
Happy reading 😘😘😘
Derana tampak kesusahan mengancingkan seatbelt. Sehingga Randy seketika memiringkan tubuh dan mengulurkan tangannya untuk membantu Derana.
Degup jantung sepasang Adam dan Hawa itu terdengar bertalu-talu ketika tanpa sengaja jendela hati mereka saling bertemu ....
Suasana di dalam mobil berubah hening. Hanya terdengar detak mesin waktu diiringi melodi hati yang merangkai kata lewat tatapan netra.
Detik berlalu berganti menit. Keduanya masih terpaku--menatap keindahan pahatan Sang Pencipta.
"Uhuk-uhuk --" Suara yang keluar dari bibir Ridwan sukses memecah atmosfer yang menyelimuti dua insan--Randy dan Derana, hingga keduanya tersadar dari keterpakuan.
Baik Randy maupun Derana tampak salah tingkah. Derana seketika memalingkan wajah. Sedangkan Randy sontak menarik tubuhnya.
Keduanya berusaha menormalkan degup jantung dengan meraup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Dari balik kaca mobil yang ditungganginya, Ridwan terlihat menahan tawa dengan melipat bibir kala menyaksikan tingkah Randy dan Derana.
Pria berlesung pipi itu pun lantas berujar dengan sedikit berteriak agar Randy mendengar suaranya.
"Rand, kapan kita berangkat? Noh, si Rafa sudah sampai di Merauke dan kita masih berada di Desa Janda. Buruan gih susul Rafa! Jangan cuma pandeng-pandengan dan bikin orang nganan!"
Randy tak acuh. Ia sama sekali tidak berniat untuk membalas celotehan Ridwan.
Sementara Derana, wanita berparas manis itu tertunduk malu--menyembunyikan rona merah yang terlukis jelas di wajahnya kala mendengar celotehan yang dilontarkan oleh Ridwan.
"Woeyyy, Rand! Indera pendengaranmu masih berfungsi nggak sih? Atau mungkin suaraku yang kurang keras, jadi kau nggak bisa mendengarnya? Jika memang suaraku kurang keras ... aku akan meminjam toa masjid." Ridwan kembali berujar. Namun kali ini dengan suara yang terdengar lebih keras.
Randy berdecak kesal. Tanpa membalas ucapan Ridwan, duda ganteng berkarakter dingin itu menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukan kendaraan besinya.
Menit berikutnya, Ridwan dan anak buahnya mulai memainkan stir--menyusul mobil yang dikendarai oleh Randy.
"Ehem." Randy berusaha menghempas rasa yang membuatnya tak nyaman dengan berdehem.
"Dera, kau ingin mampir makan siang di mana?" tanyanya kemudian untuk menghilangkan kecanggungan yang tercipta di antara mereka.
Perlahan, Derana merotasikan tubuh dan mengalihkan fokus. Lalu ia menjawab tanya yang terlisan tanpa berani menatap manik mata sang majikan. "Mmm ... terserah Tuan saja."
"Bagaimana, kalau kita makan siang di Mie Gaco? Kata Hastungkara, kau paling suka makan mie."
"Bukan saya yang suka makan mie, Tuan. Tapi Hastungkara. Kalau saya, apapun juga suka. Yang terpenting halal. Jika Tuan Randy ingin makan siang di Mie Gaco ... ndak pa-pa. Saya ngikut Tuan saja."
"Baiklah. Kita mampir makan siang sebentar di Mie Gaco," ucap Randy tanpa seutas senyum pun yang membingkai wajah gantengnya.
Selang sepuluh menit kemudian, roda mobil yang dikendarai oleh Randy menginjak area parkir.
Setelah menghentikan laju mobil dan mematikan mesin kendaraan besinya itu, Randy mengajak Derana untuk keluar dari dalam mobil.
"Sudah sampai. Ayo Dera, kita keluar!" ujarnya.
__ADS_1
Randy membuka pintu lantas membawa tubuhnya keluar dari dalam mobil diikuti oleh Derana.
Kemudian, sepasang Adam dan Hawa itu berjalan beriringan menuju meja kasir untuk memesan menu yang disediakan oleh Restoran Mie Gaco--restoran yang menyajikan olahan mie pedas.
"Kau mau makan apa, Dera? Mie Iblis, Mie Setan, atau Mie Angel?" Randy memperlihatkan daftar menu dan foto penampakan mie yang ia sebutkan pada Derana.
Derana tampak bingung. Ia sungguh tidak tahu harus memilih menu yang mana.
Bagi Derana, nama mie yang ditawarkan oleh Randy sungguh tidak lazim.
Bagaimana bisa dia memakan mie yang diracik oleh Iblis, Setan, dan Malaikat (Angel) ....
"Bagaimana, Dera? Kau ingin mie apa?" Randy kembali melontarkan tanya.
"Sa-saya ndak mau Mie Iblis, Mie Setan, dan Mie Angel, Tuan."
"Kenapa?" Randy bertanya heran diikuti kerutan yang tercetak jelas di antara kedua pangkal alisnya.
"Karena, mie-mie itu pastinya bukan racikan manusia, Tuan. Tapi racikan para dedemit --" jawab Derana polos.
