
Happy reading 😘😘😘
"Assalamualaikum." Ucapan salam terlisan sesaat setelah tawa mereka mereda.
Derana mengulas senyum. Begitu juga Randy. Keduanya lalu membalas salam yang terucap dari bibir seorang gadis berhijab biru muda yang saat ini berdiri di ambang pintu ditemani oleh seorang pemuda berkulit putih dan berperawakan tinggi serta gagah.
"Rara --" Suara Derana tertahan saat rasa haru berpadu dengan rindu memenuhi ruang kalbu. Derana teramat merindu sahabatnya terkasih yang sudah lima bulan tidak ia jumpai.
Lebih dari lima bulan Hastungkara harus bolak-balik dari kota ke Desa Janda untuk membantu mengawasi pembangunan masjid dan sekolah atas permintaan Randy. Sehingga ia tidak memiliki waktu luang untuk mengunjungi Derana--sahabatnya, ataupun menghabiskan waktunya untuk sekedar bersantai.
Selain membantu mengawasi pembangunan masjid dan sekolah di Desa Janda, Hastungkara disibukkan dengan tugas kuliahnya dan pekerjaan sampingan yang mesti segera diselesaikan. Pekerjaan sampingan Hastungkara adalah menulis.
Dalam waktu dekat ini, insya Allah salah satu karyanya akan terbit cetak. Karya Hastungkara tersebut berjudul 'Takdir Cinta Si Janda Desa' dan dengan nama pena 'Ayunda Kirana'.
Hastungkara berjalan mendekat ke arah Randy dan Derana, diikuti oleh Kiyoshi--sahabat sekaligus pria yang mampu meluluhkan hati Hastungkara yang semula telah beku dan tertutup rapat karena perasaan cintanya terhadap almarhum Zain. Ustaz muda yang dahulu diimpikannya menjadi imam.
Derana menyambut sahabatnya dengan merentangkan tangan disertai sebaris senyum dan kaca-kaca yang membingkai manik mata.
Hastungkara lantas menghambur ke pelukan Derana, menumpahkan kerinduan.
Sepasang sahabat itu pun saling berpeluk erat, diiringi buliran bening yang menetes dari kedua sudut netra.
"Ra, aku kangen --," lirih Derana.
"Aku pun kangen, Ran. Kangen banget." Hastungkara semakin mengeratkan pelukannya, seolah enggan melepas.
Manik mata Randy dan Kiyoshi terbingkai embun kala menyaksikan adegan yang sukses menyentuhkan rasa haru. Keduanya tersenyum dan turut bahagia.
Suara langkah kaki dan ucapan salam mengalihkan atensi. Derana dan Hastungkara seketika mengurai pelukan lalu menoleh ke arah asal suara serta membalas salam. Begitu juga Randy dan Kiyoshi. Kedua pria itu pun menoleh dan membalas salam.
"Bunda, kedua buah hati Bunda ingin minum ASI," ucap perawat ber-name tag Ririn disertai senyuman ramah. Kemudian ia menaruh bok bayi yang berisi baby Azzam dan Azzura di samping ranjang Derana.
"Terima kasih, Sus."
"Oya, untuk yang menemani Bunda dan kedua bayi Bunda cukup satu orang saja ya! Jangan lebih!"
"Iya, Sus." Derana menanggapi ucapan Ririn dengan mengangguk dan mengulas senyum.
"Kami hanya menjenguk. Sebentar lagi kami pulang kok, Sus," sahut Hastungkara tanpa terlupa menyertainya dengan lengkungan bibir.
__ADS_1
"Baiklah, jika demikian. Saya mohon diri. Jika Bunda membutuhkan bantuan kami, silahkan tekan tombol yang berada di atas ranjang pasien!"
"Iya, terima kasih, Sus."
"Sama-sama, Bunda."
Ririn lantas memutar tumit dan keluar dari ruangan seusai mengucap salam.
"Masya Allah, tampan dan cantiknya. Siapa nama kedua bayi kalian, Ran?" Hastungkara menoleh sekilas ke arah Derana lalu mengusap lembut pipi baby Azzam dan Azzura.
"Azzam dan Azzura, Ra."
"Nama yang sangat bagus. Kalau boleh tahu, siapa nama panjang mereka?" Hastungkara kembali bertanya.
"Kami belum menemukan nama panjang yang bagus dan sesuai untuk mereka, Ra. Makanya, kami meminta kakak-kakak pembaca untuk menyumbangkan nama panjang."
"Lalu, mereka sudah menyumbangkan nama panjang untuk baby Azzam dan Azzura?"
"Sudah. Tetapi baru Kak Vay yang berkenan menyumbangkan nama panjang untuk kedua buah hati kami."
"Eng, aku boleh ikut menyumbang nama panjang untuk baby Azzam dan baby Azzura nggak, Ran?"
"Tentu saja boleh, Ra."
