
Happy reading 😘😘😘
Seusai menunaikan ibadah sholat subuh dua rakaat dan melantunkan kalam cinta, Randy kembali meminta haknya.
Dengan senang hati, Derana menyanggupi. Bahkan, ia ingin memberi pelayanan yang membuat suaminya terpuaskan.
Derana meminta Randy untuk menunggunya sebentar. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian.
Rupanya, Derana mengganti pakaiannya dengan lingerie berwarna putih dan berbahan sangat tipis, sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas dan membuat Randy seketika menelan saliva serta semakin berha-srat ingin segera mencum-bu.
Direngkuhnya tubuh indah Derana dan dicum-buinya dengan mesra.
Derana tak lagi pasif. Ia mengimbangi sentuhan-sentuhan Randy dan mendorong tubuh suaminya itu hingga rebah di atas ranjang.
"Mas, jangan lupa berdoa dulu sebelum berseng-gama!" bisik Derana seraya mengingatkan suaminya untuk melafazkan doa sebelum memulai ritual penyatuan raga.
Randy mengucap istighfar. Di dalam benak, ia merutuki dirinya sendiri. Karena ha-sratnya yang menggebu, ia terlupa untuk melafazkan doa sebelum berseng-gama.
Randy lantas melafazkan doa. Kemudian kembali memulai ritual penyatuan raga--mereguk kenikmatan surga dunia bersama sang kekasih halal--Derana Larasati.
Jarum mesin waktu terus berputar. Sinar sang surya pun mulai masuk ke dalam kamar melalui celah-celah jendela. Namun kedua insan yang tengah dimabuk cinta seakan enggan menyudahi permainan di atas ranjang.
Mereka terlena dan tenggelam ke dalam dunia penuh cinta kasih--asmaraloka.
Tatkala Randy dan Derana berada di puncak kenikmatan, terdengar suara ketukan pintu mengalihkan atensi dan merusak suasana syahdu yang tengah tercipta.
"Mas, ada yang mengetuk pintu," bisik Derana sembari mendorong pelan dada bidang Randy.
Meski masih belum puas menyesap madu kekasih halalnya dan mereguk kenikmatan surga dunia, Randy terpaksa beranjak dari ranjang lalu mengenakan pakaian.
Sementara Derana, bergegas memungut lingerie yang terserak di lantai, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Dengan memasang raut wajah kesal, Randy memutar knop. Pintu pun terbuka dan dari balik pintu itu tampak seorang wanita paruh baya sedang berdiri dengan senyum membingkai wajahnya.
"Ada apa, Mbok? Kenapa Simbok berada di villa ini? Bukannya tadi malam, Simbok dan Malikha sudah diantar oleh Ridwan ke rumah saya? Jangan-jangan, Simbok ingin mengintip kami?" cecar Randy dengan melipat kedua tangan di depan dada.
"Maaf Tuan, tadi malam ... Nyonya Ranu menyuruh saya untuk menyusul Tuan. Nyonya khawatir, ndak ada yang menyiapkan sarapan untuk Tuan dan Nyonya Dera. Oleh karena itu, Nyonya Ranu meminta Mas Ridwan untuk mengantarkan saya ke villa ini. Semalam, saya dan Mas Ridwan tidur di kamar bawah. Kami sengaja ndak memberi tahu Tuan, karena ndak enak mengganggu ritual Tuan dan Nyonya Dera," ucap Kartini panjang lebar seraya menjawab deretan kalimat tanya yang dilontarkan oleh tuannya.
Randy berdecak kesal dan kembali mencecar Kartini dengan kalimat tanya. "Ck, kalau Simbok menyusul kami, lalu bagaimana dengan Malikha--putri kami? Siapa yang akan menjaga dan merawatnya?"
