Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 31


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Kita ngobrolnya sambil duduk di taman belakang, Mbak!" cetus Ridwan sesaat setelah punggung Kartini hilang dari pandangan.


Derana mengangguk setuju dan menyungging seutas senyum. "Iya Mas. Sekalian kita ajak Non Malikha bermain di sana."


"Wah ide brilian, Mbak. Malikha pasti senang. Ya 'kan Malikha sayang?" sahutnya sambil mencubit pelan pipi tembam Malikha.


Bayi cantik berusia delapan bulan itu mengangguk dan tersenyum nyengir, seolah ia mengerti ucapan Ridwan--sahabat sekaligus asisten pribadi sang papa.


Tak lupa, Ridwan menutup pintu kamar sebelum memandu Derana berjalan ke taman yang berada di belakang rumah.


"Ehem, kita seperti sepasang suami istri dan Malikha putri kita ya Mbak?" Sambil mengayun tungkai, Ridwan melontarkan candaan dan Derana membalasnya dengan tersenyum kikuk.


"Mm ... iya Mas," ucapnya yang tidak selaras dengan kata hati.


"Andai Mbak Dera belum bersuami, saya ingin kita saling mengenal lebih dekat dengan cara ta'aruf dan pacarannya setelah menikah. Jujur, hati saya terpatah-patah setelah mengetahui Mbak Dera sudah ada yang punya. Pupus sudah harapan saya untuk merangkai kisah cinta terindah bersama Mbak Dera," tutur Ridwan berterus terang.


Derana hanya menanggapinya dengan mengulas senyum tipis sebab ia tidak tahu mesti berkata apa. Bagi Derana, kata-kata manis yang dilisankan oleh Ridwan hanyalah candaan belaka. Namun bagi Ridwan, kata-kata yang ia lisankan merupakan ungkapan dari lubuk hati terdalam.


Ridwan tidak bisa menafikan pesona Derana. Di mata Ridwan, Derana sosok wanita idaman. Parasnya cantik alami dan tutur katanya lembut. Namun sebagian orang berpendapat ... wajah Derana manis dan jika dipandang tidak membosankan. Sementara bagi Farel, Derana hanyalah seorang wanita udik yang sama sekali tidak menarik, sebab sepasang matanya telah tertutup kabut iblis.


"Sudah sampai Mbak. Kita duduk di gazebo itu ya!" Ridwan menunjuk gazebo yang berada di tengah hamparan bunga amarilis.


Seketika manik mata Derana berotasi sempurna kala tersuguh pemandangan indah di hadapannya. Hamparan bunga amarilis yang tumbuh di sekeliling gazebo dan pohon tatebuya yang berdiri kokoh di kanan kiri jalan setapak menuju taman.


"Kalau Mbak Dera capek, gantian saya aja yang menggendong Malikha," tawarnya.


"Ndak usah Mas! Saya ndak capek kog. Saya malah seneng." Derana menolak dengan tutur katanya yang terdengar halus sehingga Ridwan merasa sungkan untuk memaksa.


Sesampainya di gazebo, Derana mendaratkan bobot tubuh dan mendudukkan Malikha di pangkuan. Bayi cantik itu tampak menguap berkali-kali dan perlahan memejamkan mata dengan posisi tangan memeluk tubuh baby sitternya.

__ADS_1


"Malikha bobok ya, Mbak?" Ridwan melontarkan tanya sembari membawa tubuhnya duduk di samping Derana.


"Iya Mas," jawabnya singkat. Namun diiringi sebaris senyum yang membuat Ridwan semakin terpesona.


"Ehem." Ridwan menormalkan degup jantung dengan berdehem dan menghela nafas panjang sebelum kembali membuka suara.


"Sayang sekali si Malikha bobok. Berarti, kita nggak jadi main, Mbak?"


"Heem. Yang mau diajak main malah bobok, Mas."


"Yaudah, biarkan Malikha bobok Mbak! Sepertinya, Malikha nyaman banget tidur di pangkuan Mbak Dera. Sambil menunggu si manusia kutub selesai berbicara dengan simbok, bagaimana kalau kita ngobrol?"


"Iya Mas." Derana mengangguk. Kemudian ia membenahi posisi Malikha agar bayi cantik itu bisa tidur dengan nyaman.


Obrolan keduanya pun mengalir. Ridwan menceritakan lika-liku kisah cintanya dengan sang mantan kekasih. Sementara Derana lebih memilih menjadi pendengar. Ia tidak berminat untuk bercerita tentang kisah hidupnya yang teramat pelik meski Ridwan meminta.


