Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 43


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Bunda --"


Atensi empat Hawa yang tengah tenggelam dalam berbagai macam rasa, teralihkan oleh suara bariton milik Randy, sehingga mereka pun sontak menoleh ke arah sumber suara.


"Randy --" ucap Ranu lirih. Wanita paruh baya itu segera menghapus air mata yang membasahi wajahnya dengan jemari tangan. Lantas ditariknya kedua sudut bibir agar sang putra tidak merasa curiga dan dihinggapi rasa cemas.


"Rand, kenapa tidak memberitahu bunda terlebih dahulu jika kau ingin menyusul kami? Lalu, di mana cucu bunda? Mengapa, kau tidak membawanya?" Ranu menghujani putranya dengan kalimat tanya untuk mengalihkan atensi. Ia mengerti jika Randy tengah membaca raut wajahnya yang masih terbingkai sendu.


"Malikha sedang bermain bersama ayah di taman Bund." Randy menjawab singkat tanpa mengalihkan tatap dari wajah sendu sang bunda.


"Kenapa Bunda menangis?" tanyanya kemudian.


"Bunda tidak kenapa-napa Rand. Bunda hanya terharu. Setelah puluhan tahun terpisah, bunda dipertemukan kembali dengan Tante Nur--sahabat terbaik yang bunda miliki. Dan air mata yang membasahi wajah bunda ini, bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia dan luapan rasa haru," tutur Ranu dengan sedikit berdusta.


Sebenarnya, air mata yang membasahi wajah Ranu adalah luapan rasa sedih yang memenuhi relung hati kala ia teringat masa lalu. Masa di mana Nur--sahabatnya menjadi bulan-bulanan warga Desa Janda karena fitnahan keji yang sengaja dihembuskan oleh Bimo--mantan suaminya.


Randy tak lantas percaya dengan jawaban yang diberikan oleh sang bunda. Dari raut wajah bundanya yang tampak sendu, Randy sangat yakin bahwa wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu tengah bersedih. Namun Randy memilih untuk tidak membahasnya saat ini.


"Alhamdulillah. Randy kira, ada seseorang yang telah berani menyakiti hati Bunda. Randy lega jika tangisan Bunda, benar-benar bukan tangis kesedihan, tetapi tangis bahagia dan luapan rasa haru," sahutnya seraya membalas ucapan sang bunda.


"Iya Sayang. Oya, perkenalkan ... sahabat bunda, Tante Nur. Dan ... Nur, pemuda gagah dan berparas ganteng ini putra semata wayangku ... Ghafif Randy Athallah. Panggil saja Randy!" tutur Ranu memperkenalkan Nur kepada Randy, pun sebaliknya. Memperkenalkan Randy kepada Nur--sahabatnya.


"Randy --"


"Tante Nur. Tapi, tante lebih senang jika dipanggil Tante Nofia," ucap Nur diiringi senyum yang terkembang.


"Baiklah, Tante Nofia." Randy mengulas senyum dan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Sama seperti Randy, Nur menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada tanpa memudar senyum.


"Nur, kau belum memperkenalkan anak gadismu pada kami," ucap Ranu menginterupsi sambil melempar pandang ke arah gadis yang berdiri sejajar dengan Derana.


"Oh iya, aku sampai terlupa Ran. Hastungkara, kemarilah Nak!" pinta Nur dengan suaranya yang terdengar lembut.


Hastungkara mengangguk patuh. Lantas membawa tubuhnya berdiri sejajar dengan sang bunda.


"Hastungkara --" ucapnya memperkenalkan diri lantas mencium punggung tangan Ranu dengan takzim.


"Hastungkara. Nama yang sangat cantik, secantik parasmu Nduk cah ayu." Ranu melisankan kalimat pujian sembari mengusap lembut jilbab yang dikenakan oleh Hastungkara.


"Terima kasih, Tante," balasnya diikuti sebaris senyum yang menambah nilai kecantikan parasnya yang ayu alami.


"Nduk, perkenalkan ... ini putra Tante. Panggil saja Mas Randy!" tutur Ranu--memperkenalkan putranya.

__ADS_1


Hastungkara mengangguk dan seketika mengalihkan tatap.


Ditatapnya dengan intens pahatan rupawan yang tersuguh di hadapan seiring kerutan yang tercetak jelas di antara kedua pangkal alis.


Hastungkara merasa, ia tidak asing dengan wajah pria yang memenuhi ruang pandangnya saat ini.


"Bukankah anda Pak Randy, pemilik perusahaan terbesar di kota ini--Arta Corp?" tanyanya ragu.


"Iya, aku Randy--pemilik Arta Corp." Nada suara Randy terdengar datar dan raut wajahnya terlihat dingin.


Netra Hastungkara seketika berbinar kala mendengar jawaban yang diberikan oleh Randy. Ia tidak menyangka, bisa bertemu dengan orang nomor 1 yang telah berjasa mendirikan Sekolah Arta--Sekolah Dasar yang didirikan dengan tujuan untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung agar mereka tetap bisa menuntut ilmu tanpa terbebani biaya apapun.


