Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 47


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Sebelum jemarinya menggeser layar gawai, Satria--security yang bekerja menjaga keamanan rumah Randy, dikagetkan oleh bunyi klakson mobil.


Detik berikutnya, dua orang wanita berjilbab keluar dari dalam mobil itu.


Rupanya mereka adalah Derana dan Hastungkara.


Derana bergegas menghampiri Usman dan Sukma. Sementara Hastungkara membayarkan sejumlah uang kepada driver GS-CAR terlebih dahulu sebelum menyusul Derana.


Seperti biasa, Hastungkara melebihkan uangnya tanpa meminta kembalian.


"Bapak, Sukma --" ucap Derana sedikit berteriak. Lantas menghambur ke pelukan ayah dan adiknya.


Ia tumpahkan kerinduan dengan memeluk erat tubuh dua insan yang teramat dicinta--Usman dan Sukma.


Atmosfer haru menyelimuti seisi hati saat ketiganya saling berpeluk diiringi suara isak tangis.


Puas menumpahkan kerinduan dengan saling berpeluk, ketiganya perlahan mengurai pelukan dan menyeka jejak air mata dengan jemari tangan.


Hastungkara yang sedari tadi berdiri dan menyaksikan adegan yang membuatnya terharu, segera membawa tubuhnya berdiri sejajar dengan Derana.


"Pakde, Sukma," sapanya disertai senyum yang teramat manis.


Kemudian diciumnya punggung tangan Usman sebagai ungkapan rasa hormat pada orang tua sahabatnya itu. Lalu dipeluknya singkat tubuh mungil Sukma.


"Rara, rupanya kau juga ada di sini, Nduk. Kau bekerja di rumah ini atau ... jangan-jangan kau mempunyai hubungan dengan pemilik rumah ini--Mas Randy?"


Hastungkara mengulas senyum dan menjawab tanya yang dilisankan oleh Usman. "Saya nggak bekerja di rumah ini, Pakde. Saya juga nggak mempunyai hubungan apa-apa dengan Pak Randy. Saya hanya mengantar Derana pulang ke rumah Pak Randy sekalian menjemput bunda."


"Loh, bundamu juga ada di rumah ini Nduk?"


"Iya Pakde, bunda sedang melepas rindu dengan sahabatnya. Kebetulan, sahabat bunda adalah ibunda Pak Randy--majikan Derana."


"Owalah, ternyata dunia halu dan dunia nyata sama-sama sempitnya ya Nduk. Bundamu bersahabat dengan ibunda Mas Randy. Dan Rana--sahabatmu bekerja di rumah Mas Randy," kelakar Usman diikuti tawa yang mengudara.


Setelah tawanya mereda, Usman mengalihkan pandangan netra ke arah Derana. Lantas ditatap wajah putrinya itu dengan intens sebelum kembali membuka suara. "Nduk, kenapa kau ndak menghubungi bapak sewaktu Farel membuangmu di terminal? Kenapa, kau ndak mengabari bapak kalau kau ada di rumah ini? Bapak malah tahunya dari Mas Randy--majikanmu. Tadi siang, Mas Randy menelepon bapak. Majikanmu itu memberitahu kalau kau ada di rumah ini. Beliau juga menceritakan kemalangan yang kau alami sebelum bekerja menjadi baby sitter putrinya."


"Maaf Pak ... waktu itu, Rana merasa kalut dan takut. Rana dilema. Rana ndak ingin ibu murka jika Rana menghubungi Bapak. Bapak tahu 'kan kalau ibu ndak pernah mempercayai Rana? Ibu pasti mengira, Rana melakukan kesalahan besar yang membuat Mas Farel murka sehingga Mas Farel membuang Rana di terminal," terang Derana menjawab tanya yang terlisan.


"Bapak jangan marah ya! Rana minta maaf Pak --" sambungnya disertai raut wajah sendu.

__ADS_1


Usman menerbitkan senyum dan mengulurkan tangan--mengusap lembut pucuk kepala Derana yang tertutup jilbab berwarna biru.


"Bapak yang seharusnya meminta maaf, Nduk. Bapak yang salah. Seandainya dulu ... bapak dan ibu ndak memaksamu menikah dengan Farel, pasti hidupmu ndak akan bertambah menderita. Nduk, bapak akan mendukung jika kau ingin bercerai dengan Farel. Bapak akan membantu semampu bapak." Usman menjeda sejenak ucapannya dan menghela nafas panjang sebelum kembali berlisan kata.


"Nduk, tadi ... bapak menemui Farel," ucapnya ragu.


"Bapak menemui Mas Farel? Untuk apa Pak?"


"Bapak menemui Farel untuk meminta penjelasan, kenapa dia tega membuangmu di terminal, Nduk."


"Lalu, Mas Farel berkata apa Pak? Dia ndak menyakiti Bapak, 'kan?" Derana kembali mencecar ayahnya dengan kalimat tanya.


"Farel berkata, dia sengaja membuangmu karena ingin berpisah denganmu, Nduk. Seharusnya, jika Farel benar-benar ingin berpisah denganmu, yang dia lakukan bukan membuangmu tapi mengembalikanmu pada bapak dengan cara baik-baik seperti pada saat dia meminangmu. Suamimu itu ndak menyakiti fisik bapak. Tapi lebih dari itu. Dia menyakiti hati bapak. Dan rasa sakit itu ndak akan mudah terobati hanya dengan ucapan maaf. Itu pun kalau dia mau meminta maaf. Kalau ndak, bapak ndak mengharap permintaan maaf darinya. Biarlah, Allah yang akan membalaskan rasa sakit yang kita rasa."


