
"Apa kau sudah puas bertanya?"
Tidak. Masih banyak pertanyaan yang menggantung di kepala Jane. Apakah pria di hadapannya ini benar-benar tak tahu bahwa Vivian mengandung anaknya?
Tapi sedari tadi ia menahan diri. Jane takut lepas kendali. Saat ini pisau dapur terlihat begitu menarik jika menancap di perut berotot Edric.
Kematian yang terlalu mudah. Alih-alih justru Jane yang akan di penjara.
Edric mengangkat tubuh Jane lalu mendudukkannya di atas pantri dapur.
"Dengar baik-baik, aku serius menyukaimu Jane Ainsley. Bisakah kau melupakan masa laluku dan berfokus pada hubungan kita sekarang."
Bagaimana Jane bisa melupakannya? Ini menyangkut sahabatnya sendiri. Perlakuan kejam pada Vivian tak termaafkan. Jane meremas kemeja Edric. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meredam amarah.
Edric membelai lembut pipi Jane dengan ibu jarinya. Entahlah setiap hari perasaannya kian bertumbuh. Awalnya Edric mengira mungkin suatu saat ia akan bosan dengan Jane. Tapi ketika Jane mengabaikan semua pesannya, Edric merasa sangat kalut. Ia langsung memacu mobilnya sekencang mungkin untuk menuju ke apartemen Jane.
"Boleh aku menciummu?"
"Sejak kapan kau begitu sopan, hingga meminta ijin kepada ku terlebih dahulu?"
"Karena kau sedang marah. Kalau begitu aku tak akan meminta persetujuanmu lagi."
Kali ini ciuman Edric sangat lembut dan berhati-hati seolah tak ingin menyakiti Jane. Ia menyesap bibir Jane seperti sedang menikmati anggur.
Jane tersenyum. Ia merangkul leher Edric lalu melemparkan tatapan sayu. Kini saatnya membujuk Edric untuk tidak memecat Olivia dan yang lainnya.
"Edric mengenai timku, bisakah kau tidak memecat mereka?"
Dahi Edric berkerut.
"Mengapa? Bukankah mereka semua berusaha menjatuhkanmu saat presentasi?"
"Itu hanya kesalahanpahaman. Seperti yang kukatakan Samantha menghasut mereka.."
Kemudian Jane menceritakan semua masalah yang ia hadapi di kantor termasuk mendapatkan rumor buruk.
"Ini salah satu alasan mengapa aku ingin menyembunyikan hubungan kita. Akan banyak wanita yang cemburu dan mencoba menerorku jika tahu aku ini pacarmu. Karena kau termasuk pria yang populer."
Sulit dipercaya Samantha berani berbuat nekat. Tetapi Jane juga tak mungkin berbohong kepadanya. Edric lebih mempercayai kekasihnya. Wanita j4l4ng itu perlu di beri peringatan sekali lagi agar tidak menganggu Jane.
"Akan kupertimbangkan kembali.."
"Kumohon Edric untuk kali ini saja. Mereka juga sudah meminta maaf kepada ku.."
Kalau begitu Edric akan memberikan surat peringatan. Gaji mereka akan di potong secara berkala dan cuti tahunan mereka akan di cabut.
"Tapi jika mereka lalai lagi, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua. Ini karena kau yang meminta."
"Percayalah. Mereka akan belajar dari kesalahan."
"Kuharap perkataanmu benar."
Berhasil.
Malam semakin larut, Jane juga sudah membuatkan makan malam untuk Edric. Tetapi tidak ada tanda tanda pria ini akan pulang.
__ADS_1
Jangan katakan dia ingin menginap disini?!
Jane berpura-pura menguap sambil merenggangkan tubuh.
"Kau sudah mengantuk?"
"Ya. Hari ini sangat melelahkan bagiku."
Sadar dirilah! Aku mengusirmu secara halus!
Tapi Edric masih ingin bersama dengan Jane, baginya waktu terasa singkat dan cepat berlalu.
"Tidurlah. Aku akan menemanimu sampai kau terlelap."
Edric menggendong Jane ala bridal style menuju ke kamarnya. Untung saja kepalanya tidak terbentur kusen pintu mengingat apartment Jane yang minimalis.
