
Happy reading 😘😘😘
Setelah punggung Usman tak terlihat, Wijaya mempersilahkan Randy untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kemudian ia menutup pintu lalu memandu Randy berjalan menuju kamar Rafa.
"Le, ada tamu yang ingin menginap di kamar ini. Kamu ndak keberatan, 'kan?" tanya yang Wijaya lisankan kala menjejak lantai kamar Rafa--cucunya.
"Siapa tamunya, Kek?" Bukannya menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh sang kakek, Rafa malah ganti bertanya tanpa menoleh ke arah lawan bicara dan tetap fokus pada layar datar di hadapannya.
"Nak Randy, Le --" jawab Wijaya.
Sontak, Rafa mengalihkan fokus dan merotasikan tubuh kala kakeknya menyebut nama Randy. Ia sedikit terkejut saat indera penglihatannya menangkap objek yang sangat ia kenal--Randy si manusia kutub musuh bebuyutan adiknya.
"Randy --" ucap Rafa tidak percaya diikuti tautan kedua pangkal alisnya.
"Kenapa, kau ingin bermalam di rumah kakek-ku? Jangan-jangan ada udang di balik bakwan. Atau mungkin ... kau kangen berperang mulut dengan Rara --" tukasnya melanjutkan ucapan.
"Jangan asal bicara, Le! Nak Randy terpaksa bermalam di gubug kakek karena ban mobilnya bocor. Selain itu, akan sangat berbahaya jika Nak Randy pulang selarut ini. Tidak menutup kemungkinan, jika di tengah jalan Nak Randy akan dihadang oleh orang-orang yang berniat jahat. Sebenarnya Pak Usman meminta Nak Randy untuk bermalam di rumahnya. Namun karena Nak Randy menolak, oleh karena itu Pak Usman mengantarkan Nak Randy ke gubug kakek dan meminta supaya Nak Randy diijinkan untuk bermalam di sini. Jika Nak Randy menginap di rumah keluarga Pak Usman, apa kata warga desa yang terlanjur percaya sepenuhnya pada Farel? Keputusan Nak Randy menolak untuk bermalam di rumah keluarga Pak Usman menurut kakek sudah sangat benar. Setidaknya baik Derana mau pun Nak Randy bisa terhindar dari persangkaan buruk, salah faham, dan fitnah yang mungkin akan dihembuskan oleh orang-orang yang tidak suka dengan Derana," tutur Wijaya panjang lebar seraya menyahut ucapan sang cucu.
Rafa bergeming dan menelaah kata-kata yang terlisan dari bibir Wijaya. Di dalam benak, ia membenarkan ucapan kakeknya itu.
"Sudah larut malam. Nak Randy pasti sudah sangat lelah. Lebih baik, Nak Randy segera beristirahat. Kalau cucu bapak jahil bin usil, jangan sungkan-sungkan untuk melaporkannya pada bapak!" pesan Wijaya sambil menepuk bahu Randy.
Seutas senyum terbit menghiasi wajah rupawan Randy. Dengan menanggalkan kesan dingin, duda muda berparas ganteng itu membalas ucapan Wijaya, "Njih, siap Pak. Saya akan melapor jika Rafa--cucu Bapak jahil bin usil --"
Wijaya melebarkan senyum lantas mengalihkan pandangan netranya ke arah Rafa. Kemudian ia kembali membuka suara. "Le, titip Nak Randy ya! Jangan kamu nakali! Kalau kamu nakal, kakek akan menyentilmu dan melemparmu sampai ke Planet Mars!" candanya yang sukses membuat Rafa berdecak dan memasang raut wajah kesal.
"Ck ... memangnya Rafa anak kecil, Kek?"
Wijaya terkekeh kala menyaksikan ekspresi cucunya yang menggelikan. "Siapa tahu, kenakalanmu semasa kecil kambuh lagi, Le --" ujarnya.
"Nggak bakal kambuh, Kek. Rafa sudah insyaf. Lebih baik, Kakek segera kembali ke kamar! Rafa mau tidur. Sudah ngantuk berat, Kek --"
__ADS_1
"Yasudah, Kakek tinggal sekarang. Kakek juga mau tidur, Le."
"Iya, Kek. Have a nice dream. Semoga Kakek bermimpi indah. Tapi, jangan mimpiin Nyai Dalijah--penjual jamu gendong yang masih setia menguber-uber Kakek!" celoteh Rafa seraya menggoda sang kakek.