"Woahhh, saya nggak percaya bisa bertemu langsung dengan Bapak Randy, pendiri Sekolah Arta. Sekolah yang dikhususkan untuk anak--anak yang kurang beruntung. Saya kagum pada anda, Pak. Selain mendirikan Sekolah Arta, anda juga pendiri Rumah Pintar dan saya salah satu relawan yang mengajar di sana --"


"Jangan panggil putra tante ... 'Bapak'! Tante risih mendengarnya. Seolah, putra tante yang gantengnya se Indonesia Raya ini sudah tua. Panggil putra tante ... Mas. Mas Randy!" ujar Ranu memangkas ucapan Hastungkara seraya melontarkan protes.


"Maaf Tante. Bukannya di kantor, putra Tante juga dipanggil 'Bapak' oleh semua karyawan beliau? Jadi, saya juga memanggil putra Tante 'Bapak'. Lagi pula, Pak Randy 'kan memang sudah menjadi seorang bapak, Te. Akan terkesan kurang sopan jika saya memanggil beliau 'Mas'."


Ucapan yang terlontar dari bibir Hastungkara--menggelitik indera pendengaran, sehingga Ranu tidak bisa menahan tawa.


"Loh, kog Tante malah ketawa?" Hastungkara bertanya heran.


"Maaf Sayang. Tante tidak bisa menahan tawa karena ucapanmu tadi. Tante tidak menyangka, ternyata kau mirip sekali dengan bundamu, Nduk. Lucu, polos, kalau bicara suka ceplas-ceplos, dan menggemaskan," jawabnya berterus terang.


"Ya wajarlah. Lha wong Rara itu putriku. Jadi dia mirip aku. Kalau mirip orang lain, mungkin tertukar saat di rumah sakit." Nur turut menimpali dengan melontarkan candaan dan membuat Hastungkara merengut.


Hastungkara menurut. Ia pun mendaratkan bobot tubuhnya di atas tikar, diikuti oleh Ranu dan Nur.


"Bund, Randy tinggal dulu ya? Ada meeting pagi ini," pamit Randy.


"Loh, meetingnya tidak bisa diwakilkan oleh Ridwan?"


"Maaf Bunda, nggak bisa."


"Sayang sekali. Padahal, ada hal penting yang ingin bunda bicarakan dengan kalian. Demi bunda, minta Ridwan untuk mewakilimu, Rand! Kali ini saja!" pinta Ranu penuh harap.


"Maaf Bunda, lain kali saja ya. Randy benar-benar tidak bisa mewakilkan meeting kali ini." Randy tetap bersikeukeuh menolak.


"Baiklah Rand. Tapi jangan lupa untuk segera menghubungi orang tua Derana. Supaya Derana segera terlepas dari jerat suaminya."


"Iya Bunda. Randy akan segera menghubungi orang tua Derana," ucapnya lantas mengalihkan pandang ke arah Derana.


"Dera, segeralah pulang ke rumah! Mbok Karti pasti sudah menunggu. Maaf, aku belum bisa mengantarmu ke Pasar Beringharjo."


"Baik, Tuan. Ndak pa-pa, saya bisa ke Pasar Beringharjo-nya lain kali. Nanti, saya akan pinjam baju Bu Karti lagi." Derana menyahut ucapan sang majikan dengan menundukkan wajah untuk menghindari tatapan si mata elang yang selalu membuat degup jantungnya bertalu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku yang mengantarmu ke Pasar Beringharjo, Ran? Karena ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu," sahut Hastungkara dan Derana membalasnya dengan anggukan.


"Iya, Ra. Ada banyak hal juga yang ingin aku ceritakan padamu."


"Yasudah, terserah kalian saja. Maaf, saya harus pamit sekarang. Bunda, Tante Nofia, saya pamit. Assalamu'alaikum --" ucap Randy sebelum memutar tumit dan mengayun tungkai.


"Wa'alaikumsalam --" balas mereka kompak.


Selepas punggung sang majikan hilang dari pandangan netra, Derana undur diri. Namun dicegah oleh Hastungkara.


"Ran, aku antarkan kau pulang ya?" tawarnya dan Derana menolak dengan halus.


"Ndak usah Ra. Aku bisa sendiri. Lagian, rumah Tuan Randy tidak jauh dari Alkid. Sekitar lima belas menit kalau ditempuh dengan jalan kaki."


"Lima belas menit? Berarti lumayan jauh, Ran."


"Ndak kog, Ra."


"Pokoknya, aku antarkan. Titik nggak pakai koma!" Hastungkara lantas beranjak dari posisi duduk dan menggamit lengan Derana.


"Tapi Ra --"


"Nggak pakai tapi, Ra!"


"Sudah-sudah! Lebih baik, kita pulang ke rumah Randy sekarang! Tante pesankan GS-Car." Ranu melerai perdebatan antara Hastungkara dengan Derana. Kemudian, ia menggeser layar gawainya dan memesan GS-CAR, salah satu layanan yang disediakan oleh GO-SUCCESS, perusahaan yang dipimpin dan dimiliki oleh Rangga, suami Khanza.


Siapa Rangga dan Khanza? Mereka ... dua tokoh utama di novel author yang berjudul 'Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)' .... 😉


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan berupa:


Like 👍


Komentar


Fav ❤


Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote atau gift 😉

__ADS_1


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terlove 😘😘😘🙏



__ADS_2