Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 69


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Pasir waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa tujuh purnama telah terlewati.


Segala coba dan uji yang pernah menyentuh, kini melambaikan tangan seiring kalimat sakral dan ketukan palu yang selama ini dinanti oleh Derana, terdengar membahana di ruang sidang.


Setelah mendengar pernyataan dari kedua saksi--Usman dan Hastungkara, Hakim memutuskan bahwa Derana telah resmi bercerai dengan Farel.


Bukan hanya Derana saja yang merasa lega dan teramat bahagia setelah mendengar keputusan hakim. Namun, semua orang yang menyayanginya pun turut merasa lega dan teramat bahagia, tak terkecuali Randy--pria berparas ganteng yang selalu mendampingi Derana selama dua kali persidangan.


Sementara Farel dan keluarganya, mereka harus rela menerima kekalahan.


Selama sidang berlangsung, tidak ada satu pun keluarga Farel yang turut hadir. Mereka melepas Derana tanpa menyatakan keberatan ataupun memberi bantuan finansial untuk membiayai proses perceraian.


Semua biaya perceraian ditanggung oleh Derana. Derana membayarnya dengan gaji yang ia kumpulkan selama tujuh bulan.


Tanpa Derana sadari, Randy sengaja melebihkan gaji dengan tujuan agar Derana bisa segera bercerai dengan Farel.


Randy tahu, bahkan sangat tahu. Gaji yang selama ini ia berikan bukan hanya dikumpulkan oleh Derana untuk membiayai proses perceraian. Namun, Derana juga menggunakannya untuk membantu mencukupi kebutuhan kedua orang tua dan adiknya yang berada di Desa Janda.


Selama tujuh bulan ini, Farel dan keluarganya tidak pernah berani menampakkan batang hidung. Mereka teramat takut jika bernasib sama dengan Wira--salah seorang dukun santet yang membantu mereka.


Wira--dukun santet yang terkenal sakti di Desa Ringin, menjemput ajalnya dengan cara mengenaskan setelah mencoba mengirim guna-guna yang ditujukan pada Derana dan keluarganya.


Sehebat apapun manusia, tidak ada yang bisa menandingi Allah, sebab Allah memiliki sifat qudrat yang berarti Allah adalah pemilik dan pemegang kuasa terhadap sesuatu.


Allah adalah zat satu-satunya Yang Maha Kuasa atas apapun dan tidak ada satupun makhluk lain yang bisa menandingi kekuasaan-Nya.


"Selamat, Rana --" Ucapan selamat dan pelukan hangat Hastungkara berikan pada Derana--sahabatnya terkasih.


Sebagai seorang sahabat, Hastungkara sangat bersyukur karena Derana telah terbebas dari jerat Farel dan seluruh keluarga Atmajaya.


Kini tiba saatnya, Derana merengkuh bahagia bersama orang-orang yang menyayangi dan mencintainya.


"Terima kasih, Rara." Derana membalas pelukan Hastungkara diiringi lengkungan bibir yang membentuk sabit.


"Iya, kembali kasih, Ran."


Perlahan, Hastungkara dan Derana mengurai pelukan. Kemudian, Randy, Usman, Ratri, Sukma, Ranu, Reno, Kiyoshi, Kartini, Ridwan, Rani, Rafa, Zahra, dan kedua orang tua Hastungkara--Jaenal dan Nofia, bergantian memberi selamat.


"Selamat, Dera. Semoga setelah hari ini, kebahagiaan selalu menaungimu dan penderitaan menjauh darimu," doa tulus Ranu diikuti pelukan hangat dan usapan lembut di punggung Derana.

__ADS_1


"Aamiin yaa Allah. Terima kasih, Nyonya."


"Mulai saat ini, jangan memanggil saya dengan sebutan 'Nyonya'! Tapi ... 'Bunda'!" pintanya sembari melerai pelukan.


"Tapi --"


"Tidak ada kata tapi! Kau harus menuruti permintaan bunda, Dera!"


Derana tampak ragu. Sebab ia merasa tidak enak hati dan tidak pantas jika memanggil ibunda Randy dengan sebutan 'Bunda'.


"Turuti permintaan Bundaku, Dera!" Randy turut bersuara.


"Tapi Tuan, saya hanya seorang baby sitter dan Nyonya Ranu adalah ibunda Tuan. Saya merasa ndak pantas memanggil Nyonya Ranu dengan sebutan 'Bunda'."


"Kau pantas memanggil Tante Ranu dengan sebutan 'Bunda', Ran. Karena Abangku yang handsome-nya seangkasa raya ini, kelak yang akan menjadi imam pengganti untukmu. Jadi, mulai saat ini, biasakan memanggil Tante Ranu dengan sebutan 'Bunda'!" sahut Hastungkara diiringi kerlingan mata.


"Ishhh, apaan sih, Ra? Jangan asal bicara!"


