
Happy reading 😘😘😘
"Aku ndak main-main. Lepaskan dan biarkan aku pergi dari rumah ini, atau ... kalian akan mati ditanganku!" Derana kembali melontarkan kalimat ancaman dengan meninggikan intonasi suara disertai tatapan nyalang.
Farel dan Atmajaya berusaha mencari kelengahan Derana. Beruntung Derana menyadari gerak-gerik mereka. Ia pun lantas menarik lengan Shella lalu mengunci tubuh adik iparnya itu dan menyentuhkan ujung pisau yang tajam ke lehernya.
"Jangan mendekat! Jika kalian mendekat, aku akan menancapkan pisau ini ke lehernya."
Shella tampak ketakutan hingga tubuhnya gemetar kala mendengar ancaman yang dilontarkan oleh Derana. "Mbak, aku mohon ... lepaskan aku!" pintanya mengiba.
"Dera, tolong lepaskan Shella! Jangan bunuh dia! Dia adik iparmu --" Arimbi turut melisankan pinta. Raut wajah wanita paruh baya itu menyiratkan cemas. Ia teramat takut jika Derana benar-benar nekat membunuh Shella--putri kesayangannya.
"Aku ndak akan melepaskan dia sebelum kalian melepas dan membiarkan aku pergi dari rumah ini," sahutnya memangkas ucapan Arimbi tanpa merendahkan suara.
"Bunuhlah Shella jika itu yang kau inginkan! Kami ndak akan melepasmu apalagi membiarkanmu pergi," tukas Atmajaya diikuti seringaian.
Derana mengimbangi permainan Atmajaya. Ia tahu jika apa yang diucapkan oleh pria tua itu hanya bertujuan untuk mengelabuhinya.
"Baiklah. Aku akan membunuhnya." Derana menarik sudut bibirnya dan berpura-pura menancapkan ujung pisau di leher Shella tanpa menggores leher adik iparnya itu sebab ia tidak tega melukai orang lain.
"Dera, jangan bunuh putriku! Kami akan melepas dan membiarkanmu pergi, tapi tolong ... lepaskan Shella sekarang!" Arimbi meluruhkan tubuh dan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, berharap hati menantunya itu akan luluh.
"Sebelum keluar dari rumah ini, aku ndak akan melepasnya." Derana berucap lantang. Ia berusaha menutup mata hatinya agar tak mudah terpengaruh dan luluh.
Arimbi terlihat putus asa sebab usahanya untuk meluluhkan hati Derana berujung sia-sia.
Disaat keputusasaan meraja, terlintas di pikirannya ... satu-satunya cara untuk menyelamatkan sang putri adalah memohon kepada Atmajaya dan Farel agar kedua pria berbeda generasi itu berkenan melepas dan membiarkan Derana pergi.
"Ayah, Farel, kita lepaskan saja Derana dan membiarkan dia pergi. Aku ndak ingin dia membunuh putriku."
Atmajaya dan Farel menghembus nafas berat. Setelah sejenak berpikir, keduanya pun menuruti permintaan Arimbi. Melepas dan membiarkan Derana pergi.
__ADS_1
Pergilah yang jauh, Dera! Aku pastikan, kau akan kembali ke rumah ini dan memberikan kami jabang bayi--kata yang hanya terucap di dalam benak Atmajaya. Pria tua itu tersenyum menyeringai dan pandangan netranya sedetik pun tak lepas dari Derana.
Setelah Atmajaya dan Farel memberi jalan, Derana bergegas menggiring Shella keluar dari kamar. Namun ia tetap waspada sebab tidak ingin kecolongan.
Sesampainya di halaman rumah, Derana lantas melepas Shella dan mendorong adik iparnya itu.
Kemudian, ia berlari meninggalkan kediaman Atmajaya tanpa menoleh ke belakang meski Farel berteriak memanggil namanya dan melontarkan kalimat ancaman.
Derana terus berlari menerobos lebatnya hutan dan menyusuri bibir sungai dengan perasaan takut. Ia teramat takut karena yang dilewatinya adalah hutan larangan. Hutan yang konon dihuni oleh berbagai macam makhluk halus.
