
Happy reading 😘😘😘
Pagi ini, tepatnya pukul 10.00 wib, Randy dan Derana mengadakan acara aqiqah untuk bayi kembar mereka, Azzam dan Azzura.
Acara diadakan di halaman rumah Randy dan dihadiri oleh seluruh keluarga, para sahabat, ratusan anak yatim, dan para pembaca setia kisah Derana.
Tenda berhiaskan kain berwarna putih menaungi para tamu yang kini duduk di kursi yang telah disediakan.
Setelah semua tamu undangan hadir, acara aqiqah dibuka dengan lantunan kalam cinta yang dilafazkan oleh Alif, sahabat Rafa.
Suara Alif terdengar sangat merdu, hingga membuat hati para hadirin tergetar. Tak terkecuali Chayra, istri yang teramat Alif cinta.
Kisah cinta Alif dan Chayra tertulis di novel author berjudul 'Imam Pengganti Untuk Chayra'.
Usai terlantun kalam cinta, MC meminta Randy naik ke atas panggung untuk memberi sambutan. Papa muda berparas rupawan itu mengutarakan rasa syukurnya kepada Illahi yang telah menganugerahinya dua malaikat kecil yang tampan dan cantik serta sehat.
Di penghujung sambutannya, Randy meminta agar semua hadirin berkenan melafazkan doa tulus untuk baby Azzam dan Azzura supaya kedua buah hatinya itu tumbuh menjadi anak yang saleh serta saleha.
Seusai Randy memberi sambutan, acara pun berlanjut dengan melaksanakan acara inti yaitu mencukur rambut kedua bayi secara simbolik lalu di ikuti dengan pengesahan nama dua buah hati Randy dan Derana. Azzam Daffa Saifan Marwan dan Azzura Aquilla Kinara Marwiyah.
Para hadirin tampak larut dalam kebahagiaan, tak terkecuali Abimana dan seluruh keluarganya yang juga turut hadir di acara tersebut.
Siapa Abimana? Abimana adalah tokoh utama di novel kedua author yang berjudul 'Istri Comel Pilihan Abi''. Dari kisah Abimana-lah, author mulai mengenal para pembaca setia yang sampai saat ini selalu hadir di setiap karya yang author rilis.
Setelah acara inti selesai dilaksanakan, MC meminta Ustaz Fadhil untuk memberi tausiyah.
Meski usianya tak lagi muda, Fadhil masih terlihat tampan dan kharismatik. Tutur katanya pun halus dan cara ia menyampaikan tausiyah diiringi candaan ringan, sehingga membuat para hadirin yang mendengarnya tidak merasa jenuh. Bahkan teramat betah.
Fadhil mengakhiri tausiyahnya dengan memanjatkan doa untuk baby Azzam dan Azzura. Randy, Derana, dan para hadirin turut mengamini setiap doa yang terucap dari bibir ustaz berparas tampan itu.
"Allahummahfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyani wa min jami’is sayyiati wal ‘ishyani wahrishu bihadlanatika wa kafalatika al-mahmûdati wa bidawami ‘inayatika wa ri’ayatika an-nafîdzati nuqaddimu biha ‘alal qiyami bima kalaftana min huqûqi rububiyyatika al-karîmati nadabtana ilaihi fîma bainana wa baina khalqika min makarimil akhlaqi wa athyabu ma fadldlaltana minal arzaqi. Allahummaj’alna wa iyyahum min ahlil ‘ilmi wa ahlil khairi wa ahlil qur`ani wa la taj’alna wa iyyahum min ahlisy syarri wadl dloiri wadz dzolami wath thughyani.
__ADS_1
Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummi shibyan, serta segala kejelekan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan dan perlindunganmu yang lestari. Dengan hal tersebut aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada diantara kami dan makhluk-Mu, yakni akhlak mulia dan anugerah yang paling indah. Ya Allah, jadikan kami dan mereka sebagai ahli ilmu, ahli kebaikan, dan ahli Al-Qur’an. Jangan kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercela.”
Sebelum menutup acara aqiqah, MC mempersilahkan tuan rumah beserta para hadirin untuk menikmati hidangan yang tersaji.
