Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 56


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Suara orkestra alam mengalun merdu mengiringi lantunan kalam cinta yang terlafaz dari bibir Hastungkara.


Usai melafazkan kalam cinta, Hastungkara berkeluh kesah kepada Sang Maha Cinta dan menyampaikan kerinduannya pada sang kekasih yang telah tiada--Ahmad Zain.


Derai air mata tak mampu terbendung kala memory tentang Zain kembali menari di pikiran. Hastungkara menangis--meratapi kisah cintanya yang tak sejalan dengan angan.


Mimpi-mimpi yang pernah terangkai indah, hancur berderai seiring kepergian Zain menghadap Sang Maha Penggenggam Nyawa.


Inginnya, hanya Zain yang menjadi imam di dunia dan di akherat kelak. Namun takdir cinta berkata lain dan Hastungkara harus ikhlas menerima meski teramat sulit dirasa.


Isak tangis yang keluar dari bibir Hastungkara mengusik indera pendengaran hingga Randy yang semalaman tak bisa memejamkan netra, terdorong untuk membawa tubuhnya mendekat ke arah sumber suara.


Dari ambang pintu kamar, Randy memperhatikan Hastungkara yang tengah meneteskan air duka sembari menekan dadanya. Gadis itu tampak rapuh dan sangat menyedihkan. Kerinduan yang teramat sangat pada sang kekasih, menyiksa jiwa hingga melemah.


"Allah, salahkah bila hamba masih sangat mencintainya? Salahkah bila hamba memilih untuk tetap setia--menjaga rasa yang terlanjur terpatri di dalam hati dan tidak mengijinkan seorang Adam pun untuk singgah--menggantikan posisi Mas Zain? Salahkah hamba ya Robb --" Hastungkara menjeda ucapannya dan meraup udara dalam-dalam, menghempas buncahan rasa yang sangat menyiksa dan memaksanya tenggelam ke palung duka.


Setelah sesaat terdiam, Hastungkara kembali berlisan seraya menumpahkan isi hati. "Allah, hamba merindunya. Bahkan teramat sangat merindunya. Ijinkan hamba untuk bertemu dengan Mas Zain meski hanya sesaat. Ijinkan hamba ya Robb --" pintanya mengiba.


Tubuh mungil Hastungkara berguncang hebat bersamaan air duka yang mengalir semakin deras dari telaga bening. Duka yang ingin dihempas malah kian erat memeluk.


Tanpa terasa, butiran kristal menetes dari kedua sudut netra kala Randy mendengar untaian kata yang terlisan dari bibir Hastungkara. Ulu hatinya terasa sangat ngilu saat kalbunya memahami derita yang tengah dirasa oleh musuh bebuyutannya itu.


Di dalam benak, Randy memuji kesetiaan Hastungkara. Meski Zain telah tiada, Hastungkara tetap menjaga cinta yang terlanjur terpatri di dalam hati dan tidak mengijinkan pria lain untuk menggantikan posisi sang kekasih.


Randy merasa iri pada Zain yang dicintai oleh seorang Hawa dengan sepenuh hati. Tidak seperti dirinya yang dicurangi dan dikhianati oleh Amel--sosok Hawa yang ia cinta serta ia percaya untuk mendampinginya seumur hidup dan menjadi sayap yang akan membawanya menuju surga.


Sepuluh menit berlalu. Hastungkara mulai mampu mengontrol emosi. Ia menghela nafas panjang dan menyeka air mata yang membasahi wajah ayunya dengan jemari tangan.


Sebelum Hastungkara menyadari keberadaan Randy, duda muda berparas ganteng itu segera mengusap jejak air mata dan bergegas membawa langkahnya--kembali ke kamar Rafa.


Sesampainya di kamar Rafa, Randy menyambar gawai yang tergeletak di atas nakas. Lantas digesernya layar gawai itu untuk menghubungi Ridwan--asisten pribadi sekaligus sahabatnya.