Derana bergeming. Kata-kata yang dilisankan oleh ayahnya berhasil mengoyak segumpal daging yang bersemayam di dalam dada.


Ia sungguh tidak menyangka, Farel tega membuangnya di terminal hanya karena menginginkan perpisahan.


Suasana sesaat hening. Hanya terdengar suara helaan nafas berat diiringi desa-han sang bayu yang menerbangkan dedaunan kering.


"Rana benar-benar nggak menyangka, Pak. Hanya karena ingin berpisah dengan Rana, Mas Farel tega membuang Rana di terminal. Seandainya Mas Farel berterus terang jika dia ingin berpisah dengan Rana dan mengembalikan Rana kepada Bapak dengan cara baik-baik, Rana malah akan sangat berterima kasih pada Mas Farel. Rana akan berusaha memaafkan segala kesalahannya dan ndak akan mendendam. Tapi, apa yang telah dilakukan oleh Mas Farel sungguh sangat keterlaluan. Rana ndak yakin bisa memaafkannya Pak," ujar Derana setelah sejenak terdiam.


"Sabar ya Nduk. Suamimu itu memang pria be-jat yang ndak punya rasa tanggung jawab. Kelak, dia akan menyesal karena telah membuangmu. Bapak yakin, setelah kau resmi bercerai dengan Farel, Allah akan memberimu seorang imam pengganti yang lebih baik dari Farel berkali-kali lipat dan dia akan memandumu--merengkuh kebahagiaan," tutur Usman seraya membesarkan hati putrinya.


Ternyata suara deheman itu berasal dari dalam mobil yang ditumpangi oleh Randy.


Rupanya, sedari tadi Randy memperhatikan interaksi antara Derana dan Usman dari balik kaca mobil. Duda berparas ganteng itu sengaja berdehem untuk mengalihkan perhatian agar semua orang yang tengah berdiri di depan gerbang menyadari kedatangannya.


"Pak, Dera, bagaimana kalau ngobrolnya dilanjut di dalam?" ucap Randy kemudian.


"Eh ... i-iya Tuan," balas Derana terbata.


"Dera, ajaklah ayah dan adikmu masuk ke dalam mobil!" titah Randy dengan suara khasnya yang terdengar datar.


"Baik Tuan." Derana mengangguk patuh. Kemudian ia meminta ayah dan adiknya untuk masuk ke dalam mobil.


"Ra, kenapa kau ndak ikut masuk?" tanya yang Derana lontarkan setelah ia mendaratkan bobot tubuhnya di jok bagian belakang.


"Aku bisa jalan kaki Ran. Lagian, majikanmu itu nggak memintaku untuk ikut masuk ke dalam mobilnya."


Hastungkara menekuk wajahnya dan melipat tangan di depan dada. Ia merasa kesal bin sebal pada si manusia kutub yang terkesan cuek. Meski hanya sekedar berbasa-basi, Randy tidak menawari atau memintanya untuk turut masuk ke dalam mobil.


"Tuan, kasihan Rara kalau harus berjalan kaki sampai ke rumah utama. Saya mohon, minta Rara untuk turut masuk ke dalam mobil," pinta Derana mengiba.

__ADS_1


Tanpa membalas ucapan Derana, Randy keluar dari dalam mobil lalu menggamit lengan Hastungkara.


"Jangan pegang-pegang lenganku!" ketus Hastungkara sembari mengibaskan lengannya untuk menghempas cekalan tangan Randy.


"Ck, jangan seperti anak kecil! Buruan masuk ke dalam mobil atau aku benar-benar akan meninggalkanmu!"


"Sana, tinggalkan saja aku! Apa pedulimu?"


"Halaman rumahku sangat luas. Membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Kakimu bisa bengkak jika memaksakan diri berjalan --"


"Aku sudah biasa berjalan kaki. Jadi, kakiku nggak bakal kaget apalagi bengkak jika harus berjalan selama sepuluh menit. Bahkan berjalan seharian pun aku sanggup."


"Kau benar-benar keras kepala --"


"Dan kau benar-benar Tuan Muda yang songong. Mit amit jabang bayi, jangan sampai turunanku kelak sepertimu."


"Aku sumpahi, kelak turunanmu sama sepertiku. Kecuali kegantenganku yang paripurna."


"Narsis --"


"Gadis aneh. Buruan masuk ke dalam mobil atau aku akan memaksamu!"


"Memangnya, kau bisa memaksaku? Dengan cara apa, hah?"


"Aku akan menggendongmu."


"Mana mungkin kau bisa menggendongku, Tuan?" ucapnya dengan nada mengejek.


"Mungkin saja. Atau aku buktikan saat ini juga."


"No ... no ... no. Aku nggak mau digendong."


"Masuklah! Sebelum aku membuktikan ucapanku --"


Hastungkara berdecak kesal. Mau tidak mau, ia pun masuk ke dalam mobil dengan perasaan dongkol ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Maaf baru bisa UP Kakak-kakak terlove, semoga masih ada yang berkenan menantikan UP Derana.😊🙏🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan agar author tambah semangat UP-nya. 😉🙏

__ADS_1


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏


__ADS_2