Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 65


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Semalaman Kiyoshi teramat sulit untuk memejamkan sepasang jendela hati sebab pikirannya dipenuhi oleh rangkaian kalimat tanya tentang Derana ....


Siapa sebenarnya Derana? Ada hubungan apa wanita itu dengan keluarga Farel? Kenapa keluarga Farel seolah sangat membencinya? Dan masih banyak lagi rangkaian kalimat tanya yang terbesit di dalam benak yang ingin segera ia temukan jawabannya.


Namun pada siapa Kiyoshi harus bertanya? Sungguh ia tidak tahu.


Seusai menunaikan sholat subuh dua rakaat, Kiyoshi merasa badannya lemah, letih, lesu sehingga pria bertubuh gagah dan berparas rupawan itu terdorong untuk kembali merebahkan tubuh dan memejamkan netra di atas ranjang.


Setelah melafazkan doa sebelum tidur, Kiyhosi mulai tertidur dan berkelana di alam mimpi.


Karena terlalu lelap, ia sama sekali tidak mendengar suara alarm yang menjerit berulang kali.


Hingga gawai yang tergeletak di atas nakas pun turut menjerit dan berhasil membuatnya terbangun.


Perlahan, pria berkulit putih bersih itu mengerjapkan netra--menyesuaikan cahaya mentari yang masuk ke dalam kamarnya melalui celah-celah jendela.


Lalu ia beranjak dari posisi berbaring lantas menyandarkan punggungnya pada heardbord dan meraih benda pipih kesayangan.


Bola mata Kiyoshi seketika berotasi sempurna saat layar gawai di tangannya menampilkan nama Hastungkara--teman sekelas yang cukup dekat dengannya.


"Rara --," gumam Kiyoshi. Lalu ia bergegas menggeser layar gawai dan menerima panggilan telepon dari Hastungkara.


"Assalamu'alaikum, Ra --" ucapnya seraya memberi salam dan memulai obrolan.


"Wa'alaikumsalam, Yosh," balas Hastungkara.


"Tumben telepon? Kangen ya?"


"Bukan aku yang kangen, tapi Bu Fatma. Dari tadi beliau nanyain terus."


"Bu Fatma? Ngapain beliau nanyain aku? Bukannya, nggak ada ulangan ya hari ini?"


"Iya, memang nggak ada ulangan. Tapi, ada tugas yang mesti dikumpulkan."


"Tugas? Tugas apaan, Ra?"


"Hadech, sepertinya kau mengalami amnesia. Kau benar-benar lupa atau sengaja melupa sih, Yosh?"


"Maksudmu apa, Ra?"


"Aku tambah yakin, kau pasti mengalami amnesia, Yosh. Aku sarankan, segeralah pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kepalamu! Jangan sampai penyakitmu itu bertambah parah --"


"Ra, please! Aku nggak amnesia. Aku hanya kurang tidur. Sekarang, katakan padaku! Tugas apa yang diberikan oleh Bu Fatma? To the point aja ngomongnya dan jangan membuat kepalaku bertambah mumet!"


"Ogeh. Dengarkan baik-baik ya, Yosh! Buka lebar-lebar daun telingamu! Hari ini, Bu Fatma meminta kita untuk mengumpulkan tugas yang diberikan oleh beliau tiga hari yang lalu sekaligus mempresentasikannya di depan kelas. Kau ingat 'kan, tugas yang diberikan oleh Bu Fatma? Kalau nggak ingat, coba gih buka tasmu! Sekalian buka lepimu!"


Kiyoshi segera membawa tubuhnya beranjak dari ranjang lalu meraih tasnya yang tergantung di atas meja belajar. Kemudian ia bergegas membuka tas itu dan mengeluarkan buku catatan yang berisi tugas dari Fatma--dosennya.


"Astaghfirullah. Aku benar-benar lupa, Ra. Bagaimana ini? Please, kasih saran, Ra!"

__ADS_1


"Ya ... tinggal hubungi Bu Fatma aja, Yosh! Tanya ke beliau solusinya bagaimana? Gitu aja kog dibikin repot."


"Iya juga ya. Selain aku, siapa yang belum mengumpulkan tugas, Ra?"


"Semua sudah, tinggal kau aja, Yosh. Lagian, kenapa sih nggak masuk hari ini? Tumben banget."


"Semalam, aku nggak bisa tidur dan baru bisa tertidur seusai subuh tadi, Ra --"


"Kenapa, nggak bisa tidur? Pasti gara-gara mikirin si Maemunah ya? Mahasiswi fakultas hukum yang selalu mengirim puisi cinta untukmu."


"Hihhh. Bukan. Dari pada mikirin si Mae, mending mikirin Hastungkara--mahasiswi idola para dedemit."


"Ck, aku lagi mode serius, Bambang!"


"Aku juga serius, Yem --"


"Yaudah, buruan kasih tahu aku! Sebenarnya, apa yang membuatmu nggak bisa tidur?"


"Panjang ceritanya, Ra."


"Cepat ceritakan!"


"Butuh dua hari, dua malam untuk mendengar ceritaku."


