
Happy reading 😘😘😘
Binar bahagia terlihat jelas di kedua manik mata Malikha saat Randy dan Derana keluar dari dalam mobil.
Dengan senyum terkembang, Malikha berlari lalu menghambur ke pelukan Randy.
Keduanya lantas saling berpeluk, menumpahkan rasa rindu yang memenuhi relung kalbu.
"Papa, Likha kangen," ucap Malikha--mencurahkan isi hati.
"Papa juga kangen, Sayang. Bahkan teramat sangat kangen." Randy membalas ucapan Malikha dan mengecup dalam pucuk kepala putri yang teramat dirindukannya itu.
"Kata Nenek Kalti, Papa dan Mama balu membuatkan Likha adek bayi. Jadi, Likha nggak boleh melengek minta segela ketemu sama Papa dan Mama. Tapi kalena Likha udah kangen beyat, Likha nangis dan minta Nenek Kalti untuk menelepon Papa," ujar Malikha berterus terang dengan memasang raut wajah sendu.
Randy mengulas senyum dan perlahan mengurai pelukan, lalu ditatapnya lekat manik mata sang putri dengan tatapan penuh cinta. "Apa yang dikatakan oleh Nenek Karti memang benar, Sayang. Selama satu minggu ini, Papa dan Mama berikhtiyar membuatkan adik kembar untuk Likha. Maafkan Papa dan Mama ya, Sayang! Gara-gara kami, Likha jadi kangen berat."
"Likha juga minta maaf, Papa. Gala-gala Likha, Papa dan Mama jadi buyu-buyu pulang. Oya, gimana sih, cala Papa dan Mama membuat adek kembal? Apa sepelti membuat adonan kue bolu atau sepelti bikin adonan donat gula?" tanya Malikha polos.
Randy dan Derana tergelak, sementara Kartini berusaha menahan tawa dengan melipat bibir kala mendengar celotehan Malikha yang sukses menggelitik indera pendengaran.
"Papa dan Mama kog malah ketawa sih?" sungut Malikha sebal sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Papa dan Mama ketawa karena Malikha sangat lucu," sahut Derana sembari membungkuk--mensejajarkan tubuhnya dengan Malikha dan Randy. Lantas direngkuhnya tubuh mungil Malikha dan dibawanya ke dalam gendongan.
"Mama, nanti malam kita bobok baleng ya! Beltiga. Likha di tengah, teyus dikelo-nin sama Papa dan Mama."
"Iya, Sayang." Derana menarik kedua sudut bibirnya dan melabuhkan kecupan di pipi gembul Malikha.
Malikha tersenyum nyengir lalu berganti mengecup pipi Derana--mama sambungnya.
"Sekarang, kita makan siang dulu ya! Likha belum makan, 'kan?"
"Belum, Mama. Likha belum makan. Likha mau disuapin Mama Dela."
"Baiklah, Sayang. Dengan senang hati, Mama akan menyuapi putri mama yang syantiknya seperti bidadari."
"Likha nggak mau cantik sepelti bidadali, Ma."
"Loh, memangnya kenapa, Sayang?"
"Kalena, Likha nggak mau jadi bidadali keseyo. Maunya sepelti mama Dela. Cantik dan nggak keseyo."
"Keseyo itu apa, Yang?" timpal Randy seraya melontarkan tanya diikuti kerutan yang tercetak jelas di antara kedua pangkal alisnya.
"Keseyo itu kesleo, Mas. Maksud Malikha ... Bidadari kesleo. Itu loh, seperti judul lagu," terang Derana--menjawab tanya.
"Woah, ada-ada gajah, Non Malikha," sahut Kartini--turut berceloteh dan disambut gelak tawa oleh Randy, Derana, serta Malikha.
....
Usai menikmati menu makan siang olahan tangan Kartini, Derana membawa Malikha ke dalam kamar sebab putri sambungnya itu ingin bermain boneka di kamar sembari dibacakan buku yang berisi kisah para Nabi.
Salah satunya, kisah Nabi Yusuf alaihissalam--Nabi berparas tampan yang sabar dan berakhlak mulia.
Setelah Derana dan Malikha masuk ke dalam kamar, Randy bergegas membawa langkahnya memasuki ruang kerja lalu menyibukkan diri dengan laptopnya.
