
Happy reading 😘😘😘
Selepas Randy dan Derana berlalu dari hadapannya, Farel bergegas mengayun tungkai dengan bantuan tongkat kayu sebagai penyangga tubuhnya, sebab luka di kaki kanannya akibat kecelakaan yang ia alami beberapa waktu lalu di tempat kerja masih belum mengering dan terkadang mengeluarkan nanah. Sehingga Farel tidak bisa berjalan normal jika tanpa bantuan tongkat penyangga.
Farel melebarkan langkah sembari memanggil nama Derana. Ia berharap, istri pertamanya itu mendengar dan kembali padanya.
Meski lisannya selalu berkata tak cinta dan tidak lagi membutuhkan kehadiran Derana, nyatanya sisi hati Farel tidak rela jika Derana pergi bersama pria lain. Terlebih, pria yang membawa istrinya itu berparas ganteng dan penampilannya tampak seperti seorang sultan meski dengan balutan pakaian sederhana.
"Dera! Jangan pergi! Kembalilah Dera!Kembalilah padaku! Jangan pergi bersamanya!" teriak Farel dengan menanggalkan gengsi dan rasa malu.
"Farel --" Sovia berteriak dan berlari mengejar Farel diikuti oleh Suci.
"Mas Farel, tunggu Suci, Mas!" Suci turut berteriak. Namun Farel tak acuh. Ia terus membawa ayunan tungkainya--keluar dari Restoran Gaco.
Karena kurang berhati-hati, Farel menabrak seorang pengunjung restoran berperawakan tinggi besar dan mengakibatkan tongkat kayu yang ia gunakan untuk menopang tubuhnya seketika patah.
Sontak, tubuh Farel limbung bersamaan suara rintihan yang keluar dari bibirnya.
"Arghhhh ...." rintihnya sedikit berteriak.
Atensi para pengunjung dan karyawan restoran seketika tertuju padanya. Pun dua wanita yang tengah mengejarnya--Sovia dan Suci.
Kedua wanita itu terkesiap saat menyaksikan tubuh pria yang mereka cinta limbung lalu jatuh--menghantam lantai restoran.
"Farel --"
"Mas Farel --" teriak Sovia dan Suci hampir bersamaan. Keduanya lantas meluruhkan tubuh dan membantu Farel untuk bangkit.
"Argghhh --" Farel kembali merintih saat mengangkat kaki kanannya yang terasa sangat ngilu.
"Rel, kenapa kakimu dibalut perban? A-aku baru memperhatikannya ketika kau berjalan dengan tongkat kayu. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Katakan padaku, Rel!" ujar Sovia memasang raut wajah cemas.
"I-ni semua gara-gara Usman--bapak mertuaku. Si tua bangka itu menemuiku di tempat kerja dan membuatku terluka seperti ini," jawab Farel berdusta.
"Apa yang dia lakukan terhadapmu, Rel? Aku akan membalasnya --" cetus Sovia dengan suara yang meninggi disertai tatapan nyalang dan menyiratkan amarah.
"Dia menghantam dinding bangunan yang baru setengah jadi. Bangunan yang dia hantam itu roboh dan mengenai seluruh tubuhku, tak terkecuali kaki kananku. Sialnya, kakiku malah jadi seperti ini. Lukanya belum mengering dan terkadang mengeluarkan nanah. Aku sangat tersiksa, Sov. Aku ingin membalasnya, tapi ndak diijinkan oleh kakek. Kakek berpesan supaya aku ndak gegabah, karena saat ini Derana dan keluarganya dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai kekuatan linuwih (lebih). Aku yakin, salah satunya adalah Hastungkara--sahabat Derana," terang Farel--diselipi dusta.
__ADS_1
"Kurang ajar! Lalu, bagaimana kita bisa membalas perbuatan bapak mertuamu yang sonto-loyo itu, Rel?"
"Entahlah, Sov. Mungkin satu-satunya cara yang bisa kita lakukan ... meminta Derana untuk kembali padaku. Aku yakin, Derana mencintaiku. Dia pasti bersedia melakukan apa saja yang aku perintahkan jika aku berhasil menaklukkannya."
"Rel, Derana ndak mencintaimu --"
"Dia mencintaiku, Sov. Aku sangat yakin, Derana mencintaiku. Hanya aku yang ia cinta," ucap Farel dengan kepercayaan diri tingkat dewa seraya memangkas kata-kata yang terlontar dari bibir Sovia.
"Apa buktinya jika Derana mencintaimu, Rel? Kenyataannya, Derana ingin bercerai denganmu dan memilih pergi bersama pria lain."
