Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
Boncap 8


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Pasir waktu berjalan begitu cepat, hingga tanpa terasa empat purnama telah terlewati. Itu berarti, usia kehamilan Derana sudah menginjak sembilan bulan.


Randy dengan setianya berjaga. Tak sedetik pun ia jauh dari Derana.


Demi bisa selalu berada dekat dengan Derana--istrinya tercinta, Randy bekerja dari rumah.


Seperti saat ini. Setelah membuatkan susu untuk Derana, Randy mendaratkan bobot tubuhnya di kursi lantas membuka laptop yang ditaruhnya di atas meja.


Jari-jari tangannya mulai menari di atas keyboard dan pandangannya fokus menatap layar datar di hadapan.


Semua file yang dikirim oleh Ridwan dibukanya satu-persatu, kemudian dibacanya dengan sangat teliti.


"Arghhh, Mas --" Suara Derana mengalihkan atensi, sehingga Randy bergegas mematikan laptop dan beranjak dari posisi duduk.


Dengan tergesa, Randy membawa langkahnya--menghampiri Derana yang tengah merintih kesakitan sambil memegangi perutnya yang besar.


Menurut hasil USG, Derana mengandung bayi kembar. Sesuai dengan keinginan para pembaca setia.


"Mas. Arghhh --" Derana kembali merintih dan menggigit bibir bawahnya diikuti peluh yang mulai membasahi wajah.


"Sayang. Sayang kenapa? Sa-sayang --" Randy menjatuhkan tubuhnya di bibir ranjang dan merengkuh tubuh istrinya.


"Mas, aku. Sakit sekali. Sepertinya dua malaikat kecil kita akan segera lahir," ucap Derana lirih.


"Ta-tapi, menurut perkiraan dokter, Sayang akan melahirkan satu minggu lagi --"


"Arghh. Mas --"


Karena tak kuasa menyaksikan Derana kesakitan, Randy bergegas mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya keluar dari kamar.


"Sayang, bertahanlah! Mas akan mengantarmu ke rumah sakit."


Derana mengangguk dan mengerjapkan mata--menanggapi ucapan Randy.


Ia lingkarkan tangannya di leher Randy dan membenamkan wajah di dada bidang suaminya itu.


Tanpa alas kaki, Randy berjalan menuruni anak tangga lalu membawa langkahnya menuju ruang tamu sembari berteriak memanggil Kartini.


"Mbok, Simbok!"

__ADS_1


Beruntung, Kartini belum memejamkan netra. Apalagi tenggelam ke alam mimpi.


Kartini pun menyahut dan beranjak dari ranjang.


Dengan tergopoh-gopoh, ia berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri tuannya.


"Ada apa, Tuan?" tanyanya begitu sampai di ruang tamu.


"Sepertinya istriku akan segera melahirkan, Mbok. Saya titip Malikha ya!" ucap Randy seraya menjawab tanya.


"I-iya, Tuan."


"Tolong ambilkan tas besar berwarna biru ya, Mbok! Jangan lama-lama! Saya tunggu di depan."


"Si-siap, Tuan. Tas birunya di dalam kamar 'kan, Tuan?"


"Iya, Mbok. Sudah saya siapkan di samping almari besar."


"Baik, Tuan. Saya akan segera mengambilnya." Kartini sedikit membungkukkan badan lalu memutar tumit dan membawa langkahnya menaiki anak tangga.


"Sayang, tunggu sebentar ya! Mas akan mengambil mobil dulu," ucap Randy sembari mendudukkan Derana di sofa.


"Iya, Mas," balas Derana disertai anggukan pelan.


Setelah menaruh mobilnya di halaman, Randy kembali masuk ke ruang tamu. Ia tiba di ruang tamu bersamaan dengan Kartini.


"Mas, aku jalan sendiri saja! Ndak usah digendong!" pinta Derana saat Randy mengulurkan tangan dan bersiap mengangkat tubuhnya.