Ucapan Derana menggelitik indera pendengaran sehingga kasir dan pengunjung restoran yang mendengarnya seketika tertawa, sedangkan Randy hanya mengulas senyum.
"Dera, Mie Setan, Mie Iblis, dan Mie Angel itu buatan manusia. Bukan buatan Iblis, Setan, atau Malaikat," tutur Randy seraya menjelaskan.
"Tapi, kenapa diberi nama seperti itu, Tuan?"
"Supaya terkesan unik dan menarik."
"Jadi, kau mau memilih mie apa, Dera?"
"Terserah Tuan saja. Apapun mie yang Tuan pesankan, saya pasti mau."
"Baiklah. Aku pesankan ketiga mie itu dan minumannya ... kau ingin minum Es Tuyul, Es Genderuwo, atau Es Kunti?"
"Eng ... kog nama minumannya memedenkan ya, Tuan?"
"Sama seperti nama mie-nya, 'kan? Meski terkesan menakutkan, tetapi rasanya bikin nagih."
"Minumnya ... saya manut juga, Tuan."
"Oke. Aku pesankan ketiganya. Es Tuyul, Es Genderuwo, dan Es Kunti --"
"Kalau Es Suster Ngesot ada ndak, Tuan?" sahut Derana--melontarkan tanya.
"Ada. Nanti kau yang membuatnya di rumah."
"Bagaimana caranya, Tuan?"
"Caranya seperti biasa. Hanya saja sambil ngesot," jawabnya--bercanda.
Kasir dan para pengunjung kembali mengudarakan tawa kala mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Randy. Begitu juga Derana.
__ADS_1
"Saya pesan Mie Setan 1, Mie Iblis 1, dan Mie Angel 1," ucap Randy menginterupsi, sehingga kasir yang bertugas melayani sontak menghentikan tawa. Lantas kembali fokus pada layar datar di hadapannya.
"Maaf, bisa Tuan ulangi lagi!" pintanya.
"Hem. Mie Setan 1, Mie Iblis 1, dan Mie Angel 1. Minumnya Es Tuyul 1, Es Genderuwo 1, dan Es Kunti 1."
"Baik, Tuan. Silahkan menunggu sebentar!" tutur kasir dengan name tag Prita sembari menyerahkan nomer meja pada Randy.
Setelah menerima nomer meja, Randy memandu Derana--membawa langkah mereka menuju meja yang berada di sudut ruang.
Sambil menunggu pesanan disajikan, Randy dan Derana berbincang ditemani alunan musik romantis yang dibawakan oleh seorang musisi muda--Nabila Maharani.
"Dera, apa kau yakin ingin bercerai dengan suamimu?" Randy melisankan tanya di sela-sela perbincangan mereka.
"Iya, Tuan. Saya sangat yakin. Untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sebenarnya ndak saya inginkan dan ndak diinginkan oleh Mas Farel," jawab Derana tanpa ragu dan terdengar tegas.
"Kau tidak berkeinginan untuk memberi kesempatan pada Farel--suamimu? Siapa tahu, Farel ingin membenahi rumah tangga kalian."
Derana menggeleng pelan dan menerbitkan senyum tipis. "Ndak ada gunanya memberi kesempatan pada Mas Farel, Tuan. Toh yang dicintai Mas Farel bukan saya, tetapi wanita lain. Dan tujuan Mas Farel menikahi saya bukan karena ingin menyempurnakan iman serta meraih sakinah, mawadah, warahmah."
"Jika itu keputusanmu, semoga kedua orang tuamu, Farel, dan keluarga Atmajaya bisa menerimanya. Tetaplah berhubungan baik dengan Farel dan keluarganya meski mereka pernah berlaku buruk terhadapmu! Jangan membalas perlakuan buruk dengan perlakuan yang sama. Namun balaslah perlakuan buruk yang pernah mereka lakukan dengan kebaikan. Salah satunya melangitkan pinta pada Illahi--semoga semua orang yang pernah berlaku buruk terhadapmu diberikan hidayah oleh-Nya --" Randy menggantung ucapannya dan melengkungkan bibir.
"Kau pasti masih ingat nasehat Kyai Hasan saat kita berkunjung ke Pondok Pesantren Al Mizan, 'kan?" sambungnya.
"Iya, Tuan. Saya masih mengingatnya. Beliau meminta kita, khususnya saya ... supaya tidak membalas orang-orang yang pernah berlaku buruk dengan melakukan keburukan yang sama. Lebih baik, kita melangitkan pinta supaya Allah segera memberi hidayah kepada mereka. Karena sesungguhnya, Allah-lah Yang Maha Pemberi Balasan --"
"Meski sulit untuk menunaikan nasehat Kyai Hasan ... berusahalah, Dera! Dan aku pun akan berusaha untuk tidak membalas Amel--mantan istriku --"
Ucapan Randy terpangkas saat seorang waitress datang dengan membawa nampan berisi semua makanan dan minuman yang dipesan olehnya.
"Terima kasih," ucap Derana disertai senyum terkembang tanpa memperhatikan raut wajah waitress yang ternyata sangat mengenalnya.
"Derana --"
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan berupa like 👍
Beri komentar
Tekan tanda ❤ untuk fav karya
Tabok Rate 5 ⭐
Jika berkenan, tampol karya author dengan Vote atau gift 😉🙏
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏
__ADS_1