Dendam Jane

Dendam Jane
Menggali informasi


__ADS_3

Fokus Edric terpecah saat mendengar kegaduhan di ruang sebelah. Entah apa yang sedang dilakukan Samantha. Tidak hanya itu, mengapa di depan banyak karyawan yang berlalu lalang?


Derap kaki mereka sangat menggangu.


Edric berdiri dari kursinya. Di depan pintu ruang sekertaris sudah banyak pegawai berkumpul melihat sesuatu yang 'menarik' di dalam sana.


"Ada keributan apa?"


Semua karyawan langsung menunduk dan memberikan jalan.


"Direktur Utama datang.."


"Sekertaris Anda dan salah satu tim desain interior sedang bertengkar.."


Tim desain interior?


Begitu Edric melangkah masuk ke dalam ruangan yang pertama kali ia lihat adalah sosok kekasihnya dengan keadaan kacau. Beberapa kancing kemeja Jane terlepas hingga mempertontonkan sebagian perut ratanya dan tali br4 yang menggantung di pundak mulus Jane.


Jane adalah miliknya. Hanya dia yang boleh melihat tubuh Jane.


"Keluar semua!"


Edric tak akan membiarkan karyawan pria yang kebetulan ada di sini melihat tubuh Jane lebih lama.


Karyawan lain sangat menyayangkan itu. Mereka harus melewatkan pertunjukan gratis dari Samantha dan Jane.


Samantha segera menghambur ke arah Edric meminta pembelaan.


"Edric, dia tiba-tiba masuk kemari dan langsung menyerangku.."


Sekarang sudah jelas, Samantha adalah wanita pengganggu rumah tangga Vivian. Karena mana mungkin ia berani bersikap manja kepada seorang atasan terlebih dia adalah Direktur Utama perusahaan ini. Pasti mereka memiliki hubungan spesial di masa lalu.


"Apakah Anda akan percaya dengan perkataannya Tuan Edric?"


"Lihat aku. Dia menamparku berkali-kali dengan alasan tak jelas.."


Samantha menunjukan luka memar di pipi buatannya sendiri. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.


Benar-benar manipulatif!


"Benarkah itu Jane Ainsley? Dan mengapa kau bisa ada disini?"


"Aku kemari memiliki alasan tersendiri.."


"Bisa kau katakan?"


"Anda sedang mencurigaiku Tuan?"


"Aku perlu jawaban logis untuk mengetahui permasalahan kalian yang sebenarnya."


"Aku selalu bertindak jika ada penyebabnya. Samantha telah menyebar kan rumor buruk tentangku dan juga dialah yang menghasut tim desain interior."


"Itu hanya alasannya saja. Lagipula semarah apapun dia, tindakannya memukuli orang lain tidak dapat dibenarkan!"


Jane tersenyum miring.


"Jika Anda lebih mempercayai sekertaris Tuan, Saya rasa tidak ada gunanya lagi saya membela diri. Anda dapat memecat saya setelah ini. Maaf telah menganggu Anda Tuan. Ijinkan saya kembali ke ruangan untuk berbenah diri."


Jane melangkah keluar meninggalkan mereka berdua. Sebenarnya mengundurkan diri dari perusahaan bukanlah cara terbaik, ia tidak akan leluasa untuk balas dendam kepada Edric. Tetapi Jane masih memiliki harga diri untuk tidak diinjak-injak oleh Samantha.


"Tunggu.."

__ADS_1


Edric menahan langkah kaki Jane dan berjalan menghampirinya.


"Pakai ini."


Edric menyelimuti tubuh Jane dengan jas miliknya. Bau parfum maskulin segera memenuhi indra penciuman Jane.


"Terimakasih.."


Jane tersenyum mengejek kearah Samantha. Seolah berkata "Lihat dengan mata kepalamu sendiri! Edric begitu peduli dan perhatian kepadaku."


Samantha hanya dapat menggertakan gigi.


"Seharusnya kau bertindak lebih tegas pada karyawan barumu."


"Aku tak tahu apa yang terjadi pada kalian. Tapi kuperingatkan untukmu, jangan ganggu Jane Ainsley."


"Edric dia yang bersalah. Bukti ada di depan mata!"


"Aku belum mendengar cerita keseluruhan darinya."


"Walaupun aku terluka sekalipun kau tetap berpihak kepadanya?"


"Samantha. Hentikan sikapmu itu. Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun."


"Edric beri aku kesempatan!"


Samantha meraih lengan Edric dan langsung di tepis mentah-mentah.