"Tapi, Yang. Sayang 'kan kesakitan. Mas gendong ya?"


"Ndak usah, Mas. Udah ndak sakit kok." ucap Derana sambil memamerkan senyum manisnya sehingga membuat Randy sedikit merasa lega.


"Ya sudah, Mas bantu berjalan ya, Sayang?"


"Iya, Mas."


Randy dan Derana berjalan ke luar, diikuti oleh Kartini yang menenteng tas besar berisi pakaian bayi dan pakaian Derana.


Dengan sangat hati-hati, Randy memandu Derana untuk duduk di samping kemudi. Kemudian ia berjalan memutar, lalu membuka pintu mobil dan mendaratkan bobot tubuhnya.


"Argh --" Derana kembali merasakan sakit dibagian perut hingga menjalar sampai ke punggung. Ia pun merintih dan mengusap perutnya.


"Sayang. Sayang merasakan sakit lagi?" Randy melontarkan tanya disertai raut wajah yang menyiratkan cemas.

__ADS_1


"Iya, Mas. Sedikit. Mas ndak usah cemas! Aku ndak pa-pa," jawabnya menenangkan.


"Bertahanlah ya, Sayang! Mas akan membawamu ke rumah sakit ICPA."


"Ndak usah jauh-jauh ke sana, Mas! Di rumah sakit terdekat saja! Rumah Sakit Chayra. Rumah sakit yang didirikan oleh Mas Alif--sahabat Mas Rafa, sebagai wujud rasa cintanya pada Mbak Chayra."


"Astaghfirullah, Mas sampai lupa, Yang. Lagi pula, Alif kan anak angkat pemilik Rumah Sakit ICPA. Insya Allah fasilitas dan pelayanan di Rumah Sakit Chayra sama seperti di Rumah Sakit ICPA."


"Heem, Mas."


Randy segera menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukan kendaraan besinya.


Selama berada di perjalanan, sesekali Derana kembali merintih sambil mencengkram lengan Randy dengan sangat kuat.


Randy semakin cemas. Fokusnya pun terbagi.


"Mas, nyetirnya yang fokus! Aku ndak pa-pa."


"Tapi Mas mencemaskan Sayang dan anak-anak kita."


"Mas 'kan sudah pernah mendampingi Mbak Amel saat akan melahirkan, seharusnya Mas Randy bisa menguasai diri supaya ndak terlalu cemas. Mas pernah berada di posisi saat ini 'kan?"


"Iya, Yang. Meski pernah berada di posisi saat ini, Mas merasakan sesuatu yang berbeda. Mas merasa sangat cemas. Mas nggak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Sayang dan anak-anak kita. Mas takut --"


"Sssttt, jangan diteruskan, Mas! Kita harus berpikir positif dan terus berdoa, semoga Allah memberi kemudahan dan keselamatan ketika aku melahirkan buah cinta kita." Derana menerbitkan senyum dan mengusap lembut bahu suaminya.


"Iya, Sayang. Seharusnya Mas yang menenangkanmu. Bukan malah Sayang yang menenangkan Mas." Randy pun turut menerbitkan senyum dan mengulurkan tangan kirinya--mengacak lembut pucuk kepala Derana yang terbalut jilbab berwarna biru muda.


"Argh --" Baru saja Randy mampu menguasai kecemasannya, Derana kembali merintih dan mencengkram kuat lengannya.


🌹🌹🌹🌹


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏


Terima kasih teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengikuti kelanjutan kisah Derana. 😘😘


Insya Allah, bulan depan author akan kembali merilis karya baru yang berjudul 'Muridku, Imamku.'


Author masih galon, karya baru tersebut sebaiknya rilis di sini atau di rumah tetangga berinisial F? 🤔


Beri masukan ya Kakak-kakak. Matur nuwun 😉🙏


__ADS_1


__ADS_2