
Happy reading 😘😘😘
"Ehem ...." Suara dehemen mengusik fokus Ridwan yang semula tertuju pada pantulan wajah manis Derana yang tampak jelas di cermin.
Tanpa Derana sadari, rupanya pemuda berparas ganteng itu selalu mencuri pandang setiap mobil yang dikendarainya berhenti di lampu merah.
"Jangan cuma CCP, Mas! Jadi wong lanang itu yang gercep! Kalau pingin kenal ya ... langsung aja tanya namanya, ndak usah malu-malu!"
Kalimat cibiran yang terlontar dari bibir Kartini sukses membuat Ridwan salah tingkah. Pemuda itu pun lantas berdehem dan menghela nafas panjang untuk menormalkan degup jantung sebelum membuka suara--menanggapi ucapan Kartini.
"CCP itu apa sih, Mbok?" tanya yang ia lisankan tanpa menoleh ke belakang diiringi gerakan tangan memutar kemudi sebab lampu lalu lintas telah berubah hijau.
"Hilih kura-kura dalam perahu, Mas! Pura-pura ndak tahu lho sampeyan."
"Saya benar-benar nggak tahu CCP itu apa Mbok," sahutnya berterus terang.
Bukannya segera memberi tahu kepanjangan dari CCP, Kartini malah kembali melontarkan cibiran. "Mbok gaul dikit tho Mas! Lha wong simbok yang udah tua aja nggak mau lho ketinggalan jaman. Dari bahasa dan cara berpakaian simbok selalu mengikuti trend anak muda. Apa ndak malu, ganteng-ganteng tapi ketinggalan jaman?"
Derana tersenyum geli kala mendengar celotehan Kartini tanpa berniat untuk turut menimpali. Sementara Ridwan hanya bisa melafazkan istighfar di dalam hati diikuti helaan nafas panjang. Ia merasa dipermalukan oleh seorang neli (nenek lincah) di depan wanita cantik yang sukses membuat jantungnya berdentum-dentum.
"CCP itu singkatan dari curi-curi pandang, Mas. Dari tadi simbok perhatiin, Mas Ridwan selalu mencuri pandang setiap mobil berhenti di lampu merah. Tak kenal maka ta'aruf Mas! Tapi setelah Derana resmi bercerai dengan suaminya," sambungnya diikuti tawa yang mengudara.
Ridwan terkesiap kala mendengar ucapan Kartini. Ia sungguh tidak menyangka, wanita muda yang duduk di belakang--bersebelahan dengan asisten rumah tangga sahabatnya itu ternyata sudah bersuami. Ridwan mengira, Derana masih gadis dan belum ada yang memiliki.
Pupus sudah harapan Ridwan untuk mengenal lebih dekat wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Wah, kalau sudah bersuami ... saya nggak berani ta'aruf Mbok. Beraninya cuma kenalan dan menjalin pertemanan," sahutnya tanpa terlupa diiringi lengkungan bibir.
Meski hatinya terpotek-potek, Ridwan berusaha terlihat biasa saja dengan memasang senyum khasnya yang teramat manis.
Inikah yang dinamakan cinta? Mengapa selalu membuatku merana? Nasib-nasib, setiap berikhtiyar menjemput jodoh, pasti objeknya salah--monolognya yang hanya terlisan di dalam hati.
Tanpa terasa, roda mobil yang dikendarai oleh Ridwan telah menginjak halaman rumah mewah yang terlihat asri dan teduh.
Di kanan kiri jalan menuju pintu utama, ditumbuhi pohon kiara payung dan pohon tabebuya.
Pohon tabebuya adalah pohon yang unik dan fenomenal. Pohon tersebut memiliki bunga yang sangat indah dan menawan, dengan corak bunga yang tidak kalah indah dari pohon sakura di Jepang.
Ridwan menghentikan laju mobilnya tepat di depan teras rumah. Pemuda berparas ganteng itu lantas membuka pintu kemudian membawa tubuhnya keluar dari dalam mobil diikuti oleh Derana dan Kartini.
__ADS_1
Derana meraup udara dalam-dalam dan meremas tangannya untuk menghempas rasa yang membuatnya tak nyaman saat Kartini membuka pintu dan mempersilahkan masuk ke dalam rumah sang majikan.
"Bu, I-ibu yakin kalau tuan Randy akan menerima saya sebagai baby sitter? Saya ndak PD, Bu. Saya insinyur."
Kartini dan Ridwan seketika tergelak saat Derana salah mengucap kata insecure.
"Loh, kog Ibu dan Mas Ridwan malah tertawa?" tanyanya polos.
"Hadooohhh, wetengku bongko," celetuk Kartini sambil memegangi perutnya yang kram.
