Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 23


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Hari yang dijanjikan oleh Zain telah tiba. Namun ustadz muda itu tak jua datang untuk memenuhi janjinya--mengkhitbah Hastungkara.


Perasaan Hastungkara semakin tidak tenang. Ulu hatinya terasa nyeri kala siluet Zain hadir kembali memenuhi ruang pandang.


Apa yang terjadi pada ustadz Zain? Kenapa, aku merasa sesuatu yang buruk tengah menimpanya? Kalbu Hastungkara membisikkan tanya.


Suara getaran gawai membuyarkan lamun. Hastungkara segera mengulurkan tangan untuk menyambar gawai kesayangannya itu.


"Ustadz Zain?" gumamnya diikuti kerutan di antara kedua pangkal alis saat nama Zain tertera di layar.


Tangan Hastungkara gemetar kala menggeser layar gawainya. Degup jantungnya pun terdengar tak beraturan hingga membuat dadanya terasa sesak.


Diraup udara dalam-dalam untuk menormalkan degup jantung sebelum mengucap salam--menyapa seseorang di seberang sana.


"Assalamu'alaikum Us-tadz --" ucapnya terbata.


"Wa'allaikumsalam. Maaf, saya Rifki. Apa, anda kenal dengan pemilik nomor handphone ini?"


"Iya, tentu saja saya kenal. Dia ustadz Zain, calon suami saya. Apa yang terjadi padanya? Kenapa handphone ustadz Zain berada di tangan anda?"


"Begini Nona, calon suami anda mengalami musibah kecelakaan dan sekarang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Saat hendak menepikan sepeda motor korban, saya mendapati handphone calon suami anda tergeletak di jalan. Kemudian saya berinisiatif untuk menghubungi anda karena nama anda tertera paling atas di kontaknya."


Hastungkara menekan dadanya yang terasa sangat sakit. Rupanya firasat buruk yang beberapa hari ini membuatnya gelisah, kini menjadi nyata. Zain, pria yang ia cinta ternyata mengalami musibah kecelakaan.


"Nona --"


"Ba-bagaimana keadaan calon suami saya? Lukanya nggak parah 'kan? Dia baik-baik saja 'kan?"


"Maaf, saya belum mengetahui keadaannya saat ini. Yang saya tahu, sepeda motornya hancur. Jadi, kemungkinan keadaan calon suami anda 1112 dengan sepeda motornya. Lebih baik anda segera datang ke rumah sakit PKU supaya bisa memastikan sendiri keadaannya. Akan saya titipkan handphone calon suami anda pada security."


Tubuh Hastungkara serasa lunglai saat lawan bicaranya memberitahu bahwa sepeda motor Zain hancur dan kemungkinan kondisi Zain pun sama seperti sepeda motor yang dikendarainya itu.

__ADS_1


"Ya Allah, jangan sampai firasatku menjadi kenyataan. Hamba belum siap jika harus melepasnya pergi --"


Hastungkara menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia berusaha kuat meski raganya seolah tak lagi bernyawa.


Tak terbayang jika Zain benar-benar pergi meningalkannya di saat bunga-bunga cinta bermekaran indah di taman hati.


Entah bagaimana, ia akan menjalani hari tanpa senyum sang pujaan hati yang senantiasa menghiasi hari.


"Rara sayang, apa yang terjadi?" Nofia yang baru tiba dari pasar dan mendapati Hastungkara tampak lemas, segera meletakkan keranjang dan berjalan menghampiri putrinya itu.


"Ustadz Zain kecelakaan, Bund. Rara ingin menemuinya di rumah sakit PKU --"


"Innalillahi, lalu bagaimana keadaannya Ra?"


"Rara nggak tau, Bund. Kata orang yang tadi menelepon Rara, sepeda motor ustadz Zain hancur. Kemungkinan, keadaan ustadz Zain sama seperti sepeda motor yang dikendarainya," jawabnya disertai bulir air mata yang mulai menetes tanpa permisi.


"Ya Allah, semoga keadaan Zain baik-baik saja, Ra. Tetaplah berpikiran positif Sayang!" tutur Nofia sembari merengkuh tubuh Hastungkara dan membawanya ke dalam pelukan.


.....


Dengan terang-terangan, Farel memamerkan foto dirinya dan Sovia saat bermesraan sehingga membuat Derana semakin muak melihat wajah suaminya itu.


Ingin rasanya, Derana segera meminta cerai. Namun karena ancaman sang ibu dan menghindari gibahan para tetangga, Derana berusaha mempertahankan rumah tangganya yang sudah hancur.