Derana terpaksa melewati hutan itu sebab tidak mempunyai pilihan.
Ia sengaja melewati hutan larangan dan menghindari jalan setapak agar keluarga Atmajaya tidak menemukannya.
Derana terus memaksa kakinya berlari hingga menjelang senja.
Ayunan kaki Derana berhenti tepat di depan warung makan milik salah seorang warga desa Kantil. Desa tersebut berada di sebelah selatan desa Ringin.
Derana merasa teramat bersyukur sebab pemilik warung itu sangat baik. Selain memberi air putih, si pemilik warung juga memberinya sepiring nasi beserta lauk.
"Terima kasih Bu," ucap Derana setelah menandaskan minuman dan makanan yang diberikan oleh si pemilik warung.
"Sami-sami. Oya, kalau ibu boleh tahu ... siapa namamu, Nduk? Dan di mana rumah atau tempat tinggalmu?" cecarnya diikuti sebaris senyum yang membingkai wajah.
"Saya Derana, Bu. Rumah saya di desa Janda. Tapi, beberapa hari ini saya tinggal di desa Ringin bersama suami saya dan keluarganya. Maaf, siapa nama Ibu?"
"Perkenalkan, nama ibu ... Aririn. Dulu, ibu juga pernah tinggal di desa Ringin. Tepatnya di kediaman keluarga Atmajaya," tuturnya dan sukses membuat Derana terkesiap sekaligus dihinggapi perasaan takut.
"I-ibu pernah tinggal di kediaman Atmajaya? Ka-kalau boleh tahu, ada hubungan apa Ibu dengan keluarga Atmajaya?"
"Ibu dan keluarga Atmajaya memiliki hubungan kekerabatan, Nduk."
Derana menggeleng tidak percaya. Tubuhnya serasa lunglai kala mendengar jawaban yang diberikan oleh Aririn. Ia sungguh tidak menyangka, wanita sebaik Aririn ternyata mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga Atmajaya.
__ADS_1
"Be-benarkah?"
Aririn mengangguk dan kembali menerbitkan senyum. "Iya, Nduk."
"Meski masih kerabat, tapi hubungan kami ndak begitu baik. Keluarga Atmajaya itu keluarga yang sangat aneh. Mereka seperti orang-orang yang menderita penyakit mental. Halu mereka kebablasan. Bermimpi sugeh (kaya) tapi ndak mau bekerja keras. Malah berikhtiyar dengan cara yang tercela. Mengorbankan orang lain demi mewujudkan ambisi." Aririn menjeda sejenak ucapannya dan menghela nafas panjang.
"Jangan sampai kau berhubungan dengan keluarga itu, Nduk!" lanjutnya kemudian.
"Sudah terlanjur, Bu. Sebenarnya saya menantu keluarga Atmajaya. Istri mas Farel," ucap Derana seraya berterus terang.
Netra Aririn berotasi sempurna kala mendengar pengakuan yang disampaikan oleh Derana.
Ia tidak menyangka bahwa wanita malang yang saat ini duduk di hadapannya ternyata menantu keluarga Atmajaya, istri Farel.
"Bagaimana bisa, kau menjadi menantu keluarga Atmajaya Nduk? Bukankah, Farel sudah memiliki kekasih? Kenapa, dia malah menikah denganmu? Atau jangan-jangan, kau pun juga akan dikorbankan untuk mewujudkan ambisi mereka?" cecar Aririn diikuti kerutan di antara kedua pangkal alisnya.
Raut wajah Derana seketika berubah sendu. Dengan berat hati ia pun menjawab semua tanya yang dilisankan oleh Aririn ....
Aririn tampak mendengarkan dengan takzim. Raut wajahnya menyiratkan amarah tatkala Derana menceritakan perlakuan buruk yang ia terima dari keluarga Atmajaya, terutama Farel.
"Keluarga Atmajaya memang sangat keterlaluan. Mereka bukan manusia tetapi iblis yang berwujud manusia. Lebih baik, kita laporkan saja perbuatan mereka kepada pihak yang berwajib."
"Tapi Bu --"
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan 😉
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang berkenan mengawal kisah Derana hingga end. 😘😘😘🙏🙏🙏
__ADS_1