
Happy reading 😘😘😘
Sebelum kembali ke kota, Hastungkara singgah ke tempat peristirahatan terakhir Zain--kekasih hatinya yang telah tiada, dengan ditemani oleh Rafa, Randy, dan Derana. Sementara Ridwan dan anak buahnya menunggu di kediaman Wijaya.
Hembusan sang bayu menerbangkan dedaunan kering dan menggugurkan bunga kamboja yang tumbuh di sisi makam Ahmad Zain--mantan calon imam yang sangat dirindukan oleh Hastungkara.
Usai mengucap salam, Hastungkara duduk bersimpuh di samping makam Zain. Begitu juga Rafa, Randy, dan Derana.
Meski teramat susah, Hastungkara berusaha menerbitkan seutas senyum dan melafazkan rangkaian kata. "Hai, Mas Zain," sapanya sembari mengusap papan nama yang terukir nama Ahmad Zain.
"Rara datang bersama Mas Rafa, Mas Randy, dan Derana. Mas Zain pasti belum mengenal Mas Randy, 'kan?" ucapnya kemudian tanpa memudar senyum.
Hastungkara berusaha menguasai suasana hatinya yang jauh dari kata baik-baik saja dengan menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan--sebelum kembali berlisan.
"Mas Zain ... Mas Randy meminta Rara untuk menganggapnya sebagai kakak, karena Mas Randy sangat menginginkan kehadiran seorang adik. Mas Zain nggak keberatan, 'kan? Mas Zain jangan cemburu ya! Insya Allah, hubungan kami nggak lebih dari sekedar kakak--adik. Oiya Mas, Rara beri tahu ya. Mas Randy, dia seorang CEO muda yang dermawan lho. Mas Randy mendirikan sekolah untuk anak-anak yang kurang beruntung dan mendirikan Rumah Pintar. Insya Allah, dengan bantuan Mas Randy, Rara akan mewujudkan impian dan cita-cita Mas Zain. Kami akan melanjutkan perjuangan Mas Zain, ber-amar makruf nahi mungkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, khususnya di Desa Janda."
Hastungkara menjeda ucapannya dan menahan titik-titik air yang hampir tertumpah dengan sejenak memejamkan netra.
"Mas Zain ... kami--Rara, Mas Randy, Derana, dan Mas Rafa akan berjuang untuk menghentikan kebiasaan yang dilakukan oleh warga Desa Janda, dengan memberi pengetahuan kepada para orang tua agar tak lagi menikahkan anak-anak mereka di usia yang masih sangat dini. Sehingga anak-anak di Desa Janda yang masih berusia di bawah umur, berkesempatan untuk mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Anak-anak itu berhak mendapatkan ilmu untuk bekal di masa depan. Mereka juga berhak menentukan arah tujuan hidup untuk menggapai impian serta cita-cita yang telah mereka gantungkan setinggi langit. Mas, Rara berharap ... Allah meridhoi perjuangan kami, sehingga apa yang kami ikhtiyarkan tidak akan sia-sia," lanjutnya panjang lebar.
Keheningan sesaat menyapa saat sang bayu kembali berhembus--menggugurkan bunga kamboja dan menjatuhkannya tepat di pangkuan Hastungkara.
Netra Hastungkara berotasi sempurna kala semilir angin menerpa wajah ayunya bersamaan dengan kehadiran sosok Zain.
Zain--pemuda berparas rupawan itu berdiri di hadapan Hastungkara sembari menerbitkan senyum yang membingkai wajah teduhnya.
__ADS_1
"Mas Zain --" lirih Hastungkara. Gegas ia membawa tubuhnya berdiri dan diikuti oleh Rafa, Randy, serta Derana.
"Mas Zain, Rara rindu. Kenapa, Mas Zain baru datang? Mas Zain tega membuat Rara tersiksa rindu --" Runtuh sudah benteng ketegaran yang dibangun oleh Hastungkara sehingga titik-titik air yang sedari tadi bergelayut manja di kelopak matanya kini jatuh tanpa permisi.
