
Happy reading 😘😘😘
"Rupanya kalian di sini --"
Ridwan dan Kartini sontak menghentikan tawa kala terdengar suara bariton yang membuat bulu kuduk merinding. Keduanya merotasikan kepala dan mencari-cari sumber suara. Namun tak juga menemukan.
Mereka berpikir, mungkin suara bariton itu berasal dari sosok tak kasat mata.
"Tu-tuan Randy --" ucap Derana terbata saat indera penglihatannya menangkap sosok yang berdiri di balik pohon tatebuya.
"Tuan Randy? Kamu melihat Tuan Randy, Nduk? Kog simbok ndak lihat ya? Jangan-jangan, kamu melihat Genderuwo atau Kolor abang yang merubah wujudnya mirip Tuan Randy?" tebak Kartini sambil celingak-celinguk dan mengusap tengkuknya yang semakin merinding.
"Iya, sama Mbok. Saya kog nggak lihat si manusia kutub ya? Jangan-jangan, dugaan Simbok benar. Bukan Randy yang dilihat oleh Mbak Dera, melainkan Genderuwo." Sama seperti Kartini, Ridwan pun celingak-celinguk sambil mengusap tengkuknya.
Klotak
Randy melempar kerikil ke arah dua orang yang menyangkanya Genderuwo. Kerikil itu melesat cepat dan mengenai dahi sang asisten pribadi.
"Duh." Ridwan meringis dan mengusap dahinya yang benjol akibat tercium kerikil yang dilempar oleh Randy.
Kemudian dengan pongahnya ia berkacak pinggang dan berucap lantang. "Kurang asem. Siapa yang berani melempar kerikil, hah? Tunjukkan wujud aslimu! Aku nggak takut! Ayo kita gelut!"
BUG
Pukulan cantik mendarat tepat di punggung Ridwan dan membuat pria berlesung pipi itu kembali meringis.
"Haduh. Apa-apaan sih Mbok?" protesnya kesal.
"Ssstttt ... Mas Ridwan, jangan asal ngomong! Kalau yang melempar beneran Genderuwo bagaimana? Mas Ridwan berani menghadapinya?" cecar Kartini setengah berbisik.
Ucapan Kartini menyadarkan Ridwan bahwa yang ditantangnya bukan makhluk sembarangan. Ridwan pun bergidik ngeri kala siluet wujud asli Genderuwo menari-nari di pelupuk mata.
__ADS_1
Lantas jika benar makhluk itu Genderuwo, bagaimana cara Ridwan menghadapinya?
Mati aku! Kalau yang melempar kerikil beneran Genderuwo, bagaimana? Allohumma--monolognya di dalam benak.
Ridwan memejamkan sepasang netranya dan menengadahkan kedua telapak tangan. Lalu ia melafazkan ayat kursi untuk mengusir sosok yang disangkanya Genderuwo.
"Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim ...."
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al Baqoroh: 255)
"Ck, kurang ajar kau! Bisa-bisanya kau mengira aku--Genderuwo?" Randy kembali memperdengarkan suara baritonnya dan keluar dari tempat persembunyian.
Perlahan, Ridwan membuka kedua netranya dan menatap lekat objek yang ia sangka makhluk tak kasat mata.
"Randy --" ucapnya tidak percaya.
"Iya, aku Randy." Randy melipat kedua tangannya di depan dada dan melayangkan tatapan menghunus.
"Tu-Tuan, maafkan saya dan Mas Ridwan! Kami sungguh ndak tahu kalau yang dilihat Nduk Dera ternyata benar-benar Tuan Randy. Saya mohon, jangan murka ya Tuan!" Kartini mengatupkan kedua telapak tangan dan menundukkan wajah. Ia teramat takut jika sang majikan murka.
"Beuh, aku nggak nyangka ternyata kau yang melempar kerikil sampai dahiku benjol. Teganya kau menyakiti sahabatmu, Rand --"
"Aku sengaja melemparmu kerikil supaya indera penglihatanmu bisa berfungsi."
"Hei Bung, indera penglihatanku masih berfungsi dengan baik."
"Lantas, kenapa tadi kau nggak bisa melihatku?"
Ridwan berdecak kesal dan menarik sudut bibirnya. "Ck, pertanyaan yang lucu bin menggelikan. Aku dan Simbok nggak bisa melihatmu karena kau sembunyi di balik pohon tatebuya."
"Alasan! Derana bisa melihatku, kenapa kalian nggak bisa?"
"Mungkin, mata simbok sudah mulai rabun, Tuan. Dan mata Mas Ridwan 'kan memang minus. Jadi, Mas Ridwan ndak bisa melihat Tuan dengan jelas karena ndak pakai kaca mata." Kartini turut bersuara seraya menimpali ucapan sang majikan.
__ADS_1
"Eh, iya juga ya Mbok. Saya sampai terlupa. Tadi 'kan saya melepas kaca mata ya?"
"Iya Mas. Sebelum keluar dari mobil, Mas Ridwan melepas kaca mata."
"Tapi, tadi kaca matanya saya taruh di mana ya Mbok?" Ridwan terlihat seperti orang pilon bin blo-on.
"Weleh, masih muda kog pikun tho Mas. Lha itu lho, kaca matanya dipakai Mas Ridwan buat bando." Kartini menunjuk kaca mata Ridwan yang bertengger di kepala dengan gerakan dagunya.
Ridwan seketika meraba kepalanya. Ternyata benar, kaca mata yang ia cari bertengger di kepala.
"Allohumma, kenapa saya pikun banget ya Mbok," ujarnya sembari tersenyum nyengir lantas membenahi posisi kaca matanya.
"Pfffttt .... Mungkin karena Mas Ridwan terlalu sering memakan brutu ayam." Kartini menyahut asal dan tertawa geli karena kekonyolan Ridwan.
"Sudah puas belum ketawanya Mbok?"
Sontak, Kartini membungkam mulut dan menghentikan tawa kala Randy menyindirnya dengan melontarkan kalimat tanya.
"Eh, iya Tuan. Su-sudah," jawabnya sambil menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.
Jantung Derana berdegup kencang saat Randy mengalihkan pandangan netra dan menatapnya dengan intens.
"Dera, tidurkan Malikha di kamarnya! Setelah itu, bantu Simbok membersihkan barang-barang Amel yang masih tertinggal di rumah ini! Packing semua pakaiannya dan jangan sampai ada yang tertinggal! Lalu berikan barang-barang Amel dan semua pakaiannya pada pemulung!" titah Randy dengan suaranya yang terdengar datar. Namun penuh penekanan.
"Ba-baik Tuan," balasnya sembari mengangguk tanpa berani menatap wajah rupawan sang majikan.
Randy menggulirkan pandangannya ke arah Ridwan. Ia meminta asisten pribadinya itu untuk ikut bersamanya sebab ada hal penting yang harus mereka bicarakan empat mata ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak ter love yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