"Dia hanya berpura-pura, Sov. Dari sorot matanya, aku bisa melihat bahwa ia tengah berdusta. Yang sebenarnya, dia ndak ingin bercerai denganku. Derana--istriku, tengah terluka dan cemburu karena ada kalian di hidupku--kau dan Suci --"
"Asal kau tahu, Rel! Aku pun terluka. Aku juga cemburu karena di hidupmu ada Derana dan Suci --"
"Bukan hanya kau dan Derana saja yang terluka ataupun cemburu. Sebagai istri kedua Mas Farel, aku pun terluka. Aku juga cemburu. Aku ingin menjadi satu-satunya istri sah Mas Farel yang akan setia mendampinginya mengarungi samudra kehidupan," sahut Suci--memangkas ucapan Sovia.
"Hey, wanita udik! Kau ndak pantas mendampingi Farel --"
"Kau yang wanita udik --"
"Kau yang udik --"
Sovia dan Suci saling menunjuk. Keduanya berperang mulut dan tidak ada satu pun yang mau mengalah hingga membuat kepala Farel teramat pening.
"Aku minta, kalian segera diammm! Berhentilah berperang mulut!" titah Farel dengan meninggikan intonasi suara. Namun Sovia dan Suci tak acuh. Keduanya tetap melanjutkan perang mulut. Bahkan tangan mereka turut turun, sehingga aksi jambak-jambakan pun tak terelakkan.
Farel semakin pening dan frustasi. Ia tidak tahu mesti berbuat apa untuk melerai Sovia dan Suci.
Ingin pergi meninggalkan kedua wanita itu pun ... rasanya tidak mungkin. Sebab ia tidak sanggup jika berjalan tanpa bantuan tongkat penyangga. Sementara tongkat penyangganya telah patah.
Menit berikutnya, dua security datang untuk melerai Sovia dan Suci. Bukannya berhasil melerai dua singa betina itu, kedua security malah menjadi sasaran amukan sehingga wajah mereka dipenuhi oleh luka cakar.
Karena dua security restoran tidak berhasil melerai Sovia dan Suci, supervisor restoran bergegas turun tangan.
Rupanya, supervisor restoran itu sangat cerdas dan mempunyai trik jitu. Ia berhasil melerai Sovia dan Suci dengan memperdengarkan suara sirine polisi yang berasal dari benda pipih di dalam saku celananya.
Sovia dan Suci sontak melarikan diri tanpa memperdulikan Farel. Sementara Farel, pria berhati iblis itu tampak kebingungan. Lantas ia membawa tubuhnya dengan cara ngesot untuk menyusul dua wanita yang telah terlebih dahulu berlari meninggalkan Restoran Gaco.
Kita tinggalkan Farel yang tengah menjelma menjadi Suster Ngesot. Lalu beralih pada Randy dan Derana yang saat ini sedang berbincang di dalam mobil.
__ADS_1
"Tuan, maafkan saya --," ucap Derana--dengan menundukkan kepala. Ia merasa tidak enak hati sebab telah lancang memanggil Randy dengan sebutan 'Mas' dan membuat tuannya itu terpaksa mengimbangi aktingnya.
"Maaf? Memangnya, kau telah berbuat salah?" Randy menanggapi ucapan Derana dengan nada santai.
"Iya, Tuan. Saya sudah berbuat salah. Dengan lancangnya saya memanggil Tuan dengan sebutan 'Mas'. Sungguh sangat ndak sopan --"
"Hmmm ... kau memang nggak sopan, Dera. Bisa-bisanya kau memanggilku 'Mas" di depan suamimu. Kau juga membuatku terpaksa berakting. Asal kau tahu, aku nggak pernah memanggil seorang wanita dengan sebutan 'Sayang' di tempat umum, tak terkecuali Amel. Aku hanya memanggil Amel dengan sebutan 'Sayang' jika kami berada di rumah."
"Benarkah, Tuan?"
"Iya."
"Lalu, kenapa Tuan Randy dengan fasihnya memanggil saya 'Sayang'? Apa mungkin, wajah saya mirip dengan boneka kucing milik Non Malikha yang selalu Tuan panggil 'Sayang'?"
Randy melebarkan senyum dan menggeleng kepala. "Bukan Dera. Bukan karena wajahmu mirip Muza. Sama sekali bukan. Wajahmu memang sangat manis, tapi nggak mirip dengan Muza--boneka kucing kesayangan putriku," ujarnya seraya menjawab tanya yang dilontarkan oleh Derana.
"Jika bukan karena itu, lantas karena apa, Tuan?"
"Karena ---"
Tet tot ...jawaban yang akan diberikan oleh Randy kira-kira apa ya? 🤔 Next episode semoga terjawab 😉
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan berupa:
Like 👍
Komen
Rate 5 ⭐
Berikan Gift atau Vote jika berkenan, agar author semakin semangat berkarya 😉
Terima kasih dan love love sekebon teruntuk kakak-kakak pembaca yang berkenan mengawal kisah Derana hingga end 😘😘😘🙏
__ADS_1