Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 52


__ADS_3


Sebelum membaca episode kali ini, mohon dibaca episode sebelumnya ya Kakak-kakak terlove, karena di episode kemarin ada sedikit revisi. Mohon dimaklumi, sebab terkadang authornya kurang fokus apalagi kalau ngetik di malam hari ... author nggak bisa mengalahkan rasa kantuk. Matur nuwun dan terima kasih 😊🙏🙏🙏


...🍁🍁🍁...


Happy reading 😘😘😘


"Monggo diminum dulu teh nasgitelnya!" Suara lembut Zahra mengalihkan perhatian, sehingga semua atensi tertuju padanya.


"Zah-ra --" ucap Rafa ragu. Ia merasa tidak asing dengan suara Zahra--putri Kyai Hasan.


Mendengar namanya disebut, Zahra seketika menengadahkan wajah dan melempar pandang ke arah asal suara.


"Mas Ra-fa --" Suara Zahra tercekat. Lidahnya serasa kelu untuk berucap kala manik matanya bersitatap dengan manik mata pria yang pernah menolongnya tiga bulan yang lalu.


Sontak, Zahra kembali menundukkan wajah dan mengucap istighfar di dalam hati kala rasa yang indah menyapa tanpa sopan.


"Kalian sudah saling mengenal?" tanya yang terlisan dari bibir Randy diikuti tatapan netra yang menyiratkan rasa penasaran.


"Iya, kami sudah saling mengenal," jawab Zahra tanpa menatap lawan bicara dan masih setia menundukkan wajahnya yang terlukis rona merah.


"Sejak kapan Mas Rafa dan Mbak Zahra saling mengenal?" Hastungkara turut bertanya.


"Sejak Mas Rafa menolong saya." Zahra melisankan jawaban dan perlahan menengadahkan wajah. Kemudian ia menceritakan awal pertemuannya dengan Rafa.


Tiga bulan yang lalu, tepatnya ketika Zahra dan Inara berbelanja di pasar tradisional, tas yang dibawa oleh Zahra dijambret oleh salah seorang preman pasar. Beruntung, Rafa yang kebetulan melihat kejadian itu, dengan sigap menangkap si preman.


Setelah menyerahkan si preman kepada petugas keamanan pasar, Rafa mengembalikan tas yang ia selamatkan pada pemiliknya.


"Terima kasih, Mas --" ucap Zahra waktu itu.


"Sami-sami, Mbak. Lain kali, lebih berhati-hati ya! Karena di pasar banyak penjambret atau pencopet yang berkeliaran," tutur Rafa seraya membalas ucapan Zahra diiringi sebaris senyum yang menambah nilai ketampanannya.


"Iya, Mas." Zahra mengangguk dan membenahi masker yang ia kenakan.


Lalu keduanya saling memperkenalkan diri dan sejenak bercakap sebelum mobil yang menjemput Zahra dan Inara datang.


Rafa merasa teramat menyesal sebab ia terlupa untuk meminta nomor handphone Zahra dan bertanya di mana tempat tinggal gadis yang telah ditolongnya itu.


Sejak saat itu, Rafa berusaha mencari keberadaan Zahra dengan mengerahkan anak buahnya. Namun sayang, pencariannya selama tiga bulan tidak membuahkan hasil.


Dan atas kehendak Sang Penulis Skenario, keduanya dipertemukan kembali di waktu dan tempat yang tidak pernah mereka kira sebelumnya.


"Masya Allah, ternyata pemuda yang selalu kamu ceritakan itu ... Mas Rafa ini, Nduk?" Zainab yang semula hanya terdiam dan memilih menjadi pendengar setia, kini ikut membuka suara dengan melontarkan tanya.


"Iya Umi," jawab Zahra malu-malu.

__ADS_1


"Maaf Mbak Zahra, saya baru menyadari kalau putri Kyai Hasan ... ternyata anda, Zahra Chairunisa--gadis yang saya cari selama tiga bulan ini. Waktu pertama kali kita bertemu, wajah Mbak Zahra tertutup masker. Oleh karena itu, saya tidak mengenali wajah Mbak Zahra. Namun, saya masih sangat mengenali suara Mbak Zahra," sahut Rafa berterus terang.


"Un-untuk apa Mas Rafa mencari saya?"


Rafa mengulas senyum lantas menjawab tanya yang dilisankan oleh Zahra. "Saya mencari Mbak Zahra karena ingin meminta pertanggung jawaban --" Rafa sengaja menggantung ucapannya sehingga membuat Zahra bertanya heran.


"Pertanggung jawaban? Maksud Mas Rafa apa?" cecarnya diikuti kerutan yang tercetak jelas di antara kedua pangkal alis.


"Pertanggung jawaban ... karena setelah pertemuan kita waktu itu, tutur kata Mbak Zahra yang lembut selalu terngiang di telinga dan sikap Mbak Zahra yang santun mampu menjerat hati saya. Jujur, saya tidak bisa menafikan pesona Mbak Zahra."


BLUSH


Kata-kata yang terlisan dari bibir Rafa sukses melukis semburat merah di wajah Zahra. Gadis itu tertunduk malu dan memilin ujung bajunya.


"Maaf, karena saya tidak mencari Mbak Zahra sendiri dan malah mengutus anak buah saya, karena setelah pertemuan kita waktu itu ... saya harus terbang ke Kairo untuk membantu sahabat saya--Alif," sambungnya.


