
Happy reading 😘😘😘
Amel mengulas senyum saat menyadari pandangan netra Randy tertuju padanya.
Dengan kepercayaan diri tingkat dewi, ia berjalan menuju panggung pengantin untuk menghampiri Randy--mantan suaminya.
Namun sebelum kaki Amel menginjak panggung pengantin, high heels yang ia kenakan tiba-tiba saja patah.
Sontak tubuh Amel terjungkal ke belakang dan sialnya tidak ada satu orang pun yang menopangnya, sehingga tubuh Amel mendarat cantik di karpet merah.
Amel meringis dan mengaduh sembari mengusap punggungnya yang terasa nyeri-nyeri sedap.
Para tamu undangan yang menyaksikan kejadian naas yang menimpa Amel bergegas menghampirinya dan beberapa dari mereka mengulurkan tangan serta menawarkan bantuan. Namun Amel menolak, bahkan menyuruh mereka untuk pergi.
Amel hanya menginginkan Randy yang membantunya, bukan orang lain. Namun bukannya mengulurkan tangan untuk membantu Amel, Randy malah bersikap tak acuh dan memalingkan wajah.
"Rand, bantu aku berdiri! Please Rand! Badan dan kakiku sakit semua. Gendong aku, Rand!" pinta Amel dengan nada suaranya yang terdengar manja--berharap Randy akan luluh dan bergegas turun dari panggung pengantin untuk mengulurkan tangan.
"Mas, kasihan Mbak Amel. Bantu dia ya! Bagaimana pun juga, Mbak Amel adalah mamanya Malikha--putri kita." Derana mengusap lengan Randy dan berusaha membujuk suaminya itu agar bersedia membantu Amel.
"Sayang, Amel memang mamanya Malikha. Tapi dia bukan lagi istriku yang sepatutnya menjadi tanggung jawabku. Lagi pula, sudah banyak yang menawarkan diri untuk membantunya, tapi Amel menolak. Please, jangan memaksa-ku, Yang! Aku akan menyuruh Ridwan untuk membantu Amel," cetus Randy--membalas ucapan istrinya.
"Tapi, Mas --"
"Tidak ada kata tapi, Yang! Kita percayakan saja Amel pada Ridwan."
"Iya, Mbak Dera. Percayakan Amel pada saya! Saya yang akan membantunya," sahut Ridwan menginterupsi.
"Baiklah, aku ndak akan memaksa Mas Randy. Tapi tolong bantu Mbak Amel ya, Mas!"
"Siap 86, Mbak. Lebih baik, Mbak Dera fokus saja sama Big Boss! Jangan sampai Big Boss ngambek dan nggak ngasih jatah nanti malam."
"Bukannya kebalik ya, Mas? Kata orang, biasanya yang minta jatah 'kan suami, bukan istri," timpal Rani--turut bersuara.
"Ya dua-duanya, Dek. Suami dan istri sama-sama butuh dikasih jatah. Kalau suami nggak ngasih jatah ke istri, bisa-bisa si istri meriang--merindukan kasih sayang," ujar Ridwan seraya membalas ucapan Rani--kekasihnya, diikuti tawa yang mengudara.
"Ehem." Randy sengaja berdehem untuk mengalihkan atensi Ridwan dan Rani yang malah asik bercakap sembari bersenda gurau.
"Wan, segera bantu Amel dan suruh dia pergi!" titahnya kemudian.
"Baik, Rand. Aku akan membantu Amel dan menyuruhnya pergi."
"Hem. Good, Brother." Randy menarik sudut bibirnya dan menepuk bahu Ridwan--sahabat sekaligus asisten pribadinya.
Ridwan lantas berjalan menuruni panggung pengantin, diikuti oleh Rani. Keduanya mengayun tungkai--menghampiri Amel yang masih setia berbaring di atas karpet merah sambil berpura-pura menangis dan merintih kesakitan.
Sementara di panggung pengantin, Derana tampak memperhatikan wajah Randy yang bermandikan peluh. Lalu diusap wajah rupawan suaminya itu dengan selembar tisu.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang," ucap Randy dengan suaranya yang terdengar mesra.
"Iya, Mas," balas Derana.
Keduanya saling melempar senyum dan saling menatap disertai binar penuh cinta sehingga membuat Amel tersulut oleh api cemburu.
Amel teramat kesal dan sangat murka kala menyaksikan mereka berdua. Lantas ia pun bangkit dari posisi berbaring lalu duduk dengan bersandar pada kaki meja dan mengeraskan suara tangisannya untuk menyita perhatian Randy.