"Aku rasa tak ada yang harus dibicarakan lagi."


Edric beranjak meninggalkan ruangan.


"Edric! Suatu saat kau akan menyesal telah memilihnya! Aku akan mengungkap keburukan Jane!"


BRAK!


Samantha menangis. Kali ini sungguhan. Ia telah kalah dari Jane Ainsley. Orang yang dicintainya mencampakkan dirinya begitu saja. Namun Samantha tidak akan tinggal diam. Sesuai perkataannya tadi, ia akan mencari tahu siapa Jane sebenarnya.


***


Jane sengaja tidak membalas pesan dari Edric. Ia akan berpura-pura marah kepadanya lalu mempertanyakan hubungan Edric dengan Samantha. Sebisa mungkin Jane menghindari Edric agar tidak berpapasan saat pulang kerja.


Setelah mandi dan keramas, tubuh Jane terasa segar kembali. Rasa lelah karena seharian menghadapi masalah seolah hilang terbawa air. Kini waktunya bersantai sambil menikmati sekotak es krim vanilla kesukaannya.


TOK! TOK! TOK!


Astaga! Bisakah orang-orang membiarkan ku istirahat sejenak?!


Jane segera membukakan pintu apartment.


Siapa sangka yang datang adalah Edric Harisson. Raut wajahnya tidak dapat di tebak. Yang jelas Edric terlihat marah. Sorot matanya begitu tajam seolah dapat menembus tempurung kepala Jane.


"Kau sengaja mengabaikan pesan-pesan ku."


"Aku sedang ingin sendiri."


"Apa yang membuatmu marah?"


Jane balas menatap Edric.


"Sebenarnya siapa Samantha? Aku merasa hubungan kalian tidak sekedar sekertaris dan atasan?"

__ADS_1


"Apa itu penting bagimu?"


"Ya itu penting. Aku perlu tahu karena kau adalah kekasih ku."


"Kau cemburu?"


"Jawab saja pertanyaan ku."


Suara Edric melunak. Ia justru merasa senang karena mengira Jane cemburu terhadap Samantha.


"Aku akan menjawab jika kau mengijinkanku masuk ke dalam."


Jane membuka pintu lebih lebar. Untung saja ia sudah menyembunyikan barang-barang yang berhubungan dengan Vivian Kaele.


"Maaf jika apartemenku terlalu sempit dan berantakan.."


Jane menyibukkan diri di pantri untuk menyiapkan minuman. Edric yang semula duduk di ruang tamu segera menyusulnya. Kemudian ia memeluk tubuh ramping Jane dari belakang. Jane langsung menghentikan kegiatannya.


"Jawaban apa yang ingin kau dengar?"


Edric mencium puncak kepala Jane. Ia dapat mencium aroma wangi sampo perpaduan antara greentea dan mint. Hal itu dapat memunculkan g4ir4h Edric.


Jane membalikan badannya. Mereka pun saling berhadapan.


"Katakan semuanya dengan jujur."


"Samantha memang memiliki perasaan kepadaku."


DEG!


Apakah Jane sanggup mendengar cerita Edric lebih lanjut. Dadanya terasa sesak. Bukan karena ia cemburu kepada Samantha. Tapi ia mengingat bagaimana perasaan Vivian jika Jane berada di posisinya.


"Sejak kapan?"


"Dia mengaku sudah lama menyukaiku."


"Apa kau pernah meresponnya?"


Edric terdiam memikirkan jawaban yang tepat.


"Yang jelas aku tak pernah menaruh perasaan sedikit pun kepadanya."


Pikiran Jane berkecamuk. Ia ragu mengajukan pertanyaan selanjutnya.


"Ada yang ingin kau tanyakan lagi?"


"Apa kau masih mencintai mendiang istrimu?"


Hening. Edric tampak gusar dengan pertanyaan Jane.


"Dia sudah tiada."


Ya. Karena kau.


"Kupikir mengapa kau begitu cepat memutuskan untuk berhubungan denganku. Padahal belum ada setengah tahun istrimu meninggal. Atau mungkin aku hanya pelampiasanmu?"


"Jane Ainsley, berhenti."


"Kau sedang bermain-main denganku?"


Jane tak dapat menghentikan mulutnya untuk bicara. Ia ingin mengetahui fakta mengenai hubungan Edric dengan Vivian.

__ADS_1


"Aku tak pernah mencintai istriku. Hanya sebatas tanggung jawab atas pernikahan bisnis."


Kilat kemarahan terpancar dari tatapan Jane.


__ADS_2