"Assalamu'alaikum --" ucap Randy--membuka percakapan melalui sambungan telepon.


"Wa'alaikumsalam. Huammm ... ada apa, Rand? Kau mengganggu tidurku --" balas Ridwan di seberang sana.


"Ck, dasar tukang tidur. Jemput aku sekarang!"


"Hey Bro, memangnya kau di mana? Sekarang baru jam 4 dini hari --"


"Aku berada di Desa Janda."


"What? Kog bisa? Kau berada di Desa Janda? Jangan-jangan, semalam kau menginap di rumah orang tua Derana?"


"Nggak. Aku menginap di rumah Pak Wijaya--Kepala Desa Janda."


"Sebenarnya, apa tujuanmu datang ke Desa Janda? Aku curiga, kau ingin --"


"Jangan banyak bicara! Lebih baik, kau jemput aku sekarang! Sekalian bawa ban untuk mengganti ban mobilku yang bocor!"


"Ck, baiklah. Apa lagi yang mesti aku bawa, Tuan Kutub?"

__ADS_1


"Bawa juga beberapa anak buahmu!"


"Untuk apa, Rand? Lagian, anak buahku pasti masih molor. Males aku kalau harus membangunkan mereka --"


"Wan, jalan menuju Desa Janda di jam segini masih sepi dan rawan tindak kejahatan. Jadi, bawa serta anak buahmu untuk mengantisipasi jika ada orang jahat yang menghadangmu di tengah jalan!"


"Kau lupa atau pura-pura lupa, Rand? Aku ini jago bela diri. Meski aku dikeroyok oleh sepuluh orang, mereka bakal terbengong-bengong jika aku mengeluarkan jurus pamungkas --"


"Jurus pamungkas? Jurus apa itu?"


"Jurus kabur --" Ridwan tergelak, sementara Randy berdecak kesal karena candaan Ridwan di waktu yang tidak tepat. Di saat serius, Ridwan malah melontarkan candaan receh.


Dasar Ridwan!


"Buruan jemput aku! Jika dalam waktu dua jam kau nggak sampai di Desa Janda, jangan harap gajimu utuh!"


"Hisshhh, mentang-mentang atasan. Sedikit-sedikit mengancam dengan memotong gaji --"


"GPL, Wan! Dua jam mulai dari sekarang!"


"Iya-iya, aku bangunkan anak buahku dulu."


"Jangan lupa, bawa ban ser --"


Ucapan Randy terpangkas kala terdengar ketukan pintu diikuti suara yang sangat familiar melisankan salam.


Seketika Randy mengakhiri sambungan teleponnya dan menjawab salam yang terlisan.


"Wa'alaikumsalam," ucapnya sembari menoleh ke arah asal suara.


"Ra --"


"Pak Randy, kenapa Bapak bisa berada di kamar Mas Rafa? Jangan-jangan, Bapak sengaja menyelinap dan ingin mencuri sesuatu --" tukas Hastungkara sambil menyipitkan sepasang netranya.


"Kau salah. Sangat salah. Jika kau ingin mengetahui alasan yang sebenarnya, kau bisa bertanya pada Rafa atau kakekmu! Mereka pasti akan menjelaskan, kenapa aku bisa berada di kamar kakakmu. Karena, kakekmu dan Rafa yang mengijinkan aku untuk bermalam di kamar ini."


"Kenapa, bukan Bapak saja yang menjelaskan alasannya?"


"Jika aku yang menjelaskannya, kau pasti nggak akan percaya."


"Kali ini aku akan berusaha percaya. Jelaskan, kenapa Bapak bisa berada di kamar Mas Rafa!"


Randy menghembus nafas kasar, lantas membalas ucapan Hastungkara. "Baiklah, dengarkan baik-baik! Aku akan menjelaskan alasannya."


Hastungkara mengangguk patuh. Dengan takzim ia mulai mendengarkan penjelasan yang dituturkan oleh Randy.


