Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 39


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Sama seperti Ranu, Reno beranjak dari posisi duduk kemudian merengkuh tubuh tegap Randy untuk dibawa ke dalam pelukan. Rasa hangat menjalar hingga ke seluruh tubuh saat putra kesayangannya itu mengangkat kedua tangan ke udara dan membalas pelukannya.


Reno dan Randy--kedua pria berbeda generasi itu saling berpeluk erat, menumpahkan rasa rindu yang selama dua pekan merajai kalbu.


Selama dua minggu, Randy sengaja menghindar dari ayah dan bundanya sebab kedua orang tuanya itu selalu mendesak agar ia menikah lagi.


Setiap Reno dan Ranu membawa kandidat calon istri untuk Randy, Randy selalu menolak dengan tegas sebab ia masih trauma dengan kegagalan berumah tangga yang dialaminya. Randy sungguh tidak ingin, mengalami kegagalan yang sama untuk kedua kalinya.


Lebih baik menjadi duda abadi, dari pada harus kembali mengalami kegagalan--bisik batinnya saat itu, sebelum ia memutuskan untuk menghindar dari kedua orang tuanya.


"Ma-af --" Suara Reno terdengar berat dan bergetar saat membisikkan kata maaf di telinga Randy.


Kata maaf yang diucapkan oleh pria yang telah membesarkan dan mencurahinya kasih sayang, mengalirkan rasa haru ke relung jiwa sehingga Randy tak mampu melisankan rangkaian kata untuk membalasnya.


"A-yah, Randy yang seharusnya meminta maaf pada Ayah dan Bunda. Maaf karena Randy selalu menolak kehendak Ayah dan Bunda yang menginginkan Randy untuk menikah lagi," ucapnya setelah sejenak bergeming.


"Sudahlah putraku, kau tidak perlu meminta maaf. Sebagai orang tua, seharusnya kami lebih memahamimu. Saat ini, sembuhkanlah lukamu terlebih dahulu! Jika lukamu sudah tersembuhkan, bukalah pintu hatimu untuk wanita yang pantas kau cintai dan pantas menjadi ibu sambung untuk Malikha--putri kecilmu," tutur Reno bijak sembari mengurai pelukan.


"Benar apa yang dikatakan oleh Ayahmu, Rand. Bunda berharap, luka yang ditinggalkan oleh Amel segera sembuh. Sehingga kau bisa membuka lembaran baru tanpa menoleh ke masa lalu."


"Terima kasih, Ayah--Bunda." Randy berucap lirih disertai seutas senyum yang membingkai wajah rupawannya.


"Duduklah Sayang!" Ranu menggamit lengan sang putra dan memandunya untuk duduk.


Randy pun mengangguk patuh lalu mendaratkan bobot tubuhnya di samping sang bunda.


Setelah berbasa-basi, Ranu mengutarakan tujuan kedatangannya bersama sang suami malam ini. Mereka sengaja membawa seorang wanita cantik untuk dikenalkan kepada Randy. Bukan sebagai kandidat calon menantu. Namun sebagai calon baby sitter untuk Malikha.


"Sayang, kali ini kami tidak ingin mendesakmu untuk menikah lagi. Kami hanya ingin, agar kau menerima Suster Rani sebagai baby sitter Malikha. Bunda rasa, Malikha membutuhkan seorang baby sitter yang keibuan. Dan menurut bunda, Suster Rani-lah yang pantas menjadi pengasuh sekaligus perawat cucu kesayangan bunda," tuturnya lembut diiringi senyuman manis yang terlukis jelas di wajah cantiknya.


Meski sudah berusia setengah abad, wanita paruh baya itu masih terlihat sangat cantik. Dan kecantikannya bukan hanya karena polesan, tetapi cantik alami.

__ADS_1


Randy menghela nafas panjang dan sejenak terdiam. Kentara sekali ia tengah berpikir ... bagaimana mengutarakan penolakan yang bernada halus sehingga bisa diterima oleh kedua orang tuanya.


"Ayah, Bunda, Randy sangat berterima kasih atas niat baik Ayah dan Bunda, yang telah membawa Suster Rani ke rumah ini untuk dijadikan baby sitter Malikha. Namun maaf, Randy tidak bisa menerima Suster Rani --"


"Kenapa tidak bisa Sayang? Apa mungkin, Malikha sudah mempunyai baby sitter?"


"Iya Bunda. Malikha sudah mempunyai seorang baby sitter," jawabnya jujur.


"Kalau bunda boleh tahu, siapa namanya? Dan dari mana dia berasal?" Ranu kembali melisankan tanya.


"Dia ... Derana. Seorang wanita muda yang berasal dari Desa Janda."


"Desa Janda?" Ranu terkesiap ketika putranya menyebut Desa Janda. Raut wajahnya pun seketika berubah sendu. Entah ada hubungan apa ia dengan desa tempat kelahiran Derana ....


"Iya Bunda. Desa Janda. Bunda tahu desa itu?" Randy balik bertanya dan menatap lekat wajah sang bunda yang tetiba berubah sendu.


Terdengar helaan nafas panjang diikuti hembusan nafas berat sebelum Ranu membuka suara--menjawab tanya yang terlisan dari bibir sang putra tercinta.


"Iya Sayang. Bunda sangat tahu Desa Janda karena bunda juga berasal dari desa itu. Sebelum bertemu dengan ayahmu, hidup bunda serasa di neraka. Lelaki yang dijodohkan dengan bunda, selalu berkata kasar dan memperlakukan bunda selayaknya seorang budak. Beruntung, bunda mempunyai seorang sahabat yang sangat baik. Karena kebaikannya, Bunda bisa terlepas dari jerat mantan suami bunda. Dia merelakan uang tabungannya untuk membantu bunda mengurus proses perceraian. Setelah resmi bercerai, bunda pergi ke kota untuk mengadu nasib. Alhamdulillah, bunda bertemu dengan nenekmu. Beliau memberi bunda pekerjaan. Beliau juga yang menjodohkan bunda dengan Ayahmu." Ranu mengulas senyum dan melirik Reno sebelum kembali melanjutkan ucapannya yang sejenak terjeda.