"Nggak masalah. Mumpung aku lagi ada waktu senggang."


"Baiklah, kalau kau maksa --"


Kiyoshi pun mulai bercerita. Ia menceritakan secara detail pertemuannya dengan Farel dan kejadian-kejadian di luar nalar yang ia temui di hutan--jalan menuju kediaman Atmajaya.


"Jalan pintas menuju Desa Ringin baru diperbaiki, Ra. Jadi, aku terpaksa melewati hutan angker. Sebenarnya aku juga heran, kenapa sepeda motorku bisa melewati hutan itu. Namun saat berpikir keras, aku terngiang perkataan salah seorang ustadz, bahwa nggak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak dan kau pasti faham akan hal itu. Terkadang, sesuatu yang nggak bisa dipikir secara nalar, tep aja bisa terjadi. Apalagi jika berhubungan dengan sesuatu yang gaib atau tak kasat mata."


"Huum, bener banget, Yosh. Kalau boleh tahu, siapa nama orang yang kau antarkan ke Desa Ringin?"


"Namanya ... Mas Farel, Ra."


"Sudah aku duga."


"Sepertinya, jiwa cenayangmu kambuh, Ra?"


"Aku iya-in aja, Yosh."


"Aku penasaran, kenapa dugaanmu bisa tepat? Jangan-jangan, kau mengenal Mas Farel dan keluarganya?"


"Iya, aku sangat mengenal Farel dan keluarganya. Farel ... dia suami Derana--sahabatku."


"Owh, jadi Derana itu sahabatmu?"


"Haruskah aku perjelas?"


"Iya, Ra. Harus kau perjelas karena ada rangkaian kalimat tanya yang sejak semalam memenuhi otakku."


"Memangnya, apa saja yang ingin kau tanyakan?"

__ADS_1


"Yang ingin aku tanyakan ... bagaimana karakter Derana? Kenapa keluarga Mas Farel seolah membencinya? Terutama ibunya Mas Farel. Itu dulu, lain waktu aku sambung lagi pertanyaanku."


Hastungkara meraup udara dalam-dalam, kemudian menjawab satu persatu kalimat tanya yang dilontarkan oleh Kiyhosi dengan jelas dan tegas.


Menit berikutnya--seusai memberi jawaban, Hastungkara ganti melontarkan tanya, "Kau sudah puas dengan jawabanku 'kan, Yosh?"


"Sudah Ra. Jadi, kau terpaksa bolak-balik pergi ke Desa Janda karena ingin membantu Derana--menyelesaikan permasalahannya dengan keluarga Mas Farel?"


"Salah satunya itu. Tapi tujuanku yang utama ... mewujudkan harapan serta cita-cita almarhum Mas Zain. Perlu kau tahu, Yosh! Aku melakukannya dengan ikhlas. Dan aku sama sekali nggak merasa terpaksa."


"Maaf, Ra. Aku nggak bermaksud membuatmu tersinggung. Jika kau nggak keberatan, ijinkan aku membantumu! Aku siap menjadi ojekmu, yang akan selalu sedia mengantarmu ke Desa Janda."


"Aku maafkan, asal kau mentraktirku Mie Gaco. Dan untuk tawaranmu, aku pikirkan dulu, Yosh."


"Okey, Ra. Aku akan mentraktirmu Mie Gaco dua porsi plus minumannya. Tapi, ajari aku mengerjakan tugas ya!"


"Aishhh sudah ku bedeg. Pasti ada udang di balik bakwan."


"Pasti donk. Btw, kapan nich kita ke Mie Gaco?"


"Sekarang aja, Yosh. Mumpung aku belum maksi."


"Ogeh. Share posisi ya, Ra!"


"Siap --"


Gegas, Hastungkara memutus sambungan telepon setelah mengucap salam. Lalu mengirim posisinya saat ini ....


🍁🍁🍁


Seusai menidurkan Malikha, Derana membantu pekerjaan Kartini--menyetrika pakaian Randy--tuan mereka.


Sementara Kartini sendiri tengah bergelut dengan spatula dan wajan di dapur.


Sambil mendengarkan alunan lagu tempoe dulu, wanita paruh baya itu memasak sayur serta lauk-pauk sesuai permintaan sang tuan.


Berkali-kali, Derana menyemprotkan pewangi pakaian hingga kemeja Randy beraroma sangat wangi.


Setelah selesai menyetrika semua pakaian milik Randy, Derana menulis rangkaian kata di selembar kertas putih beraroma vanila. Kemudian ia selipkan selembar kertas itu di saku kemeja tuannya.


"Semoga, Tuan Randy menyukai rangkaian kata yang aku tulis," monolog Derana diikuti sebaris senyum yang membingkai wajah manisnya.


Entah apa yang ditulis oleh Derana? Akankah ungkapan rasa atau kata-kata penyemangat untuk Randy--duda muda berparas ganteng se-angkasa raya ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Up nya segini dulu ya Kakak-kakak terlove β˜ΊπŸ™


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo πŸ™


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan πŸ˜‰πŸ™

__ADS_1


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang berkenan mengawal kisah Derana πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2