
Happy reading 😘😘😘
Usai menunaikan ibadah sholat dzuhur, Usman menghubungi Farel. Ia meminta Farel untuk menemuinya di rumah. Namun Farel tidak mengindahkan permintaan ayah mertuanya itu. Farel beralasan tengah menggarap proyek di kota.
Usman pun memutuskan berangkat ke kota untuk menemui Farel di tempat kerjanya. Ia bertekad meminta penjelasan dari Farel hari ini juga.
"Pak, ibu ikut --" pinta Ratri dengan memasang wajah memelas.
"Ndak usah Bu. Ndak usah ikut! Bapak ndak ingin, Ibu mengacaukan niat bapak."
"Pak, permasalahan Derana dan Nak Farel harus dibicarakan dengan cara baik-baik. Saat nanti meminta penjelasan dari menantu kita, Bapak jangan sampai tersulut emosi! Siapa tahu, Derana melakukan kesalahan besar yang membuat Nak Farel murka dan memutuskan untuk meninggalkan Derana di terminal."
"Bapak sudah sangat jengah mendengar perkataan Ibu yang selalu saja membela Farel dan mencari kesalahan putri kita. Buka mata hati Ibu lebar-lebar, supaya Ibu bisa mengetahui mana yang salah dan mana yang benar! Jujur, bapak merasa, Ibu sudah kehilangan jati diri. Ibu bukanlah wanita lembut dan penuh welas asih yang bapak kenal dulu." Usman sedikit meninggikan intonasi suara karena tersulut emosi kala mendengar ucapan Ratri.
Ia sungguh tidak mengerti ... mengapa istrinya itu tetap bersikeukeuh membela sang menantu yang jelas-jelas telah tega membuang Derana di terminal dan malah terkesan menyalahkan Derana--putri kandung mereka.
"Sudahlah, jika ibu masih membela menantu kita yang be-jat itu, bapak sendiri yang berangkat ke kota untuk menemui Farel."
"Tapi Pak --"
Usman melenggang pergi tanpa menghiraukan kata-kata yang ingin diucapkan oleh istrinya.
Karena tidak dihiraukan oleh suaminya, Ratri berteriak kesal dan melontarkan kalimat ancaman.
Wanita paruh baya yang masih dipengaruhi oleh ilmu sesat itu mengancam akan mengusir Usman dan Sukma dari rumah jika Usman tidak membawanya ikut serta ke kota untuk menemui menantu mereka.
Usman tetap tak acuh. Ia benar-benar sudah tidak peduli jika Ratri akan membuktikan ancaman yang dilontarkannya. Ia berpikir, lebih baik diusir dari rumah dari pada terus menerus mengorbankan kebahagiaan Derana--putri yang telah dibesarkannya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Pak, Sukma ikut ya --" pinta Sukma mengiba.
"Ndak usah, Nduk! Biar bapak saja yang menemui mas iparmu."
"Pak, Sukma ndak ingin bapak kenapa-napa. Sukma takut jika Mas Farel meminta anak buahnya untuk mengeroyok dan memukuli Bapak --" ucap Sukma mengutarakan kecemasannya.
"Farel ndak mungkin berani menyuruh anak buahnya untuk mengeroyok dan memukuli bapak. Lha wong anak buah Farel banyak yang kenal akrab sama bapak." Usman mengulas senyum dan mengusap lembut rikma putrinya.
"Pokoknya, Sukma tetep ikut Pak. Setelah menemui Mas Farel, kita ke rumah majikan Mbak Rana. Sukma kangen banget sama Mbak Rana, Pak. Sukma ingin menemui Mbak Rana --"
Usman tidak tega melihat wajah putri bungsunya terbingkai sendu. Ia pun mengalah dan mengijinkan Sukma untuk turut serta berangkat ke kota bersamanya.
"Tunggu!" Ratri menghadang sepeda motor yang dikendarai oleh Usman dengan merentangkan tangan.
"Kalau Bapak dan Sukma tetap bersikeukeuh untuk pergi, jangan harap pintu rumah ini akan terbuka kembali untuk kalian."