"Dek --" Rafa merengkuh tubuh Hastungkara lalu membawanya ke dalam pelukan.
"Mas, Mas Za-in da-tang --" ucap Hastungkara terbata.
"Tapi, Mas Rafa nggak melihatnya, Dek. Mungkin ... hanya halusinasimu. Seandainya Zain benar-benar datang, pasti dia ingin menyapa dan memintamu supaya kau mengikhlaskan kepergiannya."
"Mas, Rara sudah berusaha ikhlas. Tapi, setiap mengingat kenangan indah yang pernah kami lalui berdua, Rara sungguh teramat sedih. Rara merasa sangat kehilangan Mas Zain. Rara merindukan masa-masa yang telah lalu --" Tubuh Hastungkara berguncang seiring air bening yang mengalir semakin deras.
Rafa mengusap punggung Hastungkara dengan gerakan naik turun seraya mentransfer energi positif agar adiknya itu kembali merasa tenang.
"Mas Rafa mengerti apa yang kau rasakan, Dek. Lebih baik, kita berangkat ke kota sekarang. Ayah dan Bunda pasti sudah menunggu kita," bisik Rafa dan Hastungkara menanggapinya dengan anggukan.
"Mas Zain, Rara pulang ke kota dulu ya. Insya Allah, satu minggu lagi ... Rara akan mengunjungi makam Mas Zain sekaligus memulai perjuangan kami di Desa Janda. Assalamu'alaikum, Mas --"
Sosok Zain kembali menerbitkan senyum dan mengerjapkan netra. Kemudian ia menghilang diiringi angin yang berhembus pelan.
"Selamat jalan, Mas Zain --" lirih Hastungkara sambil menekan dadanya yang terasa sesak.
Dengan langkah berat, Hastungkara membawa ayunan tungkainya--meninggalkan area pemakaman, diikuti oleh Rafa, Randy, dan Derana.
Sepulang dari pemakaman, mereka singgah sebentar di kediaman Wijaya untuk berpamitan.
"Kek, kami pamit ya. Jaga kesehatan Kakek! Jangan telat makan ya, Kek!" pesan Hastungkara pada Wijaya--kakeknya.
__ADS_1
"Iya, Nduk. Salam untuk ayah dan bundamu ya! Sampaikan pada kedua orang tuamu, sering-seringlah mengunjungi kakek!" tutur Wijaya sembari mengusap pucuk kepala cucunya yang tertutup jilbab berwarna biru.
"Insya Allah nanti akan Rara sampaikan, Kek."
Wijaya menarik kedua sudut bibirnya dan membalas ucapan Hastungkara disertai manik mata yang terbingkai kaca. "Terima kasih cucuku. Berangkatlah sekarang, Nduk! Masmu--Rafa, Randy, dan sahabatmu--Derana sudah menunggu --"
"Injih, Kek. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam --"
Hastungkara memeluk singkat tubuh renta kakeknya lalu dengan berat hati ia membawa tubuhnya masuk ke dalam mobil--menyusul Rafa.
Setelah Hastungkara mendaratkan bobot tubuhnya dan memasang seatbelt (sabuk pengaman), Rafa menghidupkan mesin mobil dan mulai memainkan stir.
Sebelum menyusul Rafa, Randy meminta Derana untuk memasang seatbelt.
Derana tampak kesusahan mengancingkan seatbelt. Sehingga Randy seketika memiringkan tubuh dan mengulurkan tangannya untuk membantu Derana.
Degup jantung sepasang Adam dan Hawa itu terdengar bertalu-talu ketika tanpa sengaja jendela hati mereka saling bertemu ....
Akankah benih-benih cinta tumbuh di taman hati keduanya? Hanya goresan takdir Sang Maha Cinta dan kehendak Sang Penulis Skenario yang akan menjawab tanya ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terlove yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