"Anu, Tuan. Tuan ndak usah khawatir! Non Malikha aman bersama Nyonya Ranu dan Tuan Reno. Nyonya Ranu ngendika, mereka berdua yang akan menjaga serta merawat Non Malikha selama Tuan Randy dan Nyonya Dera berbulan madu. Jadi, Tuan ndak usah buru-buru membawa Nyonya Dera kembali ke rumah! Maksimalkan ikhtiyar Tuan dan Nyonya untuk membuat adonan kue Boboho atau kue Susan! Jika perlu, buat adonan kue kembar, Tuan. Supaya Non Malikha ndak kesepian."
__ADS_1
"Syukurlah jika Malikha bersama ayah dan bunda. Saya lega, Mbok. Tapi akan lebih lega lagi jika Simbok dan Ridwan segera pulang ke kota."
"Jadi, Tuan Randy ingin mengusir saya dan Mas Ridwan?"
"Bukan mengusir. Lebih tepatnya, meminta Simbok dan Ridwan untuk segera pulang ke kota, supaya saya dan Derana bisa memaksimalkan ikhtiyar, membuat adonan kue kembar seperti yang Simbok ucapkan tadi."
"Owalah, begonoh tho, Tuan? Lalu, siapa yang akan menyiapkan makanan untuk Tuan dan Nyonya Dera kalau saya pulang ke kota? Kasihan lho Nyonya Dera. Sudah lelah melayani Tuan, masih harus menyiapkan sarapan, makan siang, dan makan malam."
"Saya nggak akan membiarkan istri saya menyiapkannya sendiri, Mbok. Lagi pula, kami bisa pesan makanan melalui GS--Food."
"Iya juga ya, Tuan? Kenapa, Simbok dan Nyonya Ranu nggak berpikir seperti itu? 'Kan sudah ada GS--Food. Jadi, Tuan Randy bisa memesan semua makanan yang Tuan dan Nyonya Dera inginkan melalui apli-kasi itu." Kartini tersenyum nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau begitu ... saya pamit saja, Tuan. Menu sarapannya sudah saya siapkan di atas meja makan. Tuan bisa membawa Nyonya Dera untuk turun ke bawah, mengisi tubuh dengan asupan energi supaya ndak loyo. Setelah itu, Tuan dan Nyonya Dera bisa melanjutkan ritual yang terjeda--membuat adonan kue Boboho dan kue Susan," sambungnya.
"Jangan buru-buru pulang, Bu! Ibu dan Mas Ridwan sarapan dulu bersama kami," sahut Derana sembari berjalan menghampiri Randy dan Kartini.
"Terima kasih, Nyonya. Lebih baik, saya dan Mas Ridwan segera pulang. Ndak elok jika keberadaan kami di sini malah mengganggu dan merusak suasana romantis yang tengah tercipta."
"Keberadaan Bu Karti dan Mas Ridwan sama sekali ndak mengganggu ataupun merusak suasana. Saya malah senang karena villa ini jadi ndak sepi. Saya minta, jangan panggil saya 'Nyonya'! Panggil saya 'Derana' atau 'Nduk', Bu!"
"Tapi, saya ndak enak hati, Nyonya. Kesannya ndak sopan jika saya memanggil Nyonya dengan sebutan 'Nduk' ataupun Derana --"
"Turuti permintaan istri saya, Mbok!" titah Randy--memangkas ucapan kartini.
"Nggak ada kata tapi!"
"Baiklah, Tuan. Kalau Tuan yang bertitah, saya ndak berani menolak," ucap Kartini diikuti helaan nafas berat.
"Terima kasih, Mbok. Yuk kita sarapan! Cacing di perut saya sudah berteriak nyaring." Randy menerbitkan senyum dan mengusap perutnya.
"Hayuk, Tuan! Cacing di perut saya juga sudah berdemo." Sama seperti Randy, Kartini pun menerbitkan senyum dan mengusap perutnya yang sudah berteriak--meminta untuk segera diisi.
"Mas Randy nggak mandi dulu?" bisik Derana tepat di telinga Randy.
"Nggak, Yang. Nanti saja mandinya. Setelah sarapan, kita lanjut lagi ritual yang terjeda." Randy membalas ucapan Derana dengan berbisik, sehingga Kartini tidak bisa mendengarnya dan hanya melongo--menyaksikan interaksi dua insan di hadapannya.
