Dendam Jane

Dendam Jane
Lembaran Baru


__ADS_3

Dimata Daniel wanita yang sedang duduk di hadapannya terlihat semakin cantik. Entah mungkin ini karena efek cahaya senja yang membuat wajah Jane tampak lebih berseri.


Daniel memang ingin bertemu dengan Jane, selain ia merindukan wanita yang berhasil mencuri hatinya ahkir-ahkir ini, ada sesuatu hal penting yang harus ia bicarakan.


Tidak. Ini bukan sebuah pernyataan cinta. Terlalu cepat bagi Daniel melakukan itu.


"Aku telah berhenti dari perusahaan Harisson."


Tanpa basa-basi Daniel mengutarakan isi pikirannya. Mata Jane seketika membulat.


"Apa itu karena aku?"


"Tenanglah, ini adalah keputusanku sendiri.."


Jane menyesap minuman yang ia pesan.



"Mengapa? Apa kau tak akan menyesal? Kau tahu maksudku, bekerja di perusahaan Harisson adalah sebuah impian bagi kebanyakan orang.."


Memang benar. Karir Daniel Wynford melejit ketika ia bekerja di sana. Banyak orang telah mengakui kemampuannya dan berkat itu Daniel menemukan relasi sendiri. Satu masalah yang dapat membuat ia memutuskan untuk keluar dari sana adalah bagaimana mana mungkin Daniel bekerja di bawah kepemimpinan orang yang anaknya telah ia jebloskan ke penjara?


Daniel juga merasa bersalah kepada Edric Harisson.


"Justru aku ingin mengajukan kerja sama denganmu. Bukankah kau akan merintis usaha?"


Jane tampak menimbang. Saat Jane mencari informasi tentang Edric, tentu ia juga mencari tahu siapa Daniel Wynford. Sungguh perusahaan Harisson akan merugi, Daniel adalah orang yang kompeten. Hal itu dapat dilihat dari hasil kinerjanya. Hanya saja Jane tak memiliki apapun yang dapat dijanjikan. Bahkan mencari tempat pun ia masih gagal.


"Oh! Daniel carilah perusahaan lain yang dapat menguntungkanmu?! Aku yakin pasti banyak yang menginginkanmu!"


"Apa kau tak menginginkan ku Jane Ainsley.."


Pertanyaan menjebak. Jane seketika menutup mulutnya.


Sedetik kemudian Daniel tertawa. Sial! Jane lupa bahwa Daniel selalu saja bersikap menyebalkan terhadapnya.


"Aku sudah terbiasa bekerja keras. Kupastikan kau tak akan menyesal karena telah merekrutku Jane."


"Baiklah mari kita coba terlebih dahulu. Jika di rasa kau tak sejalan denganku lagi, kau boleh mencari relasi lain.."


Benar! Selalu ada jalan keluar dari setiap masalah. Jane semakin bersemangat. Seminggu ini Jane menyibukkan diri mencari tempat untuk dijadikan kantor. Daniel tidak dapat menemani setiap hari. Ia harus membereskan sisa pekerjaan dari perusahaan Harisson.


Sulit mencari tempat yang strategis. Jika pun ada masalahnya akan seperti semula. Si pemilik toko seolah menghindari Jane atau mereka mematok harga terlalu tinggi.


Ketika Jane sedang melihat brosur, tiba-tiba telepon Jane berdering nyaring, nama Nenek Lindsay tertera di layar ponselnya.


"Jane pulang lah, ada tamu ingin menemuimu.."


"Siapa?"

__ADS_1


"Segera pulang dan lihatlah sendiri."


DEG!


Jantung Jane sesaat berhenti berdetak. Ia seperti mengulang waktu. Keadaan seperti ini sama persis ketika Edric baru saja keluar dari penjara. Ternyata Edric masih dapat mempengaruhinya. Namun bukankah Edric masih berada di tempat rehabilitas? Nenek Lindsay juga tak mungkin menerimanya begitu saja.


Lalu siapa?


Tanpa sadar Jane berlari. Semoga saja tamunya bukan dari salah satu anggota keluarga Harisson lagi.


Kecemasan Jane menghilang berganti dengan rasa senang. Ternyata tamu yang datang adalah Leon Kaelee, adik Vivian.


"Apakah hobimu saat ini suka menghilang Jane? Aku cukup terkejut melihatmu di layar televisi karena berurusan dengan si br3ngs3k itu.."


Jane hanya tersenyum mendengar celotehan Leon. Kini Leon bertambah tinggi dari sebelumnya. Menurut kabar, sekarang Leon benar-benar meneruskan perusahaan yang di rintis oleh keluarga Kaelee. Ia juga memutuskan relasi dengan perusahaan Harisson.


Leon berjalan mendekat ke arah Jane kemudian ia memeluknya.


"Leon.."


Jane menepuk punggung Leon.


"Aku tidak akan bertanya apapun. Tapi dengarkan aku baik-baik, terimakasih Jane Ainsley. Terimakasih atas semuanya, pasti kau telah melalui hari yang sulit. Aku Leon Kaelee telah berhutang budi padamu.."