"Terserah Ibu. Kalau pun pintu rumah ini ndak terbuka kembali untuk kami ndak pa-pa. Kami masih bisa tidur di rumah orang tuaku," tandas Usman dengan suaranya yang terdengar lantang.
"Putriku Rana bukan anak setan, Bu. Dia anak kita. Kalau Rana anak setan, berarti ibu setannya."
Setelah membalas ucapan Ratri dengan melontarkan kata-kata bernada sarkasme, Usman menggeber sepeda motor buntutnya--meninggalkan Ratri yang tengah meneriakkan sumpah serapah dan kata-kata yang tidak layak didengar oleh indera pendengaran.
Selama dua jam, Usman melajukan sepeda motor buntutnya, menembus keramaian kota Jogja di siang yang terik.
Sesampainya di depan gedung yang tengah digarap oleh Farel dan anak buahnya, Usman menghentikan laju sepeda motor dan meminta Sukma untuk turun.
Kemudian ia menaruh sepeda motor buntutnya sebelum mereka mengayun tungkai--menemui Farel.
"Farel --" Suara Usman mengalihkan atensi Farel dan para pekerja yang tengah mengaduk semen. Mereka kompak menoleh ke arah asal suara dan memasang raut wajah penuh tanya.
__ADS_1
"Bapak? Kenapa, Bapak datang ke tempat kerjaku?"
"Rel, bapak butuh penjelasan darimu."
"Penjelasan apa, Pak?"
"Jelaskan pada Bapak, kenapa kau meninggalkan Derana di terminal? Apa kau sengaja membuang putriku?" Usman merendahkan nada suara. Ia berusaha menahan luapan api amarah yang sudah bergejolak di dalam dada.
Dengan pongahnya Farel menjawab tanya yang dilisankan oleh Usman--pria yang masih berstatus sebagai ayah mertuanya. "Iya. Aku sengaja membuang Dera di terminal karena dia sudah ndak berguna. Dera ndak bisa memberi kami keturunan, jadi untuk apa mempertahankannya sebagai istri? Aku ingin berpisah dengan Dera, Pak --"
Usman memangkas ucapan Farel dengan melayangkan tamparan yang tepat mengenai pipi Farel dan meninggalkan jejak semburat merah. "Kurang a-jar!" ucapnya dengan intonasi suara yang meninggi diikuti tatapan nyalang.
"Kalau kau ingin berpisah dengan putriku, seharusnya kau kembalikan dia padaku dengan cara baik-baik, bukan malah membuangnya di terminal! Kau memang pria be-jat yang sama sekali ndak punya rasa tanggung jawab. Aku menyesal menikahkan putriku dengan pria be-jat sepertimu." Usman meluapkan kemarahannya dengan melontarkan kata-kata sarkas.
Sebagai seorang ayah, Usman sungguh tidak rela jika putrinya diperlakukan seperti seonggok sampah. Dibuang setelah dirasa tidak berguna.
"Dengar Farel, sampai kapan pun aku ndak akan memafkanmu! Saat ini kau masih bisa tertawa dan bersenang-senang di atas penderitaan putriku, tapi ketahuilah bahwa Gusti Allah mboten sare. Allah tidak pernah tidur. Dia mendengar pinta yang dilangitkan oleh hamba-Nya yang terdzolimi. Kelak, kau akan merasakan apa yang saat ini putriku rasakan. Kau akan menyesal karena telah membuang batu permata. Kau akan bersimpuh di telapak kaki Derana dan memintanya untuk kembali. Dan jika saat itu tiba, aku adalah orang pertama yang akan menendangmu ke jalanan."
Puas meluapkan amarahnya, Usman memutar tumit lalu melangkah pergi, diikuti oleh Sukma yang berjalan di belakang.
Di dalam hati, Usman melafazkan janji. Ia akan membantu Derana untuk mengurus proses perceraian agar putrinya itu segera terlepas dari Farel.
Ia tidak peduli dengan kemurkaan Ratri--istrinya. Yang terpenting bagi Usman adalah kebahagiaan Derana ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan untuk menyemangati author. 😉🙏
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