Di tempat yang berbeda, Randy tampak serius mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Kartini.


Wanita paruh baya itu menceritakan awal pertemuannya dengan Derana. Ia juga membeberkan kisah kelam Derana kepada Randy tanpa mengurangi atau melebihkan.


"Kenapa, dia nggak bercerai saja dengan suaminya, Mbok? Mungkin setelah bercerai dengan si kutu kupret, beban hidup Derana akan berkurang." Randy melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan punggungnya.


"Nduk Dera punya alasan kuat, Tuan. Dia ndak ingin ibunya mengusir ayah dan adiknya dari rumah. Menurut saya, suami nduk Dera dan keluarganya ... ndak beres, Tuan."


"Iya Mbok, dari cerita Simbok ... saya juga beranggapan bahwa suami Derana dan keluarganya itu nggak beres. Sepertinya, mereka bersekutu dengan iblis."


"Benar, Tuan. Sepertinya memang begitu. Mereka bersekutu dengan iblis dan hanya menjadikan nduk Dera sebagai tumbal. Tapi karena tujuan mereka ndak berhasil, nduk Dera sengaja dibuang di terminal. Saya hanya bisa membantu nduk Dera dengan doa, Tuan. Semoga nduk Dera dan suaminya segera bercerai. Supaya nduk Dera bisa membuka lembaran baru," ucap Kartini diikuti helaan nafas panjang.


"Syukur-syukur, nduk Dera dapat imam pengganti seorang duda yang baik hati dan parasnya ganteng maksimal seperti Tuan Randy. Ya 'kan Tuan?" sambungnya sambil menaik turunkan kedua alis seraya mencandai sang majikan.


Kartini terkekeh sementara Randy berdecak kesal. Di saat serius, bisa-bisanya asisten rumah tangganya itu malah melontarkan candaan. "Ck, Simbok kebiasaan--tuman. Di saat serius pun Simbok masih saja suka bercanda."


"Pffttt ... maaf Tuan. Saya memang ndak bisa terlalu serius. Kalau saya terlalu serius, otak saya bisa tegang dan akibatnya rambut saya rontok. Bisa Tuan bayangkan kalau rambut saya rontok di bagian depan 'kan? Pastinya mirip pendekar Tiongkok jaman dahulu. Untung saya berjilbab, kalau ndak --"

__ADS_1


Kartini tergelak karena celotehan yang dilontarkannya sendiri. Terbayang olehnya, jika model rambutnya seperti pendekar Tiongkok jaman dahulu. Botak di depan dan sisanya dikuncir. Model rambut seperti itu dikenal dengan model rambut kuncir Taucang.


"Dipuaskan ketawanya, Mbok! Saya akan menemui Ridwan sekarang." Randy membawa tubuhnya beranjak dari posisi duduk lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Kartini sontak menghentikan tawa dan membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ia pun segera meminta maaf kepada tuannya dengan memasang raut wajah yang menyiratkan rasa sesal.


"Ma-af Tuan. Mulut saya keceplosan tertawa --"


Randy menarik kedua sudut bibir dan menggeleng kepala. Lantas berlalu dari hadapan Kartini tanpa berucap sepatah kata.


"Tuan, Tuan Randy tunggu!" Kartini beranjak dari duduk kemudian berjalan tergopoh-gopoh mengejar Randy.


"Tuan Randy --"


Sontak Kartini menghentikan langkah saat Randy masuk ke dalam toilet.


"Tuan --"


"Saya mau boker dulu, Mbok. Simbok mau ikut?" candanya tanpa menyelipkan seutas senyum. Ekspresi wajahnya pun tidak berubah. Datar sedatar ucapannya. Sehingga siapa saja yang belum mengenalnya, pasti akan mengira bahwa duda berparas ganteng itu tengah berbicara serius.


Kartini menanggapi candaan Randy dengan tersenyum nyengir, sehingga tampaklah gigi putihnya yang menyilaukan.


"Saya ndak mau ikut kog Tuan. Nanti saja kalau Tuan mandi, saya pasti bersedia ikut dengan senang hati."


"Eh, tapi canda kog Tuan," sambungnya sambil mengangkat dua jari--membentuk huruf V.


Dasar neli ganjen ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf baru bisa UP, karena dari kemarin othornya kurang enak badan. So, ngetik dari kemarin pagi, baru selesai siang ini πŸ₯ΊπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Mohon maaf juga jika ada salah kata dan bertebaran typo. πŸ™πŸ™πŸ™


Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2