
Happy reading 😘😘😘
Randy melafazkan pinta di dalam hati, semoga kelak ... Illahi mengirimkan jodoh untuknya, seorang Hawa yang memiliki pribadi seperti sang bunda. Bukan hanya cantik parasnya. Namun juga cantik hatinya.
"Rand --" Suara lembut Ranu menyadarkan Randy dari lamun. Duda muda berparas ganteng itu terhenyak dan seketika beranjak dari posisi duduk.
"Bunda," sapanya sembari memutar tubuh--menyambut sang bunda yang tengah berjalan mendekat dengan mengulas senyum manis.
"Bunda kog belum tidur?" tanya yang terlisan dari bibir Randy setelah bundanya berdiri sejajar dengannya.
"Bunda masih belum ngantuk, Rand."
"Ayah dan Malikha sudah tidur, Bund?" Randy kembali bertanya dan Ranu menanggapi dengan anggukan disertai seutas senyum.
"Sudah, Sayang. Mereka baru saja tidur. Karena ayah dan Malikha sudah tidur, makanya bunda bisa menghampirimu," terang Ranu seraya menjawab tanya yang terlontar dari bibir putranya.
"Bunda boleh duduk di sini 'kan, Rand? Bunda ingin menikmati keindahan langit malam bersamamu," ucap Ranu kemudian.
"Tentu saja boleh Bund."
"Terima kasih Sayang." Ranu menarik kedua sudut bibirnya lantas mendaratkan bobot tubuh di sofa, disusul oleh Randy.
Sepasang ibu dan anak itu duduk bersebelahan. Keduanya melempar pandang ke arah hamparan langit yang terhias rasi bintang dan rupa Sang Dewi Malam.
Detik berikutnya, Ranu mengalihkan pandangan netra dan kembali membuka suara--memecah atmosfer hening yang sejenak menyelimuti mereka.
"Rand, tadi bunda mencarimu di ruang kerja. Karena tidak menemukanmu di sana, bunda bertanya pada Mbok Karti. Mbok Karti bilang, mungkin Tuan Randy sedang semedi di kamar, Nyah. Eh ternyata bener, putra bunda yang handsome ada di kamar," tutur Ranu memulai obrolan.
Randy menerbitkan seutas senyum dan mengalihkan pandang. "Simbok kalau bicara suka asal, Bund. Randy nggak sedang semedi, tapi lagi menghitung bintang," ucapnya datar. Namun disisipi candaan. Entah jin apa yang merasukinya, sehingga si manusia es itu sedikit berubah.
Ranu melebarkan senyum. Hatinya bersorak senang karena putranya yang dingin kini bisa melontarkan candaan. "Ck ck, putra bunda yang terkenal dingin seperti freezer dan minim senyum, sekarang sudah ketularan Mbok Karti dan Ridwan. Tapi bunda malah bersyukur. Itu artinya, es-mu sudah mulai mencair Sayang. Bunda yakin, kelak kau akan seperti ayahmu. Si manusia es bermetamorfosa menjadi pria romantis dan humoris."
"Semoga saja ya Bund. Tapi, Randy nggak yakin bisa bermetamorfosa seperti Ayah. Ayah berubah karena bunda. Sementara Randy, berubah karena siapa? Sampai detik ini, Randy belum dipertemukan dengan seorang wanita yang mampu meluluhkan hati Randy yang terlanjur beku --" Binar netra Randy seketika meredup bersamaan raut wajah yang berubah sendu kala buncahan rasa yang menyiksa jiwa kembali hadir dengan lancang.
"Belum bukan berarti tidak, Sayang. Berprasangka baiklah kepada Allah! Yakinlah, Allah akan mempertemukanmu dengan wanita yang mampu meluluhkan hatimu, Rand! Bunda berdoa, semoga wanita itu bukan hanya cantik parasnya. Namun juga cantik hatinya," tutur Ranu disertai usapan lembut yang berlabuh di bahu Randy.
Suasana kembali hening. Hanya terdengar nyanyian alam yang menyenandungkan kidung kerinduan kepada Sang Maha Kasih.