"Aku nggak asal bicara, Ran. Kelak, ucapanku akan terbukti --"


"Insya Allah akan terbukti, jika Derana bersedia menerima Randy menjadi calon imam. Meski putraku ini seorang duda, tapi nggak kalah kuat lho sama yang perjaka," timpal Ranu--memangkas ucapan Hastungkara dan disambut gelak tawa oleh semua orang yang mendengarnya. Terkecuali Randy dan Derana.


Derana seketika tertunduk malu saat mendengar celotehan Ranu yang terdengar ambigu, sementara Randy tampak menghela nafas panjang dan melafazkan istighfar di dalam hati.


"Boleh juga usulnya, Bang."


"Tumben amat kau memanggilku 'abang', Ra?"


"Memangnya nggak boleh ya?"


"Boleh. Is up to you! Oya, ada rekomendasi nggak, restoran atau cafe yang view-nya menarik dan rasa makanannya lezat?"


"Ada. Cafe K & R. Kafe milik mertuanya Alif--sahabatku. Selain cita rasa makanan yang ditawarkan memanjakan lidah, Cafe K & R juga menyajikan pemandangan alam yang masih asri. Dari rooftop cafe, kita bisa melihat kegagahan Gunung Merapi dan hamparan sawah menghijau," tutur Rafa--menjawab tanya yang terlisan.


Randy menggulirkan pandangan netranya ke arah Derana. Ia tatap wajah manis wanita yang berdiri di hadapannya itu dan kembali melisankan tanya. "Bagaimana Dera, kau tertarik dengan cafe yang direkomendasikan oleh Rafa?"


Derana mengangguk tanpa berani membalas tatapan netra tuannya. "Iya, Tuan. Mas Rafa pernah mengajak saya ke sana saat merayakan ulang tahun Hastungkara ke delapan belas tahun."


"Ya, aku ingat. Waktu itu Rafa meminta ijin padaku. Dia bilang akan membawamu ke rumah Dokter Alif untuk menemaninya--menghadiri acara aqiqah baby Alcha. Namun ternyata, sepulang dari acara aqiqah, kalian merayakan ulang tahun Rara tanpa menawariku untuk turut serta. Tega sekali kalian," sahut Randy seraya melayangkan protes.


"Hei, Bro. Aku sudah meneleponmu berulang kali. Tapi kau sama sekali nggak mengangkatnya. Kata asistenmu, kau sedang metting dengan klien dan nggak bisa diganggu."


"Kalian 'kan bisa menungguku setelah metting selesai." Randy kembali melayangkan protes sebab ia tidak mau kalah.

__ADS_1


"Haishhh, keburu kemalaman, Bro. Kasihan Zahra--calon istriku kalau pulangnya terlalu malam."


"Kau 'kan bisa mengantarnya --"


"Sudah-sudah, kita jadi makan nggak sih? Adu mulutnya dilanjut nanti! Kalian tahu nggak? Cacing di perutku sudah meronta-ronta," timpal Hastungkara--melerai Rafa dan Randy.


"Bukan hanya cacing di perutmu yang meronta-ronta. Tapi, cacing di perutku pun sama, Dek." Rafa menyahut ucapan Hastungkara sambil mengusap perutnya yang mengeluarkan bunyi nyaring.


"Yasudah, lebih baik kita berangkat sekarang! Rafa, kau melajukan mobilmu di depan! Aku akan mengikutimu dari belakang."


"Ogeh. Derana ikut mobil siapa?"


"Ya ikut mobil Bang Randy lah. Mobil Mas Rafa 'kan sudah penuh sesak. Lagian, Bang Randy dan Derana ... ingin berbicara dari hati ke hati. Jadi, biarkan mereka berada di dalam satu mobil agar bisa leluasa ngobrolnya," celoteh Hastungkara menanggapi kalimat tanya yang dilontarkan oleh kakak kandungnya--Rafa.


Randy melayangkan jitakan dan mendarat cantik di dahi Hastungkara, sehingga gadis belia itu seketika mengaduh dan mengusap dahinya.


"Afa-afaan ini? Jarinya dikondisikan, Bang! Jangan asal menjitak!" protes Hastungkara.


"Makanya, jangan asal bicara!"


"Yey, siapa juga yang asal bicara? Bang Randy aja yang sok jaim."


"Ehem!" Ranu berdehem untuk mengalihkan atensi Randy dan Hastungkara yang tengah beradu mulut.


"Yuk, kita berangkat sekarang! Perut bunda sudah protes minta diisi," ujarnya kemudian.


"Iya, Bund," ucap Randy--membalas perkataan sang bunda.


Mereka pun lantas masuk ke dalam mobil dan mendaratkan bobot tubuh di jok.


"Dera, kau duduk di sebelahku! Dan Mbok Karti, duduk di jok belakang bersama Malikha! Biarkan Malikha tidur dan jangan dibangunkan sebelum kita sampai di cafe ya, Mbok!" titah Randy.


"Injih, Tuan." Kartini mengangguk patuh lalu membenahi posisi Malikha agar balita yang kini sudah berusia satu setengah tahun itu, dapat tidur dengan nyaman ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan 😉🙏


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏

__ADS_1


__ADS_2