
Happy reading 😘😘😘
Derana terkesiap saat mendapati seisi rumah berantakan bak kapal pecah. Begitu juga dengan Randy, Usman, dan Sukma.
Benak mereka membisikkan tanya, apa gerangan yang telah terjadi?
Dengan langkah pelan, Usman dan Sukma berjalan menghampiri Ratri yang tengah berdiri di sudut ruang. Pandangan netra wanita paruh baya itu tampak kosong dan nafasnya terengah-engah seperti orang yang tengah kelelahan.
Sementara Randy dan Derana bergegas mengambil air wudhu untuk bersuci sebelum menunaikan perintah Kyai Hasan--mengusir jin jahat yang berada di dalam tubuh Ratri dengan melafazkan ayat-ayat suci Al Qur'an.
Usai berwudhu, Randy dan Derana membawa langkah mereka menuju ruang tamu--tempat Ratri, Usman, dan Sukma berada.
"Pak, bagaimana keadaan Ibu?" tanya yang Derana lisankan setelah ia berdiri di hadapan ayahnya.
Usman menanggapi pertanyaan yang dilisankan oleh putrinya dengan menggeleng lemah dan menampakkan raut wajah sendu.
"Entahlah, Nduk. Bapak juga ndak tahu. Segera sadarkan ibumu, Nduk! Kasihan ibumu. Bapak ndak tega melihat keadaan ibumu seperti ini," pinta Usman mengiba.
"Kau --" Ratri membuka kedua netranya lebar-lebar dan menunjuk Derana dengan tongkat kayu.
"Kenapa, kau kembali ke rumahku?" tanyanya kemudian dengan meninggikan intonasi suara.
"Ibu, Rana kangen. Rana sangat merindukan Ibu," ucap Derana sembari berjalan menghampiri Ratri--ibunya.
"Dasar anak setan, anak pembawa sial, aku ndak sudi melihatmu lagi! Pergi dari rumahku! PERGI!"
Ratri mengayun tongkat yang berada di dalam genggamannya dan bersiap memukulkan tongkat itu ke tubuh Derana--putri kandungnya.
Dengan sigap, Randy menangkap tongkat yang sudah terayun ke udara lalu merebutnya dari genggaman tangan Ratri.
"Siapa kau? Berani-beraninya melindungi anak setan itu!" Ratri melempar tatapan tajam dan berucap dengan intonasi yang semakin meninggi. Lantas ia berusaha untuk merebut kembali tongkatnya.
Tanpa membalas ucapan Ratri, Randy meminta Usman dan Sukma untuk memegangi tangan wanita yang masih dipengaruhi oleh ilmu sihir itu. Sementara ia mengenakan sarung tangan sebelum memegang pucuk kepala Ratri.
"Derana, kau ikut melafazkan ayat-ayat Al Qur'an!" titahnya.
"Baik Tuan." Derana mengangguk. Kemudian dengan khusyuk melafazkan ayat-ayat suci Al Qur'an dan melangitkan pinta kepada Illahi--Tuhan Yang Maha Kasih, agar ibunya terbebas dari pengaruh ilmu sihir dan jin yang bersemayam di dalam tubuh ibunya itu segera pergi.
Ratri berusaha memberontak ketika Randy memegangi pucuk kepalanya dan melafazkan ayat-ayat Al Qur'an yang telah diajarkan oleh Kyai Hasan.
"Arghhhh, lepaskan aku!" Ratri berteriak dan terus memberontak hingga tubuhnya serasa lemas.
"Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayi'in min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. Wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim .... "
Artinya: Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk, dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Allah melainkan dengan seizin-Nya. Allah mengetahui semua apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al Baqarah: 255).
__ADS_1
Setelah Randy melafazkan ayat kursi sebanyak tiga kali, Ratri memejamkan netra dan meluruhkan tubuhnya yang serasa lunglai tanpa daya.
"Ran, ambilkan air putih untuk ibumu!" pinta Randy kemudian.
