
Gil Harisson selalu mendoktrin Edric untuk mematuhi perintahnya agar tidak berakhir tragis seperti Garrix.
Mulanya Edric tak begitu mempercayai ayahnya. Bagaimana pun juga dulu ia sangat dekat dengan kakaknya lebih dari siapapun. Namun lambat laun Edric terpengaruh dengan Gil. Ditambah tekanan tekanan yang ia peroleh.
Justru kini Edric menyalahkan Garrix. Jika kakaknya tidak mati, mungkin ia tak perlu mengalami ini semua. Masa muda yang seharusnya ia lalui bersama teman-teman mengukir kenangan di tempat kuliah, hilang di gantikan dengan belajar memanajemen perusahaan yang begitu memusingkan.
Wataknya pun kian berubah Edric semakin mirip dengan Gil Harisson. Perfeksionis, mendominasi, arogan.
Yah, seperti kata ayahnya, ia tak akan sama dengan Garrix.
Dan sekarang Edric mulai di jodohkan oleh kedua orangtuanya. Pernikahan atas dasar bisnis. Perasaan menjadi nomor sekian.
Gil memberikan beberapa pilihan untuk di kenalkan pada anak teman relasinya.
Pilihan Edric jatuh pada Vivian Kaelee. Wanita yang tampak cantik dan juga penurut. Mungkin ia tak terlalu merepotkan di kemudian hari karena sifat penurutnya. Terlebih ayah dari wanita itu memiliki perusahaan material, sangat menguntungkan untuk perkembangan bisnis real estate dan apartemen milik keluarga Harrison.
Pada ahkirnya mereka di pertemukan. Sesuai dugaan, wanita yang bernama Vivian Kaelee itu sangat menurut. Ia tidak protes sedikit pun akan dinikahkan dengan pria yang belum di kenalinya sama sekali.
Tanpa menunggu lama keluarga Kaelee dan Harssion segera merencanakan acara pernikahan.
Seminggu sebelum acara pernikahan, Edric menyelesaikan pekerjaan kantornya terlebih dahulu agar ia dapat libur dengan tenang. Saat Edric sedang fokus ke layar komputer tiba-tiba sekertaris nya, Samantha masuk ke ruangan.
"Ada apa?"
"Tuan Edric aku ingin bicara sesuatu.."
"Cepat katakan."
Tanpa menoleh sedikit pun Edric tetap fokus bekerja.
"Lihatlah aku!"
"Aku tidak ada waktu untuk bermain-main."
"Aku menyukaimu Edric. Tidak, mungkin mencintaimu."
Barulah Edric melihat kearah Samantha.
"Kau tahu kan dalam seminggu lagi aku akan menikah."
__ADS_1
"I know. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku."
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?"
Edric menatap tepat ke arah mata Samantha. Di pandang begitu tajam oleh atasan sekaligus orang yang di sukai membuat Samantha menelan ludah. Ia cukup sadar bahwa telah bertindak jauh dan cukup berani.
Siapa yang tidak akan suka dengan Edric Harisson? Pria mapan sekaligus tampan. Banyak karyawan wanita yang memendam rasa kepada Direktur Utama perusahaan ini termasuk Samantha yang sudah lama bekerja di sampingnya bertahun-tahun.
Yang Samantha inginkan, Edric mempertimbangkan perasaannya karena ia tahu Edric sekedar dijodohkan. Walaupun pun kemungkinan sangat kecil Edric menyukainya kembali.
"Tidak ada. Sudah cukup kau mengetahui saja."
"Kalau tidak ada hal penting lagi, keluarlah."
"Baik. Saya permisi."
Samantha bergegas keluar ruangan. Edric menatap pintu yang telah tertutup.
Samantha adalah sekretaris kepercayaan Edric, ia sudah bekerja cukup lama di perusahaan nya. Wanita yang lugas, cekatan, mudah bergaul dan pandai bicara. Selama ini Edric tak pernah memperhatikan Samantha, yang terpenting ia bekerja dengan baik. Siapa sangka wanita itu menaruh perasaan kepada Edric. Mau tak mau ia jadi memikirkan Samantha.
Tapi Edric akan menikah. Lagipula ia tak memiliki perasaan apapun kepada sekertaris nya. Bukan suatu masalah besar menolak Samantha. Jika kinerjanya menurun tinggal pecat saja!