"Mel, jangan seperti ini! Kau seperti bocah yang kehilangan mainan. Ayo, aku bantu berdiri!" ujar Ridwan sambil mengulurkan tangan.
"Aku maunya Randy yang membantuku. Bukan kau dan bukan yang lain," sentak Amel dengan melayangkan tatapan tajam dan menangkis uluran tangan Ridwan.
Ridwan merasa jengah, begitu pula Rani dan semua orang yang menyaksikan tingkah Amel.
"Dasar wanita edyan, ndak tahu malu. Dulu ninggalin Tuan Randy, sekarang cari perhatian Tuan Randy. Aku kog jadi gemes, pingin mbejek-mbejek," gumam Kartini dan didengar oleh Rafa yang berdiri di sampingnya.
"Nggak usah dibejek-bejek, Mbok! Sebentar lagi wanita ulet itu juga akan pergi," sahut Rafa--menimpali ucapan Kartini.
"Kog bisa, Mas? Caranya bagaimana biar wanita ulet itu mau pergi tanpa dibejek-bejek dulu?"
"Nanti Simbok juga akan tahu." Rafa menarik sudut bibirnya dan melipat kedua tangan di depan da-da.
Detik berikutnya, dua orang berseragam polisi tetiba muncul dari balik kerumunan para tamu.
Dua polisi tersebut bernama Rafi dan Vino. Keduanya ditugaskan untuk menangkap Amel karena mantan istri Randy itu terbukti telah melakukan tindak kejahatan.
"Nyonya Amel, silahkan anda berdiri, kemudian ikut bersama kami ke kantor polisi!" titah Vino--memperdengarkan suara baritonnya.
"Untuk apa aku ikut? Aku bukan perampok apalagi koruptor --"
"Nyonya Amel, anda telah terbukti melakukan tindak kejahatan. Anda dan kekasih anda telah menipu beberapa pengusaha di kota ini. Kami sudah menerima laporan dan bukti-bukti dari mereka, sehingga anda tidak bisa menyangkal lagi. Lebih baik, anda segera ikut kami!"
Amel terus menyangkal dan memberontak. Namun dengan sigap, kedua polisi itu membawa paksa Amel dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Terima kasih, Pak Rafa. Atas bantuan anda, kami bisa mengetahui keberadaan Nyonya Amel dan kekasihnya," tutur Rafi sebelum masuk ke dalam mobil--menyusul Amel dan Vino.
"Sama-sama, Pak. Saya berharap, Amel dan kekasihnya dijatuhi hukuman yang setimpal, karena kejahatan yang mereka lakukan sudah merugikan banyak orang, khususnya Randy--sahabat saya dan Lukas--klien saya."
"Iya, Pak. Percayakan saja pada penegak hukum!"
"Tentu. Saya percaya, bahkan sangat percaya ... penegak hukum di negara halu ini akan bersikap adil. Tidak seperti di negara sebelah. Mereka yang memiliki kekuasaan dan uang yang melimpah, bisa terbebas dari hukuman hanya karena berpura-pura gila. Sementara seorang nenek yang terpaksa mencuri akar demi memenuhi kebutuhan perutnya, dihukum dengan sangat berat. Miris --"
"Memang sangat miris dan saya menyayangkan hal itu." Rafi menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
"Kami pamit, Pak Rafa. Sekali lagi, terima kasih atas bantuan anda," tutur Rafi diikuti uluran tangan dan sebaris senyum.
"Sama-sama, Pak," sahut Rafa--membalas uluran tangan Rafi.
Selepas mobil polisi yang membawa Amel berlalu pergi, para tamu kembali berbaur dan menikmati hidangan yang tersaji sembari mendengarkan alunan lagu yang dilantunkan oleh salah seorang diva di negeri ini ....
__ADS_1
Walaupun jiwaku pernah terluka
Hingga nyaris bunuh diri
Wanita mana yang sanggup hidup sendiri
Di dunia ini
Walaupun t'lah kututup mata hati
Begitupun telingaku
Namun bila di kala cinta memanggilmu
Dengarlah ini
Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
Walaupun mulutku pernah bersumpah
Tak sudi lagi jatuh cinta
Wanita seperti diriku pun ternyata
Mudah menyerah
Walaupun kau bukan titisan dewa
Ku takkan kecewa
Karena kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan 😉🙏
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terlove yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏
__ADS_1