"Baik Tuan." Derana bersegera melangkah ke dapur dan mengambil air putih untuk ibunya.
Dengan langkah lebar, Derana kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas air putih di tangannya.
"Ini Tuan, air putihnya --" ucap Derana sembari menyerahkan gelas bening berisi air putih yang ia bawa pada sang majikan.
Randy menerima gelas tersebut kemudian memberikannya kepada Ratri.
"Bu, minumlah air putih ini!" pinta Randy.
Ratri mengangguk patuh lalu meminum air putih yang diberikan oleh Randy hingga tandas.
"Alhamdulillah," ucap Randy dan Derana hampir bersamaan.
Perlahan, Ratri membuka kelopak mata lalu menyapu seluruh ruang dengan pandangan netranya.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya yang terlisan dari bibir Ratri dengan suaranya yang terdengar lemah.
Usman mengulas senyum. Kemudian ia menjawab tanya yang dilisankan oleh Ratri diikuti uluran tangan mengusap lembut pucuk kepala istrinya itu. "Tidak terjadi apa-apa pada Ibu. Ibu hanya kelelahan setelah seharian menyelesaikan pekerjaan rumah. Lebih baik, Ibu segera beristirahat di kamar!" Usman terpaksa berdusta. Ia sungguh tidak ingin mental Ratri terguncang bila mengetahui kejadian yang sebenarnya sebab saat ini keadaan istrinya itu tampak lemah.
"Benarkah, tidak terjadi apa-apa pada ibu?" Ratri kembali melisankan tanya karena ia merasa sangsi dengan jawaban yang diberikan oleh Usman.
"Seperti yang dikatakan oleh Bapak. Tidak terjadi apa-apa pada Ibu. Ibu hanya kelelahan dan kurang beristirahat." Derana turut bersuara untuk meyakinkan ibunya yang tampak meragu.
Hening. Tidak ada satu pun yang berani membuka suara untuk menanggapi kata-kata yang terlisan dari bibir Ratri sebab mereka tidak ingin jika salah bicara.
"Rana, siapa pemuda yang berdiri di sampingmu? Apa dia ... saudara Farel?" Ratri memecah hening dengan melontarkan kalimat tanya.
"Beliau ... Tuan Randy, Bu. Majikan Rana dan bukan saudara Mas Farel," terang Derana seraya memberi jawaban.
Ratri manggut-manggut lalu kembali menghujani putrinya dengan kalimat tanya. "Di mana suamimu, Nduk? Kenapa, dia ndak ada di sini?"
"Mas Farel ... pulang ke Desa Ringin, Bu." Derana menjawab ragu.
"Kenapa dia ndak mengajakmu, Nduk? Apa mungkin hubungan kalian sedang ndak baik-baik saja?"
Derana menerbitkan seutas senyum dan duduk bersimpuh di hadapan ibunya lalu ia berkata, "Mas Farel mengajak Rana, Bu. Namun karena suatu hal, Mas Farel meninggalkan Rana di terminal. Besok pagi, Rana akan menceritakan kepada Ibu semua yang Rana alami selama berumah tangga dengan Mas Farel. Sekarang, Ibu istirahat dulu ya! Jaga kesehatan Ibu! Rana ndak ingin jika Ibu sakit."
"Iya, Nduk." Ratri menuruti permintaan sang putri. Dengan bantuan Usman dan Sukma, ia beranjak dari posisi duduk diikuti oleh Derana.
"Nak Randy, ibu tinggal dulu ya. Ibu mau istirahat. Karena sudah larut malam, lebih baik Nak Randy menginap saja di rumah kami. Ibu takut kalau Nak Randy memaksakan diri untuk pulang, Nak Randy akan dihadang oleh begal di tengah jalan!"
"Ibu tidak perlu cemas! Insya Allah tidak akan ada begal yang menghadang saya. Lagi pula, jika saya menginap di rumah Ibu, mungkin malah akan menimbulkan fitnah."
