
Happy reading 😘😘😘
"Karena --" Randy sengaja menggantung ucapannya dan sekilas melirik Derana dengan ekor matanya.
Derana yang dihinggapi oleh rasa penasaran pun kembali melontarkan tanya. "Karena apa, Tuan?"
"Karena --"
"Karena?"
Bukannya menjawab tanya yang terlontar dari bibir Derana, Randy malah melisankan kata-kata yang sukses membuat jantung wanita yang duduk di sampingnya itu kembali berdentum-dentum.
"Sepertinya, kau sangat penasaran, Dera? Jangan-jangan kau berharap, aku memanggilmu 'Sayang' karena kata itu ungkapan dari hati terdalam," tukas Randy dengan gaya bicaranya yang terdengar santai.
"Ndak kog, Tuan. Mana berani saya berharap seperti itu," cicit Derana sembari menundukkan wajah.
"Kenapa, nggak berani?" Randy ganti bertanya tanpa menoleh sedikit pun ke arah lawan bicara. Pandangan netranya tetap fokus ke depan dan kedua tangannya dengan terampil memainkan stir mobil.
"Ka-rena, saya ndak pantes berharap seperti itu, Tuan. Ndak ilok wanita miskin seperti saya ... berharap sesuatu yang mustahil. Ibarat kata, saya hanya rakyat jelata. Sedangkan Tuan seorang sultan. Kalau rakyat jelata berharap dipanggil 'Sayang' oleh seorang sultan 'kan namanya ndak tahu diri dan ndak nyadar posisi," jawab Derana insecure.
Randy tak lantas membalas kata-kata yang terlisan dari bibir Derana.
CEO muda berparas ganteng itu menaruh mobilnya di tempat parkir. Kemudian mematikan mesin kendaraan besinya sebelum kembali berlisan kata.
"Cara berpikirmu sungguh sangat salah, Dera. Rakyat jelata dan seorang sultan itu posisinya sama. Hanya harta dan tahta yang menjadi pembedanya jika di hadapan manusia. Namun di hadapan Allah, semua insan di dunia ini sama derajatnya. Sama posisinya. Yang menjadi pembeda bukan harta ataupun tahta, tapi amal, iman, dan takwa," tutur Randy bijak.
"Kau harus ingat, Dera! Nggak ada yang mustahil di dunia ini jika Allah sudah berkehendak. Dulu, bundaku pun seorang wanita miskin yang hidupnya berkawan dengan derita. Kisah hidup beliau di masa muda, nggak jauh beda dengan kisah hidupmu. Karena ketabahan dan ketegaran beliau, Allah membalasnya dengan menyentuhkan kasih sayang. Atas kehendak dan ridho-Nya, bunda dipertemukan dengan ayah. Meski hierarki mereka berbeda, nyatanya cinta ayah dan bunda menyatu. Bahkan hubungan mereka saat ini kian romantis. Jadi, jangan pernah berpikir sesuatu yang mustahil itu nggak akan pernah terjadi!" sambungnya panjang lebar.
Derana bergeming. Di dalam benak, ia membenarkan kata-kata yang dilisankan oleh tuannya. Namun Derana tetap saja merasa insecure.
"Dera, kenapa aku fasih memanggilmu 'Sayang'? Sebenarnya ... aku pun nggak tahu. Tiba-tiba kata itu meluncur begitu saja dari bibirku. Dan anehnya, jantungku berdetak lebih cepat setiap memanggilmu 'Sayang'," jelas Randy--berterus terang seraya memecah hening yang sesaat menyelimuti seisi ruang.
Derana masih terdiam. Lisannya serasa sulit untuk berkata kala ucapan Randy menumbuhkan rasa yang indah di relung hati.
"Hah, kenapa aku berubah menjadi pria yang banyak omong? Jangan-jangan, karena tertular virusnya Rara --" monolog Randy yang didengar oleh Derana.
Randy menarik sudut bibirnya dan menggeleng kepala saat terbayang kecomelan Hastungkara. Selain konyol, gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik itu juga sangat cerewet.
Mendengar nama sahabatnya disebut oleh Randy, Derana yang sedari tadi hanya diam, kini terpancing untuk kembali mengeluarkan suara. "Saya rasa juga begitu. Tuan tertular virusnya Rara. Tuan Randy yang dingin, minim senyum, dan lebih banyak diam, sekarang bermetamorfosa menjadi pria yang banyak bicara dan hangat. Rara memang hebat. Dengan kecomelannya, dia bisa mencairkan si gunung es. Jika disandingkan, Tuan Randy dan Rara sangat cocok."
__ADS_1
"Ya, kami memang cocok jika disandingkan sebagai sepasang kakak dan adik. Tapi kalau disandingkan sebagai pasangan suami--istri, mungkin kami nggak akan cocok. Karena setiap kali bertemu, kami sering ribut. Orang bilang, seperti Tom dan Jerry."