"Rand --"
"Ya Bunda --"
"Mm ... siapa nama baby sitternya Malikha, Rand? Bunda kog agak lupa ya? Dera, Dara, atau Rara?" Ranu mencairkan suasana dengan berpura-pura melupakan nama wanita yang bekerja pada Randy sebagai baby sitter Malikha.
Sebenarnya Ranu masih ingat nama Derana--wanita berparas manis yang berasal dari Desa Janda. Desa yang menjadi saksi bisu kisah kelamnya di masa lalu.
"Nama baby sitter Malikha ... Derana, Bund. Tapi nama panjangnya, Randy nggak tahu."
__ADS_1
"Derana? Wah, nama yang sangat bagus, Rand. Nama Derana menggambarkan seseorang yang tegar dan kuat menjalani segala penderitaan hidup. Dan nama itu mengingatkan bunda pada masa lalu bunda ketika masih tinggal di Desa Janda. Desa Janda mengajarkan bunda tentang banyak hal. Penderitaan, keputusasaan, pengorbanan, dan perjuangan. Kala itu, bunda harus menjadi seorang Derana agar bisa bertahan hidup." Pandangan Ranu menerawang ke masa lalu seiring titik-titik embun yang mulai menganak di kelopak mata.
"Bunda sangat bersyukur Rand, disaat bunda terpuruk ... Allah mengirimkan seorang sahabat yang selalu memotivasi dan berusaha membantu bunda agar terlepas dari jerat mantan suami bunda. Dia juga tanpa lelah menasehati bunda agar bunda tidak menyerah dan berputus asa," sambungnya diikuti sebaris senyum.
"Kalau boleh tahu, siapa nama sahabat Bunda? Siapa tahu, Derana mengenalnya, Bund."
"Sahabat Bunda, dia --" Ranu tampak mengingat nama sahabat yang selalu memotivasi dan mengulurkan tangan tanpa pamrih ketika ia terpuruk.
"Nur .... Haduh, Nur siapa ya?"
"Nggak usah terlalu memaksakan diri untuk mengingat siapa namanya, Bund!"
"Sebentar-sebentar. Bunda agak lupa nama aslinya karena dulu bunda sering memanggilnya Nyai Rempong."
Ranu meraup udara dalam-dalam dan sekejap memejamkan netra. Ia terlihat fokus dan berusaha keras mengingat nama sahabatnya.
Lima menit kemudian, wanita paruh baya itu kembali membuka netra dan mengembangkan senyum.
"Bunda sudah ingat?"
"Iya Rand, bunda sudah mengingatnya. Nama sahabat bunda ... Nofia Nurhayati. Akh, bunda jadi kangen sama Nur. Entah, di mana si Nur berada saat ini. Pasti, dia sudah mempunyai anak. Andai anaknya si Nur perempuan, bunda ingin sekali besanan dengannya."
"Hah, Bunda kumat lagi." Randy berucap lirih. Namun tertangkap oleh indera pendengaran Ranu.
"Maksudmu apa, Rand? Bunda kumat miringnya, gitu?" cecarnya dengan memasang wajah merengut.
Randy pun segera menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ranu agar bundanya itu tak lagi merengut. "Bukan Bund. Maksud Randy, Bunda kumat ingin menjodohkan Randy."
Randy memijat pelipisnya yang terasa cenat-cenut saat membayangkan celotehan sang bunda menjadi nyata. Tak terbayang betapa lelahnya ia menerima tamu undangan selama 7 hari 7 malam. Apalagi jika calon pengantinnya ternyata jauh dari yang dia harapkan. Sungguh ngenes se-ngenes ngenesnya nasib si duda.
"Ehem, Bunda sudah berbincang dengan Derana?" Randy mengalihkan obrolan dengan melontarkan tanya.
Tak disangka, usahanya untuk mengalihkan obrolan yang membuat pelipisnya cenat-cenut itu berhasil.
"Belum Rand. Dari tadi, bunda disibukkan dengan polah tingkah ayahmu yang seperti anak muda. Maunya nempel terus seperti perangko. Jadi, bunda belum sempat berbincang dengan Derana. Padahal, bunda sangat ingin mengenal Derana dan berbincang tentang Desa Janda," jawabnya berterus terang.
