
Happy reading πππ
Arunika hadir menggantikan kegelapan malam. Memberi secercah harap dan semangat di pagi ini. Selamat pagi Tuan. Selamat bekerja. Semoga hari ini, Allah memberi keberkahan dan keridhoan ....
Seutas senyum terbit menghiasi wajah rupawan Randy ketika ia membaca rangkaian kata yang tertulis indah di selembar kertas beraroma vanila, yang ditemukannya di saku kemeja.
Meski kata-kata yang tertulis sangat sederhana, tetapi mampu menumbuhkan rasa bahagia yang memenuhi relung kalbu.
"Pasti rangkaian kata ini ditulis oleh Derana," tebaknya sembari menghirup dalam-dalam aroma parfum yang menempel di kemeja putihnya. Aroma maskulin yang sangat ia suka.
Karena terlalu asik menikmati aroma parfum yang membuat jiwanya merasa tenang, indera pendengaran Randy seolah tertutup rapat. Sehingga duda muda berparas ganteng itu tidak mendengar ketukan pintu dan suara Derana--memanggil namanya.
"Tuan, Tuan Randy --"
Untuk kesekian kali Derana memanggil Randy. Namun tetap saja, Randy tidak meresponnya.
"Tuan, Tuan Randy belum bangun ya? Sudah pukul tujuh lho, Tuan. Sarapannya sudah siap. Nyonya Ranu juga sudah menunggu Tuan di bawah," ucap Derana dengan sedikit mengeraskan suara. Namun sia-sia. Tidak ada sahutan dari dalam kamar.
"Jangan-jangan, Tuan Randy belum bangun. Jika Tuan Randy benar-benar belum bangun, bagaimana caranya membangunkan beliau? Kalau masuk ke kamar Tuan Randy tanpa meminta ijin, kira-kira sopan ndak ya?" monolog Derana. Ia sandarkan punggungnya pada pintu kamar dan sesaat berpikir.
Saat tengah berpikir, tiba-tiba pintu kamar Randy terbuka dan membuat Derana sangat terkejut.
Hampir saja tubuh Derana limbung. Namun beruntung, Randy dengan sigap mengulurkan kedua tangannya dan berhasil menopang tubuh mungil Derana dari belakang.
"Tu-tuan --" ucap Derana terbata sembari menarik tubuhnya.
"Sejak kapan kau berdiri di depan kamarku, Dera?"
"Se-sejak, lima belas menit yang lalu, Tuan."
"Selama lima belas menit kau berdiri di depan kamarku? Untuk apa? Jangan bilang, kau ingin mengintipku --"
"Ndak, Tuan. Sa-saya sama sekali ndak ada niatan untuk mengintip Tuan Randy," sahut Derana--memangkas ucapan Randy.
"Lalu untuk apa?" Randy kembali melontarkan tanya dan menatap manik hitam Derana dengan tatapan tak terbaca.
__ADS_1
"Un-untuk memanggil Tuan Randy. Nyonya Ranu sudah menunggu Tuan di bawah," jawab Derana sembari menundukkan wajah untuk menghindari tatapan netra sang tuan yang membuat jantungnya seketika berdentum.
"Owh. Aku kira, kau ingin mengintipku, Dera. Sampaikan pada bunda, sebentar lagi aku ke bawah!"
"Ba-baik, Tuan." Derana sedikit membungkukkan badan dan mengangguk patuh. Kemudian ia memutar tumit dan bersiap untuk mengayun tungkai.
"Dera, tunggu!" pinta Randy--memperdengarkan suara baritonnya.
Derana urung mengayun tungkai dan kembali memutar tumit.
"Ada apa, Tuan? tanyanya kemudian.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih," jawab Randy diiringi seulas senyum yang menambah nilai kegantengannya.
"Terima kasih untuk apa, Tuan?"
"Untuk rangkaian kata indah yang kau tulis. Aku nggak yangka, ternyata ... kau sangat pandai merangkai kata. Seharusnya, kau asah bakatmu itu dengan menjadi seorang penulis di apli-kasi novel on-line!"
Kata-kata pujian yang mengalir deras dari bibir Randy sukses membuat degup jantung Derana kembali berdentum-dentum dan lisannya serasa sulit untuk berucap saat rasa yang indah tanpa sopan kembali menyelinap di relung kalbu.
Derana sejenak bergeming. Lantas ia raup udara dalam-dalam untuk menormalkan degup jantungnya yang berdentum sebelum kembali berlisan kata.
"Kau berbakat, Dera. Hanya saja, kau merasa insecure."
"Dua-duanya, Tuan. Saya nggak berbakat dan inse-cure. Lebih baik, Tuan segera ke bawah! Kasihan Nyonya Ranu, beliau sudah menunggu Tuan Randy cukup lama," sahut Derana--mengalihkan topik pembicaraan.
"Baiklah, Dera. Kau dulu yang ke bawah! Nanti, aku segera menyusul."
"Iya, Tuan. Saya permisi."
Usai membalas ucapan tuannya, Derana lantas mengayun tungkai--menuruni anak tangga untuk menemui Ranu yang saat ini tengah berada di ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, Derana disambut lengkungan bibir dan sebaris pertanyaan yang dilisankan oleh Ranu--ibunda Randy.
"Randy kog belum ikut turun, Dera?"
"Maaf, Nyonya. Kata Tuan Randy, sebentar lagi Tuan Randy akan menyusul ke bawah."
__ADS_1
"Owh, yasudah. Sambil menunggu Randy, yuk kita sarapan dulu, Dera!"
"Monggo Nyonya duluan, nanti saya sarapannya di dapur bersama dengan Bu Karti," ucap Derana seraya menolak ajakan ibunda Randy dengan tutur kata yang terdengar santun.
Tanpa Derana sadari, Randy sudah berdiri di belakangnya. CEO muda dambaan kaum Hawa di dunia halu itu lantas turut bersuara dengan melontarkan kalimat ancaman.
"Dera, makanlah bersama kami! Jangan menolak ataupun membantah! Kau tahu 'kan, hukuman yang akan aku berikan jika kau membantahku?" sarkasnya.
Derana terkesiap saat mendengar suara bariton tuannya. Sontak wanita berparas manis itu merotasikan tubuh hingga berhadapan dengan Randy.
"Tu-tuan, Randy --"
"Duduklah, Dera! Mari sarapan bersama kami!" titah Randy dengan merendahkan intonasi suara.
"I-iya, Tuan." Derana mengangguk patuh. Ia sungguh tidak kuasa menolak titah tuannya yang terdengar bak sabda seorang raja.
Ranu menarik kedua sudut bibirnya tatkala menyaksikan interaksi antara Randy--putranya tercinta dengan Derana.
Wanita paruh baya itu menyadari gelagat Randy yang tak biasa ketika berhadapan dengan Derana.
"Ehem, Rand ... bersikaplah manis pada Derana! Bantu Derana untuk menarik kursi dan persilahkan Derana untuk duduk bersebelahan denganmu," titah Ranu seraya menggoda putranya.
"Iya, Bund."
Randy pun menunaikan perintah Ranu. Ditariknya kursi lalu dipersilahkannya Derana untuk duduk.
"Terima kasih, Tuan," ucap Derana lirih tanpa berani menatap wajah Randy yang hanya berjarak tidak lebih dari dua puluh centi ....
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Up nya segini dulu ya Kakak-kakak terlove βΊπ
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo π
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan ππ
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang berkenan mengawal kisah Derana ππππ