Memangnya ada orang yang bisa tidur jika dipandangi seperti ini?
"Ikutlah tidur bersamaku.."
Jane menggeser tubuhnya ke samping memberi ruang untuk Edric.
"Apa ini tandanya kau menyuruhku menginap?"
"Jika kau mau dan maaf tempat tidurku sempit."
Pada akhirnya Jane membiarkan Edric menginap. Setelah Edric membersihkan diri, ia segera menyusul Jane ke kamar. Edric tidak mengenakan kemejanya lagi. Ia memilih bertel4nj4ng dada. Karena hal itu juga sudah menjadi kebiasaan.
Badan atletis Edric adalah pemandangan yang indah dan Jane dapat menyentuhnya sesuka hati. Jane yakin posisinya saat ini dapat membuat iri sebagian wanita yang menyukai Edric, terutama Samantha.
Membayangkan wajah wanita itu merah padam karena amarah sudah membuat Jane senang dan tertawa sendiri.
"Aku sedang memikirkan hal-hal yang menyenangkan.."
"Apakah aku ada di dalamnya."
"Itu rahasia."
Mereka berbincang ringan sebelum tidur.
Setengah jam berlalu, bunyi dengkuran halus samar-samar terdengar menandakan Edric sudah terlelap terlebih dahulu. Jane tidak dapat tidur walaupun ia memejamkan matanya.
Dalam pencahayaan yang remang-remang dari lampu tidur, Jane mengamati Edric dengan tatapan dingin.
"Aku sangat membencimu Edric Harisson. Setelah ini hidupmu tidak akan bahagia."
Bisik Jane di telinga Edric.
Tak ada respon apapun darinya. Kemudian Jane menyingkirkan tangan Edric yang melingkar di pinggangnya dengan sangat hati-hati.
Jane pun turun dari ranjang. Lebih baik ia tidur di atas sofa. Jane akan memasang alarm pukul tiga pagi untuk kembali ke kamar. Dengan begitu Edric tak akan tahu semalaman Jane tidak tidur di sisinya.
***
Pagi pun datang, Edric membuka matanya. Sudah lama ia tidak tidur senyenyak ini. Bahkan Edric sempat bermimpi indah.
__ADS_1
"Sudah bangun pangeran tidur?"
Suara Jane terdengar begitu merdu menyapanya. Jane berdiri di samping ranjang sambil berkacak pinggang. Sepertinya ia sudah bangun sedari tadi.
Edric langsung menarik lengan Jane hingga jatuh ke pelukannya lalu ia menghujani Jane dengan kecupan mesra.
"Edric?! Aku sedang meninggalkan kompor yang menyala!"
"Matikan saja lalu kembali lah kemari."
"Kita akan melewatkan sarapan!"
"Kau adalah sarapanku.."
"Edric jangan bercanda! Kita juga harus berangkat bekerja!"
"Bagaimana kalau kita libur saja sehari."
Jane memutar kedua bola matanya.
"Aku hampir lupa kalau kau ini Tuan pemilik perusahaan. Tapi aku tetaplah karyawan biasa jadi sekarang lepaskan aku."
Edric mengerang kecewa.
"Ingat minggu ini kau harus meluangkan waktu untukku."
Kali ini Jane yang mengerang frustasi di dalam hati.
"Sebenarnya kau ingin mengajakku kemana?"
"Kita akan bersenang-senang."
"Baiklah terserah kau saja."
Jane melirik ke arah minuman yang akan di sajikan kepada Edric.
Hmm..
"Jane.."
Jane berjengit kaget.
"Maaf aku mengagetkanmu.."
"Ada apa?"
"Aku hanya ingin meminta kopiku terlebih dahulu.."
"Kebetulan aku sudah membuatkannya."
"Terimakasih.."
Edric menerima secangkir kopi yang di sodorkan oleh Jane. Ia pun mulai meminumnya secara perlahan. Edric menaikan sebelah alisnya.
"Jane, apa yang kau tambahan pada minuman ku?"
Seketika Jane menghentikan kegiatan memasaknya. Ia tersenyum miring.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?"