menyalah gunakan kekuasaannya? Mungkinkah seorang desainer interior memiliki jabatan yang cukup tinggi di perusahaan ini?
"Baik Tuan.."
Jane melangkah masuk. Pintu lift segera tertutup, Edric menekan angka enam pada tombol lift.
"Aku pernah mengatakan, jangan berbicara formal di hadapanku.."
"Ini berbeda, sekarang kau adalah atasanku.."
"Tapi kau juga wanita dari seorang atasan."
"Edric ada hal-hal yang perlu kita bicarakan lagi mengenai hubungan kita.."
"Katakan."
"Tidak di sini.."
__ADS_1
TING!
Pintu lift terbuka. Mereka telah sampai di lantai enam.
"Apakah ruang kerjaku ada di lantai ini?"
"Ya, sama dengan ruanganku. Hanya saja aku berada di sisi barat dan kau di sisi timur."
"Kupikir aku akan di tempatkan satu ruangan bersama mu.."
Jane melontarkan candaan tetapi Edric justru menanggapi dengan serius.
"Jika kau ingin, aku akan memindahkan mejamu."
"Tuan Edric aku hanya bercanda.."
Mereka berjalan beriringan menuju ruang kerja baru milik Jane. Karyawan yang lewat langsung membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada Edric sekaligus mencuri pandang ke arah Jane.
Jane mencoba berpikir positif, mungkin karena ia pegawai baru sehingga menimbulkan rasa penasaran pada mereka semua.
"Inilah ruanganmu.."
Wow! Cukup luas untuk dirinya seorang, bahkan Jane terheran, mengapa ia tidak di tempatkan dengan karyawan lain. Jangan-jangan Desainer Interior memang menduduki jabatan yang tinggi di perusahaan ini.
Apa yang harus ia tata? Jane hanya membawa sedikit barang seperti pen tablet, buku sketch dan alat tulis pribadi, padahal kantor sudah menyediakan semuanya.
Selama sepuluh menit, Jane habiskan dengan menelusuri ruangan.
Fasilitas yang sangat memadai, terdapat lemari pendingin kecil di samping nakas dan juga mesin pembuat kopi. Pemandangan dari sini pun cukup indah.
Jane menggunakan sisa waktu untuk menikmati pemandangan kota Louisiana. Hingga waktunya tiba, Jane bersiap menuju ruang meeting.Ternyata di sana sudah ada beberapa orang duduk di kursi masing-masing.
Jane sedikit gugup. Apakah ini waktunya perkenalan diri?
Edric menepuk pundak Jane secara perlahan memberikan dukungan.
"Selamat pagi. Nama saya Jane Ainsley. Saya adalah karyawan baru menjabat sebagai Desainer Interior. Mohon bantuan untuk kedepannya jika saya mengalami kesulitan. Terimakasih.."
Jane menampilkan senyuman sebaik mungkin. Kemudian Edric mempersilahkan Jane duduk di kursi yang sudah tersedia, barulah ia mengambil alih rapat.
Entahlah, selama Edric memberikan penjelasan, Jane merasa wanita yang duduk di seberangnya menatap dengan tajam. Apa ada yang salah dengan penampilan Jane?
__ADS_1
Jane memberanikan diri untuk balas menatapnya karena ia mulai merasa terganggu. Ya, wanita itu secara terang-terangan memandang Jane dengan tatapan sinis.
Mungkinkah Jane pernah melakukan kesalahan yang tidak di sengaja pada wanita itu? Bahkan sepertinya mereka tak pernah bertemu sama sekali.
Jane melirik ke arah kartu tanda pengenal yang tergantung di leher wanita itu.
Samantha Francieli.
Sekertaris.
Nama yang bagus. Apakah dia sekertaris Edric?
Sedetik kemudian Jane baru menyadari suatu hal. Mungkinkah wanita itu selingkuhan Edric?
Gotcha!! Tanpa susah payah aku menemukanmu B1tch!
Jane menyeringai. Walaupun ia harus memastikan lagi apakah Samantha benar-benar wanita yang merusak rumah tangga sahabat nya, Jane berani bertaruh tebakannya tidak meleset. Sikap wanita itu seakan sedang memusuhinya dibandingkan dengan karyawan yang lain.
Rapat pun selesai, semua kembali ke ruang masing-masing.
Samantha langsung memprotes Edric atas keputusan yang ia ambil tanpa persetujuan darinya. Karena biasanya apapun tindakan yang menyangkut tentang perusahaan selalu di diskusikan bersama.
"Edric, kita sudah punya tim desainer interior sendiri. Mengapa kau merekrut karyawan baru lagi?"
"Ini berbeda, dia memiliki kemampuan diatas tim kita."
"Kita hanya perlu melakukan pelatihan ulang pada tim lama. Dengan adanya karyawan baru itu justru akan menambah anggaran di perusahaan."
"Tim lama dapat belajar dari Jane Ainsley."
"Mengapa kau begitu mempercayai wanita itu? Bahkan kita belum tahu performanya!"
"Aku sudah tahu."
Jadi Edric dan Jane pernah bertemu sebelum ini? Apakah wanita itu yang menjadi penghambat hubungan mereka?
"Jika tak ada hal penting lagi yang di bicarakan, keluarlah dari ruangan ku."
"Apa kau tak bisa mempertimbangkannya sekali lagi?"
"Keputusanku sudah mutlak."
Edric memfokuskan diri ke layar laptop dan menganggap Samantha tidak ada.
__ADS_1
Samantha pun segera berlalu dengan perasaan penuh amarah, ia mengutuk wanita yang bernama Jane Ainsley itu.
Kita lihat seberapa hebatnya kau!