"Bagus banget nama pemberianmu, Ra. Jadi, nama panjang baby Azzam, Azzam Daffa Saifan Marwan. Marwan adalah nama yang disumbangkan oleh Kak Vay. Lalu, nama panjang untuk baby Azzura --"
"Azzura Aquilla Kinara," sahut Hastungkara memangkas ucapan Derana.
"Artinya, bayi perempuan yang berwawasan luas dan selalu menemukan kebenaran dengan dipenuhi keberanian," sambungnya kemudian.
"Masya Allah, nama yang sangat bagus, Ra. Jadi, jika digabung dengan nama yang disumbangkan oleh Kak Vay, nama baby Azzura adalah Azzura Aquilla Kinara Marwiyah."
Derana lalu melempar pandang ke arah Randy dan meminta pendapat pada suaminya itu.
"Bagaimana, Mas? Mas Randy ndak keberatan 'kan dengan nama panjang pemberian Rara dan Kak Vay?"
Randy menerbitkan senyum dan mengerjapkan netra. "Mas nggak keberatan, Yang. Mas malah sangat berterima kasih pada Rara dan Kak Vay. Nama yang diberikan oleh mereka berdua sangat bagus dan mengandung harapan serta doa."
"Alhamdulillah." Derana melafazkan hamdalah seiring binar yang terpancar di manik mata.
"Ra, kapan kau akan menyusul kami?" Randy melontarkan tanya seraya menggoda Hastungkara, gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik.
"Bukannya saat ini, aku sudah menyusul kalian ya, Bang?" Hastungkara balik bertanya dengan memasang wajah sok polos. Padahal dia sangat tahu maksud ucapan Randy.
__ADS_1
"Maksud Bang Randy bukan itu, Ra. Melainkan, kapan kau akan menyusul kami menjadi pasangan halal?"
"Owh itu. Masih lama, Bang. Insya Allah setelah aku lulus kuliah. Rara belum siap untuk menikah."
"Jangan pacaran terlalu lama, Ra! Banyak syaiton yang menggoda." Derana turut menimpali.
"Siapa juga yang pacaran? Aku dan Kiyoshi nggak pacaran kok. Kami bersahabat aja. Nggak lebih," kilah Hastungkara sambil mengerucutkan bibir.
"Hilih, masih saja berkilah. Oya, aku heran. Kenapa tiba-tiba kalian bisa datang ke mari? Siapa yang memberi tahu kalian kalau kami berada di rumah sakit ini?" cecar Derana diikuti tukikan kedua pangkal alisnya.
"Mbok Karti yang memberi tahu. Kebetulan, tadi aku dan Kiyoshi mampir sebentar ke rumah Bang Randy setelah kami menemui dosen pembimbing di rumah beliau yang berada tidak jauh dari rumah Bang Randy. Kata Mbok Karti, sebentar lagi Mas Ridwan, Tante Ranu, dan Om Reno akan menyusul. Aku hampir lupa, Mbok Karti menitipkan paper bag berisi alas kaki dan pakaian untuk Bang Randy."
Hastungkara menyerahkan dua paper bag yang berisi alas kaki dan pakaian pada Randy. Randy pun mengulurkan tangan dan menerima dua paper bag itu.
"Makasih ya, Ra."
"Heem. Sama-sama, Bang. Kami pamit dulu ya. Insya Allah, besok pagi kami ke sini lagi."
"Iya, Ra. Hati-hati di jalan dan jangan mampir-mampir!" pesan Derana, kemudian ia memeluk singkat tubuh Hastungkara.
"Siap boskuh."
"Nitip Rara ya, Yosh! Jaga Rara dan jangan kau nakalin sahabatku ini!"
"Iya, Ran. Aku akan menjaga Rara dan nggak bakal nakalin sahabatmu yang comel," balas Kiyoshi.
Hastungkara dan Kiyoshi mulai mengayun langkah setelah keduanya mengucap salam.
Kini hanya tersisa Randy, Derana, dan kedua buah hati mereka.
Dengan sangat hati-hati, Derana mengangkat tubuh baby Azzam lalu membawanya ke dalam dekapan. Sementara Randy mengangkat baby Azzura lalu melabuhkan kecupan di kening putri kecilnya itu.
"Yang, berikan ASI untuk kedua buah hati kita. Sepertinya mereka sudah lapar."
"Iya, Mas. Aku berikan ASI untuk baby Azzam dulu, baru kemudian baby Azzura. Aku belum bisa memberikan ASI pada kedua buah hati kita secara bersamaan."
"Iya, Yang. Nggak pa-pa. Yang penting, jangan berikan jatahku pada mereka!" celoteh Randy sembari menaik-turunkan alisnya.
"Ishhh, apaan sih, Mas." Derana menunduk malu. Rona merah tercetak jelas di wajahnya kala terbayang adegan yang membuat tubuhnya seketika panas--dingin.
🌹🌹🌹🌹
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengikuti bonus chapter Derana Istri Yang Terbuang. ❤