"Besok pagi masih ada waktu, Bund. Bunda bisa berbincang dengan Derana sambil sarapan bubur ayam di Alkid (Alun-Alun Kidul)."
"Huum, saran yang bagus Rand. Oya, Derana masih single atau sudah bersuami, Rand?"
"Derana sudah bersuami Bund. Tapi, suaminya sangat be-jad. Kisah hidup Derana hampir sama dengan Bunda. Dia dijodohkan dengan seorang pria yang berusia lebih tua darinya. Suami Derana selalu berkata kasar dan memperlakukan Derana layaknya seorang budak, Bund."
"Lalu bagaimana ceritanya, Derana bisa bekerja di rumah ini--menjadi baby sitter Malikha?"
"Panjang ceritanya, Bund."
"Ceritakanlah, Sayang! Bunda akan mendengarnya dengan setia."
"Baiklah Bund."
__ADS_1
Randy mulai menceritakan kisah Derana yang ia dengar dari asisten rumah tangganya--Kartini. Sementara Ranu dengan setia mendengar cerita yang terlisan dari bibir Randy.
Ulu hati wanita paruh baya itu terasa nyeri saat Randy membeberkan masa lalu Derana yang teramat pelik.
Benar yang dikatakan oleh sang putra. Kisah hidup Derana yang teramat pelik hampir sama dengan kisahnya di masa lalu.
Tanpa terasa, air bening mengalir dari kedua sudut netra saat bayangan masa lalunya menari-nari di pelupuk mata.
"Kasihan sekali Derana. Semoga, Derana segera terlepas dari jerat suaminya sehingga ia bisa membuka lembaran baru dan merengkuh kebahagiaan," doanya tulus sambil menyeka jejak air mata dengan jemari tangan.
"Aamiin, Bund. Semoga doa Bunda diijabah oleh Allah," sahut Randy seraya meng-amini doa yang dilafazkan oleh sang bunda.
Ranu menatap lekat manik hitam putranya, kemudian kembali berlisan kata. "Rand, bantulah Derana!" pintanya.
"Bagaimana caranya agar Randy bisa membantu Derana Bund?"
Ranu membuang nafas kasar dan sejenak berpikir.
"Hubungi kedua orang tuanya, Rand! Dan ceritakan semua yang dialami oleh Derana! Beritahu ayah dan ibunya bahwa menantu mereka yang be-jat telah sengaja membuang Derana di terminal!" titahnya setelah sesaat terdiam.
"Tapi Bund, bagaimana jika Derana nggak berkenan?"
"Besok pagi, bunda akan berbicara pada Derana. Bunda yakin, Derana pasti berkenan Rand. Semoga saja, kedua orang tua Derana bisa tersadar dan mendukung putrinya untuk segera berpisah dengan Farel--pria berhati iblis yang tidak pantas untuk mendapatkan cinta seorang Derana," tutur Ranu dan Randy menanggapi dengan menarik kedua sudut bibirnya.
"Randy kagum pada Bunda --" ucapnya kemudian--mengutarakan isi hati.
"Bunda juga kagum padamu, Sayang. Sudah larut malam, segeralah beristirahat!"
"Bunda juga, segeralah beristirahat Bund! Jangan sampai Bunda lelah letih lesu saat ayah terjaga dan meminta jatah."
"Ishh ... no ... no ... no. Bunda libur dulu, Rand. Badan bunda masih capek. Kemarin, ayahmu meminta jatah lebih dari tiga kali. Kau pasti bisa membayangkan betapa remuknya badan bunda."
"Meski sudah berusia setengah abad, ternyata ayah masih kuat ya Bund?"
"Hooh. Untung lawannya bunda, kalau lawannya Mbok Karti, pasti sudah lemes Rand --" ujar Ranu diikuti tawa yang mengudara.
Sama seperti Ranu, Randy pun mengudarakan tawa karena ucapan bundanya sukses menggelitik telinga.
Tanpa keduanya sadari, sepasang netra tengah menyaksikan mereka dari ambang pintu.
"Alhamdulillah, Tuan Freezer sudah bisa tertawa --" lirihnya diiringi lengkungan bibir.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan 😉
__ADS_1
Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