Seolah tak mau kalah, Wijaya lantas membalas celotehan cucunya. "Hmmm. Semoga mimpi indah juga, Cah Bagus. Jangan mimpiin Surti jika tidak ingin kena tabok Tejo!"
Rafa terkekeh kala mendengar kalimat balasan yang dilontarkan oleh kakeknya. Teringat olehnya judul salah satu lagu yang digandrungi kawula muda pada masanya 'Surti--Tejo'.
"Woahhh, Rafa jadi keinget lagu Surti--Tejo, Kek. Jangan-jangan, masa muda Kakek dan almarhumah Nenek seperti Surti dan Tejo, ya?" cetusnya asal.
Satu jitakan mendarat telak di dahi Rafa saat ia melontarkan kata-kata ngawur.
"Hus, ngawur wae. Kakek dan Nenek anak pesantren, jadi kisah cinta kami tidak sama dengan kisah cintanya Surti dan Tejo. Wes, stop sik guyon (wes, berhenti yang bercanda)! Mata kakek sudah limat watt," sahut Wijaya menginterupsi.
"Pffttt ... iya, Kek." Rafa berusaha menahan tawa yang hampir mengudara dengan melipat bibirnya dan mengangkat dua jari--membentuk huruf V.
"Jian, Kakak dan adik sama-sama comelnya." Wijaya menggeleng kepala dan menghela nafas.
Kemudian ia mengucap salam sebelum mengayun tungkai--meninggalkan kamar Rafa.
Namun Randy menolak sebab ia merasa tidak enak hati jika Rafa--si pemilik kamar malah tidur di kursi kayu yang jauh dari kata empuk dan nyaman.
"Beneran kau mau tidur di kursi?" tanya Rafa--meyakinkan.
"Iya," jawabnya singkat dan kembali ke mode datar.
"Kau yakin bisa tidur dengan nyenyak di kursi ini?" Rafa kembali melontarkan tanya.
"Heem." Lagi-lagi Randy hanya memberi jawaban singkat tanpa menunjukkan ekspresi.
"Baiklah, silahkan tidur di kursi! Bantal dan selimutnya sudah aku siapkan di atas meja."
"Makasih."
"Hmmm."
__ADS_1
Karena rasa kantuk yang sudah tak tertahan, Rafa membawa tubuhnya rebah di atas ranjang. Dalam hitungan sepuluh detik, detektif muda itu telah pergi ke pulau mimpi.
Melihat Rafa yang sudah terlelap, Randy berniat menyusul Rafa ke pulau mimpi.
Direbahkan tubuhnya di atas kursi panjang lantas ia berusaha memejamkan netra.
Menit berlalu berganti jam. Meski rasa kantuk semakin meraja, kedua netra Randy serasa sulit untuk terpejam. Entah apa yang tengah dipikirkan olehnya ....
"Derana --" Randy membuka kedua netranya lebar-lebar dan beranjak dari posisi berbaring kala bayangan wajah Derana yang terbingkai senyum manis menari-nari di pelupuk mata ....
Di tempat yang berbeda. Derana pun sama seperti Randy. Sepasang jendela hatinya masih enggan terpejam meski rasa kantuk semakin mendominasi.
Ditatapnya lekat langit-langit kamar yang terlukis wajah rupawan sang majikan.
Terbayang olehnya, tawa Randy kala bercanda dengan sang bunda.
"Allah, sentuhkan kebahagiaan untuk Tuan Randy. Dia seorang majikan yang sangat baik dan tulus. Hamba mohon, kirimkan seorang Hawa yang tulus mencintai Tuan Randy dan juga Non Malikha. Jangan biarkan hidup Tuan Randy berkawan dengan duka karena pengkhianatan Nyonya Amel--mantan istrinya. Ya Allah, Ya Robb, berikan hamba kesempatan dan kemampuan untuk membalas segala kebaikan Tuan Randy --" doa tulus yang terlafaz dari bibir Derana.
Bayu berhembus pelan menerpa tirai jendela kamar, seolah sebagai pertanda alam turut meng-amini doa tulus Derana ...
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan berupa like 👍
Beri komentar
Tekan tanda ❤ untuk fav karya
Tabok Rate 5 ⭐
Jika berkenan, tampol karya author dengan Vote atau gift 😉🙏
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