
Acara pesta ulang tahun perusahaan Harisson sudah di mulai lima belas menit yang lalu, satu persatu para tamu berdatangan memenuhi ballroom. Edric terus memandangi pintu masuk ruangan, ia belum melihat sosok kekasihnya semenjak tadi.
"Kau sedang menunggu seseorang,Tuan?"
"Tidak. Aku hanya melihat tamu yang baru saja datang."
Jane sempat mengirimkan pesan kepada Edric bahwa ia akan datang ke pesta bersama teman satu divisinya. Bukankah naik limusin sendirian lebih terasa nyaman daripada harus berdesakan di dalam mobil dengan orang lain? Edric tak mengerti jalan pikiran Jane.
"Mulailah pembukaan acara, Edric."
Gil Harisson memberikan intruksi. Edric berdiri di atas panggung di dampingi dengan Gil dan Anna Harisson.
"Kita sedikit terlambat.."
"Ini gara-gara Hana lupa mengisi bensin mobilnya.."
"Sudahlah yang penting kita sudah sampai.."
Jane dan teman satu divisinya baru saja tiba. Sudah pasti beberapa mata langsung memandang ke arah mereka, terutama Jane Ainsley.
"Jane terlihat sangat berbeda dari biasanya.."
"Dia berdandan habis-habisan untuk mencari perhatian.."
Masih saja ada orang yang berkomentar buruk tentang Jane, mungkin mereka adalah teman Samantha. Setidaknya nenek lampir itu tidak ikut hadir disini karena Edric sudah memecatnya.
Untuk sesaat Edric terdiam saat memberikan pidato sambutan, ia selalu menyadari keberadaan Jane. Gaun yang dibelikan Edric sangat cocok di kenakan oleh Jane. Jika saja Gil Harisson tidak menepuk pundaknya karena Edric tiba-tiba diam terpaku, mungkin ia sudah berjalan menghampiri kekasihnya itu.
"Apakah mikrofonnya mati?"
"Maaf kesalahan teknis.."
Edric melanjutkan acara sambutannya.
Jane berusaha menikmati acara selagi Edric sibuk dengan kepentingannya sendiri. Kudapan yang disajikan juga terasa enak. Sejauh ini tak ada masalah yang terjadi.
Hingga Edric turun dari panggung dan membaur dengan tamu yang lainnya. Jika Jane boleh memilih lebih baik ia menghindari Edric. Tetapi bersalam dan mengucapkan salam kepada orang yang memiliki acara adalah suatu kewajiban.
"Ayo kita kesana ikut bersalaman.." Kata Olivia.
Jane menghela nafas panjang tanda keberatan.
"Tuan Edric semoga kedepannya menjadi lebih sukses.."
"Tuan Edric selamat atas pencapaian Anda selama ini.."
Kini giliran Jane yang bersalaman. Edric menarik lembut tangan Jane, ia membuat pusaran kecil di telapak tangannya secara diam-diam.
"Apa aku sudah mengatakan bahwa kau terlihat cantik hari ini?" Bisiknya.
__ADS_1
Jane berusaha menjaga mimik mukanya agar tampak senatural mungkin. Ia hanya tersenyum seraya membungkukkan badan. Walaupun begitu Jane tetap mendapatkan cibiran negatif dari yang lainnya.
"Kalian sadar? ternyata Jane berdandan sedemikian rupa agar dapat terlihat sepadan dengan Tuan Edric.."
"Mungkin ia berharap untuk menjadi nyonya besar dan bersanding dengan Tuan Edric.."
Kalau diperhatikan lebih seksama gaun yang dikenakan Jane dan setelan jas yang di pakai Edric memang tampak seperti satu pasang. Apakah Edric yang meminta desainer kemarin untuk membuatnya demikian? Hhh..tanpa sadar Edric selalu menempatkan pada posisi sulit.
Ucapan-ucapan itu membuat suasana hati Jane Ainsley kian memburuk. Rasanya seperti keberadaan Samantha masih disini. Jane menahan diri untuk tidak membalas mereka semua. Pesta ini juga dihadiri oleh tamu-tamu penting. Seperti keinginannya dari awal, ia tak mau menjadi pusat perhatian dan mempermalukan dirinya sendiri.
"Abaikan saja ucapan mereka.."
Olivia memberikan dukungan. Jane tersenyum masam.
"Aku mau ke toilet dulu.."
"Mau aku temani?"
"Tidak terimakasih. Kau nikmati saja acaranya dengan yang lain.."
"Baiklah.."
