Dendam Jane

Dendam Jane
Penyebar Rumor


__ADS_3

Kedatangan Jane di sambut dengan senyuman masam.


"Bicara apa lagi? Apakah kau mau mengejek kami?"


"Kebencian kalian kepada ku sangat tak berdasar. Bahkan sejak awal, kita belum saling mengenal dengan baik satu sama lain."


"Tanpa mengenal pun , keberadaan mu sudah menjadi ancaman tersendiri bagi kami."


"Itu sangat tidak adil buatku! Apakah kalian juga yang menyebarkan rumor buruk tentang ku?"


"Kau menuduh kami? Kau memang pantas mendapatkan itu!"


"Yael diamlah!" Olivia menengahi.


"Cih!" Yael langsung melengos.


"Jika kalian mau memberitahuku siapa penyebar rumor itu, aku akan membantu kalian membujuk Tuan Edric untuk tidak memecat kalian."


"Jadi ternyata benar, kau memiliki hubungan menjijikan dengan Direktur Utama."


"Yael! Kau sudah keterlaluan!". Sekarang giliran Hana yang menegur Yael.


Jane menghela nafas panjang.


"Direktur Utama memintaku memberi penilaian pada kalian. Tapi terserah kalian saja, aku hanya ingin membantu kalian sekaligus mencari tahu siapa penyebar rumor itu. Yang akan di pecat adalah kalian bukan aku."


Jane hendak keluar dari ruangan, Olivia langsung mencegahnya.


"Tunggu, bisa kita bicara berdua saja?"


Jane berhasil memancing mereka. Tentu saja ia berbohong mengenai Edric yang meminta penilaian kepadanya, semua keputusan tetap ada di tangan Edric Harisson. Tapi Jane berjanji akan membantu mereka agar tidak dikeluarkan, jika mereka mau memberi informasi.


"Ikuti aku.."


Jane mengajak Olivia menuju ke ruangan nya sendiri.


"Mau kopi?"


"Tidak. Kita langsung bicara pada intinya saja. Setelah ini aku harus membereskan meja kerjaku, agar aku tak kerepotan jika di pecat nanti."


"Pesimis sekali.."


"Karena kau tidak ada di posisiku."


"Lalu siapa orangnya?"


"Jangan bilang kepadanya bahwa aku yang memberitahukanmu.."


"Apakah ia memiliki jabatan yang tinggi disini?"


"Dia cukup berpengaruh di perusahaan ini."


"Katakan.."


"Samantha Francieli, sekertaris Tuan Edric.."

__ADS_1


Jane tidak begitu kaget mendengar nama itu akan di sebut. Ia sudah menduga ada sesuatu pada wanita itu. Samantha memancarkan sikap bermusuhan pada Jane sejak pertama kali mereka bertemu.


"Mengapa dia melakukan itu?"


"Aku juga tidak tahu. Aku akui kami salah. Kami telah terhasut dengan kata-katanya. Aku baru menyadari saat presentasi tadi, kami sudah keliru."


Jane terdiam.


"Maafkan kami Jane Ainsley, terutama Yael. Sebenarnya dia adalah orang yang baik. Kami begitu kalut karena akan di pecat. Yael harus membiayai pengobatan ibunya yang terkena kanker stadium akhir dan aku adalah seorang 'single mom' dengan dua anak di rumah. Kami semua memiliki kesulitan masing-masing."


Jane bukanlah pahlawan kesiangan. Ia sempat marah karena perlakuan mereka. Tetapi semua kekacuan ini di sebabkan oleh Samantha.


"Aku tidak berjanji untuk menyembunyikan identitas mu. Tapi aku sudah mengatakan akan membantu kalian supaya tidak di keluarkan dari perusahaan ini."


"Bisakah aku berharap padamu?"


"Kau harus berada di pihakku. Bukankah sebenarnya kita satu Tim?"


"Aku memang salah menilaimu. Setelah ini aku akan menjelaskan pada yang lainnya. Aku yakin mereka juga ingin minta maaf kepada mu."


Setidaknya sekarang Jane memiliki beberapa teman dan mereka berada dalam satu divisi. Lambat laun Jane akan memperbaiki hubungan dengan mereka kedepannya.


***


Samantha tidak dapat fokus pada pekerjaannya. Rencana untuk mempermalukan Jane Ainsley telah gagal total. Justru ia mendapat dukungan baru dari karyawan lain.


Dan Edric?