"Hmmm, baiklah Mas," balas Derana.
Setelah Derana menutup pintu kamar, mereka bertiga mengayun tungkai--menuruni anak tangga lalu berjalan menuju ruang makan.
"Widih, pengantin baru. Selalu nempel kaya' perangko," celoteh Ridwan seraya menggoda Randy dan Derana yang baru saja tiba di ruang makan bersama Kartini.
Randy tak acuh. Sementara Derana menanggapi celotehan Ridwan dengan mengulas senyum.
__ADS_1
Keduanya lantas mendaratkan bobot tubuh di kursi, disusul oleh Kartini.
"Rand, semalam lancar jaya 'kan?" Ridwan melontarkan tanya dan menaik turunkan kedua alisnya.
Randy tetap tak acuh dan mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ridwan.
"Semalam, suara lengu-han kalian sangat keras, membuat jiwa bujangku meronta-ronta. Kalian mesti tahu. Sampai detik ini, aku nggak bisa tidur karena adikku tersiksa karena nggak ada pelampiasan." Ridwan kembali berceloteh dan membuat Derana seketika menundukkan wajah karena merasa teramat malu.
Derana tidak menyangka, suara le-nguhannya semalam didengar oleh Ridwan. Dan bukan hanya Ridwan. Derana yakin, Kartini pun mendengarnya.
"Ck, jaga bicaramu! Kalau kau nggak bisa diam, aku potong gajimu lima puluh persen!" cetus Randy melontarkan ancaman dan melayangkan tatapan tajam.
"Iya-iya. Aku diem.Tapi jangan potong gajiku! Kalau perlu, naikan gajiku supaya aku bisa segera menikahi Dek Rani!"
"Aku pasti menaikkan gajimu, asalkan kinerjamu semakin bagus. Untuk sementara waktu, gantikan posisiku di perusahaan sampai aku dan istriku kembali dari berbulan madu!"
"Baiklah, Rand. It's no problem. Demi Dek Rani tercinta, aku akan berusaha dan berjuang. Aku nggak bakal mengecewakanmu, Big Boss."
"Good Brother."
Tanpa diminta oleh Randy, Derana mengisi piring suaminya itu dengan nasi goreng ayam dan telur mata sapi. Setelah mengisi piring suaminya, Derana mengisi piringnya sendiri lalu mempersilahkan Ridwan dan Kartini untuk segera mengisi piring mereka.
Mereka pun menikmati nasi goreng olahan tangan Kartini tanpa bersuara. Sehingga hanya terdengar denting sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring diiringi detak mesin waktu.
Di tempat lain, Hastungkara tampak fokus menatap layar datar di hadapannya sembari memainkan jemari tangan di atas keyboard.
Selain kuliah, mengajar anak-anak jalanan yang bernaung di Rumah Pintar, dan berjuang merubah kebiasaan warga Desa Janda, Hastungkara juga meluangkan waktu untuk menulis novel.
Saat ini, Hastungkara tengah menulis novel kolaborasi bersama salah seorang sahabatnya.
Novel yang mereka tulis berjudul 'Cinta Untuk Derana'. Novel tersebut mengisahkan perjalanan hidup Derana--seorang gadis desa yang terpaksa menikah di usia belia demi bakti pada kedua orang tuanya.
Hastungkara berharap, semoga novel yang ia tulis bersama sahabatnya itu, bisa menjadi inspirasi dan mampu menyadarkan para orang tua untuk tidak menuruti gengsi ataupun mengikuti tradisi yang malah akan menghancurkan masa depan anak gadis mereka.
Kebahagiaan sepasang Adam dan Hawa adalah ketika mereka bisa membangun rumah tangga yang penuh ketaatan kepada Allah. Bukan malah memenuhinya dengan kemungkaran ....
🌹🌹🌹🌹
Lanjut nggak boncapnya, Kakak-kakak terlove??? 😁
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan 😉🙏
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terlove yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