Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 21


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Setelah sembuh dari sakit, Hastungkara ingin segera pulang ke kota untuk memberitahukan niat baik Zain pada kedua orang tuanya. Namun sebelum pulang ke kota, ia berkeinginan menemui Derana—sahabatnya.


Agar tidak diketahui oleh Farel dan Ratri, Derana meminta Hastungkara supaya menemuinya di sawah--tempat yang biasa mereka gunakan untuk bersantai dan bercengkrama.


Hastungkara pun menyetujui permintaan sahabatnya itu. Ia bergegas mengayun tungkai menuju sawah yang berada tidak jauh dari rumah sang kakek.


"Rana --" Hastungkara berteriak dan berlari menghampiri sahabatnya.


Atensi Derana seketika teralihkan kala mendengar suara Hastungkara. Kemudian ia merotasikan tubuh dan menyambut kedatangan sahabatnya dengan merentangkan tangan.


"Rara --" Derana pun turut berteriak.


"Ran, aku kangen," ucapnya menyuarakan isi hati.


Sepasang sahabat itu lantas saling berpeluk seraya menumpahkan rasa rindu karena sudah lebih dari dua minggu tidak bertemu.


"Aku juga kangen Ra," bisik Derana sambil mengeratkan pelukan.


Usai menumpahkan rasa rindu, keduanya perlahan mengurai pelukan dan saling melempar senyum.


Tetiba raut wajah Hastungkara berubah sendu kala pandangan netranya tertuju pada wajah Derana yang sangat pucat dan tubuhnya yang teramat kurus.


"Ran, kenapa tubuhmu semakin kurus dan wajahmu sangat pucat? Apa dia berulah lagi?" cecarnya tanpa mengalihkan pandangan netra.

__ADS_1


Derana membalas dengan anggukan tanpa mengeluarkan suara sebab lidahnya serasa enggan untuk berlisan kata apalagi jika harus menyebut nama Farel--suami yang telah tega membuat dunianya hancur.


Dua hari yang lalu, Farel tiba di desa Janda. Bukannya meminta maaf pada Derana dan kedua orang tuanya, ia malah menyebarkan fitnah.


Iblis berwujud manusia itu mengatakan kepada semua warga desa Janda bahwa Derana minggat atau melarikan diri sebab tidak mau menetap di kediaman Atmajaya tanpa membeberkan alasan yang sebenarnya. Ia juga mengatakan bahwa selama berumah tangga, Derana tidak pernah bersedia melayani sehingga sampai saat ini mereka belum diberi keturunan.


Hampir semua warga desa mempercayai perkataan Farel, terutama Ratri. Sehingga mereka semakin yakin, bahwa Derana istri yang sangat durhaka.


Derana teramat sedih dan berduka karena para tetangga menyalahkannya dan tidak mau mendengar ucapan yang ia lisankan untuk membela diri.


“Ran, ayo kita ngobrol sambil duduk di gubug itu!” ujar Hastungkara memecah hening sambil menunjuk gubug yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Heem, Ra.” Derana mengangguk dan mengulas senyum. Kemudian kedua Hawa itu membawa langkah mereka menuju objek yang dimaksud.


Setelah mendaratkan bobot tubuh dan meraup udara dalam-dalam, Hastungkara kembali membuka suara seraya melontarkan candaan untuk melukis senyum di wajah sahabatnya. "Ran, jika kau rindu aku, panggil namaku tiga kali dan hentakkan kakimu! Maka, aku akan hadir di hadapanmu.”


Celotehan Hastungkara sukses menggelitik indera pendengaran, sehingga Derana menarik kedua sudut bibirnya dan berganti melontarkan canda. "Ndak, aku ndak akan memanggil namamu dan menghentakkan kaki. Tapi, aku akan membakar lilin sambil duduk bersila. Aku yakin, kau akan hadir di hadapanku dengan membawa sejumlah uang kertas berwarna merah."


"Ran –“


“Ya --"


“Simpan tasbih ini! Perbanyaklah melafazkan zikir dan sholawat! Jangan lupa, tunaikan ibadah wajib yang lima waktu ditambah sholat sunah di sepertiga malam! Insya Allah, kau akan segera terlepas dari jerat para iblis itu," tutur Hastungkara sembari menyerahkan tasbih yang terbuat dari batu khas Kalimantan.


Derana menerima tasbih itu disertai seutas senyum yang terlukis di wajahnya. "Terima kasih Ra," ucapnya lirih seraya menahan rasa yang tetiba hadir dan menyesakkan dada.


"Iya Ran. Jangan sedih ya! Insya Allah, setelah menikah dengan ustadz Zain, aku akan pulang dan menetap di desa ini."

__ADS_1


Derana mengangguk lalu memeluk tubuh sahabatnya.


Tangan Hastungkara yang semula menjuntai, diulurkannya ke atas untuk membalas pelukan Derana.


Sepasang sahabat itu saling berpeluk diiringi isak tangis yang tak mampu teredam.


Meski jarak akan memisahkan kita. Namun kita tidak pernah merasa jauh. Sebab persahabatan tidak diukur dengan jarak, melainkan dengan hati.


Sebelum senja menyapa, Derana dan Hastungkara berpisah. Derana pulang ke rumah kedua orang tuanya. Sementara Hastungkara pulang ke rumah sang kakek.


Setibanya di halaman rumah, Derana disambut oleh Farel. Pria berkulit sawo matang itu melipat tangan di depan dada dan melayangkan tatapan tajam ke arah Derana.


"Seorang istri durhaka, ndak akan pernah nurut perintah suaminya. Dia mblayang tanpa berpamitan dan bertindak sesuka hati." Farel melontarkan kalimat sarkasme dan menarik sudut bibirnya.


Derana tak acuh. Ia berjalan melewati Farel tanpa memperdulikan suaminya itu.


Merasa tak diacuhkan, Farel mencengkram dan menarik lengan Derana hingga keduanya kini saling berhadapan.


"Berani-beraninya kau mengacuhkan suamimu!" tukasnya dengan penuh penekanan.


Derana tersenyum smirk dan mengibaskan lengannya sehingga terlepas dari cengkraman tangan Farel. Tanpa merasa takut, Derana menatap manik mata Farel dan membalas ucapan suaminya itu. "Suami katamu? Pria yang pantas disebut seorang suami itu adalah pria yang selalu memberikan bahunya untuk bersandar dan memperlakukan wanita yang dinikahi selayaknya seorang istri bukan budak."


"Kau --"


"Maaf Tuan Farel yang terhormat, saya sedang ndak ingin berdebat. Saya lelah. Saya ingin beristirahat," ujarnya lantas membawa tubuhnya berlalu dari hadapan Farel.


Farel tampak murka. Namun menit berikutnya, pria berhati iblis itu menerbitkan senyum dan bermonolog, "kali ini, aku membiarkanmu menang. Tapi lihat saja besok. Aku akan membawamu ke tempat yang jauh dan membuangmu. Kau bakal menjadi gelandangan dan ndak akan bisa kembali ke rumah ini lagi."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


__ADS_2