
"Wanita berkacamata itu.."
Daniel mengalihkan pandangannya kepada Olivia yang duduk tepat di samping Jane.
Kerutan di wajah Edric langsung berkurang.
"Dia pegawai lama, Kau belum mengenalinya?"
"Yeah, karena aku jarang kemari, kupikir dia orang baru.."
Edric menaikan sebelah alisnya. Ada apa lagi?
"Sejak kapan seleramu berubah? Dia seorang single mom dan sudah memiliki dua anak.."
"Terkadang wanita yang dewasa dan keibuan terlihat lebih menarik.."
Bukan Daniel Wynford namanya jika tak pandai berkelit, kecuali dengan ibunya.
Jane melirik ke arah meja yang ditempati oleh Edric dan Daniel. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Dari sini ia tak dapat mendengar apa pun. Apakah Daniel menceritakan masalah kemarin? Karena tadi Jane sempat melihat Edric menggebrak meja.
Ternyata pria itu mengabaikan ancamanku..
Sebaiknya Jane menyiapkan alasan jika nanti Edric bertanya.
Tetapi tidak terjadi apapun kedepannya, Edric tetap bersikap biasa. Justru di sela kesibukannya, Edric memberikan perhatian-perhatian kecil dengan mengirim makanan kesukaan Jane.
Jane telah salah sangka mengenai Daniel Wynford, penilaian buruknya terhadap pria itu setidaknya berkurang 1%. Jane harus tetap waspada dengan pria itu jika suatu saat berulah.
***
Malam ini Jane mengemas sebagain barangnya untuk persiapan berpindah rumah. Ia melihat buku diary milik Vivian masih tersimpan rapi di dalam kotak rahasianya bercampur dengan barang berharga milik Jane yang lain.
Apakah Jane harus membawa buku diary itu ke rumah barunya? Sekarang tak ada tempat yang aman untuk menyembunyikannya. Jangan sampai ia kehilangan bukti terkuat untuk menjatuhkan Edric kedepannya.
Tiba-tiba Jane teringat akan artikel yang belum sempat ia baca tempo lalu mengenai perusahaan Harisson. Jane buru-buru menghidupkan laptopnya.
"Ungkapan kekecewaan seorang wanita mengenai pembangunan proyek perusahaan Harisson ternyata memiliki riwayat gangguan kejiwaan"
Jane menekan link artikel itu lalu membacanya dengan seksama.
Mrs Nolan (54 tahun) beranggapan bahwa dibalik kesempurnaan Edric Harisson yang ditunjukkan kepada publik, ia adalah seorang diktator kejam yang sesungguhnya. Edric memaksa para pemilik tanah untuk menjual asetnya ke perusahaan Harisson kemudian menjadikannya lahan proyek. Edric juga tak segan-segan mengancam pemilik tanah agar menyetujui tawarannya.
Dari pihak Edric Harisson sendiri membantah akan kritikan tersebut. Perusahaan Harisson telah memberikan uang ganti rugi yang cukup besar sebagai kompensasi. Ia mengajukan gugatan kepada Mrs Nolan atas dasar pencemaran nama baik. Setelah diperiksa ternyata Mrs Nolan memiliki riwayat gangguan kejiwaan. Saat mendekati pengerjaan proyek, Mrs Nolan membakar rumahnya sendiri. Hal itu bertujuan untuk mendapatkan uang kerugian yang kedua kalinya.
Berikut adalah foto bukti surat pemeriksaan tes kejiwaan Mrs Nolan beserta surat perjanjian sengketa tanah yang telah di tanda tangani Mrs Nolan sendiri.
__ADS_1
Selalu ada kisah kelam dibalik perusahaan yang telah berkembang pesat. Jane menyalin artikel itu di dokumen pribadinya. Firasat Jane mengatakan ia harus bertemu dengan Mrs Nolan.
Tapi bagaimana cara mendapatkan kontak Mrs Nolan? Sedangkan tanahnya telah menjadi kondominium milik Edric.
