
Edric dan Garrix Harisson adalah kakak beradik dengan jarak umur terpaut enam tahun. Namun karena wajah mereka yang begitu mirip satu sama lain, banyak orang mengira mereka anak kembar.
Garrix sangat menyayangi Edric begitu pula sebaliknya. Ia selalu rela menjadi tameng ketika Edric menghadapi masalah.
"Kak tangkap bolanya!"
Bola berwarna hijau yang biasa di gunakan untuk bermain kasti melambung tinggi. Si4lnya Garrix tak dapat menangkap bola itu hingga keluar jalur lapangan dan mengenai kaca mobil orang lain.
PRANG!
Pemilik mobil segera muncul, ia berjalan mendekat sambil berkacak pinggang hendak memarahi mereka.
"Bagaimana ini kak?Aku takut dengan paman itu. Wajahnya terlihat menyeramkan."
"Kau tetap di sini saja. Biar aku yang bicara.."
Garrix mengaku bahwa ia yang melempar bola. Si pemilik mobil merasa tidak terima, ia mencaci maki Garrix dan meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
"Berikan nomor orang tuamu. Aku akan menelponnya untuk menyampaikan kenakalan yang kau perbuat!"
Malam harinya Garrix langsung mendapat teguran keras dari ayah mereka.
Garrix juga menjadi panutan bagi Edric. Suatu ketika mereka sedang berjalan di pusat kota untuk melihat bazar, terdapat seorang nenek kesulitan menyebrang di jalan yang ramai. Tanpa ragu Garrix memposisikan dirinya menghadang mobil lewat. Walaupun nenek itu berjalan lambat, Garrix sangat sabar menuntun sampai ke ujung jalan.
"Anak yang tampan dan juga baik hati. Terimakasih atas bantuan nya.."
"Tak perlu sungkan nek.."
Edric kecil tak mengerti mengapa kakaknya begitu repot membantu orang lain. Bukankah itu tugas seorang polisi? Garrix tertawa mendengar celoteh adiknya.
"Melihat mereka tersenyum atas bantuan kita, itu sangat menyenangkan. Cobalah.."
Saat itu di mata Edric kakaknya bagaikan superhero yang sering ia tonton di dalam film.
Tetapi ketika mereka beranjak dewasa hubungan kakak beradik itu justru merenggang. Gil Harisson, ayah mereka sering memanggil Garrix ke ruang kerja untuk mendapatkan pelajaran mengenai bisnis keluarga.
Gil Harisson adalah orang tua yang disiplin. Garrix di tuntut untuk meneruskan perusahaan milik Gil kelak jika waktunya tiba. Maka saat ini ia di latih begitu keras. Apabila Garrix melakukan kesalahan, tak segan-segan kayu rotan melayang ke tubuhnya sebagai hukuman.
__ADS_1
"Kalau kau tak mampu menguasai materi ini dan gagal dalam mengembangkan perusahaan. Aku akan menyuruh adikmu untuk melanjutkan nya.."
"Tidak Ayah. Biarkan Edric menikmati masa mudanya. Aku akan berusaha.."
Walaupun begitu terkadang Garrix masih menyempatkan untuk berbincang dengan Edric, mengajaknya pergi ketika waktu senggang dan membelikan barang atau makanan kesukaannya. Ia menyembunyikan beban yang harus Garrix tanggung, karena tak ingin membuat Edric merasa khawatir.
Musim dingin telah tiba. Salju pertama turun pada pertengahan bulan Desember. Orang-orang mulai mengenakan jaket tebal jika sedang berpergian. Edric mengetukkan sepatunya ke lantai karena ada salju yang menempel.
Mungkin bermain salju di halaman depan rumah akan sangat menyenangkan. Edric hendak mencari Garrix. Namun langkahnya langsung terhenti begitu ia sampai di depan ruang kerja, samar-samar Edric mendengar seseorang sedang bertengkar.
Apakah itu Garrix dan ayahnya?
Edric menempelkan telinganya ke pintu untuk mencuri dengar.
"Selama ini aku selalu menuruti apa kemauan Ayah. Tapi tidak yang satu ini! Berikan aku kebebasan untuk memilih!"
"Kau bebas memilih asalkan aku yang mencarikan pasangan untukmu."
