
Happy reading 😘😘😘
Dekapan malam terurai seiring kembalinya Sang Dewi Malam ke peraduan. Berganti sapaan arunika menghangatkan seisi bumi yang bertasbih menyambut pagi dengan wajah berseri.
Seusai subuh tadi, Ranu membawa Derana ke Alkid (Alun-Alun Kidul) seperti yang disarankan oleh Randy.
Setelah berjalan selama lima belas menit dari rumah Randy, kedua wanita berbeda generasi itu sampai di tempat tujuan--Alun-Alun Kidhul (Selatan).
Karena cacing di dalam perutnya terus-menerus berteriak nyaring, Ranu mengajak Derana untuk sarapan bubur ayam di warung lesehan yang berada di sebelah barat pohon beringin kembar.
Keduanya duduk bersila di atas tikar setelah Ranu memesan dua porsi bubur ayam dan dua cangkir teh nasgitel (panas, legi, kental) untuknya dan untuk Derana.
Sembari menunggu pesanan tiba, Ranu dan Derana berbincang tentang banyak hal. Salah satunya tentang Randy--pria dingin berparas ganteng se-angkasa raya yang menjadi idaman para wanita sejagad halu, tak terkecuali Derana di kehidupan nyata.
"Randy itu seperti Rangga. Sewaktu remaja, Randy tidak banyak bicara. Ia lebih senang membaca buku di perpus dan menulis puisi dari pada berbaur dengan teman sekelasnya. Kau tahu 'kan Ra, Rangga-nya Cinta di film AADC--Ada Apa Dengan Cinta? Jika kau tahu, kau pasti akan mampu memahami karakter Randy," tutur Ranu.
"Iya Nyonya, saya tahu. Film Ada Apa Dengan Cinta sangat laris pada masanya dan tokoh Rangga menjadi idola para kaum Hawa, tak terkecuali saya," ujar Derana--menimpali ucapan Ranu.
"Kau pernah menontonnya?"
"Iya Nyonya, saya pernah menontonnya lebih dari satu kali."
__ADS_1
"Di mana kau menontonnya? Maaf, saya kepo maksimal. Karena seingat saya, di Desa Janda tidak ada gedung bioskop."
"Saya menonton film Ada Apa Dengan Cinta di rumah kakeknya Rara, Nyonya. Kebetulan, Rara mempunyai kaset Vcd film itu. Kami menonton berdua sambil ngemil marning. Makanan ringan yang terbuat dari jagung. Kata Rara, kalau di bioskop ngemilnya pop corn, tapi karena di rumah kakeknya ndak ada pop corn, Rara menggantinya dengan marning --"
Raut wajah Derana berubah sendu kala terbayang masa-masa indah yang pernah dilewatinya bersama Hastungkara--sahabat terbaik yang ia punya.
Kerinduan yang ia rasa semakin meraja, hingga sepasang manik matanya terbingkai kaca-kaca.
Ingin rasanya, ia menemui Hastungkara dan memeluk erat tubuh mungil sahabatnya seraya menumpahkan rasa rindu.
Ranu yang menyadari perubahan raut wajah Derana lantas melisankan tanya dan menatap lekat wajah wanita malang yang duduk di hadapannya itu. "Ada apa, Dera? Kenapa wajahmu tiba-tiba berubah sendu? Kau teringat sesuatu?"
Derana mengangguk pelan dan berucap lirih. "Iya Nyonya. Saya teringat masa-masa indah yang pernah saya lewati bersama Rara."
"Siapa Rara? Dan di mana dia sekarang?" Ranu kembali bertanya diikuti uluran tangan--mengusap lembut bahu Derana.
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena saya sudah ndak punya handphone, Nyonya. Handphone saya tertinggal di mobil. Saya ndak tahu kalau Mas Farel mau membuang saya di terminal. Makanya, saya meninggalkan tas yang berisi handphone dan dompet di dalam mobil," terang Derana--menjawab tanya yang dilisankan oleh Ranu.
Ranu mengulas senyum dan berusaha menghibur Derana. "Tidak usah bersedih! Saya akan meminta Randy untuk membelikanmu handphone baru. Supaya kau bisa menghubungi sahabatmu itu."
"Tapi Nyonya --"
__ADS_1
"Tidak ada kata tapi!" Ranu berucap tegas disertai senyum yang membingkai wajah.
Obrolan keduanya terpangkas saat seorang pelayan datang dengan membawa nampan yang berisi pesanan Ranu, dua porsi bubur ayam dan dua cangkir teh nasgitel.
Pelayan itu meletakkan nampan di atas meja, kemudian mempersilahkan Ranu dan Derana untuk menikmati kelezatan bubur ayam yang masih hangat.
"Matur nuwun Pak," ucap Ranu berterima kasih.
"Sami-sami," balas si pelayan tanpa terlupa menyertainya dengan senyuman ramah.
Ranu dan Derana tampak sangat menikmati menu sarapan mereka. Keduanya makan dengan lahap tanpa bersuara.
Setelah menandaskan bubur ayam, Ranu kembali membuka suara. Ia menyampaikan niat tulus keluarganya untuk membantu Derana.
Awalnya, Derana menolak dengan halus. Namun karena Ranu pandai berlisan kata dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, Derana pun menerima niat tulus mereka tanpa terlupa mengucap kata terima kasih.
"Rana, kau ada di sini --"
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Maaf Kakak-kakak terlove, UP nya segini dulu ya, karena seharian authornya riweh dan baru bisa ngetik malam ini. Insya Allah besok disambung lagi 😉🙏
__ADS_1
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terlove yang masih berkenan mengawal kisah Derana hingga end 😘😘😘🙏