Sebuah ide terbersit di benak Jane. Ia kembali menghadap layar laptop. Jemari lentiknya mengetik nama rumah sakit jiwa yang pernah menampung Mrs Nolan.
Rumah sakit jiwa Miracel. Jane segera mencatat alamat rumah sakit tersebut. Sedikit kemajuan ia mendapatkan informasi penting. Semoga saja ia menemukan bukti lain.
Besok Jane akan langsung berkunjung ke rumah sakit itu.
***
TUK! TUK! TUK!
Edric mengetuk-ngetuk ujung sepatu miliknya ke atas lantai. Ia merasa bosan. Saat ahkir pekan pun Edric harus mengikuti pertemuan rutin dengan investor saham karena proyek pembangunan hotel-mall semakin dekat.
Edric rindu dengan Jane. Kira-kira kekasihnya sedang apa sekarang?
"Tuan Edric.."
"Maaf?"
"Setelah rapat selesai Tuan Lark ingin minum bersama Anda.."
"Baiklah."
Seperti saat ini, Lark menyewa dua wanita penghibur sekaligus.
"Sangat disayangkan pemuda tampan dan kaya seperti mu tidak dapat menikmati masa mudanya dengan benar. Seharusnya kau ikut menyewa wanita.."
Yang benar saja, semua wanita yang ada disini tak ada apa-apanya di bandingkan dengan Jane Ainsley. Saat ini kekasihnya menempati urutan pertama di hati Edric.
"Apa karena kau sudah ditemani dengan sekertarismu yang cantik itu.."
"Terimakasih atas pujiannya Tuan Lark.."
"Dia hanyalah rekan kerjaku."
Edric menegaskan hubungannya dengan Samantha, ia tak mau orang lain salah sangka. Seandainya Jane mau mengumumkan hubungan mereka berdua, tentu ia tak perlu repot seperti ini. Tunggu waktunya tiba nanti..
"Apakah kau masih bersedih atas meninggalnya istrimu?"
Bahkan hal yang paling Edric hindari adalah menjadikan Vivian Kaelee sebagai topik pembicaraan. Ia tak mau mengingat mantan istrinya yang sudah meninggal. Karena Edric menganggap Vivian adalah suatu kegagalan dalam tugas yang diberikan ayahnya.
"Maaf Tuan hal itu masih sensitif untuk dibicarakan, sebaiknya kita mulai saja acara minumnya. Biar aku tuangkan.."
__ADS_1
Samantha mencoba menengahi. Itulah mengapa Edric menjadikannya sekertaris. Samantha memang dapat diandalkan.
Suara gelas beradu, Edric mulai menyesap minumannya.
Satu teguk..
Dua teguk..
Tiga teguk..
Aneh, semakin lama ia merasa gerah. Kepalanya pun menjadi pusing.
TAK!
Edric meletakkan gelas dengan kasar. Ia pun melonggar ikatan dasinya sambil menyugar rambutnya. Apakah Edric mabuk? Ia masih minum setengah gelas??
"Ada apa?"
"Tiba-tiba badanku merasa aneh.."
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tuan Lark bolehkah aku pulang terlebih dahulu?"
Ketika Edric berdiri badannya sedikit terhuyung.
"Hei nak?! Apakah kau sudah mabuk? Wajahmu memerah?"
"Sepertinya begitu.."
"Kemampuan minummu jelek sekali. Pulanglah.."
"Maafkan aku Tuan Lark tidak dapat menemani lebih lama."
"Tak perlu sungkan, aku masih ada urusan dengan kedua wanita cantik ini."
"Selamat malam.."
Samantha menuntut Edric berjalan menuju mobil.
"Sebaiknya aku yang menyetir.."
Edric duduk di kursi belakang. Ia ingin melepas semua pakaiannya karena merasa tidak nyaman. Tanpa sadar kancing kemeja nya sudah hampir terlepas semua.
Apakah ini sudah memasuki musim panas?
__ADS_1
Dibalik kaca spion mobil, Samantha tersenyum melihat tingkah atasanya.
"Sepertinya obat itu telah beraksi.." gumamnya perlahan.