__ADS_1
Ratri menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan sebelum kembali bertutur. "Kami sudah terbiasa difitnah, Nak Randy. Jadi, kami sudah kebal dengan fitnahan yang dihembuskan oleh mereka. Ibu berharap, Nak Randy menginap di rumah kami. Jika Nak Randy berkenan, ibu akan menyuruh Bapak untuk meminta ijin kepada Bapak Kepala Desa."
"Bapak sependapat dengan Ibu, Nak Randy. Lebih baik Nak Randy menginap di rumah kami. Namun jika Nak Randy keberatan, bagaimana kalau Nak Randy bermalam di kediaman Bapak Kepala Desa? Terus terang, bapak juga khawatir jika Nak Randy dihadang oleh begal atau klitih."
"Klitih? Jadi, di desa ini juga ada klitih, Pak?" Randy melisankan tanya diikuti tautan kedua pangkal alisnya.
"Iya, Nak Randy. Oleh karena itu, kami sangat berharap ... Nak Randy berkenan bermalam di rumah kami atau di kediaman Bapak Kepala Desa. Besok pagi setelah sarapan, Nak Randy bisa melanjutkan perjalanan ke kota."
Randy bergeming. Ia tampak berpikir sebelum mengutarakan keputusan.
"Baiklah, Pak, Bu. Saya akan bermalam di kediaman Bapak Kepala Desa saja," cetus Randy setelah sesaat terdiam.
"Syukur Alhamdulillah. Kami jadi ndak khawatir lagi, Nak Randy. Mari bapak antarkan ke rumah Pak Wijaya!"
"Pak Wijaya?"
"Iya, Nak Randy. Pak Wijaya itu Kepala Desa di desa ini. Dan beliau adalah kakeknya Hastungkara--sahabat Derana."
"Jadi, Hastungkara cucu Pak Wijaya--Bapak Kepala Desa?"
"Benar, Nak Randy. Pak Wijaya seorang kepala desa yang sangat bijak dan berhati mulia. Bapak sangat yakin, Pak Wijaya berkenan mengijinkan Nak Randy bermalam di kediaman beliau --"
"Pak, segera antarkan Nak Randy ke kediaman Pak Wijaya! Kasihan Nak Randy. Pasti Nak Randy sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat," sahut Ratri memangkas ucapan suaminya.
"Baiklah, Bu. Tapi, Ibu ndak pa-pa 'kan kalau bapak tinggal?"
"Ibu ndak pa-pa, Pak. Ada dua putri kita yang menjaga ibu--Derana dan Sukma. Tapi, Bapak jangan ikut bermalam di kediaman Pak Wijaya, karena ibu ndak bisa kalau tidur tanpa ditemani guling hidup."
"Ehem." Derana berdehem kala mendengar ucapan ibunya yang terkesan manjah dan sweet.
Sukma pun ikut menimpali dengan berpura-pura terbatuk. "Uhuk. Uhuk --"
"Jangan nganan, Nduk! Kalian berdua harus maklum. Kalau ibu kalian sudah sadar ... ya begini. Ucapan dan sikapnya selalu sweet terhadap bapak."
"Kami nggak nganan kog, Pak. Lempeng saja dan ndak belok-belok," celoteh Derana dan disambut gelak tawa oleh Usman, Sukma, dan Ratri.
Sementara Randy, hanya mengulas senyum. Di dalam benak, duda muda berparas ganteng itu melangitkan kalimat syukur atas kasih sayang Illahi yang telah mengembalikan jati diri Ratri dan memberi secercah kebahagiaan untuk keluarga Derana ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
NB: Klitih kepanjangan dari keliling golek getih. Umumnya kejahatan tersebut dilakukan oleh anak-anak berusia remaja.
Maaf Kakak-kakak terlove, author baru bisa UP malam ini 🙏🙏🙏
Mohon maaf juga jika ada salah kata dan bertebaran typo 😊🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan agar author lebih semangat berkarya 😉🙏🙏
Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