Seusai Randy memberi penjelasan, Hastungkara kembali membuka suara. Ia sungguh tidak percaya, jika Ratri kini telah sadar dan terbebas dari ilmu takluk ataupun ilmu sihir. Serta jin yang bersemayam di dalam tubuh wanita itu telah pergi.


"Jadi, Bude Ratri benar-benar sudah sadar?" tanya yang terlisan diikuti kerutan yang tercetak jelas di antara kedua pangkal alisnya.


"Iya Ra. Bu Ratri sudah sadar. Jati diri beliau sudah kembali dan jin yang bersemayam di dalam tubuh Bu Ratri sudah pergi," terang Randy--menjawab tanya.


Wajah ayu Hastungkara terbingkai binar bahagia kala ia mendengar jawaban yang dilisankan oleh Randy. "Masya Allah. Alhamdulillah yaa Robb. Semoga Bude Ratri tidak akan lagi terkena ilmu takluk ataupun ilmu sihir yang dihembuskan oleh para pengabdi iblis. Dan jin sesat yang pernah bersemayam di dalam tubuh beliau, tidak akan kembali--menguasai jiwa Bude Ratri sehingga kehidupan keluarga beliau akan menjadi lebih baik. Dan hari-hari yang akan mereka lalui diwarnai oleh kebahagiaan. Serta, duka lara yang selama ini berkawan dengan mereka akan terhempas," doa tulus Hastungkara dan di amin-kan oleh Randy.


"Aamiin yaa Robb. Semoga doamu diijabah oleh Allah, Ra."

__ADS_1


"Aamiin allahumma aamiin, iya Pak. Semoga."


"Mulai saat ini, jangan memanggilku 'Pak'! Aku kurang suka jika kau memanggilku dengan sebutan itu."


"Lalu, aku mesti memanggilmu apa, Tuan Freezer?"


"Panggil aku 'Mas'! Mas Randy! Anggaplah aku sebagai kakakmu! Jujur, aku menginginkan kehadiran seorang adik. Dan aku ingin, kau bersedia menganggapku sebagai kakakmu," tutur Randy bersungguh-sungguh diiringi seutas senyum yang meruntuhkan kesan dingin di wajahnya.


"Sepertinya, anda salah minum obat, Pak --" tukas Hastungkara.


Satu jitakan mendarat cantik di kening Hastungkara sebagai hadiah karena ia telah asal bicara.


"Duh, sakit Pak," ujar Hastungkara sambil mengusap keningnya yang tercetak semburat merah.


"Makanya jangan asal bicara! Asal kau tahu, ucapanku tadi tulus dari lubuk hati. Aku sungguh-sungguh ingin menganggapmu sebagai adikku."


Hastungkara terdiam. Kentara sekali ia tengah berpikir.


"Bagaimana, Ra? Kau nggak keberatan 'kan jika aku menganggapmu sebagai adik dan memintamu agar bersedia menganggapku sebagai kakak?"


Hastungkara menarik kedua sudut bibirnya dan mengangguk mantab. "Ya, aku nggak keberatan menjadi adikmu ... Mas Randy. Mulai detik ini, aku akan memanggil Pak Randy dengan sebutan 'Mas Randy'. Kau kakakku dan aku adikmu --"


"Makasih, Ra --"


"Kembali kasih, Mas."


"Sudah terdengar adzan, lebih baik ... kita segera berangkat ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat subuh."


"Iya, Mas. Rara ke kamar kakek dulu untuk membangunkan beliau."


"Baiklah, Ra. Aku juga akan membangunkan Rafa."


"Hehem. Rara permisi dulu, Mas Randy."


"Iya, Ra."


Hastungkara memutar tumit lantas berlalu dari hadapan Randy--musuh bebuyutan yang kini telah berganti status ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan berupa like 👍


Beri komentar


Tekan tanda ❤ untuk fav karya


Tabok Rate 5 ⭐


Jika berkenan, tampol karya author dengan Vote atau gift 😉🙏


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏

__ADS_1


__ADS_2