__ADS_1
Randy berulang kali menarik kedua sudut bibirnya ketika membaca laporan yang dikirim oleh Ridwan melalui email.
Rupanya, Ridwan membuktikan kata-kata yang ia lisankan beberapa hari yang lalu.
Selama satu minggu menggantikan Randy, ia bekerja dengan ulet dan rajin. Hasilnya pun tidak mengecewakan sang atasan.
"Good Brother," ucap Randy sebagai ungkapan rasa bangganya terhadap Ridwan--sahabat sekaligus asisten pribadinya.
Jarum mesin waktu terus berputar. Tanpa terasa swastamita telah menyapa diiringi lantunan kalam cinta yang mengudara sebagai pertanda kidung kerinduan Illahi sebentar lagi akan diperdengarkan oleh para muazin di seluruh alam raya.
Sampai sesenja ini, Hastungkara belum tiba di rumah Randy. Tidak seperti yang telah disampaikannya melalui pesan yang ia kirimkan pagi tadi.
Hastungkara mengirim pesan yang berisi bahwa ia akan berkunjung ke rumah Randy sore ini untuk mengantar undangan pernikahan Rafa dan Zahra.
Hingga kidung kerinduan Illahi terdengar, Hastungkara masih belum tiba di rumah Randy.
"Tuan Randy --" Suara teriakan Kartini mengalihkan atensi. Seketika Randy merotasikan tubuh lalu menatap heran wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa, Mbok?" tanya yang terlisan dari bibir Randy diikuti tautan kedua pangkal alisnya.
"Non Hastungkara datang. Tapi, jilbab dan pakaian yang dikenakan oleh Non Hastungkara penuh darah, Tuan."
"Apa? Jilbab dan pakaian Rara penuh darah?"
"Iya, Tuan." Kartini mengangguk lemah.
"Rara terluka nggak, Mbok?" Randy kembali bertanya dengan memasang raut wajah yang menyiratkan cemas.
"Saya ndak tahu, Tuan. Lebih baik, Tuan segera ke bawah untuk menemui Non Hastungkara!"
"Iya, Mbok. Saya akan segera ke bawah. Oya, Simbok sudah memberi tahu Dera, kalau Rara--sahabatnya sudah datang?"
"Dijemput Bunda? Dera dan Likha mau dibawa ke mana sama Bunda?" cecar Randy--memangkas ucapan Kartini.
"Tadi Nyonya Ranu bilang, beliau mau membawa istri dan putri Tuan ke masjid Syuhada untuk menghadiri kajian."
"Kenapa, mereka nggak pamit saya, Mbok?"
"Loh, Nyonya Ranu dan Nyonya Dera sudah pamit, Tuan. Saya saksinya. Tadi, mereka berdua mengetuk pintu ruang kerja Tuan Randy dan berpamitan. Tapi Tuan Randy sepertinya sedang sibuk, jadi waktu Nyonya Ranu dan Nyonya Dera pamit, Tuan Randy hanya menjawab 'iya'," terang Kartini seraya menjawab tanya.
Randy menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Lantas ia membalas ucapan Kartini. "Iya, saya baru ingat, Mbok. Tadi, Dera dan bunda mengetuk pintu. Mereka juga berpamitan. Namun karena saya terlalu fokus menatap layar laptop dan membaca laporan yang dikirim oleh Ridwan, saya nggak ngeh dan hanya menanggapinya dengan mengucapkan kata 'iya'."
"Syukurlah kalau Tuan Randy ingat. Yang terpenting jangan pikun kebangetan seperti saya, Tuan." Kartini menanggapi ucapan tuannya dengan melontarkan candaan diiringi sebaris senyum.
"Simbok nggak pikun, hanya sering lupa. Yasudah, saya ke bawah dulu, Mbok. Tolong buatkan teh untuk kami--saya dan Rara!" pintanya.
"Inggih, Tuan. Siap 86," balas Kartini diikuti sikap hormat.
Randy mengulas senyum, kemudian mengayun tungkai--menuruni anak tangga dan membawa langkahnya menuju ruang tamu untuk menemui Hastungkara.
Di dalam benak, Randy melafazkan pinta, semoga Hastungkara--sahabat Derana sekaligus gadis yang dianggapnya sebagai adik, tidak mengalami musibah seperti yang dibayangkan olehnya.
