Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 42


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Rana, kau ada di sini --" Atensi Derana teralihkan oleh suara yang terdengar familiar. Wanita berparas manis itu sontak merotasikan kepala--mencari asal suara. Ia mengira, suara yang didengarnya hanyalah fatamorgana. Ternyata tidak. Suara itu benar-benar nyata.


"Rara. Benarkah kau Rara sahabatku?" tanya Derana tak percaya tatkala sepasang netranya menangkap objek yang sangat ia rindu--Hastungkara.


"Iya, aku Rara. Sahabat Derana Larasati --" ucap Hastungkara diiringi lengkungan bibir--membentuk sabit, seraya menjawab tanya yang dilisankan oleh sahabatnya--Derana.


Manik mata Derana berkaca-kaca seiring rasa bahagia yang membuncah kala mendengar ucapan Hastungkara.


Gegas, dibawa tubuhnya beranjak dari posisi duduk. Lalu direngkuhnya tubuh Hastungkara--sahabat yang teramat ia rindu.


"Rara aku kangen --" bisik Derana sembari memeluk erat tubuh Hastungkara, mengungkapkan kerinduan yang selama ini bersemayam di relung hati.


"Aku juga kangen Ran --" balas Hastungkara dengan suaranya yang terdengar bergetar disertai binar mata yang menyiratkan rindu.


Tangan yang semula menggantung di udara, diangkatnya untuk membalas pelukan Derana.


Sepasang sahabat itu berpeluk erat seolah enggan untuk kembali berpisah.

__ADS_1


Sama seperti Derana, Ranu pun bergegas membawa tubuhnya berdiri kemudian merengkuh tubuh seseorang yang saat ini telah berdiri di hadapan. Dia ... Nofia Nurhayati. Ibunda Hastungkara.


Entah suatu kebetulan atau memang kehendak Sang Penulis Skenario, ternyata ibunda Hastungkara adalah sahabat Ranu--wanita yang telah melahirkan Randy--majikan Derana.


"Nur --"


"Ranu --"


Nur (Nofia) dan Ranu menumpahkan kerinduan dengan saling berpeluk erat diiringi air mata bahagia.


Sepasang sahabat itu tidak pernah menyangka, jika Sang Pengatur Waktu akan kembali mempertemukan mereka.


Puas menumpahkan kerinduan dengan saling berpeluk, kedua wanita paruh baya itu perlahan mengurai pelukan dan menyeka jejak air mata dengan jemari tangan.


"Aku tidak pernah ke mana-mana, Ran. Aku selalu di hati dan ingatanmu," ujar Nur (Nofiya)--menjawab tanya yang terlisan dengan nada bercanda tanpa terlupa mengiringinya dengan seulas senyum.


Ranu berdecak kesal sebab Nur menanggapi ucapannya dengan candaan. Padahal saat ini ia tengah serius. "Ck, aku bertanya serius Nur --" sungutnya.


"Dan aku menjawab dengan serius. Bukankah ucapanku tadi sangat benar? Aku selalu di hati dan ingatanmu 'kan?" sahut Nur diikuti senyum yang terkembang.


"Iya, kau memang selalu di hati dan ingatanku, Nur. Tapi yang aku maksud bukan itu --"

__ADS_1


"Iya, aku tahu Ran. Maaf, tadi aku hanya bercanda. Setelah menikah, aku hijrah dari Desa Janda dan menetap di kota Jogja," terangnya yang sukses membuat bola mata Ranu berotasi sempurna.


"Jadi, selama ini kita tinggal di kota yang sama. Tapi kenapa kita tidak pernah bertemu?"


"Sudah kehendak Illahi, Ran. Lagian, kenapa kau tidak bertanya pada ayahku? Apa mungkin, sebenarnya kau tidak bersungguh-sungguh mencariku?"


"Nur, asal kau tahu ... sudah puluhan kali aku datang ke Desa Janda untuk menemui ayahmu dan bertanya kepada beliau--di mana keberadaanmu. Namun beliau tidak pernah berkenan memberitahu. Bahkan, beliau memintaku untuk tidak lagi datang ke Desa Janda. Jika kau memintaku untuk bersumpah, aku akan bersumpah. Demi Allah, aku bersungguh-sungguh mencarimu Nur --" terang Ranu dengan merendahkan suara diikuti raut wajah yang berubah sendu.


"Maaf Ran, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Sama sekali tidak. Aku percaya, selama ini kau bersungguh-sungguh mencariku. Namun ketahuilah, ayahku tidak pernah memberitahu bahwa kau datang ke Desa Janda dan bertanya kepada beliau, di mana keberadaanku," ucapnya berterus terang.


"Mungkin, ayahmu masih membenciku sebab aku pernah menyeretmu ke dalam permasalahan yang teramat rumit dan mengancam nyawamu. Karena membantuku, kau menjadi bulanan-bulanan seluruh warga Desa Janda. Mereka mengira ... kau sengaja membantu proses perceraianku karena menaruh hati pada Bimo--mantan suamiku dan kau ingin merebut Bimo dariku. Kenyataannya, kau sangat membenci mantan suamiku itu --" Suara Ranu tercekat bersamaan air bening yang jatuh tanpa permisi dari kedua sudut netra.


"Bunda --"


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf, dua hari ini author hanya UP sedikit dan sangat terlambat karena kesibukan di RL yang tidak bisa ditinggalkan 🙏🙏🙏


Mohon maaf juga jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang berkenan mengawal kisah Derana hingga end. 😘😘😘🙏


__ADS_2