Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 70


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Suasana di dalam mobil sesaat hening. Hanya terdengar irama degup jantung dua insan yang duduk berdampingan diiringi suara dengkuran halus yang berasal dari jok mobil bagian belakang.


Malikha tampak terlelap di pangkuan Kartini dan sesekali mendengkur. Sementara Derana dan Randy masih setia dalam diam.


Namun menit berikutnya, Randy mulai membuka suara seraya memecah atmosfer hening yang sesaat menyelimuti seisi ruang.


"Dera --" ucapnya tanpa menoleh ke arah Derana.


"Ya, Tuan --" Derana seketika mengalihkan tatap kala mendengar suara bariton tuannya.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Randy kemudian.


"Maksud, Tuan?"


"Maksudku, bagaimana perasaanmu setelah hakim memutuskan bahwa kau dan Farel telah resmi bercerai?"


Derana mengulas senyum lalu menjawab tanya yang terlisan. "Tentu saja saya merasa lega dan teramat bahagia, Tuan. Setelah sekian purnama menanti, akhirnya ... doa saya diijabah oleh Allah."


"Syukur Alhamdulillah. Aku turut bahagia."


"Terima kasih, Tuan."


"Hem. Setelah ini, apa keinginanmu selanjutnya?"


"Saya ingin membahagiakan ayah, ibu, dan adik saya, Tuan."


"Selain itu?"


"Hanya itu saja, Tuan."


"Kau nggak ingin membuka lembaran baru dan merajut kisah terindah bersama seseorang?"


"Tentu saja saya ingin membuka lembaran baru dan menutup lembaran kisah lama yang teramat kelam, Tuan. Saya ndak ingin mengingat kisah saya di masa lalu. Masa di saat derita berkawan dengan saya. Tapi kalau untuk merajut kisah terindah bersama seseorang ... saya ndak berani terlalu berharap, Tuan. Saya hanyalah seorang wanita miskin yang kini berstatus janda, ndak elok rasanya jika terlalu berharap ... merajut kisah terindah bersama seseorang. Apalagi jika orang itu --" Derana urung melanjutkan ucapannya dan menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Kenapa nggak dilanjutkan?" Randy kembali melontarkan tanya dan sekilas melirik Derana dengan ekor netranya.


"Ndak perlu saya lanjutkan, Tuan. Karena saya terlalu malu untuk melanjutkannya."


"Kenapa mesti malu?"


"Karena saya .... Ah sudahlah Tuan, kita berbincang tentang hal lain saja. Yang pastinya lebih menarik dari pada membicarakan tentang saya." Derana berusaha mengalihkan topik pembicaraan sebab ia tidak ingin jika bibirnya akan keceplosan bicara.


"Bagiku, semua tentangmu itu sangat menarik, Dera. Bahkan lebih menarik dari pada membicarakan tentang bisnis."


BLUSH


Pipi Derana seketika memerah saat Randy mengucapkan kata-kata yang sangat sweet baginya. Degup jantungnya pun terdengar bertalu-talu bak suara gendang yang ditabuh.


"Dera, jangan pernah lagi merendahkan dirimu sendiri dengan berkata, kau hanyalah seorang wanita miskin yang kini telah berstatus janda! Bagiku, kau seorang wanita yang memiliki kekayaan. Bukan kekayaan yang berwujud uang atau barang mewah, melainkan kekayaan batin. Asal kau tahu, Dera ... yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta--benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa dan kekayaan hati atau batin. Dan mengenai statusmu saat ini, insya Allah ... tidak lama lagi akan segera berubah. Asal kau bersedia membuka hati dan menerima ketulusan cinta dari seorang Adam yang selalu menyebut namamu di sepertiga malam," tutur Randy tanpa mengalihkan fokus.


"Tuan jangan membuat saya ke GR-an! Kepala saya bisa membesar. Mana ada seorang Adam yang sudi menyebut nama saya di sepertiga malam? Kalaupun ada, pasti orang itu sedang khilaf, Tuan," celoteh Derana--meredam buncahan rasa yang bergejolak di dalam dada.


"Ada, Dera. Orang itu --"


Randy mengulas senyum dan sesaat menoleh ke belakang, bersamaan dengan Derana.


"Wah, bidadari papa sudah bangun," ucapnya tanpa memudar senyum.


"Iya, Papa."


"Tadi mimpi apa, Sayang?"


"Tadi, Likha mimpi Papa cama Mama Dela belpe-yukan se-pelti Lala dan Po," ucap Malikha seraya menjawab tanya.


Kartini berusaha menahan tawa dengan melipat bibirnya kala mendengar jawaban yang dilisankan oleh Malikha. Sementara Derana dan Randy sekilas saling melempar tatap diiringi seutas senyum yang membingkai wajah keduanya.


"Papa, Mama Dela, ceka-lang belpe-yukan donk! Likha belum pel-nah melihat Papa dan Mama Dela belpe-yukan," pinta Malikha sambil mengerucutkan bibir.


Derana kembali menoleh ke belakang dan mengusap lembut pucuk kepala Malikha. "Sayang, Pa-pa dan Mama Dera ndak boleh berpelukan."


"Loh, kenapa nggak boleh? Papa dan Mama Dela nggak lagi malahan, 'kan?"

__ADS_1


"Tentu saja kami ndak marahan, Sayang."


"Te-yus, kenapa nggak boleh belpe-yukan?"


"Karena --"


"Karena, Papa dan Mama Dera belum menikah, Sayang. Jadi, Papa dan Mama belum boleh berpelukan," sahut Randy--memangkas ucapan Derana.


"Owh, gitu ya, Pa? Yaudah, bu-luan Papa dan Mama Dela menikah! Bi-al bisa belpe-yukan te-yus punya dedek sepel-ti Onty Vayyet, Onty Ida Khanza, Onty Mey, Onty Iyien Lila, Onty Meel, Onty Althi, Onty Khas Khabibah, Onty Afli, dan cemua Onty yang udah punya dedek."


Celotehan Malikha menggelitik indera pendengaran, sehingga Kartini tak kuasa menahan tawa, sampai-sampai kedua sudut netranya mengeluarkan butiran bening.


"Ppfffttt ... hhahaha. Masya Allah, pinter tenan, Non Likha. Semoga Papa segera mengabulkan permintaan Non Likha, ya."


"Aamiin, cemoga ya, Mbok." Malikha tersenyum nyengir--memperlihatkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi.


Berbeda dengan Kartini, Derana seketika memalingkan wajah--menyembunyikan rona merah yang semakin tercetak jelas.


"Ehem, Likha harus bersabar dan terus berdoa! Karena doa seorang anak saleha, insya Allah akan diijabah oleh Allah," tutur Randy--menanggapi celotehan putrinya.


"Iya, Papa. Likha akan telus beldoa. Cemoga Papa dan Mama Dela bisa cepat menikah."


"Aamiin," sahut Randy dan Kartini kompak. Di dalam hati, Derana pun meng-amini ucapan Malikha.


Baik Randy maupun Derana, keduanya saling mengagumi dalam diam dan berjuang dengan doa di setiap tarikan nafas ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


UP nya pendek dulu ya Kakak-kakak terlove. Insya Allah nanti atau besok, author lanjut lagi 😉


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan 😉🙏


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏

__ADS_1


__ADS_2