Jane tidak benar-benar menuju ke toilet, ia berjalan keluar ruangan menghampiri taman di samping gedung. Tidak peduli acara utama akan dimulai, disini jauh terasa lebih nyaman.
"P3rsetan dengan semuanya! Pergi saja kalian ke neraka Br3ngs3k!!"
Hah! Perasaan Jane membaik setelah mengumpat.
Jane menoleh. Daniel Wynford tertawa melihat tingkah Jane. Entah darimana ia muncul, Jane tak menyadarinya sama sekali. Sudah berapa lama pria itu berada di sana?
"Kau menguntit ku?"
"Nona ucapanmu sudah termasuk tuduhan bagiku. Aku sudah ada disini sebelum kau ikut kemari.."
Daniel memang sedari tadi berada di luar untuk merokok. Tiba-tiba ia melihat Jane Ainsley berjalan mendekat menggunakan sepatu high heelsnya yang tampak menyiksa kaki menuju ke taman. Siapa sangka Jane akan mengumpat dengan penampilan seanggun itu.
Jane mengabaikan Daniel dan terus berjalan melewatinya.
"Tunggu kau mau kemana?"
"Berhenti mengusikku!"
"Sebaiknya kau masuk ke dalam karena acara utama akan dimulai."
Biasanya acara utama diisi dengan permainan game untuk mendapatkan hadiah menarik setelah itu dilanjutkan dengan pesta dansa. Hal yang paling ditunggu para karyawan terutama yang belum memiliki pasangan. Karena pesta dansa sering dijadikan ajang pencarian jodoh.
Jane tidak tertarik dengan semua itu, dia hanya butuh ketenangan.
"Kau saja yang kesana."
__ADS_1
Daniel cukup sadar ia dapat menimbulkan masalah baru bila berdekatan dengan Jane. Tapi tak dapat dipungkiri wanita itu seperti medan magnet yang dapat menarik benda-benda disekitarnya.
"Aku ikut denganmu. Sebenarnya aku juga tak terlalu suka dengan acara pesta seperti ini.."
Ternyata mereka memiliki kesamaan. Aneh, bukankah waktu itu Daniel sudah memastikan bahwa Jane adalah kekasih Edric. Mengapa sekarang ia justru menemani Jane di sini?
Suara musik di dalam ruangan samar-samar terdengar sampai ke taman.
"Kau yakin tidak mau masuk? Sepertinya acara berlangsung meriah.."
"Harus berapa kali kukatakan tidak."
Tiba-tiba Daniel mengulurkan tangannya. Jane memandang dengan tatapan skeptis.
"Mau berdansa denganku?"
Jangan katakan dia tertarik kepadaku?
Terbersit sebuah ide di benak Jane. Kalau diingat kembali sepertinya Daniel cukup berteman baik dengan Edric. Mengapa Jane tidak memanfaatkan pria ini saja...
Jane menyambut uluran tangan Daniel dan memberikan senyum misterius.
"Karena aku sedang bosan jadi aku menyetujui ajakanmu."
Mereka pun mulai berdansa. Daniel terkesima, gerakan tubuh Jane begitu lihai mengimbanginya. Tidak ada insiden terinjak hak tinggi di kaki Daniel.
Merasakan tubuh Jane melekat ditubuhnya membuat jantung Daniel berdegup kencang. Ia dapat melihat dengan jelas, bulu mata Jane yang lentik menaungi mata indahnya.
"Kau mahir sekali. Apa kau suka berdansa?"
"Bisa di katakan begitu.."
Mereka terus menari hingga lagu selesai. Syukurlah di taman tidak ada siapapun selain mereka. Karena sebagian besar para tamu sedang menikmati acara.
"Edric pasti mencarimu.."
"Lalu mengapa kau ada disini bersamaku. Bukankah ini akan menjadi masalah?" tandas Jane.
Daniel kehabisan kata-kata karena ucapan Jane benar adanya. Ia juga tak mengerti mengapa dirinya betah menemani Jane walaupun tahu itu salah.
Selama ini Daniel tak pernah berpikir untuk berkencan dengan pacar temannya sendiri, baik itu sudah menjadi mantan. Ibunya selalu mengatakan, jangan terlalu serakah dalam hal apa pun, jika itu bukan milikmu jangan mencoba untuk merebutnya walaupun kau sangat menginginkannya.
"Aku masih penasaran akan satu hal tentang mu.."
"Apa itu?"
"Waktu it- "
Ucapan Daniel terpotong karena tiba tiba ada seseorang datang mendekat.
__ADS_1
"Sembunyi.."
Bisik Jane sambil menunjuk ke arah semak-semak yang sedikit lebat. Daniel pun segera mengikutinya.