Jane mengerti maksud dari perkataan Leon. Rasanya baru kemarin malam Leon masih seperti bocah ingusan. Tetapi sekarang ia telah menjadi pria dewasa.


Kemudian mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing tanpa menyinggung insiden waktu itu. Siapa sangka pertolongan akan datang dari Leon Kaelee. Ia menawarkan tempat secara cuma-cuma untuk dijadikan kantor baru Jane.


"Apakah ini termasuk suatu bentuk kerja sama?"


"Terserah kau menganggapnya apa, yang jelas ini adalah balas budi.."


Jane pun segera menyampaikan kabar gembira tersebut kepada Daniel. Mereka membuat janji untuk melakukan survei. Jane bersyukur tempat yang di berikan Leon cukup strategis. Akses ke tempat lain pun mudah dijangkau.


"Aku hampir saja menyerah dan berpikir bahwa aku memang tak dapat menandingi Gil Harisson.."


Jane benar-benar merintis dari awal kembali. Ia menghubungi seluruh pelanggan yang dulu sering menyewa jasanya. Bedanya sekarang Jane memiliki tenaga kerja yang handal lulusan dari universitas ternama. Siapa lagi kalau bukan Daniel Wynford. Berkat itu pelanggan baru tertarik untuk menyewa. Daniel pun ikut serta mempromosikan kantor jasa milik Jane pada beberapa relasinya.


Lambat laun usaha mereka sudah memiliki pelanggan tetap. Tentu semua itu tidak selalu berjalan mulus. Terkadang mereka juga menemukan kendala seperti sulitnya mencari supplier yang cocok untuk barang-barang furniture dan sejenisnya. Lalu ada juga pesaing yang cukup kompetitif.


Dan sekarang mari membahas hubungan Daniel dengan Jane Ainsley.


Suatu ketika Daniel tanpa sadar tengah mengamati Jane yang sedang serius mendesain ruangan. Baginya rambut Jane yang terlihat berantakan itu justru membuatnya semakin terlihat cantik.


"Apakah ada yang salah dengan penampilanku?"


Jane menyadari bahwa Daniel semenjak tadi terus memandanginya. Daniel tertangkap basah, tetapi ia juga tidak berusaha menutupinya.


"Jane, kurasa aku perlu mengatakannya padamu, walaupun mungkin kau sudah mengetahuinya.."

__ADS_1


Daniel menutup jarak diantara mereka, ia merebut pensil yang sedang di genggam Jane kemudian meletakkannya di atas meja. Hal itu ia lakukan agar Jane berfokus kepadanya untuk sejenak. Mereka pun saling bertukar pandang.


"Jane Ainsley aku menyukaimu. Bisakah kau memberikanku kesempatan?"


Ahkirnya kata-kata keramat itu terucapkan. Selama ini Daniel menahan diri. Ia ingin memberikan ruang kepada Jane, terlebih mereka adalah rekanan kerja.


Tetapi Daniel Wynford tidak akan menuntut Jane untuk menerima pernyataannya, yang terpenting ia dapat mengutarakan isi hatinya. Dan Jane Ainsley menolak Daniel.


"Terimakasih Daniel, aku juga menyukaimu. Tetapi saat ini aku masih tak ingin menjalin hubungan.."


Tentu Daniel sedikit merasa kecewa, namun perasaannya tidak serta merta langsung berubah.


"Bisakah aku menunggumu?"


Jane mengeluarkan senyuman khasnya.



"Jika terlalu lama, kau boleh menyerah.."


"Kuharap setelah ini kita tidak menjadi canggung satu sama lain.."


"Tentu saja tidak! Justru aku hendak menyuruhmu untuk membelikanku kopi karena aku mengantuk sekali!"


Mereka pun tertawa bersama.


Biarkan hubungan mereka berjalan seperti ini dulu dan mengalir apa adanya. Lagipula Jane juga perlu mengenal Daniel lebih jauh secara perlahan. Yang jelas di mata Jane, Daniel adalah pria yang sudah rela mengorbankan nyawanya hanya demi Jane seorang, bodoh bila Jane menyia-nyiakan pria sebaik Daniel Wynford.


***


Suara hak sepatu beradu dengan lantai keramik terdengar hingga ke ujung lorong. Hal itu menandakan akan ada tamu yang berkunjung.


Kali ini siapa lagi yang datang untuk mengejeknya?


Edric dapat melihat bayangan-bayangan orang yang berdiri di balik pintu kamarnya melalui celah-celah kecil.


"Di sini ruang isolasi Tuan Edric Harisson. Waktu kunjungan hanya sepuluh menit."


"Baik. Terimakasih.."


Tunggu suara ini..


Tanpa menunggu lama Edric segera berlari menuju ke ambang pintu. Dari balik jendela jeruji besi Edric dapat melihat dengan jelas sosok wanita yang begitu di cintainya.


"Jane Ainsley.."


***


TAMAT.

__ADS_1



__ADS_2