"Mbak, maksud Mbak Dera itu insinyur atau insecure? Kalau yang dimaksud Mbak Dera itu insinyur, berarti Mbak Dera seharusnya PD."
Derana tersenyum nyengir--memperlihatkan gigi putihnya yang berjajar rapi dan tak ada satu pun yang maju ke depan atau mundur ke belakang. "Eeng, yang saya maksud itu i-sin ... isin-cure, Mas."
"Bukan isincure Mbak. Yang benar ... in-se-cure. Insecure!"
"Iya, Mas. Isincure."
"Coba tirukan saya! In-se-cure!"
Derana mengangguk lalu menirukan ucapan Ridwan dengan pelan. "In-se-cure."
"Nah pinter. Coba ulangi lagi Mbak! Insecure!"
Ucapan Derana kembali sukses membuat Ridwan dan Kartini tergelak hingga kedua sudut netra mereka berair.
"Wes ... wes, ndak usah insecure Nduk! Yakin saja, tuan Randy bakal menerima kamu bekerja sebagai baby sitter! Hilangkan semua pikiran yang membuatmu ndak PD atau insecure!" tutur Kartini setelah tawanya mereda.
Wanita paruh baya itu pun lantas menggamit lengan Derana dan memandunya masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum Tuan Randy." Ucapan salam yang terlisan dari bibir Kartini mengalihkan atensi Randy yang saat ini tengah bermain dengan buah hatinya.
Pria berparas ganteng se-angkasa raya itu pun seketika menoleh dan membalas ucapan salam Kartini--asisten rumah tangga yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri.
"Wa'alaikumsalam Mbok," balasnya datar.
Tanpa sengaja, sepasang manik mata Randy dan Derana saling bertemu pandang. Derana tampak salah tingkah lalu membuang pandangannya ke sembarang arah.
Berbeda dengan Randy. Duda muda beranak satu itu bersikap biasa saja.
"Siapa dia, Mbok?" Randy melisankan tanya tanpa mengalihkan pandangan netra.
__ADS_1
"Dia ... Derana, Tuan. Saya sangat berharap, Tuan Randy berkenan menerima Derana sebagai baby sitter yang akan merawat dan mengasuh Nona Malikha."
"Simbok yakin, dia bisa merawat dan mengasuh putriku dengan baik?"
"Saya sangat yakin Tuan."
Randy menghela nafas panjang dan sejenak terdiam. Kentara sekali ia tengah berpikir sebelum melisankan keputusan.
"Baiklah. Kalau Simbok yakin, mulai hari ini ... saya menerimanya sebagai baby sitter. Tapi kalau sekali saja saya melihatnya nggak becus merawat dan mengasuh Malikha, saya nggak segan-segan memecatnya," ucapnya tegas dan penuh penekanan sehingga membuat nyali Derana ciut.
Derana dilema. Ingin rasanya, ia mengundurkan diri saat mendapati wajah calon majikkannya yang tampan tetapi dingin. Dan tutur katanya jauh dari kesan ramah.
Namun karena sangat membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama jauh dari kedua orang tuanya, Derana pun urung mengundurkan diri.
Saat ini, Derana tidak berani menghubungi sang ayah untuk menjemputnya pulang ke rumah.
Derana teramat takut jika ibunya kembali murka dan benar-benar membuktikan ancaman yang pernah dilontarkan--mengusir ayah dan adiknya dari rumah.
"Antar dia ke kamarnya, Mbok! Suruh dia membersihkan badan dan mengganti pakaiannya yang kumal!" titahnya dengan nada yang sama.
"Injih, Tuan. Tapi, Derana nggak bawa pakaian --"
"Ckk. Simbok nemu dia di mana? Saya heran, kenapa dia nggak bawa pakaian?"
"Nanti saya ceritakan, Tuan. Yang pasti, saya nemu Derana bukan di tumpukan sampah."
Jawaban yang dilisankan oleh Kartini menggelitik indera pendengaran sehingga Ridwan tak mampu menahan tawa. Sementara Randy, duda handsome itu tampak menghembus nafas kasar dan mengalihkan pandangannya ke arah Ridwan--sahabat sekaligus asisten pribadinya.
"Tertawalah sepuasnya! Tapi jangan menyesal kalau gajimu aku potong lima puluh persen untuk membayar pajak ketawa," ujarnya disertai tatapan tajam dan sukses menghentikan tawa Ridwan.
"Dasar manusia kutub! Masa ketawa dipajakkin. Aku nggak bisa bayangin kalau kau menjadi menteri. Apa jadinya negeri ini jika ketawa saja kena pajak?"
Tanpa mengacuhkan ucapan Ridwan, Randy membawa Malikha ke kamar sehingga membuat sahabatnya itu kesal bin sebal ....
Dasar freezer!!!!
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak ter love yang masih setia mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