Samantha sempat melihat Edric tersenyum saat Jane menjelaskan materi dengan lihai. Senyum yang seharusnya ditujukan hanya untuk dirinya.


Samantha terlalu meremehkan Jane Ainsley. Ternyata dia tidak sebodoh Vivian Kaelee.


BRAK!


Panjang umur. Saat memikirkan wanita yang begitu di bencinya. Jane langsung muncul dari ambang pintu.


"Kau memang wanita yang tidak memiliki sopan santun ya?"


"Maaf aku sudah mengetuk pintu berkali-kali tetapi sepertinya kau punya masalah dalam pendengaran?"


"Apa maumu?"


"Kau pasti sudah tahu tanpa kujawab."


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan?"


Lihat dia, berpura-pura seolah tak tahu kekacauan yang dia perbuat sendiri lalu memasang wajah tak bersalah. Mengingatkan akan kejadian penumpahan kopi panas waktu itu.


"Kaulah yang menyebarkan rumor buruk tentangku. Mengakulah!"


Samantha tahu, cepat atau lambat Jane Ainsley akan datang kepada nya. Jadi mereka memilih berada di pihak wanita ini?


Samantha menyeringai.


"Memangnya kenapa? Kau akan mengadu kepada Direktur Utama?"

__ADS_1


Percuma menuntut Samantha untuk meminta maaf kepada Jane. Bagaimana jika Jane memancingnya agar mengeluarkan sifat asli Samantha?


"Aku kasihan kepadamu. Kau hanya iri Tuan Edric lebih memperhatikan ku.."


Sindiran telak. Raut wajah Samantha berubah. Ia memang iri. Edric tak pernah mengunjungi nya lagi semenjak Jane hadir di kehidupannya. Walaupun Samantha tak tahu apa hubungan mereka. Jane lah penyebab Edric menjadi dingin terhadapnya.


"Kita buktikan apakah Edric masih dapat bersimpati kepadamu setelah ini?"


Apa maksudnya? Jane mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Sedetik kemudian Jane dibuat tercengang dengan tindakan Samantha.


PLAK! PLAK!PLAK!


Wanita sinting! Mengapa dia menampar dirinya sendiri begitu keras? Pipi Samantha menjadi memar. Kemudian ia mengacak-acak rambutnya sendiri.


Samantha tersenyum miring lalu ia melanjutkan aksinya dengan menjatuhkan semua barang barang yang ada di dalam rak hingga menimbulkan suara gaduh.


"Apa itu?"


"Apa yang terjadi di dalam?"


Sayup-sayup terdengar suara karyawan lain dari luar sana.


"Jika aku berteriak dan meminta tolong, semua akan langsung datang kemari. Kebetulan di samping adalah ruangan Edric.."


Hahahaha! Sekarang Jane mengerti. Apakah Samantha terlalu banyak menonton telenovela?


"Lakukan sesukamu!" Tantang Jane.


Sebelum Samantha benar-benar berteriak, secepat kilat Jane meraih cangkir kopi milik Samantha. Isinya sudah setengah diminum lalu ia mengguyurkan ke atas kepalanya sendiri.


Jane juga menarik kancing kemejanya sampai terlepas beberapa butir. Tak lupa cangkir yang masih ada di tangannya ia lemparkan ke lantai agar sekalian membuat gaduh.


"Aku akan mengikuti cara permainan mu Samantha."


Beberapa orang karyawan masuk ke dalam ruangan sekertaris memeriksa apa yang terjadi.


"Ada apa ini? Kalian bertengkar?"


Samantha menuding Jane sambil menangis tersedu-sedu.


"Jane Ainsley tiba-tiba masuk kemari lalu menyerangku.."


"Akting yang bagus Samantha. Orang waras mana yang tiba-tiba memukuli orang lain tanpa sebab, kecuali dia gila. Kalian lihat dia juga memperlakukan hal yang sama kepadaku.."


"Mungkin kau memang gila.."


"Kalau aku gila, tidak mungkin aku dapat bekerja di perusahaan ini. Sama saja kau menghina penilaian Direktur Utama.."


"Kau masuk kemari dengan cara merayu Tuan Edric.."


"Apa sekarang kau sedang mengaku kepada yang lainnya bahwa kau penyebar rumor?"


Sial! Samantha salah berucap. Karyawan yang lain mulai berbisik-bisik. Hingga terdengar suara bariton pria yang begitu di segani. Semua langsung menunduk dan menyingkir memberi jalan.


"Ada keributan apa?"

__ADS_1


Edric Harisson telah datang.


__ADS_2