"Mas, bapak sakit. Tolong antarkan bapak ke Puskesmas!" pinta Derana. Ia terpaksa meminta bantuan pada Farel sebab hanya suaminya itu yang bisa mengendarai sepeda motor.


"Ck, dia 'kan bapakmu. Ngapain malah aku yang mengantarnya." Farel berdecak kesal sebab Derana mengganggu ritualnya saat ini.


Ritual yang sudah menjadi rutinitas seorang pengacara (pengangguran banyak acara), menghisap asap beracun (rokok) ditemani secangkir kopi hitam sembari menyaksikan jeng Sari--janda muda nan seksi yang tengah menjemur pakaian sambil berlenggak-lenggok dan mengudarakan suara merdunya.


"Mas, andai aku bisa mengendarai sepeda motor, aku ndak bakalan meminta bantuanmu."


"Makanya belajar! Biar ndak menggangguku."


"Mas --"

__ADS_1


"Hus, sana pergi! Minta Dalimin atau Paijo saja yang mengantar. Mereka 'kan tukang ojek, pasti bisa nganter bapakmu yang gering itu ke puskesmas," ujarnya seraya mengusir Derana.


Karena teramat sebal bin kesal dengan ucapan dan sikap Farel, Derana sengaja menyambar gelas yang berada dalam genggaman suaminya itu hingga terjatuh dan pecah.


"Dasar bojo (istri) kurang ajar!" Farel membawa tubuhnya berdiri dan melayangkan tangan ke udara untuk menampar Derana.


Namun dengan sigap, Derana mencengkram tangan Farel dan menghempaskannya.


"Aku bukan Derana yang dulu. Derana yang diam dan pasrah saat kau melayangkan tamparan. Aku muak, aku jengah dengan ucapan dan sikapmu. Aku masih bersabar dan berusaha mempertahankan pernikahan kita ... hanya demi keutuhan keluargaku. Bukan karena takut pada keluarga Atmajaya, terutama kakekmu." Setelah melontarkan kata-kata bernada sarkasme, Derana berlalu pergi tanpa menunggu Farel membalas ucapannya.


Farel menggertakkan gigi dan mengepalkan tangan. Ia tampak sangat murka. Namun ia berusaha menahan diri agar tak lepas kendali sebab saat ini jeng Sari tengah mengawasi.


Karena tidak bisa membalas Derana dengan lisan ataupun perlakuan kasar, Farel melafazkan sumpah serapah di dalam benak. Dia juga berjanji akan segera membuang istrinya itu dan menikahi wanita lain. Tentu wanita yang wetonnya sama seperti Derana, agar ambisi keluarganya menjadi kaya raya bisa segera tercapai.


"Pak, kita ke Puskesmas sekarang ya! Rana sudah meminta kang Dalimin dan kang Paijo untuk mengantar kita --" ucap Derana kala memasuki kamar orang tuanya.


"Kenapa, ndak suamimu saja yang mengantar bapak, Nduk? Suamimu masih nganggur 'kan? Pasti dia ada waktu kalau sekedar mengantar bapak ke Puskesmas."


Derana menghela nafas panjang lalu mendaratkan bobot tubuhnya di bibir ranjang. "Pak, mas Farel ndak mau diganggu. Bapak tahu sendiri 'kan karakter mas Farel seperti apa? Derana heran sama ibu. Meski sudah tahu karakter mas Farel seperti itu ... ibu kog masih saja selalu membela menantunya. Andai ibu ndak mengancam akan mengusir Bapak dan Sukma dari rumah ini, Rana ingin segera meminta pisah dari mas Farel. Untuk apa mempertahankan pernikahan yang sama sekali ndak ada keberkahannya."


"Sabar ya Nduk! Jangan lelah berdoa! Bapak yakin, ibumu akan segera sadar dan Farel akan mendapat balasan yang setimpal," tutur Usman seraya menanggapi curahan hati putrinya.


"Iya Pak, Rana ndak akan lelah berdoa. Lebih baik, kita segera berangkat ke Puskesmas. Kalau berangkatnya terlalu siang, pasti antrinya lama."


Derana mengulurkan tangan dan membantu ayahnya beranjak dari ranjang. Kemudian ia memapah ayahnya sampai di halaman rumah.


Meski menyaksikan Derana kepayahan memapah Usman, Farel sama sekali tidak berniat untuk membantu. Bahkan, ia malah menyibukkan diri dengan gawainya ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏


Terima kasih dan banyak cinta untuk Kakak-kakak ter love yang berkenan mengawal kisah Derana hingga end 😘😘😘🙏

__ADS_1


__ADS_2