Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 35


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Randy merasa tenang dan hatinya kembali tentram seusai menunaikan ibadah sholat isya.


Pria itu menatap nanar seisi kamarnya yang terlihat berantakan bak kapal pecah.


Di dalam hati, ia memaki diri yang belum bisa menghempas perasaan cintanya terhadap Amel--wanita yang telah tega menodai kesucian cinta hanya demi memuaskan hawa nafsu.


Dipejamkan sepasang netra dan diraupnya udara dalam-dalam seiring bibir melafazkan pinta kepada Sang Maha Cinta. "Tuhan, hapus rasa cinta ini dan mudahkanlah hamba untuk melupakannya. Tanamkan rasa cinta hamba kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, agar hamba tak mengharap cinta dari seorang Hawa yang tidak pernah menghargai ketulusan cinta hamba."


Usai melafazkan pinta, Randy bersujud dan mencium sajadah dengan takzim diiringi tetesan embun yang lolos tanpa permisi dari kedua sudut netra.


"Tuan --" Suara lembut Derana mengalihkan perhatian dan memaksa Randy untuk mengindahkannya.


Pria dingin itu pun lantas bangkit dari posisi sujud lalu menyeka jejak air embun yang membingkai wajah rupawannya.


"Ada apa?" Randy melisankan tanya dengan suaranya yang terdengar datar tanpa menoleh ke arah lawan bicara.


"Makan malamnya sudah siap Tuan," tutur Derana seraya menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh sang majikan.


"Baiklah, bawa makan malamku ke kamar! Aku ingin makan di sini," titahnya.


"Mm ... anu, tapi Tuan --"


"Anu apa?"


"Anu ... Mas Ridwan ingin bertemu dengan Tuan Randy. Sekarang, dia menanti di ruang makan, Tuan."


Randy teramat heran dan bertanya-tanya kenapa Ridwan--sahabat sekaligus asisten pribadinya itu kembali datang. Entah apa yang mendorong Ridwan sehingga ingin menemuinya.


"Ridwan? Bukankah, dia sudah pulang dari tadi? Kenapa, dia kembali lagi?" cecarnya diikuti kerutan di antara kedua pangkal alisnya.


"Mm ... Mas Ridwan bilang, ada hal penting yang ingin dia sampaikan, Tuan."


"Hal penting? Hal penting apa?"

__ADS_1


"Maaf, saya juga ndak tahu, Tuan."


Randy menghela nafas panjang lalu merotasikan tubuhnya hingga berhadapan dengan Derana. Lantas ia pun melisankan titah. "Baiklah, minta dia untuk menunggu sebentar! Aku akan segera menemuinya."


"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan sekarang juga pada Mas Ridwan. Saya permisi Tuan." Derana membungkuk hormat kemudian memutar tumit dan bersiap mengayun tungkai.


Namun sebelum mengayun tungkai, Randy mencegah dengan memperdengarkan suara baritonnya.


"Tunggu!"


Sontak, Derana kembali memutar tumit dan menatap wajah rupawan sang majikan dengan tatapan penuh tanya.


"Ya, ada apa Tuan? Apa, ada yang bisa saya bantu? Atau, Tuan ingin menyuruh saya merapikan kamar?" cecarnya.


"Maaf, malam ini aku belum bisa mengantarmu ke butik Jasmine--butik langganan bundaku. Insya Allah, aku akan mengantarmu besok pagi sekalian berangkat ke kantor."


Derana mengulas senyum dan membalas ucapan Randy dengan tutur kata lembut dan sopan. "Ndak pa-pa Tuan. Tuan ndak usah repot-repot mengantar saya ke butik Jasmine! Lagi pula, harga baju di sana pasti sangat mahal. Saya ndak yakin gaji saya bulan depan cukup untuk membayarnya, Tuan."


"Kau bisa mencicilnya sedikit demi sedikit. Paling tidak seperempat atau seperdelapan dari gajimu setiap bulan tanpa bunga."


Randy menarik sudut bibirnya dan menggeleng kepala. Ia heran ternyata di zaman ini masih ada wanita yang sederhana dan apa adanya.


Derana memang berbeda dengan Amel dan pegawai wanita yang bekerja di perusahaannya. Mereka selalu ingin tampil wah dengan pakaian karya desainer ternama dan berlomba-lomba mengenakan perhiasan mahal, meski tidak jarang mereka membayarnya dengan sistem kredit atau mencicil.