"Tidak apa-apa, Mas. Yang terpenting sekarang, kita dipertemukan kembali."


"Uhuk. Uhuk." Zaenal--ayah Rafa sengaja berpura-pura terbatuk untuk memangkas percakapan antara putranya dan putri Kyai Hasan--Zahra Chairunisa.


"Ayah kenapa?" Nur (Nofia) tampak cemas. Begitu juga Hastungkara. Kedua wanita itu memijit bahu Zaenal dan mengusap punggungnya.


"Ayah tidak kenapa-napa, Bund. Hanya keselek ludah," kilahnya sembari melirik Rafa.


"Owhh, Rafa kira keselek lidah, Yah --" cetus Rafa meluapkan kekesalan.


"Ehem. Silahkan diminum dulu teh nasgitel-nya!" ucap Kyai Hasan menginterupsi sehingga perhatian semua orang yang ada di ruangan itu teralihkan.


Kyai Hasan dan para tamu lantas menikmati kesegaran teh nasgitel gula batu yang tersuguh di atas meja.


Setelah menandaskan teh nasgitel racikan tangan Zahra, Randy beserta rombongan undur diri tanpa terlupa mengucapkan kata terima kasih kepada Kyai Hasan yang telah berkenan menyempatkan waktu dan memberi wejangan.


Kyai Hasan, Zainab, dan Zahra mengantar Randy beserta rombongan sampai di halaman rumah utama.


Sebelum menyusul kedua orang tuanya dan Hastungkara yang terlebih dulu berjalan menuju parkiran mobil, Rafa memberanikan diri untuk mengutarakan niat suci yang terbesit di dalam hati.


"Zahra ... mmm--maksud saya Mbak Zahra --"


"Ya, Mas."


"Insya Allah, saya akan datang lagi bersama keluarga untuk mengkhitbah Mbak Zahra. Mbak Zahra tidak keberatan 'kan?" ucap Rafa tanpa ragu.


Degup jantung Zahra terdengar bertalu-talu kala mendengar ucapan Rafa seiring rona merah yang tercetak jelas di kedua pipinya.


"Bagaimana, Mbak Zahra?" Rafa kembali melisankan tanya.


"Mmm ... saya." Zahra menggigit bibir bawahnya dan sekejap memejamkan netra. Ia berusaha menahan gejolak rasa yang membuncah.

__ADS_1


"Sa-saya. Ten-tu saya tidak keberatan, Mas. Saya, Abi, dan Umi, akan menunggu kedatangan Mas Rafa beserta keluarga."


"Masya Allah, terima kasih Mbak Zahra."


"I-iya, Mas. Kembali kasih. Mulai saat ini, jangan panggil saya 'Mbak'!" pinta Zahra lantas tertunduk malu.


"Lalu, saya harus memanggil Mbak Zahra dengan sebutan apa? Adek, Humaira, Sayang, Umi, Mama, Calon Istri --"


"Panggil saya 'Adek'!" sahut Zahra sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk menyembunyikan pipinya yang semakin memerah seperti buah tomat yang telah masak.


"Baiklah, mulai saat ini, detik ini, saya akan memanggilmu Dek Zahra."


"Iya, Mas."


Karena terlampau bahagia, Rafa bersorak kegirangan dan melompat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah berupa mainan. "Yeyyyyy. Akhirnya ketemu jodoh."


....


Tanpa menunggu Rafa, Randy mulai mengemudikan mobilnya. Ia membawa kendaraan besinya itu menuju ke Desa Janda--desa tempat tinggal orang tua Derana.


Randy berniat untuk menemui Ratri. Ia juga berniat membantu Derana untuk mengusir jin jahat yang bersemayam di dalam tubuh Ratri.


Sesampainya di halaman rumah, mereka dikejutkan oleh lemparan batu kerikil dari atas pohon diikuti teriakan yang berasal dari dalam rumah.


"Nduk, ibumu --"


"Ibu kenapa, Pak?" sahut Derana disertai raut wajah yang menyiratkan cemas.


"Ayo segera masuk ke dalam! Ibumu butuh bantuan kita --"


"Iya, Pak." Derana mengangguk dan bergegas masuk ke dalam rumah diikuti oleh Usman, Randy, dan Sukma.


Entah apa yang terjadi selanjutnya? Akankah, mereka berhasil membebaskan Ratri dari pengaruh ilmu sihir yang dihembuskan oleh Farel dan keluarga Atmajaya?


Next episode semoga terjawab ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


UP nya segini dulu ya Kakak-kakak terlove. Insya Allah disambung besok 😊🙏


Untuk Kakak-kakak pembaca dan sobat-sobat author yang baik hati, please jangan Bom like!! Dibaca pelan-pelan saja tiap bab-nya, setelah itu silahkan tampol karya author dengan like. Karena bom like bisa merusak performa karya. Dan jangan lupa untuk memberi rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐ agar author semakin semangat berkarya. 😊🙏


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏🙏🙏


Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana hingga end. 😘😘😘🙏

__ADS_1


Sambil menunggu UP selanjutnya, yuk dengarkan audio book Istri Comel Pilihan Abi yang dibawakan oleh sahabat author NA. Sari. Nggak perlu baca, cukup dengarkan sambil beraktifitas 😉🙏🙏



__ADS_2