"Menikah adalah hal yang sakral! Aku tidak mau hidup bersama orang yang tidak aku cintai seumur hidup!"
"Apa ini karena wanita itu, kau jadi membangkang kepadaku?"
Garrix sangat geram dengan sikap Gil Harisson. Ini sudah keterlaluan, ia terlalu mencampuri urusan pribadinya. Walaupun Gil ayah kandungnya sendiri.
"Sampai kapanpun aku tak akan pernah menyetujui hubunganmu dengannya! Wanita yang hanya bekerja sebagai karyawan toko kue tak pantas bersanding denganmu!"
"Tapi aku mencintainya! Dia yang kau maksud adalah wanita yang cerdas. Aku yakin suatu saat ia akan sukses begitu menyelesaikan kuliahnya!"
"Omong kosong! Jika kau tetap menikahinya, aku tidak sudi datang ke acara pernikahan mu! Dan jangan harap kau akan mendapatkan warisan sepersen pun dariku! Aku tak ingin melihat kau menghamburkan uang hanya untuk wanita itu?!"
Garrix mengepalkan tangannya erat-erat. Laura kekasih nya yang manis. Bahkan ia tak tahu bahwa Garrix adalah anak dari seorang konglomerat. Sikap wanita itu begitu apa adanya tanpa di buat-buat. Jika Garrix melepaskan Laura begitu saja, ia akan menyesal di sisa hidupnya.
"Baiklah. Aku mengerti. Mungkin tidak masalah bagi Ayah untuk kehilangan satu putra."
"Kembali Garrix Harisson!"
Suara Gil Harisson begitu menggelegar. Garrix tetap meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi dan ia bertemu dengan Edric sedang berdiri mematung di depan pintu. Garrix langsung melempar senyum meski wajahnya tampak tertekan.
"Kau mendengar semuanya?"
__ADS_1
Edric hanya terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Garrix pun berjalan mendekat, ia memeluk adik satu satunya yang sangat disayangi.
"Ingatlah perkataanku Edric di kemudian hari atau di masa yang akan datang, pertahankanlah orang yang kau cintai. Lalu segera nikahi dia!"
Garrix menepuk pundak Edric.
"Sampai bertemu di lain waktu.."
"Kakak mau pergi kemana?"
"Suatu hari kau akan tahu. Selamat tinggal.."
Keesokan harinya, Edric tidak menemukan sosok Garrix di dalam rumah. Nomor teleponnya sudah tidak aktif. Anna Harisson menangis sedih.
"Seharusnya kau tak perlu bersikap terlalu keras kepadanya!!"
Anna menyalahkan suaminya.
"Ia pasti akan kembali karena membutuhkan uang."
Nyatanya Garrix pergi tanpa membawa barang berharga satupun. Isi kamarnya masih utuh. Ia hanya membawa tabungan yang selama ini Garrix kumpulkan sendiri. Garrix lebih memilih hidup sederhana. Bekerja apapun asalkan dapat memenuhi kebutuhan. Lalu menunggu Laura lulus kuliah dan berniat menikahinya.
Satu tahun berlalu. Keadaan rumah Harssion tidak seharmonis seperti dulu. Anna Harisson masih berharap anak sulungnya akan kembali pulang.
Tetapi harapannya pupus.
Sehari sebelum pernikahan, Garrix mengalami kecelakaan lalu lintas bersama tunangannya, Laura. Ban mobil milik Garrix tergelincir, ia membanting setir kemudian menabrak pembatas jalan. Mobil berguling, tubuhnya terjepit.
Anna Harisson langsung pingsan mendengar kabar kematian anaknya. Tak terkecuali Edric. Ia menangis sejadinya saat prosesi pemakaman kakaknya
Gil mendekati Edric yang masih tersedu-sedu.
"Berhenti menangis! Ini akibat jika membangkang kepada orang tua. Pada ahkirnya Garrix mati sia-sia bersama wanita itu. Jangan sampai kau seperti kakakmu!"
Benarkah apa yang di ucapkan ayahnya?
Watak seseorang tak dapat berubah begitu saja, Gil masih sama seperti dulu. Justru dengan kejadian ini dapat menjadikan nasehat untuk Edric.
Kemudian Gil mulai mengarahkan Edric untuk belajar bisnis. Masa kebebasan Edric telah usai.
__ADS_1