"Rara --" Randy terkesiap kala pandangan netranya tertuju pada jilbab dan pakaian Hastungkara yang dipenuhi oleh noda darah.
"Hay, Bang. Assalamu'alaikum," sapa Hastungkara dengan nada bicara yang terdengar santai dan diikuti senyuman manis yang terlukis indah di wajahnya.
"Wa'alaikumsalam, Ra. Kenapa, jilbab dan pakaianmu penuh darah? Kau baik-baik saja, 'kan? Nggak ada yang terluka, 'kan?" cecarnya.
__ADS_1
"Owh ini. Tadi di jalan, Rara membantu korban kecelakaan, Bang. Jadi, jilbab dan pakaian yang Rara kenakan dipenuhi noda darah. Setelah ikut mengantar korban ke rumah sakit, Rara langsung memesan ojek online untuk mengantar Rara ke rumah Bang Randy, karena ada amanah dari Mas Rafa dan Mbak Zahra yang mesti Rara sampaikan," terang Hastungkara seraya menjelaskan.
"Harusnya, kau menghubungiku, Ra. Insya Allah, aku pasti akan datang menjemputmu."
"Terima kasih, Bang. Tapi, Rara nggak ingin merepotkan Bang Randy."
"Hmm. Kalau nggak ingin merepotkan Abangmu ini, kenapa kau nggak meminta Kiyhosi untuk mengantarmu? Biasanya, kalian selalu bersama."
"Dia sedang dapat orderan, Bang," balas Hastungkara singkat sembari mengeluarkan sepucuk surat undangan pernikahan bersampul biru dari dalam tas selempang lalu ia serahkan pada Randy.
"Ini, Bang. Surat undangan pernikahan Mas Rafa dan Mbak Zahra," sambungnya.
Randy mendaratkan bobot tubuh di sofa, lalu menerima surat undangan yang diberikan oleh Hastungkara.
"Alhamdulillah, akhirnya Rafa akan menyusulku. Semoga pernikahan Rafa dan Zahra diberikan kemudahan serta kelancaran," ucap Randy--melafazkan doa tulus dan di-amini oleh Hastungkara.
"Aamiin, Ya Allah. Semoga Allah mengijabah doa Bang Randy."
"Aamiin. Lalu, kapan kau akan menyusul kami, Ra?"
"Menyusul ke mana, Bang?"
"Menyusul ke KUA, menghalalkan hubunganmu dengan Kiyhosi."
"Haish, kami cuma berteman, Bang. Nggak lebih."
"Ya, siapa tahu dari teman menjadi demen."
"Nggak, Bang. Di hati Rara cuma ada Ustadz Zain. Bukan Kiyhosi ataupun yang lain."
"Buka hatimu untuk yang lain, Ra! Ustadz Zain sudah tiada. Ikhlaskan dia yang sudah pergi! Masa depanmu masih panjang. Kau butuh seorang Adam untuk tempat bersandar dan menemani perjuanganmu."
Hastungkara sejenak bergeming dan menelaah kata-kata yang dituturkan oleh Randy.
Sisi hati Hastungkara membenarkan ucapan Randy. Namun sisi hatinya yang lain, masih terasa berat untuk mengikhlaskan Zain dan menerima takdir cinta yang belum berpihak padanya.
Bibir memang mudah berucap ikhlas. Tetapi hati yang masih mencinta, terasa sangat sulit untuk melepas ....
🌹🌹🌹🌹
Assalamu'alaikum Kakak-Kakak terlove ....
Mohon maaf, author baru bisa memberikan bonus caphter lagi hari ini. Author juga meminta maaf karena beberapa hari ke depan belum bisa UP atau memberi bonus chapter. 🙏
Mulai hari ini hingga satu minggu ke depan, author mempunyai PR--merevisi naskah untuk diserahkan ke pener-bit.
Dengan segenap kerendahan hati, author meminta doa dan dukungan dari Kakak-kakak terlove, semoga tulisan tangan author yang akan diterbitkan bisa memberi manfaat dan diterima oleh para pembaca--pecinta literasi, serta menjadi perantara datangnya rejeki.
Tetap stay dan jangan unfav novel ini, karena insya Allah author akan kembali lagi memberikan bonus chapter. 🙏
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan.
Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-Kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏
Sambil menunggu bonus chapter, yuk mampir ke karya author yang lain 😉
__ADS_1