"Tapi, di beberapa novel online yang saya baca, wanita dan pria yang sering ribut biasanya malah berjodoh, Tuan. Hubungan mereka pun langgeng dan rumah tangga mereka harmonis."
"Kisah cinta di dalam novel yang sering kau baca itu, insya Allah nggak berlaku bagi kami. Our relationship is just brother and sister. No more!"
"Maksud Tuan apa? Saya ndak ngerti bahasa Inggris, Tuan."
Randy mengulas senyum tipis lantas menanggapi ucapan Derana. "Hubungan kami hanya sekedar kakak dan adik. Tidak lebih. Itu terjemahannya."
"Owh. Kalau saya tahunya cuma terjemahan kata I love you. Kulo tresno marang sliramu. Saya cinta kamu. Aku tresno marang koe, Tuan," sahut Derana berterus terang. Sebab, ia benar-benar hanya mengetahui terjemahan kata 'I love you'.
"Coba ulangi lagi!" titah Randy. Nada bicaranya terdengar datar sedatar raut wajahnya saat ini.
Derana mengangguk patuh dan melebarkan senyum. Tanpa ragu ia mengulangi kata-kata yang beberapa detik lalu dilontarkan olehnya. "I love you. Kulo tresno marang sliramu. Saya cinta kamu. Aku tresno marang koe. Oiya, satu lagi, Tuan."
"Apa, Dera?"
"Tapi bukan bahasa Inggris, melainkan Bahasa Arab, Tuan. Ana uhibbuka fillah. Kalau diterjemahkan ... aku mencintaimu karena Allah."
"Ahabbaka-lladzii ahbabtanii lahu," sahut Randy--menjawab ucapan yang terlisan dari bibir Derana.
" Apa terjemahannya, Tuan?"
"Saya benar-benar ndak tahu, Tuan."
"Kau ingin tahu terjemahannya?"
"Tentu saja, Tuan."
Randy menatap lekat manik hitam Derana dan berucap, "terjemahannya ... semoga Allah mencintaimu, karena engkau telah mencintaiku, Derana."
"Sweet banget, Tuan."
"Iya, sweet banget. Tapi lebih sweet lagi jika kata-kata yang kita ucapkan tadi merupakan ungkapan dari hati yang terdalam."
"Tu-an, jangan membuat saya baper --" cicit Derana sembari menahan buncahan rasa yang bergejolak di dalam dada.
"Kau tahu, ucapanmu tadi juga membuatku baper, Dera --"
"Ja-jadi, Tu-an membalas saya?"
__ADS_1
"Nggak. Apa yang aku ucapkan tadi memang dari lubuk hati terdalam. Akan terdengar lebih sweet jika kita mengucapkan kata-kata cinta bukan karena candaan. Tapi benar-benar ungkapan dari hati."
"Tuan saya --"
Randy menarik kedua sudut bibirnya dan memangkas jarak sehingga aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya semakin menusuk indera penciuman Derana.
"Tu-an, apa yang ingin Tuan lakukan? Sa-saya masih bersuami. Sa-ya ndak ingin dici-um sebelum kita halal." Derana mendorong tubuh Randy dengan kedua telapak tangannya dan memalingkan wajah.
Sementara Randy, duda muda berparas ganteng itu berusaha menahan tawa. Ia merasa geli dengan ucapan dan tingkah Derana yang terkesan berlebihan.
"Saya mohon, jangan ci-um saya, Tuan!" pinta Derana mengiba.
"Pftttt ...." Tawa Randy terlepas. Ia tidak kuasa menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Derana yang tampak menggelikan.
"Kenapa, Tuan malah tertawa?" tanya Derana polos tanpa berani menatap wajah tuannya.
"Karena kau sangat lucu, Dera. Kau pikir, aku ingin menci-ummu?"
"I-iya, Tuan."
"Sepertinya, kau harus menyapu bersih pikiranmu. Aku nggak berniat untuk mencuri start. Aku nggak bakal menci-um wanita yang belum dihalalkan oleh Allah untukku. Terlebih, wanita itu masih berstatus sebagai istri orang. Ketahuilah, aku hanya ingin membantumu melepas sealtbelt, Dera! Bukan ingin menci-um engkau. Atau jangan-jangan, kau memang menginginkannya? Jika iya, kau harus bersabar! Urus perceraianmu terlebih dahulu dan tunggulah sampai masa iddahmu berakhir!"
Ucapan Randy berhasil membuat Derana mati kutu. Ia teramat malu karena telah salah sangka terhadap tuannya.
"Tamatlah riwayatku. Bisa-bisanya aku gegeden rumangsa. Haduchhh, piye iki?" gumam Derana sembari menunduk dalam dan memilin ujung bajunya ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan berupa:
Like 👍
Komentar
Fav ❤
Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
Vote atau gift 😉
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