***
Beberapa hari setelah menikah dan hidup bersama Vivian Kaelee...
Bagi Edric tidak buruk juga menikah dengannya. Justru ia terheran Vivian begitu polos dan naif. Bukankah ia wanita yang hidup di tengah kota? Apakah Vivian tak pernah bergaul dan hanya berdiam diri di dalam rumah saja?
Edric cukup menyukai respon Vivian yang mengalir apa adanya ketika mereka bercint4. Sikapnya yang pemalu sekaligus mendambakan sentuhannya melebur menjadi satu.
Walaupun Edric tidak mencintai Vivian, hubungan s3x juga menjadi kunci keharmonisan rumah tangga. Mungkin ia dapat bertahan.
Sangat di sayangkan Vivian tidak pandai dalam urusan berumah tangga. Edric pernah memarahinya karena tidak menyiapkan makan malam untuknya. Apakah dulu semua pekerjaan rumah di lakukan oleh pembantunya? Edric tidak suka wanita manja. Ia akan lebih menghargai jika Vivian mau belajar mandiri.
Keesokan harinya Edric mendapati Vivian berusaha bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya. Edric sedikit tersentuh. Mereka pun mencoba berbaikan kembali.
Edric berencana untuk mengajak Vivian menonton bioskop di ahkir pekan. Sesekali ia ingin menyenangkan wanitanya. Vivian pun sangat antusias menerima ajakan Edric.
Namun begitu menjelang akhir pekan Edric justru semakin sibuk dengan pekerjaannya. Pengelola Mall ingin bekerja sama dengan proyek terbaru real estate Edric. Ia di undang menghadiri rapat di salah satu Mall pusat kota. Maka Edric menghadiri acara tersebut bersama Samantha.
__ADS_1
Kontrak kerjasama telah di setujui. Besok sudah dapat memulai pembangunan. Edric senang proyeknya berkembang. Tapi kesenangan itu segera sirna. Salah satu pegawai magang melakukan kesalahan fatal hingga menimbulkan kerugian 30 % pada perusahaan.
Edric harus segera mengadakan meeting dadakan untuk mengevaluasi masalah. Terpaksa janjinya bersama Vivian harus di batalkan. Ia mengirim pesan singkat kepada istrinya bahwa Edric tak bisa datang.
Edric menggebrak meja. Ia sedang murka. Seluruh karyawan yang ada di ruangan meeting terkena imbasnya. Mereka hanya diam membisu mendengarkan setiap cercaan yang keluar dari mulut Edric.
"Dasar bodoh! Otak kalian ada dimana?! Bagaimana bisa kau tidak mengawasi anak magang dengan seksama!"
"Aku harus menanggung malu di hadapan pengelolaan Mall!!"
"Kuberi waktu dalam tiga hari untuk mengevaluasi semua ini! Jika kalian gagal, tak segan segan aku akan memecat kalian atas tindakan ceroboh yang kalian lakukan!"
Edric pun meninggalkan ruangan dengan langkah lebar. Ia membanting pintu. Seluruh karyawan menghela nafas panjang. Mereka terancam kehilangan mata pencaharian.
Setelah membereskan dokumen Samantha menyusul Edric. Ia mencoba menenangkan atasannya itu.
"Perlu kuambilkan minuman?"
"Terserah kau saja!"
Samantha membuatkan secangkir kopi. Edric akui kopi buatan sekertarisnya itu sangat sesuai dengan seleranya. Tidak terlalu manis dan juga tidak terlalu pahit. Kekentalannya pun juga pas.
Edric melirik arlojinya. Tak terasa waktu sudah larut malam. Ia sudah berjanji akan membelikan kue untuk Vivian karena membatalkan janji kencan.
"Aku mau pulang."
"Tidak ingin mampir ke Bar terlebih dahulu untuk melepas penat?"
"Tidak. Istriku menunggu."
"Mmm baiklah. Selamat malam.."
Begitulah Samantha, walaupun sudah di tolak ia masih tetap mengejar Edric. Bahkan Samantha semakin berani menunjukkan ketertarikannya.
Edric ingin segera sampai ke rumah lalu mandi menggunakan air hangat. Ia akan mengajak Vivian bercint4.
Karena S3x adalah obat mujarab untuk melepas penat.
Tetapi sesampainya di rumah Edric justru di sambut dengan tuduhan tidak menyenangkan.
__ADS_1