Semua hadirin pun seketika beranjak dari posisi duduk lalu berjalan mendekat ke meja saji.
Sementara Randy dan Derana masih berada di posisi yang sama. Mereka tidak beralih dari tempat duduk yang berada di barisan depan.
"Sayang ingin makan apa? Mas ambilkan ya?" tawar Randy pada Derana.
"Ndak usah, Mas. Nanti aku bisa mengambilnya sendiri. Lebih baik, Mas Randy ambilkan makanan untuk putri kita, Malikha!"
"Kan sudah ada Mbok Karti, Yang. Mbok Karti yang akan mengambil makanan untuk Malikha --"
"Mas, Malikha butuh perhatian kita. Putri kita pasti akan sangat senang jika yang mengambilkan makanan papanya, bukan Bu Karti atau yang lain," tutur Derana--memangkas ucapan Randy.
"Baiklah, Yang. Mas akan membawa Malikha ke sini dan mengambilkan makanan untuknya."
"Sekalian, Malikha disuapi ya, Mas!" pinta Derana.
Seperti permintaan Derana, Randy mengambil makanan dan minuman untuk Malikha. Kemudian ia membawa Malikha untuk duduk bersamanya dan Derana.
"Mama, dedek bayi balu bobok ya?" Malikha melontarkan tanya setelah mendaratkan bobot tubuhnya di kursi--bersebelahan dengan Derana.
"Iya, Sayang. Dedek bayi baru bobok. Sekarang Kak Likha mamam dulu ya! Disuapi Papa."
"Likha udah besal. Udah bisa mamam sendili, Ma. Mama aja yang disuapi Papa. 'Kan Mama lagi gendong dua adek bayi. Jadi nggak bisa makan sendili."
"Beneran, Likha bisa makan sendiri?" Randy menimpali ucapan putrinya.
"Benelan bisa, Papa."
"Ya udah, sekarang Likha mamam sendiri ya! Papa mau mengambil makanan untuk Mama."
__ADS_1
"Siap, Papa. Tapi jangan lama-lama ya! Jangan sepelti Kakek Leno, Kakek Usman, Nenek Lanu, sama Nenek Latli yang keasyikan ngoblol sama tamu. Tyus, Tante Sukma juga. Malah ngoblol sama Om Seculity."
Randy dan Derana terkekeh kala mendengar celotehan Malikha. Keduanya geli sekaligus gemas dengan kecomelan putri mereka.
"Papa cuma sebentar kok, Sayang. Ngobrol sama tamunya setelah acara aqiqah selesai," ucap Randy seraya menanggapi celotehan Malikha.
"Benel lho, Pa! Jangan boong! Kalau boong Allah bisa malah lho!"
"Iya, Ustazah. Papa nggak akan boong."
"Ya udah, bu-luan deh ambil makanan buat Mama, Pa!"
"Baik, Tuan Putri. Titip Mama dan adik-adik dulu, ya!" Randy menerbitkan senyum dan mengusap lembut pucuk kepala Malikha yang terbalut jilbab berwarna merah muda.
"Okay, Papa." Malikha pun turut menerbitkan senyum sembari mengerjapkan mata.
"Yang, Mas tinggal sebentar ya," pamit Randy pada Derana.
"Iya, Mas."
Randy lantas mengayun langkah--menuju meja saji. Kemudian ia mengambil mangkuk berisi soto. Tak lupa ia juga mengambil buah dan air mineral.
Sementara Derana menanti sembari memperhatikan Randy. Pandangan netranya tak lepas dari sosok Adam yang telah dianugerahkan Illahi sebagai hadiah terindah untuknya itu. Hadiah atas kesabaran dan keikhlasannya menjalani ujian hidup yang hampir saja membuat seorang Derana Larasati berputus asa dan memaksa nyawa terlepas dari raga.
“Setiap ujian yang datang silih berganti mengandung hikmah dan permata yang teramat berharga. Namun hanya orang-orang yang mampu bersabar, yang berhak mendapatkannya.”
🌹🌹🌹🌹
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang telah berkenan mengawal kisah Derana.
Nantikan karya author yang insya Allah akan rilis bulan depan dan di rumah yang sama. 😘
__ADS_1