Sementara Derana, meski ditawari cicilan ringan dan bebas bunga, ia menolak dengan halus dan lebih memilih membeli pakaian di pasar tradisional.


Tanpa Randy sadari, ia mengagumi sosok Hawa yang baru setengah hari dikenalnya. Dan kekaguman itu akankah kelak berubah menjadi rasa yang indah? Hanya sang waktu yang bisa menjawab tanya ....


"Baiklah, terserah kau saja. Besok pagi, aku antarkan kau ke Pasar Beringharjo," balasnya setelah sejenak bergeming.


"Ndak usah repot-repot, Tuan. Saya bisa sendiri. Saya tahu kog Tuan, jalan menuju Pasar Beringharjo dari rumah ini."


"Bener nggak mau dianter?"


"Iya Tuan."


"Nggak takut salah jalan dan kesasar di Sarkem?"

__ADS_1


"Sarkem? Sarkem itu apa dan di mana sih, Tuan? Apa mungkin, Sarkem itu tempat wisata? Atau tempat orang-orang kaya membelanjakan hartanya?" Derana bertanya heran dengan memperlihatkan wajah polosnya.


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Derana sukses menarik kedua sudut bibir Randy sehingga wajah rupawannya terlukis senyum yang sangat menawan dan membuat Derana terpana.


Sungguh pemandangan yang tidak biasa dan tidak bisa dilewatkan begitu saja. Randy si pria dingin dan minim senyum memperlihatkan senyumnya yang ternyata sangat menawan.


"Sarkem itu Pasar Kembang. Tempat lokalisasi yang terkenal di kota ini," tutur Randy tanpa memudar senyum.


Ucapan Randy memecah kaca lamun. Derana terkesiap dan merotasikan bola matanya. "Pasar Kembang? Tempat Lokalisasi?" cecarnya sambil bergidik ngeri.


Terbayang oleh Derana jika ia benar-benar kesasar di Sarkem atau Pasar Kembang dan bertemu dengan pria hidung belang. Pasti pria hidung belang itu mengira dirinya salah satu pekerja wanita yang rela menjajakan tubuh demi menjemput rejeki dengan cara terlarang.


"Bagaimana, kau yakin akan pergi ke Pasar Beringharjo sendiri?"


"Eng ... ndak Tuan. Saya dianter Tuan saja. Saya takut kalau kesasar di Sarkem. Meski saya orang ndak punya dan udik, saya ndak sudi melayani pria hidung belang, Tuan. Lebih baik saya mbabu atau jualan cilok keliling dari pada menjual diri. Bukannya saya sok suci, Tuan. Tapi, saya teramat takut jika Allah murka dan menghukum saya dengan azab-Nya yang sangat pedih. Selain itu, saya juga takut terkena penyakit menular Tuan. Uang yang diperoleh ndak seberapa tapi kerugian yang akan saya terima sampai ke negeri akherat. Hii ... ngeri banget Tuan," ucapnya panjang lebar dan tanpa jeda.


"Kau benar, Dera. Jangan sampai menjual diri hanya untuk mencukupi kebutuhan duniawi dan memenuhi hawa nafsu --" Randy memangkas ucapannya dan menundukkan wajah.


Raut wajah duda muda itu seketika berubah sendu kala terbayang ritual terlarang yang dilakukan oleh Amel dan Erdward di depan sepasang netranya.


Tanpa mengenal dosa, Amel dan Erdward menyatukan raga di atas ranjang king size--tempat biasa Randy menumpahkan rasa cinta, mereguk surga dunia bersama wanita terindah sejagad jiwa--Amelia Putri.


Saat itu, Randy ingin memberi surprise untuk istri tercinta. Ia sengaja pulang lebih awal dari jadwal yang direncanakan tanpa memberi tahu Amel terlebih dahulu.


Namun apa yang didapat. CEO muda berparas rupawan itu dibuat sangat terkejut saat indera penglihatannya menangkap pemandangan yang menjijiikan dan berhasil meluluh lantakkan segumpal daging yang bersemayam di dalam dada.


Istri yang teramat ia cinta terlihat seperti wanita murahan yang tengah memuaskan dan memanjakan partner ranjangnya ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏🙏🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan dengan memberikan like dan komentar 😉


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terlove yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏

__ADS_1


__ADS_2