"Dulu, Ayahmu seorang pria yang sangat dingin dan minim senyum. Namun setelah bertemu dengan bunda yang sedikit somplak, Ayahmu mulai murah senyum dan bisa tertawa."


Reno yang sedari tadi diam, kini turut bersuara--mewakili istri tercinta menjawab tanya yang dilisankan oleh Randy. "Ayah yang meminta Bundamu agar tidak bercerita tentang kisah masa lalunya, Rand. Ayah tidak ingin wajah Bundamu terbingkai sendu jika teringat masa lalunya di Desa Janda. Biarlah masa lalu Bunda yang kelam terkubur dalam-dalam supaya Bundamu bisa hidup tenang dan senantiasa bahagia."


Ucapan Reno bagaikan embun yang menyejukkan kalbu dan menggetarkan jiwa sehingga memaksa titik-titik embun bergelayut manja di kelopak mata.


Di dalam benak, Ranu melafazkan rasa syukur kepada Illahi yang telah menganugerahinya seorang imam pengganti--Reno Arya Satya.


"Randy teramat kagum pada Ayah dan Bunda. Ayah menerima Bunda apa adanya tanpa mempermasalahkan masa lalu Bunda. Sementara Bunda, mampu melukis senyum di wajah Ayah dan merubah si gunug es menjadi seorang pria romantis," ujar Randy memecah hening yang sejenak tercipta.


Perbincangan ketiganya mengalir tanpa jeda hingga mesin waktu yang menempel di dinding menunjuk angka sepuluh malam.


"Sayang, karena sudah malam ... Ayah dan Bunda pamit dulu ya. Kasihan Suster Rani jika pulangnya kemalaman," tutur Ranu seraya berpamitan.


"Ayah dan Bunda nggak usah pulang! Menginaplah di rumah Randy malam ini. Temani Malikha tidur, Yah--Bund! Biar Ridwan yang mengantar Suster Rani."

__ADS_1


"Iya Nyonya. Biar saya saja yang mengantar Suster Rani. Saya pastikan, Suster Rani akan selamat sampai di rumah tanpa kurang suatu apapun," sahut Ridwan yang baru saja menjejakkan kaki di ruang keluarga bersamaan dengan Derana.


"Baiklah, Ayah dan Bunda akan menginap malam ini. Lagi pula, kami sudah sangat merindukan si cantik Malikha. Ya 'kan Ayah?"


"Iya, tentu saja Bunda," jawabnya sembari merangkul pundak sang istri dan tak lupa kecupan mesra ia labuhkan di bibir ranum yang selalu menjadi candu, sehingga membuat empat anak Adam yang tengah menyaksikan ke so sweetan mereka, merasa iri dan hanya bisa ngedumel di dalam hati.


"Ih Ayah, malu tau'." Ranu berucap manja dan mencubit pelan paha suaminya yang terbalut celana jeans.


"Nggak usah malu Bund! Anggap saja dunia ini hanya milik kita berdua dan yang lain cuma menyewa. Jadi, abaikan para jomblo yang menyaksikan keromantisan kita!"


"Tapi, kalau mereka ngiri bagaimana Yah?" Ranu mengimbangi candaan Reno dan melirik putranya yang tampak berkali-kali menghembuskan nafas.


"Ya kita harus bersyukur jika mereka ngiri, Bund. Rasa iri itu akan mendorong mereka untuk segera menanggalkan status jomblo."


Ranu dan Reno mengudarakan tawa. Kedua paruh baya itu terlihat sangat puas mengerjai para jomblo yang menyaksikan keromantisan mereka ....


Tobat soto babat, sudah tua tapi masih suka pamer kemesraan. Ya Allah, tolong kirimkanlah segera kekasih yang baik hati untukku dan mencintaiku apa adanya, bukan ada apanya. Jangan jadikan hamba BUDI--Bujang Abadi--ucap Ridwan yang hanya terlisan di dalam hati.


Sama seperti Ridwan, Rani pun berucap di dalam hati--Sabar-sabar! Orang sabar dahinya lebar. Semoga Tuhan segera mengirim jodoh untukku. Aku sudah lelah menjadi JOJORAN. Jomblo-Jomblo Merana.


Lantas apa yang diucapkan oleh Randy di dalam hati? Akankah ia juga meminta kepada Illahi untuk dipertemukan dengan jodohnya--seorang makmum pengganti yang akan menjadi sayap baginya menuju surga ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Untuk sahabat-sahabat author terkasih, author mengucapkan ribuan maaf, sebab author belum bisa mampir dan mendukung karya kalian karena kesibukkan di dunia nyata di bulan Agustus ini.


Insya Allah awal September--setelah author selesai menulis novel 'Cinta Untuk Derana' author akan kembali menyempatkan waktu untuk membaca dan mendukung karya kalian.


Mohon menjadikan maklum ya Sobat-sobat 😊🙏🙏🙏


Peluk cium dan terima kasih teruntuk Sobat-sobat yang telah setia mendukung karya author yang masih banyak kekurangannya ini. 😘🙏🙏


Jangan unfav, karena author Cinta Untuk Derana insya Allah akan hadir kembali ke lapak kalian 😉

__ADS_1


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏


Salam semangat dan sukses 😘😘😘


__ADS_2