Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 38


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Tunggu, Tuan! Ta-di saya hanya ingin menyampaikan bahwa kedua orang tua Tuan dan seorang wanita cantik, ingin bertemu dengan Tuan. Sekarang, mereka sedang menunggu Tuan di bawah --" tutur Derana seraya menyampaikan rangkaian kata yang sedari tadi ingin ia utarakan.


Randy menghembus nafas kasar, lantas menanggapi ucapan Derana dengan mimik wajah yang terlihat dingin dan suara bariton bernada khas.


"Hanya itu yang ingin kau sampaikan?"


Derana mengangguk pelan. Meski rasa takut tengah mendominasi, ia memberanikan diri menatap manik hitam sang majikan yang membuat degup jantungnya berirama merdu. "Iya Tuan, hanya itu," jawabnya lirih.


"Owalah, jadi Mbak Dera hanya ingin menyampaikan itu. Kenapa, tadi Mbak Dera bilang a-nu? Pasti, karena Mbak Dera gugup ya gara-gara berpelukan dengan Randy--duda ganteng seangkasa raya? ya 'kan ... ya 'kan?" Seolah terlupa dengan ancaman yang dicetuskan oleh Randy, Ridwan menimpali ucapan yang dilisankan oleh Derana dengan melontarkan candaan sembari menaik turunkan kedua alisnya.


Seketika Derana menundukkan wajah dan melipat bibir kala mendengar candaan yang dilontarkan oleh Ridwan. Ia teramat malu saat teringat kejadian beberapa menit yang lalu--tatkala tubuhnya dan tubuh sang majikan saling bersentuhan.


Karena merasa risih dan jengah, Randy kembali memperdengarkan suara bariton bernada ancaman disertai tatapan menghunus untuk membungkam mulut Ridwan yang telah asal melontarkan candaan. "Sepertinya, kau lupa dengan ancamanku. Baiklah, jangan menyesal jika bulan depan ... aku benar-benar memotong gajimu seratus persen. Itu artinya, kau sama sekali nggak menerima gaji satu rupiah pun."


Kali ini, Ridwan berusaha mengalahkan rasa takutnya terhadap ancaman yang dilayangkan oleh Randy.

__ADS_1


Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Ridwan membalas ucapan sang atasan. "Aku nggak lupa, Rand. Aku hanya ingin mencairkan suasana. Perkara kau mau memotong gajiku, itu sudah hakmu sebagai seorang atasan. Tapi, apa kau nggak takut jika di akherat dicap sebagai penguasa dzalim? Aku sudah bersiap hidup menggelandang, asal kali ini kau mau mendengarkan ucapanku." Ridwan sejenak menjeda ucapannya dan menatap intens wajah Randy diikuti uluran tangan mengusap bahu sahabatnya itu.


"Rand, aku tahu bahkan sangat tahu ... setiap Tuan Reno dan Nyonya Ranu datang ke rumah ini, kau merasa tertekan karena mereka selalu mendesakmu untuk segera menikah lagi. Namun ketahuilah, kedua orang tuamu sangat menyayangimu dan juga Malikha. Mereka mendesakmu untuk segera menikah lagi karena merasa kasihan pada Malikha. Putri kecilmu membutuhkan kehadiran seorang ibu yang akan mencurahinya kasih sayang. Kau nggak boleh egois, Rand! Penuhi permintaan kedua orang tuamu dan bahagiakan putri semata wayangmu! Lupakan Amel dan bukalah lembaran baru! Menikahlah dengan wanita pilihan orang tuamu! Aku yakin, mereka nggak asal memilihkan calon istri untukmu," tuturnya seraya menyambung ucapan yang sejenak terjeda tanpa mengalihkan tatap.


"Wan, semua yang kau ucapkan itu memang benar. Namun asal kau tahu, aku nggak bisa menikahi seorang wanita yang aku sendiri belum mengenal pribadinya."


"Tapi kau bisa mengenal wanita pilihan kedua orang tuamu dengan cara ta'aruf. Dan setelah ta'aruf, nikahilah wanita itu --"


Randy memangkas ucapan Ridwan dengan mengibaskan tangannya ke udara.


"Tidak semudah itu, Wan. Kau tahu 'kan, aku pernah mengalami kegagalan? Bahtera yang aku bangun dengan ketulusan cinta, hancur lebur sebelum mencapai tujuan utama pernikahan. Sakinah, mawadah, warahmah yang aku impikan ketika mengikrarkan janji suci di hadapan penghulu dan para saksi, ternyata hanya impian semu. Dan Amel--wanita yang aku harapkan bisa menjadi istri saleha, ternyata dia seorang pendusta. Itulah alasan, kenapa aku selalu menolak untuk menikah lagi. Bagiku, semua wanita sama. Mereka berpotensi menyiram garam di lukaku yang masih menganga --" Randy meraup udara dalam-dalam dan mengalihkan pandangan netranya--menatap langit-langit kamar seraya menahan embun yang sudah bergelayut manja agar tak tertumpah, sebab ia tidak ingin terlihat rapuh dan menyedihkan di hadapan dua orang yang tengah menatapnya lekat.


Setelah kedua orang tuanya meninggal, Ridwan diangkat anak oleh sahabat alamarhum ayahnya. Ia diperlakukan selayaknya anak sendiri.


Namun dua tahun yang silam, Ridwan harus menelan kenyataan pahit. Ia diusir dari rumah orang tua angkatnya, karena fitnah yang keji.


"Rand, aku yakin di dunia ini ... pasti masih banyak wanita berkepribadian seperti mereka," sambungnya diikuti sebaris senyum yang memperlihatkan kedua lesung pipi.


Randy bergeming dan berusaha menelaah ucapan Ridwan. Kalbunya membenarkan ucapan sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara.

__ADS_1


Menit berikutnya, Randy menarik kedua sudut bibir dan menepuk bahu Ridwan. Kemudian ia mengayun tungkai, meninggalkan dua orang yang masih berdiri di tempat yang sama dengan pandangan netra tak lepas dari dirinya.


Hembusan nafas berat mengiringi ayunan tungkai--menjejak lantai ruang tamu. Di ruangan itu, terlihat ketiga tamu tengah duduk menunggu.


Raut wajah tanpa ekspresi membersamai sapaan yang terlisan dan mengalihkan atensi.


"Randy putraku." Ranu melebarkan senyum dan membawa tubuhnya berdiri. Kemudian direngkuhnya tubuh tegap sang putra yang selalu ia rindu lalu dibawanya ke dalam pelukan.


"Bunda rindu, Sayang." Bisikan lembut menggetarkan jiwa dan mendorong tangan yang semula menjuntai--membalas pelukan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Maaf baru bisa UP, karena otak othornya sedang dalam mode lemot. Ngetik dari siang, baru kelar jam 10 malam 😌


Untuk menyemangati author, jangan lupa tinggalkan jejak dukungan. 😉


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terlove yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏


__ADS_2